Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Kenapa Blogger Dicap Pengecut dan Penipu?

March 10, 2008
Oleh Nukman Luthfie

 

Kenapa Ahmad Dhani sempat berujar bahwa “Internet adalah dunianya orang yang pengecut”? Kenapa pula Roy Suryo menuduh blogger sebagai penipu? Kita bisa saja bertanya langsung kepada kedua figur publik itu, dan mereka akan menjawab sesuai dengan latar belakang dan pengetahuan mereka masing-masing.

Dhani, sang pentolan kelompok musik Dewa, kemungkinan besar mengaitkannya dengan blog Maia, istri sahnya hingga kini, yang lebih banyak curhat masalah pribadinya di blog. Bisa jadi, Dhani merasa jengah dan bertanya-tanya, kenapa curhat Maia tidak disampaikan langsung ke dia saja?

Roy, pada sisi lain, merasa dijadikan korban oleh banyak blogger yang mencatut namanya, membuat blog atas namanya, membuat profil friendster atas namanya, dan menjelek-jelekkan dirinya di alam maya. Bisa jadi, pembaca acara e-Life Style di MetroTV ini belum pernah/sempat blogwalking sehingga tidak menemukan ratusan (ya, ratusan) blog yang begitu inspiratif semacam Imam Brotoseno, Perspektif Wimar Witoelar, Strategi Manajemen Yodhia Antariksa, Roni Yuzirman, atau Bangsari yang menggalang kambing melalui blog untuk pendidikan anak tak mampu.

Sahkah mereka beranggapan seperti itu? Menurut saya, sah-sah saja. Itu alasan kontekstual yang masuk akal. Salahkah pandangan mereka? Tentu saja menurut saya, itu salah, karena pandangan mereka yang parsial itu dipakai untuk memotret yang utuh. Secara keseluruhan blogger bukanlah pengecut. Bukan pula penipu. Bahwasanya ada blogger yang penipu atau pengecut atau bercitra negatif lain (seperti tukang copy paste), itu tidak perlu dipungkiri. Tapi, itu tidak berarti semua blogger penipu/pengecut.

Sebagai seorang blogger (meski lebih banyak sebagai korporat yang tidak terkena tudingan itu), saya justru melihat tudingan kedua figur publik itu sebagai awal untuk mulai pembentukan citra blog di mata masyarakat. Bagaimana pun kelirunya pandangan Dani dan Roy, pendapat mereka disantap oleh publik. Kalau opini mereka diserap mentah-mentah, maka akan sulit memperbaiki citra blogger.

Maka, pandangan salah itu mesti diluruskan.

Untuk tahap awal saya mengusulkan, praktik-praktik mulia para blogger didokumentasikan menjadi semacam kode etik blogger. Jika banyak profesi dan pehobi sudah punya kode etik yang menjadi acuan anggota atau penggembiranya, maka para blogger ini sudah pada saatnya membentuk acuan yang serupa. Acuan ini kemudian dipublikasikan di setiap blog.

Memang akan menjadi pertanyaan, siapa yang akan membuat ini?
Bukankah belum ada organisasi para blogger? Lagi pula, memangnya blogger mau serius membentuk organisasi?
Lalu siapa pula yang akan menegur blogger jike mereka keluar dari acuan?

Untuk pertanyaan yang pertama, saya akan coba kumpulkan beberapa blogger untuk membicarakan hal ini. Atau, kalau tidak sempat karena kesibukan para blogger, saya akan tuliskan di postingan berikutnya mengenai praktik-praktik para blogger yang bisa saja diperbaiki oleh blogger lainnya.

Pertanyaan berikutnya, biarlah menjadi pekerjaan rumah nanti.

Update 15 Maret 2008: diskusi disambung ke postingan Ini Kode Etik(a) Blog

69 Responses to “Kenapa Blogger Dicap Pengecut dan Penipu?”

  1. escoret says:

    [...] Ahmad Dani sempat berujar bahwa “Internet adalah dunianya orang yang pengecut”? Kenapa pula Roy Suryo menuduh blogger sebagai penipu? Kita bisa saja [...]

    biasanya orang-orang punya pendapat gitu…GA PUNYA BLOG..!!!
    ah..biarlah…..

  2. Muslih says:

    Ya seperti biasa hal2 yang lain juga… sesuatu itu mau dibilang baik atau buruk, tergantung pilihan manusia… yang ngeblog sebagai pecundang,,, bisa,,, yang ngeblog bermanfaat,,, bisa,,,

    Trus kalau kita baca blog para pecundang, pastilah tak sama dengan blog para kesatria,,,

    so, keep it simple,,, hidup sekali aja jangan dibikin repot :P

    peace – muslih

  3. bangsari says:

    tak bisa dipungkiri, aturan main yang hampir tak ada pada ranah blog membuat standarisasi blog juga tidak ada. maka tentu saja diperlukan verifikasi yang lebih ketat. disitulah gunanya kopdar, biar blogger tetap memiliki pijakan riil.

    maap, jadi menggurui. :D

  4. WongJowo says:

    Ya itu hal yang yang lumrah, dalam segala hal pasti ada yang suka n tidak, like n dislike, yin n yang..

  5. ndoro kakung says:

    saya kira, adanya kolom komentar di setiap posting yang membuat setiap pengunjung boleh mengajukan pendapat setuju atau menentang sudah cukup sebagai alat kontrol.

  6. Saya sih oke saja dengan usulan bapak.

    Namun saya kira, saya percaya dengan “hukum seleksi alam”: pada akhirnya, in the long run, hanya blog-blog yang dikelola dengan konsisten yang akan bertahan, dan pelan-pelan akan dikenal oleh public arus-utama (mainstream).

    Saya sih kebayang yang perlu dilakukan untuk menancapkan citra positif di mata publik luas adalah ini : para bloger bagus harus aktif mempublikasikan dirinya di media mainstream. Dengan demikian, publik makin tahu, ternyata banyak blog bagus di tanah air.

    Saya sih punya mimpi, mau pasang iklan tentang blog Strategi + Manajemen di koran Kompas, Detik.com dan majalah SWA (tapi sekarang belum ada duitnya…hehehe, but someday, I will).

    Kuncinya : publikasi positif di media mainstream…makin sering, makin bagus.

    Atau mungkin menjadikan Dian Sastro sebagai “DUTA BLOGGER INDONESIA”…..:):):)

  7. Hmmm itu hal yang sangat biasa. Sesuatu yang baru, pasti akan membuat beberapa orang bergairah, sementara yang lainnya memandang penuh curiga. Ini soal keseimbangan alam…

  8. caktyk says:

    Iya seh, kalo yang ngomong di denger media…
    apalagi media-nya didenger lebih banyak orang daripada blog, yah… bisa jadi opini akan bergeser :)

    btw, pengecut dan penipu kan selalu ada dimana-mana, so…

  9. iLm@N says:

    kalo mas dhani baca majalah bobo kreatif edisi terbaru, beliau pasti lebih marah-marah lagi kalo tahu anak kecil juga diajarin bikin blog, hehe.. –> http://www.ayongeblog.com/2008/03/07/kids-ngeblog-yuk/

  10. Kalo pandangan ‘bengkok’ soal Internet Marketing & SEO perlu diluruskan nggak pak? hehehehe

    Gimanapun online media (blog, social network, etc) adalah sebuah media. Sebuah media bisa menjadi baik atau buruk tergantung siapa yang menggunakan (menggunakan = menulis/membuat dan membaca/melihat).

  11. Vandy says:

    saya akan coba kumpulkan beberapa blogger untuk membicarakan hal ini.</blockquote.

    Saya mau kok untuk diundang hehehe… *pede amat sih aku…*

  12. Bendry Koto says:

    Siapa itu si Dhani? Dalam kapasitas apa dia menilai pengecut? Barangkali dia sendiri yang pengecut ! Saya melihat figur Roy Suryo identik dengan IT di Indonesia, saya pikir dia punya alasan khusus untuk menilai seperti itu. Jika Roy Suryo membaca tulisan ini, mohon tanggapan

  13. Okto Silaban says:

    #12 : Kan Om Oy Uyo dah pernah bilang kalau dia tidak punya blog, tidak percaya blog, dan tidak baca blog.

    Kasihan ya dia.., buka apa saja lewat Google, nemunya blog. Terpaksa dia gak ngeklik dong yah..

    Kasihan dia.. :(

    Btw, kok dibikin kode etik Pak? Bukannya itu malah menghilangkan ciri dari Blog itu sendiri. Bahwa blog itu subyektif, bebas, dan memang bisa saja anonim. Kalau saya boleh bilang, blog itu memang media suka – suka. Bisa serius, bisa bercanda, bisa boong bisa beneran, bisa gosip bisa fakta.. Tanpa batas.

    Bahkan di luar negri banyak situs Fake dari tokoh terkenal, tetapi justru jadi rujukan banyak orang.

    Cuma opini saya.., mungkin bisa dijelaskan Pak?

  14. Saya setuju. Kita bikin kumpul2 blogger utk mengcounter citra negatif itu. Kalau bisa kita bangun jaringan “high trusted blogger”. Di luar ada yg namanya Positive Blogging Network. Boleh juga kita tiru idenya.

  15. iim fahima says:

    Kode etik kok somehow malah bikin blogger terkesan formal dan terbatasi ya?. Kebebasan kan selalu bermata dua, bisa bermanfaat juga bisa merugikan. Dan at the end biar saja konsumen yang menilai apakah seorang blogger layak disebut pengecut atau tidak. Konsumen itu pinter kok! Mereka juga bisa menilai apakah Ahmad Dhani yang katro ato bloggernya :D

  16. Muslih says:

    Maaf OOT :
    Pak Nukman, beberapa komen saya diedit namanya menjd nama sy sebenarnya yach, dari tadinya berupa keywords yang dilink ke website saya spt “asus eeepc”, “toko notebook” dll, he,, he,, gapapa pak kalau memang dianggap melanggar kode etik berkomentar :)

    Saya melakukanya demi mendapatkan one way back link dengan anchor text hot keywords dari website berkualitas bertema sejenis (online bisnis) dengan pagerank 4 seperti blog Bapak ini… :D

    Manfaatnya adalah web sy bisa keluar di top 10 hasil pencarian Searh Engine dengan keywords yg sy link dr sini. web sy keluar di SERP top 10 google.co.id (server web dr indonesia) dan yahoo.com dng keyword nama saya. Padahal ga ada text nama sy di website :P ,,, yaa menurut sy gara2 sy sering berkomen disini dengan nama sy dan dilink ke web. Coba ketik di SE nama2 yg sering komen disini dan ada linknya :D

    naah iseng2 kalu komen disini, nama sy ganti keywords utk membantu offpage SEO. tp btw maaf kalau bapak tidak berkenan :) ..

    pakar2 SEO,,, CMIIW

    terimakasih

    NL:
    Boleh saja menggunakan fasilitas komentar untuk offpage SEO, asal konsisten namanya, jangan berubah setiap saat.
    Nanti pembaca bingung dengan identitas komentator. Kadang bernama A, kadang B, lantas C, kemudian D. Padahal sesungguhnya satu orang.

  17. Orang dulu bilang “Tak Kenal Maka Tak Sayang…” begitu juga mereka yang “Tak Kenal” blog, maka tak tahu apa gunanya blog…

    Meski ada juga yang “kenal” blog, tapi tetep tak tahu apa gunanya untuk hal yang positif…

    Blog sama halnya dengan hal lain, bisa berguna/positif jika kita mengelolanya dengan benar, bisa negatif jika salah mengelola, bisa juga bingung jika tak pernah mencoba…

    “Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”

  18. Okto Silaban says:

    #15 : Mbak Iim.., betul mbak. Saya rasa mbak juga sependapat dengan komentar saya sebelum mbak (#14). Menurut Pak Nukman?

  19. dani says:

    ikutan ah..

    di satu sisi, masyarakat virtual kan sama aja spt riilnya..ada hitam putih..jujur-boong..penjahat-polisi (eh polisinya di virtual siapa ya..google misalnya thd PR, atau sejenis spam report, dll)

    mnrt saya, di blog jg ada aturan main / standardisasi ato semacam aturan2 lah (kl mau diterapin..)
    mis. standar web dari w3c, HONcode, healthcare blogger code, SEO friendly (google-based), webmaster guidelines, TOS layanan blog gratis, security accredited, disclaimer, creative commons, dll

    tp lbh setuju lg bahwa blog ya bebas ajah, anonim, pseudonim..dimana lg bs sebebas ini kl ngga di blog :)

    salam

  20. Isunya bukan soal anonim atau bukan. Tapi lebih ke aturan main. Banyak blog anonim yang menarik dan isinya amat positif. Tak sedikit pula blog fake selebritis yang lucu — yang jangan-jangan justru disenangi oleh sang seleb karena bisa meningkatkan pamor dia.

    Aturan main ini sudah diterapkan oleh berbagai perusahaan yang membangun blog korporat, bagi karyawan yang diperkenankan menulis blog korporat maupun di luar. Yahoo! misalnya, mengeluarkan Yahoo! Personal Guideline untuk karyawannya, yang isinya anatara lain:

    1. Setiap karyawan harus bertanggung jawab secara hukum untuk setiap opini yang dikeluarkan ke publik melalui blog pribadinya.
    2. Dilarang membocorkan rahasia perusahaan.
    3. Postingan blog bisa saja dimanfaatkan media untuk menulis berita, oleh karena itu jika diwawancarai media, ajaklah divisi PR perusahaan.
    4. Best practice:

    a. Hargai rekan sejawat
    b. Pahami data/fakta sebelum menulis
    c. siapkan argumen yang cerdas untuk setiap postingan yang menimbulkan pro/kontra.
    e. dan lain-lain

    Perusahaan seperti Yahoo! (juga IBM, Sun, dan lain-lain yang aturannya sempat saya baca) mendorong karyawannya agar ngeblog dan bebagi ilmu dengan publik. Namun, mereka juga memberikan aturan agar nilai-nilai positiflah yang disumbangkan karyawannya melalui aktivitas blogging mereka.

    Kalau saja aturan semacam ini diadopsi oleh perusahaan lain, apalagi jika diserap oleh blogger independen (yang tidak harus mematuhi aturan perusahaan) juga, maka citra positif bloggerlah yang muncul ke publik.

  21. yodi says:

    Bagi saya, blog merupakan alat untuk curahan atau ekspresi semua pihak, bisa pribadi, corporate,dll. Tidak adanya batasan untuk menulis dan berekspresi merupakan “ciri khas” blog…

    Seandainya terdapat “kode etik” tentunya membuat aliran baru dalam dunia “blogger” yaitu yang mematuhi kode etik dan tidak. Lalu bagaimana konsep kebebasan blog yang sering didengung-dengungkan?

    #13 saya mengerti maksud okto dan saya juga sepaham tentunya

  22. iqranegara says:

    #21
    Kebebasan yang anda maksud adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Orang lain belum tentu seperti itu, bebas seenak udelnya. Mungkin seperti ini yang dimaksud Pak Nukman…

    Usul saya, silakan Pak Nukman dkk buat “kode etik”nya. Tapi tidak perlu punya kekuatan untuk menegur, takutnya akan memecah belah. Dengan “kode etik” (yg tersosialisasikan) ini bisa dijadikan panduan bagi publik untuk menilai apakah suatu blog baik atau tidak.

  23. GOEN says:

    ga cuma pengecut dan penipu…kenyataannya banyak juga bloger2 yg memanfaatkan untuk bloger PARNO eh PORNO…( he he he..lawakan jadul ).

    yang penting kita berkarya untuk menebar rachmat.

    GITU AJA KOK REPOT……

  24. andika says:

    Apabila tenaga saya dibutuhkan pak… saya siap insya Allah… untuk bantu kalaulah memang mau bentuk organisasi blogger n pengen bikin ide seperti yang bapak tulis.

  25. Kekuatan blog justru memang pada kebebasannya, namun memang kebebasan yang dimanfaatkan secara salah bisa menghancurkan kekuatan blog itu sendiri. Bayangkan, bila ada banyak blog Indonesia yang isinya pornografi melulu, kemudian penguasa tidak berkenan, lalu menutup akses blog atau mengundang-undangkan cara nge-blog, kan kita juga yang rugi ? Mendingan kita sendiri yang secara sadar menerapkan etika nge blog.

    Jadi saya rasa kode etik tetap perlu, tapi penerapannya tidak usah dipaksakan, biarlah kita sendiri yang memiliki kebebasan untuk ikut atau tidak. Biar pembaca bisa membedakan mana blogger yang beretika dengan yang tidak beretika.

    btw, lucu juga ya kalo di blog ada sign “ethic compliance” hihihihihi

  26. Nurkhamid says:

    Ya, boleh bilang begitu. Bolah-boleh saja. Ya itu betul pandangan yang parsial. Tapi siapa yang bisa melarang orang untuk berpandangan parsial? Siapa, he?

    Selama orang masih bisa buka mulut dan menggoreskan penanya, orang bisa saja ngomong atau nulis ngalor ngidul ngetan ngulon. Tapi, yang mesti kita ingat, omongan atau tulisan kita akan dinilai orang dan akan (mungkin) melukai orang. Orang sekarang ini omongan bisa menjadi berefek lebih dahsyat daripada pistol atau senjata tajam. Betapa tidak, kalau pistol satu peluru paling bisa membunuh satu orang, tapi kalau omongan bisa membunuh satu peradaban atau satu bangsa. Bahkan bisa membunuh orang yang ngomong/nulis itu sendiri!

    Ya, saran saya, kalau sudah telanjur menjadi orang yang semakin terkenal, orang harus lebih bisa menjaga mulut. Makin terkenal orang, makin berharga omongannya, makin tajam mulutnya. Salah omong bisa makin bisa melukai lebih banyak orang atau sebaliknya, kalau omogannnya benar. Benar omong bisa sebaliknya, makin mencerahkan, menerangkan, membahagiakan, menggeret dari kegelapan orang dalam jumlah yang lebih banyak.

    Tapi ya itu, siapa sih yang tidak bisa salah? Tak peduli tukang becak atau tukang bacok, tukang ejek atau tukan ojek, sampai tukang yang sudah telanjur jadi pucuk-pucuk pimpinan negeri ini, semua itu tak akan pernah luput dari kesalahan dan kekeblingeran, makanya Tuhan menyediakan fasilitas pertobatan dan membuka selebar-lebarnya untuk mau kembali menempuh jalanNya.

    Mudah-mudahan kita semua diampuni. Amin. Maafkan saya.

  27. Jadi ingat kutipan Rebecca Blood, penulis buku laris The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining Your Blog, bahwa “The weblog’s greatest strength — its uncensored, unmediated, uncontrolled voice — is also its greatest weakness”.

    Kekuatan terbesar blog — sebagai suara yang tak bisa disensor, tak bisa dimediasi, serta tak terkendali — juga merupakan kelemahan terbesarnya.

    Maka saya tetap saja berpendapat perlu adanya semacam kode etik blog.

  28. Sugiyo says:

    Aneh, mengapa Pak Nukman merasa bisa mewakili para blogger untuk membuat kode etik? Siapa yang berhak menentukan blogging mestinya bagaimana dan untuk apa? Apakah karena Pak Nukman dkk adalah “very serious blogger”(artinya nge-blog buat cari duit & kredibilitas) maka lantas perlu meng-klaim kepantasan ber-blogging ria? Saya rasa inilah problem terbesar penggiat Internet… mereka (Anda) terlalu memaksakan segala sesuatu supaya lekas diakui, dianggap penting, dielu-elukan dst. So, akhirnya saya malah setuju dengan pendapat Dhani atau Roy Suryo…

  29. Tentu saja saya tidak bisa mewakili. Wong tidak ada satu pun blogger yang menunjuk saya.
    Saya hanya ingin memulai saja, karena di manca negara di mana blogging sudah menjadi fenomena sosial, etika blogging menjadi bahan diskusi yang menarik. Bahkan beberapa blogger kemudian membuat etika blogging.
    Namun setelah saya blogwalking, ternyata sudah ada blogger Indonesia yang menulis mengenai etika blog ini, yakni mas Imam Brotoseno. Silahkan simak Etika Penulisan Blog versi mas Imam yang diposting 28 Februari lalu di Dagdigdug.com.

  30. Riadi says:

    Saya setuju dengan Mas Nukman, dunia maya adalah dunia yang bebas dan blog juga merupakan kebebasan…jika sudah berhubungan dengan kebebasan harus ada etika yang dibentuk…jika tidak ada etika yang dibentuk, maka blog – blog yang negatif juga tidak bisa disalahkan, para korban blog – blog negatif juga tidak bisa disalahkan bila mereka marah atau mencemooh blog karena mereka memang tidak nge-blog dan mengenal blog sebagai sesuatu yang menjatuhkan mereka. Yang menjadi masalah memang bagaimana membentuk etika nge-blog menjadi global dan tepat sasaran :)

  31. snydez says:

    pernyataan tersebut keluar karena ’sempit’nya cara pandang mereka
    dan sebaliknya para blogger (bahkan yang punya cap seleb blog) pun tak lepas dari pandangan ’sempit’ dari sisi nya sendiri.

  32. Mirza says:

    Kedua orang itu memang orang yang terkenal dalam bidang masing2, tetapi tidak hanya sekedar mereka adalah orang terkenal lantas kita jadi terpengaruh dengan segala ucapan mereka.

    Kita juga tidak perlu merasa untuk perlu menunjukan “kepada mereka” bahwa kita berbeda dan bukan seperti pandangan mereka, menurut saya biarkan saja mereka berpandangan seperti itu.

    Yang penting adalah kita bisa mengaktualisasikan kita di bidang kita masing masing, yang suka menulis ya ayo menulis bisa lewat blog dll, yang ahli musik ya silahkan rekaman dan terkenal, yang ahli IT ya silahkan mengembangkan IT.

    Tidak perlu saling menyalahkan, kalau kita mau jujur, di semua bidang pasti ada maestronya dan juga ada “sampahnya”.
    Keep it simple.

    Salam.

  33. eljabars says:

    kalo menurut saya mungkin blogger tersebut takut namanya dibajak oleh hacker yang tidak bertanggung jawab. tapi masalahanya bukan mencari identitas sendiri tapi mereka malah membajak nama blogger lain di internet.

  34. saya juga merasakannya, bikin blog baru 2 alamat, bbrp posting sudah dimusuhin habis2an… katanya saya cuma bisa nulis, nggak bisa ngomong secara lisan.. waduh…

  35. sae says:

    Udah jgn di pikirin masalah blog yg slalu di cap negatif melulu. yg penting saya banyak terinspirasi oleh para blogger2. org pengecut itu selalu memandang sesuatu dari sisi buruknya saja.

  36. Eddy says:

    Iiiih…lucu-lucu deh komentarnya, lebih lucu lagi si Dani and Oom Suryo, kalau begini terus sampai kapan negara ini bisa maju? Mau nge-blog ajah udah kebentur aturan harus begini-begitu and pakai kode etik segala?

    Kita seharusnya malu sama negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia yang sudah sedemikian maju dalam hal internet dan khususnya blog, bahkan kita juga sudah tertinggal jauh sama Philipina…

    Ngga usah deh pusingin masalah kode etik nge-blog, percuma dan buang-buang waktu! Di Indonesia peraturan lebih sering dibuat untuk dilanggar toh?

    Yang penting terus ajah nge-blog, jangan takut untuk mulai, biar para penikmat blog sendiri yang menentukan blog mana yang mau di kunjungi. Kalau blog yang dibuat asal-asalan pasti umurnya ngga akan lama dan si blogger itu sendiri juga akan bosan dan akhirnya blog-nya mati sendiri, ga perlu kode etik toh???

  37. chiw says:

    orang esmosyi emang cenderung melihat dari satu sisi aja ya Om?

    ehehe…
    saya kira mereka, sebage pablik pigur, bisa bersikap dewasa, ternyata endak.

    kalo saya bilang dewa19 itu orang sesat gimana ya…

    :D

  38. -tikabanget- says:

    gimana ya om.. :|
    masalahnya blogger itu merdeka karena mereka independen..
    kalo dibikin organisasi, ntar ada aturan dan AD/ART dan blablabla dan tralala trilili..

  39. Ndak usah dibikin kode etik Tik. Peblog yan punya keinginan merdeka sulit diorganisir. Maka cukup dibuatkan etika blog saja yang berupa saripati tindak tanduk positif peblog ketika ngeblog. Coba baca postingan terbaru: Ini Etik(a) Blog.

  40. dawud says:

    Negara menjamin kemerdekaan para blogger, hehe.. iya emang kalo ga punya blog mungkin asal *** aja, hehe

  41. romi's says:

    halaaaaah biar aja kata orang tentang blog,ambil pusying.yg penting ngeblog jalan terus…….yang penting ambil positipnya dari ngeblog

  42. Yoppi Ari says:

    eh ternyata… udah di bahas di sini…
    Saya setuju kalau Dian Sastro jadi duta Blogger Indonesia :P

  43. Indratno Widiarto says:

    Orang cenderung menganggap kebanyakan blogger pengecut karena banyak blogger yang cenderung tidak mencantumkan nama asli saat memberikan komentar (kaya saya sekarang ini menggunakan “viral marketing” dan juga “Blog Strategi + Manajemen”.

    Padahal maksudnya sih untuk sekedar sekali menyelam minum air…ndak ada maksud lain kecuali lebih memperkenalkan tema blog. Betul nggak Bung Yodhia?

    Salam.

    Indra

  44. WanHart says:

    Semua sudah komentar, gak ada lagi deh yang bisa di tulis. Gimana kalo ikutan nimbrung aja di WanHart Blog?

    Oh iya masih ada satu sekedar komentar, hari gini kalo ngaku2 pakar IT, harusnya sudah punya blog, kalo gak mau go blog nanti jadi (go)blog lho.

    Salam kenal buat teman teman semua.

    Silahkan kunjungi http://Blog.WanHart.com. Atau langsung ke http://WanHart.WordPress.com.

  45. cowok ngeles says:

    sudah susah kok banyak ngomong,mangkanya di indonesia banyak di timpa bencana apalagi di pulau jawa sarangnya-sarangnya ….. dari hulu ke hilir semua ada… berbaur negatif…

    agar orang yang hidup di pulau jawa harus banyak bersabar mau di kasih bencana banjir, mau dikasih bencana lumpur, mau loe dikasih semua bencana…

  46. akyu says:

    wah, ngeblog emang banyak bohongnya menurutku..
    ya iyalah..masak ada orang yang mau buka korengnya sendiri.
    kebayakan blog tu emang untuk narsis-narsisan
    kecuali blog yg berbau ilmiah..itu sih beda lagi
    :lol: :wink:

  47. Eka Jo says:

    Blog itu pada dasarnya seperti Pisau bersisi 2. Satu sisi bisa membantu kita dalam menjalankan hal-hal yang baik seperti memotong sayuran dan satu lagi bisa membahayakan seperti digunakan untuk membunuh.

    Saya setuju dengan Pak Nukman Luthfie, saya sendiripun memiliki blog yang saya gunakan untuk kepentingan bersama dalam hal pembelajaran walaupun dalam belum saya gunakan secara efektif.

    Jadi semua tergantung pada kita bagaimana kita menggunakan blog itu sendiri. Mungkin Ahmad Dani dan Roy Suryo tidak pernah membuat blog jadi tidak tahu apa yang bisa menjadi manfaat buat masyarakat umum.

    Salam,
    Eka Jo

  48. Arif Maman says:

    IMHO, blog itu hanyalah sekedar alat, seperti halnya koran, majalah, televisi, dan lainnya. Yang terbesar pengaruhnya adalah orang-orang yang menjalankannya. Kalau dibilang di blog banyak materi porno, toh di media lain juga tak sedikit yang semacam itu, bukan? Jadi, bagi blogger Indonesia yang budiman, mungkin bisa selalu menjaga etika, karena *dulu* bangsa ini dikenal memiliki etika, keramahtamahan, dan semacamnya yang luar biasa, bukan? Jadi seperti banyak didengungkan di sekitar kita: “Mulailah dari diri kita sendiri”.

    Oya, ada tambahan sedikit:
    http://kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.25.16072513&channel=1&mn=1&idx=1

    menurut KRMT Roy Suryo
    “”Kita arahkan internet kembali ke kit’ahnya yang memberi manfaat. Sehingga orang tidak takut mengakses internet dengan adanya UU ITE. Walaupun, blogger atau hacker pasti masih akan tetap ada,” pungkas dia.”

    Asyik, blogger disetarakan sama hacker… Padahal blogger-blogger newbie macem aku kan cuma tulis terus pakai editor online, mana bisa beraksi seperti hacker, hehehe

    Terima kasih,
    ArIf
    newbie di jagat blog, komputer, dan semuanya deh… ^_^

  49. dodol says:

    Si kermit itu sebenarnya kejebak omongannya sendiri dulu, bhw ktnya blog tu tren sesaat dll, nyatanya kan nggak gitu. and jangan lupa dia tu pernah berusaha memenjarakan blogger ( si hormon)

    ngenai dani keknya yg dimaksud dia tu blognya maia, bkn blogger scr umum

  50. [...] dan membuatnya lebih baik itu tidak mudah. yuk yak yuk kita dukung pemerintah. Lagian kalo kita di cap sebagai pengecut dan penipu ya biarkan saja.. yg menuduh kan belum tentu lebih baik dari yg di tuduh. mari mari kita buktikan [...]

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting