Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Pemilik Akun Jejaring Sosial itu juga Media Massa

January 14, 2010
Oleh Nukman Luthfie

 

Apa yang dilakukan oleh seorang blogger di era jejaring sosial (social media) seperti sekarang ini? Ia menulis blog seperti biasa. Ia tetap menerima komentar melalui blognya. Ia tetap jalan-jalan ke blog lain dan memberi komentar. Selain itu, ia juga akan menyebarkan tautan tulisan blog terbarunya ke jejaring sosial lain, terutama Facebook dan Twitter. Ia tak lagi menunggu pembacanya datang, namun secara aktif menyebarkannya agar cepat terjangkau oleh penggemarnya.

Apa yang dilakukan oleh seorang pengguna Facebook yang tidak memiliki blog? Ia akan rajin mencari teman-teman lamanya dan bercengkerama di situ. Secara berkala, ia menuliskan pesan-pesan pendek di wall nya mengenai apapun, entah hal pribadi, produk yang dikonsumsi maupun kegiatan bisnis dan kantornya. Sesekali mungkin ia menulis notes, berbagi foto. Meski berbeda dengan blogger, pengguna Facebook jelas memproduksi content.

Lalu apa yang dilakukan oleh pengguna Twitter yang tidak punya blog? Ia rajin berkicau, menuliskan kalimat maksimal 140 karakter. Mereka yang keranjingan Twitter bisa 20 kali mentweet dalam sehari. Apa saja bisa ditulis di sini, meski dibatasi oleh karakter. Seperti FB, hal pribadi, produk yang dikonsumsi, kegiatan bisnis dan kantornya, foto, quotes, informasi dan link menarik bisa saja diumbar di Twitter. Meski berbeda dengan blogger dan Facebookers, pengguna Twitter jelas memproduksi content.

Baik bloggger, Facebookers dan Twitterers (juga pengguna social media lain seperti di Youtube, Flickr, Kaskus, Koprol) adalah produsen-produsen informasi dan content.  Dan…. jangan salah, mereka memiliki audience masing-masing. Jumlah teman di Facebook, jumlah followers di Twitter, jumlah visit dan komentar di blog menunjukkan seberapa besar audience mereka masing-masing.

Dengan kemampuannya membuat content dan karakternya yang cepat menjangkau publik, apa boleh buat, blogger, Facebookers, Twitterers, Kaskusers, Korpolers adalah media massa modern.

Media massa adalah media  yang dirancang khusus untuk secara cepat menjangkau  publik. Dalam pengertian klasik, yang dapat digolongkan sebagai media massa koran, majalah, radio, televisi dan bioskop. Media massa klasik ini memiliki dua ciri khas: otoritas dan organisasi. Kompas, Bisnis Indonesia, Tempo,  SWA, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, MetroTV, tvOne, SCTV, Trijaya, SmartFM, Studio XXI,  dan lainnya yang tidak dapat saya sebut satu persatu teguh membangun otoritas dan organisasi. Kompas misalnya, membangun otiritas sebagai media yang “terpercaya, menyuarakan amanat hati nurani rakyat” dengan organisasi perusahaan yang menaungi ratusan wartawan dan ribuan karyawan.

Sejak berkembangnya telepon selular dan Internet, kedua media itu pun kini dapat dikategorikan sebagai media massa, yang secara cepat menjangkau publik. Detik.com, Kaskus, PortalHR.com dan lainnya membangun otoritas dan organisasi di Internet. Detik.com misalnya, membangun otiritas sebagai media online tercepat “Mengapa menunggu besok? Detik ini juga!” dengan ratusan karyawannya.

Sebagai media  yang dirancang khusus untuk secara cepat menjangkau  publik, media massa berkembang menjadi industri yang amat besar. Diperkirakan, sekitar Rp 52 triliun belanja iklan yang diserap oleh seluruh media massa Indonesia tahun 2009.  Di situlah para politisi menggunakannya untuk tampil ke pentas.  Para pesohor menumpanginya untuk menaikkan popularitas. Para pemasar, pehumas dan pemilik brand memanfaatkannya untuk membangun brand awareness.

Dan kita semua mengerti, efek media massa sangat besar dalam mempengaruhi pembaca/pendengar/pemirsanya.

Berbeda dengan media massa klasik dan online yang memiliki ciri otoritas dan organsisasi, blogger, Facebookers dan Twitterers nyaris mengabaikan keduanya. Hanya sedikit yang berusaha membangun otoritas. Dan, boleh dibilang, tidak ada yang membangun organisasi.

Namun kita semua mengerti, efek media massa personal ini nyaris tak ada bedanya dengan media massa klasik dan online.

Sekarang tinggal bagaimana pintar-pintar para produsen, pesohor, pemerintah, politisi dan siapaun yang membutuhkan media massa memahami dan memanfaatkan fenomena baru ini. Tentu saja, juga bagaimana pintar-pintar para pemilik akun jejaring sosial menyambut era baru ini, mengantisipasi berdatangannya para pihak yang membutuhkan.

31 Responses to “Pemilik Akun Jejaring Sosial itu juga Media Massa”

  1. Kristian says:

    Selain hanya sedikit yang membangun otoritas, hanya sedikit yang memiliki kemampuan dan kredibilitas untuk itu.

    Artikel bagus, Pak… :)

  2. andri says:

    Asyik, koprol di link. Kemaren di mata najwa ngga disinggung-singgung tuh.

    Mudah-mudahan pergerakannya (social media) mengarah ke hal yang positif.

    Yang dimaksud organisasi itu yang seperti apa om? Kalo yang dimaksud adalah wadah untuk tujuan bersama, saya rasa komunitas online sekarang ini cukup banyak, dan rata-rata mereka punya tujuan yang spesifik.

  3. Wahyu Awaludin says:

    Waw..Makanya twitter dan kawan2 disebut “new media”. Mengutip teman saya, ini adalah “hutan rimba” yang belum dipetakan, senjata yang belum dioptimalkan. Kitalah yang bertugas mengembangkannya sehingga nanti mampu merevolusi peradaban..
    :)

  4. iphin cow says:

    pertamax…………..
    :)

  5. Pungkas says:

    Artikel yang wajib dibaca awam pengguna social networking. Agar perlahan mereka sadar apa arti ‘content’. Thank you Pak Nukman.

    Tweet @pungkas

  6. mayasari says:

    yess, jika semua bisa disebut media, tinggal tergantung kitanya, bagaimana memanfaatkan media tersebut dengan baik, untuk tujuan yang baik, dan kalo bisa untuk menghasilkan sesuatu yang berguna tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain…. Ya nggak, Om? :D

  7. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by idvirtual: FBers, Tweeps, Kaskusers, Koprolers itu juga Media Massa http://bit.ly/4Mes26...

  8. Cordiaz says:

    Jika memang demikian, media klasik dengan bentuk organisasi baku dan otoritas penuh perlu menghitung ulang ROI dan berstrategi agar dapat ikut serta dan meramaikan arus informasi baru tanpa menghilangkan naluri nature organisasi profit.

  9. BudiTyas says:

    Pandangan saya agak beda pak. Dilihat dari subyek, klo media klasik emang benar2 mass media, cocok buat ngiklan. Dibayar dgn tarif beriklan. Klo blogger atau pemilik akun sos media kayak orang biasa dengan exposure tambahan (via akun yg dia punya). Klo exposurenya maksimal jd kayak artis, dibilangnya seleb blog, cocok buat diendorse. Dibayar dgn tarif seleb/endorser.

  10. Ivan Lanin says:

    Setuju, Mas. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar hal itu, terutama para pengguna baru. Jadi ingat presentasi @ialexs pada BarCampID tentang NKMJ.

    http://www.reversedpalantir.org/nkmj/

  11. nyimak dulu gan.. hhe..

  12. ada ga, kriteria sebuah akun fb/twitter/plurk/koprol itu dibilang media atau ga? kaya’ jumlah follower, respon, atau apa gitu?

  13. Yanto says:

    betul, sekarang eranya pinter-pinteran pak …. :)

  14. Ulasannya keren mas…

  15. wadiyo says:

    Pemilik akun selain sebagai media masa, mereka juga sebagai penikmat media masa.

  16. mediaOnline seperti itu memiliki nilai lebih yaitu : NewConcept+newStyle+newInovate+newView.

    media offline tetap menguasi jaringan dunianya, demikianpula yg onlinepun demikian. sebaik2nya media adalah yg menguasai keduanya. bak manusia yg mengejar dunia sekaligus akhirat, mantap!

  17. Apa media massa klasik dan online bakal disingkirkan oleh social media pribadi? Tentunya ini PR berat untuk praktisi media untuk membentuk differentiation di tengah gempuran jejaring sosial yang bisa mengirim informasi seketika.

    Salam Untung Nyata!

  18. “…, efek media massa personal ini nyaris tak ada bedanya dengan media massa klasik dan online.”

    Kalau dalam arti sifatnya dan ke-efektifannya yang far dan wide reaching saya setuju.

    Tapi kalau dalam arti efek yang dihasilkan antara mass media yang memiliki otoritas dan mass media yang personal, saya rasa bedanya sangat jelas. Otoritas memberikan dukungan kredibilitas akan konten berita yang disebarkan dan karenanya “efeknya” sendiri akan lebih mudah diterima sebagai berita yang valid ketimbang berita yang disebarkan melalui mass media personal yang biasanya hanya diterima sebagai gosip / rumor.

    Jadi kalau dibilang efek antara mass media dengan otoritas dan mass media personal hampir sama, saya kurang setuju

  19. #10. Budi: dalam hal iklan, kondisinya saat ini memang seperti itu. Namun bisa saja berubah ke depannya.

    #20. Pandu: anda jeli :) . Itu sebabnya di akhir tulisan saya tegaskan kelemahan media massa personal yang abai dengan otoritas

  20. pada dasarnya kita sebagai manusia memerlukan cara pengekspresian rasa dan cita…jadi apapun media dan sarana sah-sah saja.
    tetapi memang seiring perkembangan dunia, media sekarang bukan hanya dijadikan alat yg bersifat satu arah,maksudnya memberikan informasi sepihak,tetapi sekarang sudah dimanfaatkan untuk bisnis.

  21. [...] This post was mentioned on Twitter by nukman luthfie, nukman luthfie, Roni, Cesar Sidolisa, Billy Koesoemadinata and others. Billy Koesoemadinata said: RT @nukman: FBers, Tweeps, Kaskusers, Koprolers itu juga Media Massa http://bit.ly/4Mes26 (via @idvirtual) [...]

  22. Haji says:

    Ya, yang belum biasa nulis, dan malu malu nulis perlu perhatikan ini, termasuk yang sedang nulis.

    TQ Boss

  23. iwan sahputra says:

    wah menarik bgt pak. hanya saja para pelaku di media jg tetep en harus sadar diri serta tetap menjaga etika. jadi tidak ada lagi ekses2 yg negatif yg bisa mengacaukan masyarakat. salam sukses …

  24. qirani says:

    Betul.. terutama Twitterers asing, yang saya rasakan mereka genjar memfollow kita..

  25. kakday says:

    ketika blogger keranjingan berwallria dan bertwittria..
    content yg kadang susah dicari tp mengalir deras ketika bertwitt dan berwallria.. bisa ampe 20 twitt.

    terima kasih sharingnya pak Nukman

  26. Topik yang menarik. Nice !
    Sedikit share pengalaman dari saya,
    sebagai salah seorang pengguna berbagai social media (facebook, Twitter, blog,dll) dan pengurus blog kantor.

    Social media terkini tanpa adanya unsur otoritas dan organisasi dapat digunakan sebagai media promosi yang murah.
    Contohnya kami saat ini sedang mengadakan sebuah event dengan menggunakan Twitter:http://bit.ly/twitter-event

    Bandingkan dengan zaman dahulu ketika media massa masih belum bersifat personal. Berapa banyak biaya yang harus kami keluarkan untuk mengadakan suatu event.

    regards

  27. fahmi says:

    nice posting pa …

  28. dariel says:

    saya kurang sepaham dengan adanya anggapan bahwa media massa pemilik akun twitter mengabaikan otoritas dan organisasi.

    sedangkan yang kita tahu, munculnya “headline” di twitter juga akan diteruskan pada link yang tersedia, yang mana adalah web resmi media tersebut. tentu konten berita yang ada di web dapat dipertanggung jawabkan dan tidak mengabaikan otoritas dan organisasi, bukan??

    menurut saya, media massa yang memiliki akun twitter hanya mengaggap twitter sebagai “media ” untuk menjangkau secara personal (sepertti yang anda sebutkan “personal mass media”). mungkin akan berbeda apabila berita tersebut tidak melalui web resmi (misal posting dilakukan oleh wartawan sendiri, tanpa melewati proses jurnalistik yang ada)

    ini hanya pendapat saya,
    sejujurnya artikel anda sangat menarik, salut.
    salam.

  29. artikel inspiratif pak Nukman- ma kasih ya

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
valentmustamin @valentmustamin
Online Tech
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • adebudi: - Salah satu konsekuensinya ya pinter milih2 provider- baik tuk mobile or hosting. Tapi...

  • adebudi: - Angklung dan keris pun menyusul diakui UNESCO ya?

  • Stephen Langitan: - memang terbukti koq.. kini ATPM sepeda motor di Indonesia, mengakui...

  • maomao: - harga murah, barang berkualitas sistem transaksi mudah. saya rasa itu cara ampuh...

  • dody: - semua balik lagi kpd interest orang itu apa suka atau tidak dengan film itu, malah...

  • wina: - Salam kenal Mas Nukman, saya Wina. Saya marketing di perusahaan konsultan komunikasi....