Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Brand Jangan Bermain-main di Social Media

November 18, 2009
Oleh Nukman Luthfie

 

Beberapa bulan terakhir ini saya bertemu dengan banyak Brand Manager dan Marketing Manajer, atau PR Manager, yang tertarik memasukkan produk/brandnya ke social media, entah ke Facebook maupun ke Twitter. Kesan saya mereka amat sangat (ya amat sangat) ingin eksis di social media, entah karena terpukau oleh konsep Low Cost High Impact atau memang sadar marketing. Namun pada saat yang sama mereka tidak memahami konsekwensinya, baik dari sisi manajemen, budgeting maupun peluang berhasilnya.

Saya akan kupas satu per satu.

Pertama, soal manajemen.

Social media adalah medium komunikasi, yang bukan hanya dua arah, antara konsumen dan produsen, tetapi multi arah, sebuah komunikasi horizontal yang “kacau-balau” antarkonsumen, antarkosumen-produsen. Jenis komunikasi seperti ini sangat jarang dirasakan dan dialami oleh brand manager yang hanya terbiasa dengan komunikasi satu arah (produsen ke konsumen) dan dua arah (antarkonsumen-produsen). Komunikasi searah dan dua arah relatif mudah dikendalikan arahnya.

Namun komunikasi multiarah, yang melibatkan konsumen dengan konsumen nyaris tidak bisa dikendalikan yang bisa berpotensi merusak brand, atau sebaliknya: justru meningkatkan nilai brand. Itu sebabnya, banyak Brand Manager, Marketing Manager, PR Manager yang terkaget-kaget dengan komunikasi ini.

Siapkan manajemen dengan komunikasi multiarah ini? Faktanya, kebanyakan tidak siap. Terbukti dari keenganan perusahaan untuk investasi SDM khusus dan/atau alihdaya untuk mengelola social media.

Kedua, soal budgeting.

Mereka yang terbius dengan konsep Low Cost High Impact akan beranggapan bahwa pemasaran lewat social media itu murah meriah sekaligus memberikan hasil yang besar. Barangkali mereka lupa bahwa yang disebut “low cost” itu relatif terhadap marketing tradisional via iklan TV dan media konvensional lain. Bukan sekadar asal low cost.

Budget eksis di social media, memang terkesan murah. Pertama, eksis di Facebook dan Twitter boleh dibilang gratis. Kita dapat membuat akun Facebook (termasuk Fanpages-nya) tanpa biaya. Demikian pula di Twitter dan social media lain. Budget promosi di social media pun relatif rendah karena iklannya targeted, hanya menembak target audience yang kita sasar saja.

Namun jangan lupa, masuk ke social media pun butuh strategi, yang tentu saja punya nilai Rupiahnya. Belum lagi, perlu SDM yang cukup, yang paham social media dan komunikasi online, sehingga dapat mengelola eksistensi brand di social media selama 24 jam sehari, dan tujuh hari sepekan. Plus, karena komunikasinya via Internet semua, budget komunikasi Internet ini juga harus dimasukkan.

Itu belum termasuk budget marketing gimmick berupa kupon diskon dan sejenisnya untuk menjaga loyalitas konsumen yang bergabung di social media.

Ketiga, peluang berhasil.

Kebanyakan brand manager merasakan mudahnya masuk social media karena banyaknya fasilitas untuk membangun komunikasi multiarah baik di Facebook maupun Twitter.

Ditambah lagi, beberapa studi kasus keberhasilan brand mengadopsi social media bertebaran di mana-mana. Dell dan Starbucks selalu menjadi inspirasi banyak brand manager untuk mendulang sukses yang sama di social media.

Sayangnya, kita melupakan faktor penting yang mendorong keberhasilan dua merek kondang itu. Salah satu faktor terpenting adalah: kedua brand itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan konsumennya baik di offline maupun di dunia maya.

Dell misalnya, sejak awal berdirinya dirancang sebagai satu-satunya produsen komputer yang bisa menyediakan spesifikasi komputer apapun yang “dirancang” pembelinya via online. Percakapan online sudah terjadi sejak awal. Kemudian Dell menciptakan komunitas pengguna Dell, membangun komunikasi horizontal antarpengguna melalui IdeaStorm, agar konsumen bisa saling berbagi gagasan yang kemudian dieksekusi Dell. Itu terjadi sebelum Facebook dan Twitter mewabah di mana-mana.  Kesuksesan Dell inilah yang kemudian dicoba diimplementasikan oleh Starbucks melalui Starbucks Ideas.

Kedua merek kondang itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan konsumennya sebelum masuk ke social media! Maka begitu mereka masuk ke social media, hasilnya luar biasa.

Permasalahannya, banyak brand di Indonesia yang tidak biasa atau bahkan tidak pernah bercakap-cakap dengan konsumennya, tiba-tiba ingin masuk ke social media dan berharap sukses.

Berkaca dari pengalaman Starbucks dan Dell yang memang sudah biasa bercakap dengan konsumennya SEBELUM  masuk ke social media, kita bisa menduga bahwa peluang sukses brand yang tidak biasa berkomunikasi dengan konsumennya sebelumnya akan sangat kecil. Untuk memperbesar peluangnya, perlu usaha dan budget yang lebih besar.

Itu sebabnya, saya mengatakan, brand jangan “bermain-main” di social media. Jika ingin ke social media, seriuslah. Siapkan manajemen dan budget, serta analisa dengan baik bagaimana pola komunikasi dengan konsumen selama ini sehingga mendapatkan strategi yang tepat ketika masuk ke social media

Twitter Nukman Luthfie

Tulisan terkait:

Starbucks Web 2.0

Feedback 3.0

45 Responses to “Brand Jangan Bermain-main di Social Media”

  1. mirza says:

    pertamaaa…nice artikel pak…

  2. narko says:

    kedua… nice artikel juga om… :D

  3. Arifr says:

    Saya malah belum tau cara jualan di sosial media pak..

  4. cahpct says:

    Ilmu baru keempat ..

  5. jafis says:

    betul sekali yang ditulis Pak Nukman..

    berdasarkan pengalaman saya di cyberPR ini (walau masih newbie). Kita harus terus stand bye jangan sampai ada komentar yg tidak ditanggapi, krn akan membuat mereka merasa tidak dihargai

    terus.. Harus lebih banyak sabar dan cerdas, karena banyak pengguna social media yang sering emosional atau provokatif dlm memberikan saran atau kritik. Kalo kita tanggapi hal yang sama .. maka akan gagal total

    Aku pikir Perusahaan harus mempertimbangkan tulisan bapak diatas, sebelum terjun ke social media

  6. iya pak, saya juga setuju. sebuah brand yang sudah cukup punya nama di dunia verbal sebaiknya memang memberikan investasi yang cukup memadai jika memang ingin berkiprah di dunia online. strategi yang dijalankan pun haruslah direncanakan dengan baik, dan bukan sekadar mengikuti tren. dan juga, haruslah ada SDM khusus yang memang didekasikan untuk mengurusi hal-hal demikian, dan bukannya rangkap-rangkap..

  7. Boy Avianto says:

    Masalah di ‘consumer relation’ kan, pak? Problem banyak perusahaan di Indonesia adalah ‘consumer relation’nya bisa dibilang tidak ada, kalau tidak boleh dibilang cenderung memusuhi konsumen (kasus RS. Omni)

    Pola pikir perusahaan2 ini adalah mendapatkan keuntungan tanpa mempedulikan konsumen. Konsumen di mata mereka adalah korban dan bukan rekanan.

    Selama mental ini masih bercokol di perusahaan tersebut, bisa dibilang partisipasi mereka di sosial media tidak lebih dari ikut-ikutan belaka karena hype.

    Celakanya, saat mereka gagal, mereka akan menyalahkan sosial media sebagai media komunikasi yang tidak efektif. The joke is actually on them…

  8. welehh.. gagal pertama X.. gapapa deh nyang penting mejeng di page one.. *halahh*

    by the way.. nice artikel om..

    Keep posting.. hhe..

  9. reza yazdi says:

    artikel yg sangat berguna om…

  10. arum says:

    hmm, yang sering sekali saya lihat, kegiatan online di social media yang berkaitan dgn promo sebuah produk, langsung take action ke hard selling. Seperti halnya para pegiat UKM di ranah facebook. Yang saya amati, kebanyakan masyarakat facebook tidak menyukai tipe tipe marketing macam ini, mereka lebih menyukai review by others yang kemudian ujung2nya akan menghasilkan keputusan pembelian, tidak seperti short cut berupa tagging produk ke profile orang lain.
    Bagaimana menurut bapak? Dan bagaimana sebaiknya melakukan penjualan atau promo produk di Social Media seperti facebook yang lebih “friendly” dan persuasif bagi mereka yg menggeluti UKM.

    trims

  11. agushery says:

    aku lebih suka mengintip mereka (brand) yang sudah menceburkan diri ke social media adalah dari gaya bahasa mereka. terlihat ada yang lebih pandai mengatur ritme pembicaraan disertai dengan gimmick yang memadai, ada juga yang terlihat masih kaku, seolah-olah mereka adalah pihak yang seharusnya dimengerti oleh pengikutnya. padahal social media adalah tentang obrolan atau pembicaraan. jadi sangat wajar bila ada arah obrolan yang benar atau salah, dan brand kemudian meluruskannya.

  12. zaky says:

    kenapa pendekatannya selalu menaikkan budget? Budget apa saja kira2 pak yang diperlukan untuk social media strategy? Mohon pencerahannya….

  13. mif says:

    Jadi intinya kalau sudah siap terjun ke Social Media berarti harus siap SDM dan mental PR dan Marketing perusahaan tersebut begitu kan pak?

  14. Mungkin perlu ada posisi baru, sebutlah : “Social Media Relation Manager”.

    Jobdesnya kira-kira seperti tertulis DISINI.

    Mungkin jobdes diatas wajib dibaca oleh Brand Manager dan juga HR Manager yang kelak akan merekrutnya.

  15. Facebook memang seperti pisau bermata 2.

    Kalo dikelola dengan benar dan serius bisa menjadi senjata ampuh, jika salah kelola bisa menjadi senjata pembunuh diri sendiri.

    Salam kenal,
    Ardhi

  16. keenganan perusahaan untuk investasi SDM khusus dan/atau alihdaya untuk mengelola social media. bisa dibilang sebagai bukti meng-underestimate social media ( prosumen )

    Budgeting, biasanya brand masih memakai ROI bukan return of interaction, saya rasa ini salah satu alasan kenapa brand menganggap low cost

    Hal Ketiga,soal “peluang berhasil”, tampaknya mereka para brand melupakan unsur fundamental di dunia online yaitu komunitas, kalau sudah terbiasa ber-komunitas tentu gaya hidup horizontal jadi lebih mudah kan

    selanjutnya idem sama pak @yodhia

  17. zaky says:

    komentar saya kenapa dihapus pak? :( (

  18. hahaha,pertamax masih laku juga ya

    #17 @zaky:
    - tidak ada yang dihapus kok, mungkin salah lihat saja?
    - kenapa pendekatannya selalu menaikkan budget? jawabannya: tidak selalu, tetapi sediakanlah budget yang proper
    - Budget apa saja kira2 pak yang diperlukan untuk social media strategy? jawabannya: kan sudah disebutkan di atas, coba dibaca lebih teliti

    #16@arham:
    betul, pendekaran ROI yang bukan return of interaction membuat banyak brand salah jalan

    #15@Ardhi:
    facebook itu medium, alat, bisa digunakan apa saja, tergantung keahlian, dan bisa melukai atau malah bermanfaat.

    #14@Yodhia:
    tepat sekali, di perusahaan-perusahaan yang serius, sudah diciptakan jabatan baru bernama social mediamanager

    #13@mif:
    betul

    #7@Boy:
    itulah yang terjadi, tidak biasa ngobrol di dunia nyata dengan konsumennya tiba2 ingin berhasil ngobrol di dunia maya. Jauh panggang dari api.

  19. Bahagia Arbi says:

    Saat pertama mengenal facebook kira-kira setahun yang lalu saya menemukan banyak sekali fanpages yang mengundang saya masuk ke dalam daftar member mereka. Saya berpikir spontan saat itu begini,”apakah ini menguntungkan mereka?”. Alasan yg mendasari pemikiran saya adalah media sosial dibuat untuk semua orang dengan berbagai tipe kebutuhan. Bukankah ini akan sangat merugikan pihak perusahaan yg berlomba2 memamerkan produknya di media sosial seperti facebook? Ternyata hari ini saya menemukan kebenaran itu dan terus terang saya memiliki kepuasan pribadi membaca artikel bagus ini. Regard from Banda Aceh.

    Arbi

  20. Terima kasih atas ilmu nya boss….

  21. benehal says:

    Saya setuju dangan Soal Manajemen (Pertama), komunikasi memang multiarah, namun bisa mengakibatkan informasi diluar kendali yg tidak diinginkan perusahaan, bisa menjadi bumerang. Dan kebutuhan SDM akan penanganan social media jelas diutamakan, antara siap atau tidak siap sebuah perusahaan akan masuk ke social media ini, mutlak satu itu diperhatikan.

  22. Si Kurus says:

    bagi saya social media itu hanya penunjang. gak banyak kok konsumen yg menggubris produk yg ditawarkan. terkecuali e-commerce.
    Brand manager yg “main-main” memang tepat dikatakan hati2. Nice artikel pak.

  23. BudiTyas says:

    Alih daya mungkin bisa jadi solusi bagus, terutama jika meminjam kata2 khas pengkhotbah dengan sedikit modifikasi. “Jika benar, maka itu berasal dari Brand owner, jika salah, maka itu kesalahan saya pribadi”.

  24. Omtri says:

    Memang tidak mudah masuk ke social media. Saya pernah sedikit mengadakan survey kecil-kecilan. Begini, ketika saya mengupdate status saya dengan muatan promo atas produk yang saya pasarkan, tak satupun mendapatkan respon baik yang berupa thumbs up maupun komentar. Tapi ketika saya memposting status yang isinya joke-joke atau sekedar buah pikiran saya saat itu, maka komentar berdatangan banyak sekali. Inilah, memang tidak mudah sebuah produk atau jasa melebarkan area promosinya dengan masuk ke social media.

    Thanks! Keep posting!

  25. Segala channel memiliki positif dan negatif. Walaupun demikian, sekarang jamannya adalah new wave marketing, yang mana brand akan terlibat lebih intens dengan komunitas, yang arahnya resiprokal.

    Untuk sukses di era ini, kita harus bisa lebih memahami komunitas yang kita ikuti. Penting bagi kita untuk tidak melontarkan seuatu yang bisa memperburuk brand image kita.

  26. penjenguk says:

    nice information pak.. disamping itu karyawan online marketing kadang dianggap sebelah mata.. padahal seperti yang bapak ungkap bahwa se uah perusahaan yang mencoba untuk promosi via social bookmark harus punya karyawan handal yang siap 24 jam menampung kritik dan saran dari konsumen..

  27. asep komara says:

    Ya secara keseluruhan saya setuju dengan apa yang anda utarakan dalam tulisan ini. Khususnya saya percaya bahwa untuk sukses masuk ke dalam sosial media tentu harus disikapi dengan serius. Bukan hanya mengikuti trend saja, harus dipertimbangkan matang matang.

  28. agung says:

    Info: very nice….disaat pada rame2 ikut2an social media.
    Thanks infony,….

  29. Subadri says:

    Cukup mencerahkan. Awalnya, saya termasuk orang yang terperangah dengan konsep LCHI sebagai akibat dari kekuatan mulut (word of mouth). Tidak salah untuk berharap seperti saya dan siapapun terhadap konsep tersebut, namun benefit and cost masih berlaku. Berdasarkan penelitian penularan keburukan produk/jasa lebih banyak dibanding dengan kebaikannya. Sosial media, bicara soal efisiensi dan efektifitas. Dan risiko…
    Warmest regard

  30. victor says:

    Bagus banget artikelnya. Memang benar bahwa dalam strategy ini membutuhkan orang yang sangat mengenal medan. Karena media ini adalah media online 24hr dan global banget.
    Sama halnya dengan customer service atau call center, maka social media pun berperan sebagai representasi NAMA BAIK brand. Hanya bedanya, baik customer service atau call center memperlihatkan nama orangnya + nama brand tetapi social media terkadang biasanya HANYA memperlihatkan nama brand saja.

    Thank you Pak for infonya, benar-benar membuka mata dan ide.

  31. Berry Rachmawan says:

    sangat inspiratif, artikel ini cukup dipertimbangkan, akan tetapi keefektifitasannya bisa dilihan dari ukuran/jenis usahanya masing2. Hubungan horizontal marketing memang sangat ekstrim. gagal jadi nol menang jadi bintang.

  32. Faihu says:

    Artikel yang cerdas, beberapa hal yg bapak jelaskan belum banyak terpikirkan oleh para pengusaha.

  33. pindar says:

    mantap. benar juga pak nukman, banyak brand yang coba masuk ke social media malah kewalahan dan jadinya terabaikan..

  34. Teguh Toyota says:

    Trima kasih banyak utk pencerahannya Pak Nukman. Sbg praktisi marketing otomotif yg fokus ke pemasaran online, kekuatan Social Media pun tdk luput dari bidikan sy.. hehehe..

    Dan sejauh ini.. hasilnya lumayan efektif utk meningkatkan penjualan.

    Terus berbagi Pak Nukman. Salam.

  35. Sudah banyak perusahaan, ATPM, bengkel yang menghubungi, mengundang dan bahkan mengajak saya jalan-jalan ke LN secara gratis. Ujungnya adalah branding. Saya menyambut baik, apalagi ada kegiatan yang dihubungkan dengan hobi, dan ini ternyata enak sekali. Tidak ada beban bagi blogger untuk menulis artikel, dan perusahaan yang ‘mendekati’ blogger pun ikut merasakan manfaatnya. Produknya cepat dikenal dan masyarakat juga semakin cepat mengenal produk yg dimaksud. Branding melalui blogger adalah pilihan strategi marketing.

  36. Widy Jantiko says:

    Terima Kasih banyak pak ilmunya mantab banget…

  37. harusnya sikap apa aja yg harus kita lakukan???

  38. deriz says:

    Kalau saya sih berpegang pada prinsip no pain no gain. Gak ada itu yang namanya mau enak tanpa susah terlebih dahulu. Sama juga ketika kita berkecimpung di social media, harus total. Jadi jangan budget saja yang dipentingkan.

  39. Joko Susilo says:

    sepakat dengan analisis yang jitu dalam artikel ini. Kalau memang hanya silau dengan konsep “low budget high impact” tanpa dibarengi dengan penguasaan medan social media yang kuat dan kemampuan untuk selalu ter-connect, main di social media justru bisa menjadi bumerang bagi brand.
    Saran simpel dari artikel di atas mungkin begini…
    “kalau memang belum siap untuk ngebranding di social media, lebih baik tidak usah.” :)
    Salam ACTION!

  40. aprillins says:

    Cerdas! Ada perbedaan penting yang saya tangkap, yaitu antara:
    Dagang dan Bisnis.
    -Dagang prosesnya hanya nego, beli, dan jual. Ga ada interaksi penting dan mendalam dengan konsumen.
    -Bisnis tidak hanya beli dan jual, tetapi juga membangun manajemen, pengembangan bisnis, rencana jangka panjang, galang komunitas, kerjasama antar bisnis, dan lain-lain.

    dagang dalam media sosial online ibaratnya:
    -Toko batu bata masuk facebook
    Apa hubungan khususnya???? Rasanya tidak cocok kalau komplain, “pak batu batanya kelembekan”, “pak batu batanya terlalu hitam”, habis sudah….

    bisnis dalam media sosisal online ibaratnya:
    -Hosting, Koran berita. Hubungannya? Hosting – untuk kemudahan pelanggan berinteraksi dengan pihak penyedia hosting. Sedangkan koran berita – Menyebarkan informasi tentunya, karena informasi merupakan salah satu kebutuhan masyarakat

    Hal penting yang harus diingat. Namanya media sosial, Bukan media dagang tentu digunakan untuk bersosialisasi bukan untuk dagang.. Memangnya Zuckerberg mendirikan facebook tujuannya untuk dagang? Ya engga.. hehe
    Sebagai perusahaan tentu bersosialisasinya dengan profesional donk meski pun itu lewat media sosial, jangan murah tapi murahan tetapi murah dan berkualitas, setuju? Setujuuu…
    :cool:
    :cool: :cool: :cool: :cool: :cool:

  41. adi cahyono says:

    Bangun brand mulai sekarang , he he … lewat social media lebih cepat nyebar :)

  42. Artikel yang sangat dibutuhkan oleh para manager perusahaan ataupun yang sedang merintis usaha dan mau memasarkan produknya lewat on line ataupun mau iklan di social media.

  43. Saya masih baru belajar ngeblog nih. Saya baca artikel Anda sangat berbobot.Salam kenal mas Nukman

  44. Andrey CS says:

    Pertama,
    lupakan kebiasaan press release.

    Kedua,
    mulailah dengan kesungguhan hati untuk mau berinteraksi.

    Ketiga,
    sadari bahwa brand akan berhubungan langsung dengan manusia asli (person to person) bukannya manusia jadi – jadian atau angka statistik.

    Keempat, bersabarlah, membangun hubungan yang solid membutuhkan waktu, sebagaimana yang diungkapkan pak Nukman, para brands yang sukses sudah membangun fondasi mereka di jauh – jauh hari dan dengan komitmen yang penuh.

    Kelima,
    Mau hasil cepat ? buatlah kontroversi atau curahkan semua sumber daya anda di medium yang baru ini.

    Semoga sukses ^3

  45. bagus untuk pembelajaran semua yang akan masuk ke social media

  46. semua bisnis dgn beragam produk pasti mempunyai cara dan strategi pemasaran yg berbeda2,,lakukan promosi pada tempat dan waktu yg tepat

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
valentmustamin @valentmustamin
Online Tech
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • hao: - hahahaha, ngak ngaruh tuh omongan orang lain…

  • Ardi Kemara PRadipta: - memang sih kalo kadang melihat realita yang terjadi apa yang dibacarakan...

  • Andy MSE: - asemik… jebul saya ketinggalan hal2 seperti ini… setelah ketemu Cah...

  • Anis Zegeg: - Menurut saya.. koq lebih penting bisa tampil di 10 besar mesin pencari ya...

  • widya: - Blogger dan jurnalis sama ciptaan Tuhan yang mempunyai tanggung jawab masing-masing....

  • BudiTyas: - Klo gitu, mending pangkas anggaran pemasaran utk meningkatkan kualitas produk dong...