Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

CEO Blogging

November 22, 2007
Oleh Nukman Luthfie

 

Di luar sana, sudah banyak CEO perusahaan yang ngeblog, bukan hanya memiliki blog, tetapi juga merawatnya sebaik mungkin melalui penulisan secara berkala dan terus menerus, serta membalas komentar yang masuk. Yang sering dijadikan contoh adalah orang nomor satu di Sun Microsytem, Jonathan Schwartz, Direktur Boeing Randy Baseler, serta para pakar papan atas seperti Seth Godin, Tom Peters, Paul Temporal dan Jonnie Moore. Di negeri kita, masih sulit menemukan CEO yang ngeblog.

Warta Ekonomi pekan lalu menulis mengenai fenomena ini. Saya termasuk yang diwawancara untuk artikel tersebut. Saya (dalam posisi CEO Virtual Consulting), Elisa Lumbantoruan (saat diwawancara masih sebagai CEO HP Indonesia, kini sudah pindah ke Garuda Indonesia sebagai Direktur TI), Irfan Setiaputra (Managing Director Cisco Indonesia), Erick Tohir (CEO Grup Mahaka Media), Betti Alisyahbana (CEO IBM Indonesia), dan beberapa lainnya disebut Warta Ekonomi sebagai CEO blogger.

Hampir semua yang diwawancara Warta Ekonomi sepakat bahwa blog mereka adalah sarana komunikasi yang ampuh dengan pelanggan serta untuk sarana public relations. Tentu saja, masing-masing juga memiliki alasan lain yang berbeda. Elisa misalnya, tertantang ngeblog karena anaknya yang kelas 3 SD sudah punya blog. Sementara itu Erick Tohir ingin menginspirasi generasi muda melalui blognya.

ceoblogs.JPG
Saya sendiri? Ini yang lupa saya sampaikan saat diwawancara Warta Ekonomi:

Pertama, saya ingin membuka wacana banyak perusahaan/produsen betapa potensialnya Internet sebagai media (baik untuk ke-PR-an, marketing, sales, maupun branding).

Kedua, saya berharap melalui postingan yang rutin di blog ini maka semakin banyak anak muda sadar potensi Internet, sehingga lahirlah banyak dotcomer baru yang berhasil, serta bisa bermunculan banyak profesi-profesi baru di bidang Internet.

Tautan:

Warta Ekonomi: Lebih Dekat… Lebih Interaktif

37 Responses to “CEO Blogging”

  1. Ya, saya sendiri cukup terkejut ketika hampir tidak menemukan blog milik kaum cerdik cendekia yang biasa menulis di media cetak. Tadinya, saya membayangkan akan menemukan blog-blog berkualitas milik para pakar (baik dlam bidang manajemen/bisnis, bidang kebudayaan, lingkungan hidup, ekonomi, dan politik)…..namun hasilnya NIHIL.

    Contoh kecil, dalam bidang manajemen…masak dosen top-top dari MM-UI, atau Prasetya Mulya, IPMI, IPPM, atau MM-Binus…tak ada satupun yang punya blog….(kecuali Aditiawan Chandra, Phd) padahal dengan blog mereka bisa mempublikasikan ide-ide mereka; dan berinteraksi dengan para mahasiswanya. MM-Binus iklannya gagah….menayangkan era informasi….namun ternyata tak ada satupun dosen-nya yang punya blog (situs ibu Amalia juga bukan blog, dan jarang diupdate).

    Begitu juga dengan pakar ekonomi. Mana ada pakar ekonomi kita yang punya blog? Di Amerika, banyak sekali blog bagus miliki para dosen ekonomi (misal: gregmankiw.blogspot.com).

    Saya pikir ini sebuah KEKOSONGAN BESAR. Saya pikir problemnya sederhana : banyak pakar kita yang gaptek. SOLUSI : saya membayangkan Pak Nukman suatu saat bikin workshop CARA BIKIN BLOG dengan audiens khusus para pakar. Kita roadshow pak ke kampus-kampus.

    Kalau ada 100 saja pakar yang biasa menulis di koran itu mau bikin blog….wah mungkin dunia blog tanah air akan makin dinamis.

  2. Ya, bikin acara OFFLINE ROADSHOW….judulnya BLOG GOES TO CAMPUS…ke-kampus-kampus…targetnya biar ada 1000 DOSEN/PAKAR yang punya blog. Biar orang-orang hebat seperti Onno W. Purbo, Faisal Basri, Rhenald Kasali, Tommy F. Awuy juga punya blog.

    Saya yakin, kalau orang-orang seperti mereka juga punya blog, dunia blog di tanah air pasti akan kian semarak.

    Bagaimana pak? BLOG GOES TO CAMPUS 2008 !!

  3. andika dj says:

    Hehehehe…. kerenh pak…. salut-salut. Jelek-jelek begini saya juga CEO yang ngeblog lho pak. Tapi gimana ya biar bisa konsisten nulis soalnya alasannya banyak… biasanya kesibukan (baca: malas). Kasih kita tips-tips nya pak… atau jangan-jangan topik blog saya yang memang kurang focus ya… mohon masukannya…. Boleh juga lewat japri pak di email saya…. suwun.

  4. Ono Karsono says:

    Haduh, topik menarik neeh,soalnya ane lagi mabok nge-blog…

  5. Cah Jogja says:

    “Kedua, saya berharap melalui postingan yang rutin di blog ini maka semakin banyak anak muda sadar potensi Internet, sehingga lahirlah banyak dotcomer baru yang berhasil, serta bisa bermunculan banyak profesi-profesi baru di bidang Internet.”

    Amiin…

  6. ndoro kakung says:

    banyak musikus yang juga belum punya blog. baru ada satu, jockie. padahal musikus bisa ngasih klinik, bagi-bagi lagu, dan sebagainya, lewat blog.

  7. Pak Nukman, ada salah satu CEO dari Indonesia yang ngeblog yaitu Bapak Irfan Setiaputra (http://irfansetiaputra.com/).

    Dalam beberapa artikel lain malah ditulis sebagai CEO dari Indonesia (Cisco) yang pertama kali ngeblog.

    Saya setuju dengan usul roadshow untuk workshop cara ngeblog untuk para pakar, akan menjadi suatu terobosan keren.

  8. taryono says:

    @4m ya ndak usah heran dong para pakar tersebut baru mau ngomong kalau ada earningm lah di blog earningnya apa? paling dari monitize site, Lagian, blog is for newbie, youngster in the field, jadi yang udah besar yo mainannya lain, media cetak Biarkan mereka begitu, kan lama out of date sendiri, ingat ngak kasus IBM, ndak mau ngirik PC mau Mainframe yo jebol duluan dong, belum lagi kasus apple yang ngak mau terbuka, semua dibikin sendiri.
    moral cerita, blog is new world ndak semua pakar sempat belajar.
    salam buat Pak Nukman, kapan mbahas e-comm yang paripurna jangan cuma yang mesti ribet kalau deal (misalnya mesti ke bank tuk transfer setelah closed deal).

  9. igun says:

    Dari blog tokoh-tokoh seperti bapak ini lah saya dapat belajar banyak. Semoga semakin banyak tokoh lain yang mulai ngeblog

    BLOG GOES TO CAMPUS .. ide bagus tuh

  10. indogeotech says:

    7. yupe, saya dukung banget BLOG GOES TO CAMPUS 2008 !!

    Saya termasuk orang yang baru mengenal dunia Blog, terus terang saja untuk menulis di Blog itu lumayan agak sulit, apalagi kemampuan menulis saya sangat minim alias NOL. :D

  11. Endy says:

    @7 walaupun pak onno w purbo tidak punya blog, tetapi artikelnya banyak sekali bertebaran diinternet secara gratis. Dan yang saya dengar hanya beliau yang peduli tentang pendidikan gratis ini. Artikel beliau jika di bukukan sudah menghasilkan uang banyak, tapi beliau rela memberikan gratis.

    Dan untuk dosen, atau pakar yang tidak punya blog, mungkin bukan karena tidak mau membuat blog, jadi saya setuju dengan pak taryono, uang bisa menjadi alasan utama. “5 halaman bisa berharga jutaan, kalo diblog mungkin pikirnya tidak bisa menghasilkan segitu”. dan mungkin juga berprinsip “ide itu mahal”.

  12. catur pw says:

    Melalui blog, akses user/customer/client atau rekanan kerja semakin dimudahkan. Langsung ke si-Empunya Blog a.k. CEO nya perusahaan, jadi issue terkini yg berkembang disekitar kita bisa terserap dengan baik oleh pemberi keputusan.

    Demikian juga dari pihak Blogger, dapat menyampaikan pesan2 perusahaannya langsung ke target market yg tepat. Selain itu dengan eksistensi CEO di blogspace akan semakin memperkuat brand yg dibawanya (baik brand perusahaan maupun personal brand).

    “Marketing goes Personal” :P

  13. igun says:

    @7 @11
    FYI, pak ono w purbo adalah salah satu kontributor di http://www.oke.or.id (open knowledge and education) — maaf ya pak nukman bukan promo situs.
    Seberapa besar sih efektif nya bagi para public figur ngeblog di blog sendiri? dibanding dengan menjadi kontributor di berbagai site?

  14. Mungkin kita mesti minta budi baik Maverick lagi untuk organize acara BLOG GOES TO CAMPUS 2008…..:):)

    Saya rasa akan banyak sponsor yang berminat.

  15. Surya says:

    Bisa juga jadi tempat bagi2x ide dari bawahan yang mungkin nggak berani mengungkapkan secara langsung, soalnya kan bisa pake nickname :P

  16. #4
    Betul mas Yodhia, itu kekosongan besar. Solusi yang bagus kalau bisa mengadakan offline roadshow. Ke Kampus atau ke CEO? Dua-duanya menarik. Namun saya tidak bisa sendirian. Saat ini saya baru secara informal mengajak banyak CEO agar mau ngeblog. Salah satunya, yang sudah live adalah pak Paulus Bambang, Vice President Director United Tractors. Di kalangan media, saya mengajak Meutya Hafid.

    Kita semua yang sudah jadi blogger, rasanya perlu terus menyebarkan virus blog ke orang-orang yang kita kenal agar banyak ilmu yang tersebar di jagad maya ini.

  17. Arham says:

    smoga banyak orang indonesia yang sadar akan potensi Blog.. oh ya ada site menarik tentang Blogging di http://road-entrepreneur lalu click let’s blogging…

    oh ya.. AMIN (semoga Blogger indonesia tetap exist)

  18. Mia says:

    Salam pak Nukman ,kita menyadari bahwa CEO kita masih banyak tidak memakai tangan sendiri ,kalau punya blog juga saya khawatir yang mengisi / posting juga sekretarisnya…dan itu kenyataan.
    Jadi memang harus dari kebiasaannya sendiri ,harus dibangun dari kebiasaannya sendiri. Kalau ada CEO yang susah diajak ngeBlog pasti deh ,dia juga ngga suka bikin report dari tangannya sendiri…….

  19. Wah yang diajak ngeblog kok cuma para CEO dan orang Top yang sering tampil di dunia atas saja(kita ini orang dunia bawah po yo….?).
    Mereka khan males kalau gak ada imbalannya secara langsung (ini praduga bersalah kali..???? maafin ya para CEO dan Orang Top yang enggak suka ngeblog yang sempat baca koment ini he he…. )
    Kita kita orang bawah yo perlu lho diajak ngeblog to Mas Nukman…
    Kalau mereka khan semuanya udah kecukupan buat apa ngurusin yang gini ginian …Capek deh.
    Kalau mereka bikin Plan Of Action (iki opo maneh..to yo..??) suatu Proyek nilainya khan jutaan ,lha kalau kita dikasih ucapan terimakasih saja wis senenge ora umum.
    Namun begitu Mas Kita dukung Sampeyan untuk menularkan budaya ngeblog di kalangan para CEO,Manajer,Penyelia,Karyawan,OB,penjaga malam,Satpam,Petani,Pedagang,Tukang ngamen,Pak Camat,Pak lurah,Mbah Modin,Pak Dukuh dan sebagainya….eh jangan lupa Salesman ya.
    Terimakasaih Mas Nukman atas pencerahannya.Salam

  20. ginanjar says:

    Pada saatnya nanti, mungkin sekitar 5 – 10 tahun kedepan ketika level middle (baca:manager, karyawan) sudah naik keatas semua, kita akan terbiasa melihat para CEO ngblog

  21. iqranegara says:

    Saya gak yakin kalo mereka gak ngeblog karena gak ada duitnya. Orang pintar kayak mereka pasti punya banyak tulisan dan buah pikiran. Duit? Buat mereka, mending investasi saham daripada nulis cuma untuk dapat duit. Ini lebih disebabkan mereka belum tau manfaatnya ngeblog

  22. Oh iya, baru ingat. Ada teman saya yang CEO minta dibuatkan fasilitas buat ngeblog di situs web perusahaannya ;P Kalo di Mambo/Joomla OS pakai apa, ya?

    Ya, para CEO yang belum ngeblog mungkin lebih enakan bila ngeblog di situs web perusahaannya sendiri atau memakai domain tertentu, tidak di Blogger.com dkk.

  23. Indra says:

    Saya rasa para CEO dan pakar yang belum ‘ngeh’ soal pentingnya blog perlu di’drill’ tidak saja soal bagaimana membuat blog, tapi juga bagaimana blognya mampu membangun authority seputar pribadi atau bisnis yang digelutinya.

    Kebayang nggak misal orang pengin tahu tentang “Pak A CEO PT. Anu” lewat internet yang muncul semua tentang “Anti Pak A CEO PT. Anu yang Amburadul”?

  24. #13
    Mas Igun, orang seperti pak Ono Purbo itu sangat produktif, karyawanya tersebar di mana-mana. Beliau juga sangat aktif di milis-milis teknologi. Alangkah baiknya kalau punya blog sendiri, sehingga segala ide dan karyawan terkumpul di satu tempat, untuk mempermudah publik mengakses dan memahami seluruh gagasan beliau.

    #17.
    Betul mbak Mia, ada kecenderungan CEO akan titip sekretarisnya untuk memposting gagasannya. Saya kira itu tidak masalah. Itu hanya soal teknis. Yang penting gagasannya original, dan beliau mau terlibat dalam diskusi.

    #18 dan #21
    Setuju dengan Iqranegara. Semua CEO yang saya ajak bicara mengenai blog tidak pernah punya motivasi uang. Mereka sudah lebih dari cukup memiliki uang. Maka motivasi utamanya biasanya adalah saling berbagi, aspek ke-PR-an, dan sejenisnya.

    #19.
    Mas Yodhia nanti jadi tim “Blog Goes to Campus 2008″ ya.

    #22. Biasanya CEO ngeblog di domin pribadi, atau di domain perusahaannya. Untuk Indonesia, CEO top yang ngeblog di blogspot adalah ibu Betti Alisjahbana (CEO IBM Indonesia)melalui betti-alisjabana.blogspot.com dan Hermawan Kertajaya (CEO MarkPlus) di Hermawan.typepad.com

    #23.
    Point yang bagus mas Indra. Otoritas. Itu yang perlu dibangun oleh para CEO

  25. Yudi Garnadi says:

    Budaya menulis di negeri kita masih rendah, mungkin terbawa dari sejak sekolah hingga mempunyai kedudukan yang tinggi dalam perusahaan. Selain itu, masih banyak yang gagap teknologi informasi ya, blog apaan tuh ?

  26. iyan somanjaya says:

    Saya sangat senang dengan adanya blog ini. karena kita dapat belajar banyak dari tulisan-tulisan didalamnya. Moga-moga blog ini melahirkan CEO baru kelas nasional dan internasional. 0817834539

  27. abawr-abawr says:

    “Kedua, saya berharap melalui postingan yang rutin di blog ini maka semakin banyak anak muda sadar potensi Internet, sehingga lahirlah banyak dotcomer baru yang berhasil, serta bisa bermunculan banyak profesi-profesi baru di bidang Internet.”

    Indonesia itu bukan India. Kalau orang India melihat orang kaya, dalam hati, mereka akan berkata, “Saya akan sekolah sebaik mungkin lalu berkarya dan bekerja keras agar bisa kaya raya.’

    Anak muda Indonesia? Saya jualan shabu-shabu saja biar bisa dugem Atau, yang lebih miris, bagaimana caranya saya merampok orang kaya itu.

    Di Bengalor India, kaum perempuan adalah penggerak ekonomi yang berkaitan dengan dunia maya. Mereka membuka situs internasional yang menawarkan jasa call centre. Sembari melakukan pekerjaan harian di rumh, mereka bekerja untuk perusahaan internasional di luar negaranya. Bahkan mereka mengambil hampir semua pekerjaan outsourcing yang berkaitan dengan desain grafis. Jasa posting (poster) ke sejumlah situs mereka lahap pula.

    Kalau melihat keramaian anak muda di sejumlah warnet di sejumlah kota di Indonesia, tentulah sangat menggembirakan, internet memberikan harapan lebih baik kepada sejumlah anak muada di Indonesia. Tapi tahukan apa yang lebih kerap anak muda Indonesia lakukan di depan komputer di warnet? Cobalah cari tahu dengan melongok ke sejumlah warnet.

    Di Yogya dan di sejumlah kota lainnya bahkan ramai diberikan bilik warnet sudah menjadi kamar mesum. Bukan penuh dengan netters yang menjual kreativitasnya. Tapi, mereka memeraktekkan apa yang terdapat, misalkan, di lalatx dan situs sejenis.

    Soal CEO ngeblog, itu kan seperti Bos bilang, “…membuka wacana banyak perusahaan/produsen betapa potensialnya Internet sebagai media (baik untuk ke-PR-an, marketing, sales, maupun branding).” Soal siapa yang nulis blog itu? Who know?

    Ayo kita jadikan internet sebagai wahana membuka lapangan kerja bagi 45 juta pengangguran di Indonesia. Timbang menuggu para politisi memikirkan nasib para Anak Muda di negeri ini -yang tidak akan ada dalam pikiran mereka- lebih baik kita berbuat sesuatu. Misalkan dengan membuat situs sebagai wahana alih daya (outsourcing) keterampilan dan keahlian banyak Anak Muda negeri ini. (Tapi buatnya sama saya. He he he)

  28. Cah Jogja says:

    #27
    Wah jangan begitu, Pak. Gak semua anak muda seperti itu, bahkan di Jogja.

    Di Jogja saya mengenal Mas Wawan (www.pogung177.com) yang sudah bertahun-tahun menekuni situs affiliasi CJ. Mas Ray (www.rayofshadow.com) yang malang melintang sebagai web developer dengan klien dari Australia. Mas Isnaini (www.isnaini.com) salah satu publisher adsense yang sukses.

    Itu kalo kita bicara tentang anak muda. Kalo corporate yang dikelola anak muda di Jogja juga gak kalah banyaknya: http://www.gudeg.net, http://www.thinknolimits.com, http://www.idwebhost.com, dll.

    Banyak koq di antara kami yang dahulu merintis bisnis itu dari warnet.

    Oya, tadi saya sempat berkunjung ke http://aviandewanto.spaces.live.com/

    Bagaimana kabar Malang?

  29. Ray says:

    Wah tulisan yg bagus Pak Nuk.. sangat menginspirasikan bagi kaum muda (terutama saya) untuk belajar lebih

    @abawr-abawr : pandangan anda salah besar. Banyak anak muda Indonesia yg bekerja secara freelance, banyak dari mereka bekerja dengan partner dari luar negeri, banyak dari mereka mendapatkan project dari luar negeri (saya berbicara soal web karena bidang saya di situ). Kapan mereka bisa disebut CEO? sedang mereka tidak punya perusahan, dan gaji mereka bisa di sejajarkan dengan CEO sebuah perusahaan :)

    Untuk Yogya, anda sangat mendeskriditkan Jogja (dan kota yg lainnya), memang dulu banyak hal seperti yg anda bilang, akan tetapi sekarang hampir semua warnet menggunakan bilik yg simple, mengurangi cost dan terutama keamanan. Di Jogja ada yogyes.com yg di gawangi oleh anak muda juga, bahkan web tersebut sudah bisa di bilang sangat sukses, dan pernah masuk koran washingtonpost, di Jogja banyak rekan yg berhasil, yg mana awalnya mereka adalah penjaga warnet atau hanya pengguna warnet, termasuk saya (cuma saya belum berhasil) dan banyak juga di kota lainnya.

    Terlepas dari semua itu mungkin pendapat anda benar juga, karena sebagai penjaga warnet saya pernah mengalami semua itu, user yg kerjaannya hanya menonton blue film, gambling etc dll dsb yg negatif.

    Semoga pula dengan postingan Pak Nuk, komentar cambukan dari anda dan komentar lainnya akan menjadikan kita “lebih melek” dan akan membuat Indonesia makin lebih baik ;)

    thanks
    *PS: Pak Nuk kapan ke jogja lagi, kapan share lagi seperti saat di Dixie*

  30. abawr-abawr says:

    #28 & 29
    Maaf banget ya. Yogya itu kota kesukaan saya kok. Malah saya kalau tidak ke Sosrowijayan beberapa bulan aja sudah kayak menderita demam begitu. Saya suka keluyuran di Malioboro bersama teman-teman di sana. Tentu saja saya pun ada beberapa teman anak muda yang membantu saya dalam berbisnis di internet. Dan, seperti juga di Malang, saya sangat yakin Yogya memiliki anak-anak muda yang hebat-hebat.

    Malah Yogya, buat saya, jauh lebih hebat. Yogya itu miniatur internasional. Segala bangsa hidup di sana. Gak cuma Wong nYogya. Itulah kelebihan Yogya ketimbang Malang dan kota-kota di luar Jakarta lainnya.

    Dengan gaya tulisan saya seperti itu memang tampak menyerang anak muda kota Gudeg. Tapi sungguh saya benar-benar prihatin dengan gejala negatif dengan kehadiran internet di masyarakat Indonesia. Karena kebanyakan pengguna internet anak muda, tentulah hal negatif itu pun terimbas ke anak muda. Meskipun saya yakin yang lebih tua pun gak berarti kelakuan jauh lebih baik.

    Di Malang saya suka keliling warnet. Observasi saya memang seperti itulah yang terjadi: Jejak yang saya lihat dari admin warnet kebanyakan situs porno yang dibuka oleh para pelanggan warnet.

    Komentar saya tentang apa yang terjadi di balik bilik warnet di Yogya tersebut karena ingatan saya atas laporan sebuah stasiun televisi. Tapi, beberapa minggu lalu saya ke Yogya, sejumlah bilik warnet yang tertutup di Yogya dibongkar dan diganti yang baru dengan yang lebih terbuka.

    Saya terus terang prihatin dengan kondisi masyarakat secara keseluruhan atas kehadiran internet ini. Bukan cuma karena maraknya penempatan “tayangan seks pribadi” ke sejumlah situs. Tapi, apa sih faedah kehadiran internet buat masyarakat Indonesia? Kalau cuma mendapatkan informasi (atau rajin menulis di blog yang gak dibayar) buat apa? Memangnya sambungan internet dan listrik gratis? Emangnya yang nulis blog gak makan?

    Saya bersama beberapa teman di Malang sedang berusaha keras mengupayakan sesuatu untuk mendapatkan keuntungan finansial dari kehadiran internet. Kalau mau lihat deh situs http://www.powerpointpartners.com. Itulah kira-kira salah satu bentuk usaha kami menghasilkan pendapatan dari internet. Yang penting usaha yang kami kerjakan itu halalan thoyibah. Kami juga sedang menyiapkan beberapa situs lain untuk melakukan alih daya.

    Di mata saya, Indonesia punya ancaman serius dalam waktu dekat ke muka: Ledakan pengangguran. Masak semua warga Indonesia diminta jadi TKI? Sementara sejumlah penduduk Malaysia sudah menghina Indonesia. Apa selamanya kita jadi bangsa koelli? Saya dan teman-teman yakin internet dapat menjadi sarana sebagai alih daya. Dan, itu hanya bisa dilakukan anak muda-anak muda.

    Jangan pernah sekalipun mengharap kepada “orangtua” deh. Kalau Para pemimpin politik di Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dll sudah pening kepala dan tidak bisa tidur gara-gara melihat kenaikan angka pengangguran di atas 4-5%. Di Indonesia, mereka masih tertawa tertiwi melihat angka pengganguran 45%. Edan ya!

    Bravo Anak Muda Indonesia!
    Salaam

  31. Ray says:

    Sip pak abawr-abawr.
    sebenernya cambukan berupa komentar seperti komentar anda di no #27 itu perlu, biar pada “melek” dan “semangat” gak mlempem saja :D

    makasih juga atas penjelasannya, moga kelak suatu saat kalo njenengan tindak jogja bisa kopdar bersama rekan rekan jogja :)

  32. abawr-abawr says:

    #29: Banyak anak muda Indonesia yg bekerja secara freelance

    Tentu saja saya percaya banyak anak muda Indonesia bekerja lepas dalam berbagai bidang jasa baik di dalam ataupun di luar negeri. Saya sangat yakin kok dengan kemampuan dan keahlian anak muda Indonesia. Buktinya anak muda-anak muda yang bekerja untuk kami sudah beberapa kali memenangkan lelang pekerjaan alih daya di mancanegara.

    Yang jadi masalah, maaf ya, dan yang tolol itu bukan anak muda Indonesia tetapi mereka yang mengaku “orang tua” dari anak muda Indonesia. Ingat tidak sebuah iklan di dalam bus seorang pemandu wisata sampai dia bertukar tempat dengan supirnya hanya untuk menyampaikan pesan. Buat saya iklan itu tepat menggambarkan komunikasi antara anak muda dan para “orang tua”. Tapi sekali lagi biarlah para “orang tua” dengan kelakuan mereka. Tapi tentu saja tidak semua orang tua berkelakuan seperti ya? Bisa kelenger kita kalau semua “orang tua” seperti itu.

    Di skala internasional, perihal pekerjaan alih daya, Indonesia memiliki ancaman nyata:

    Pada awal meluncurkan situs (untuk mendapatkan pekerjaan alih daya) awal tahun lalu, kami tidak memiliki akun paypal (karena pelaku internet dari Indonesia tidak boleh memakai jasa paypal) terpaksa kami pakai akun paypal seorang teman di Australia. Sehingga pembayaran ke Australia dulu baru kemudian dikirim secara tradisional ke Indonesia. Tentu saja memakan waktu dan biaya. Beruntung belakangan paypal sudah bisa diakses dari Indonesia.

    Tapi saya pun masih menyimpan kecemasan: Bisakah kelakuan negatif sejumlah orang di Indonesia tidak terbawa ke dalam akun paypal? Misalkan, menggunakan kartu kredit orang lain. Saya selalu mengingatkan lingkungan dan diri saya sendiri agar menghindari perbuatan curang apalagi menipu di internet.

    Belakangan jual beli anthurium meningkat drastis di ebay. Dan, ternyata banyak penawar dilakukan oleh orang dari Indonesia. Nahasnya, setelah memenangkan lelang, beberapa dari mereka tidak menutup transaksi. Ataupun, meskipun dari awal sudah diberitahu pembayaran pemenang lelang hanya memakai paypal, beberapa orang masih ikut lelang padahal tidak memiliki akun paypal. Hal tersebut tentu saja menghilangkan kepercayaan terhadap orang Indonesia secara keseluruhan.

    Beberapa hal tadi benar-benar membuat saya cemas terhadap masa depan kehadiran internet di Indonesia. Benarkah internet dapat memberikan manfaat (agar dibaca: pendapatan) bagi kebanyakan orang Indonesia apabila kelakuan negatif sejumlah orang Indonesia dalam trasaski di internet masih muncul.

    Soal kelakuan negatif ini memang tidak melulu terjadi dari Indonesia. Penipuan lewat internet dari negara lain pun kerap terjadi. Tapi, kalau sampai transaksi internet dari Indonesia banyak dibatasi karena kelakuan negatif tersebut tentu akan sangat menghancurkan masa depan banyak anak muda Indonesia yang memiliki keterampilan dan keahlian yang dapat mendatangkan pendapatan bagi mereka sendiri tanpa tergantung dari Negara yang berkewajiban menjamin penghidupan yang layak bagi Warga Negaranya.

    Lha kok bicara jaub dari pokok soal “CEO Blogging” sih?

    Menjadi CEO di Indonesia sangat berbeda dengan di negara asal Jonathan Schwartz, Randy Baseler, Seth Godin, Tom Peters, Paul Temporal ataupun Jonnie Moore. CEO di negara mereka itu sudah menjadi semacam “komoditas” perusahaan yang bersangkutan maupun agensi rekrutmen para CEO tersebut. Jadi setiap CEO punya tim yang dibayar khusus untuk melakukan pekerjaan itu -baik sebagai bagian dari perusahaan maupun perusahaan komunikasi yang digunakan perusahaan CEO tersebut bekerja.

    Buat saya, pertanyaannya bukan kenapa “Di negeri kita, masih sulit menemukan CEO yang ngeblog.” Tapi kenapa tidak ada yang memulai mengajukan diri untuk menjadi “tim penulis blog” para CEO di Indonesia? Menurut saya tidak ada alasan yang berarti bagi para CEO di Indonesia menolak adanya blog khusus diri dan perusahaannya. Karena adanya blog itu sangat menguntungkan citra diri dan kepakaran sekaligus perusahaan.

    Lantas kenapa saya tidak memulai? Karena Bos yang punya blog ini baru saja ketemu lagi kurang dari seminggu lalu setelah sepuluh tahun tak bersua. Juga, karena saya masih punya tanggungan pekerjaan lainnya. Ya, kan Bos? Ha ha ha

    Tapi saya yakin pekerjaan sebagai penulis pengganti blog (blog shadow writer) sebagaimana sering saya dapatkan ketika menawarkan pekerjaan alih daya, pasti sangat diminati para CEO Indonesia. Cuma saja meskipun sudah ada yang melakukan tapi diam-diam saja. Ya kan?

    Pendek kata daripada cuma bertukar pendapat di blog ini lebih lengkap lagi kalau bisa bersama-sama berpendapatan. Akur?

  33. Ray says:

    Akur pak ;)
    *sambil kukur kukur…* panjang amat komentar njenengan pak :D

    ya beginilah keadaan Indonesia sekarang, kalo gak dari kita sendiri yg memulainya ke arah yg lebih baik siapa lagi :)

  34. Mia says:

    Salam ,saya khawatir kalau ada yang mengajukan diri sebagai tim khusus blog CEO suatu perusahaan malah dikatan ,maaf saya cukup dengan tim HR saya ,dan yang lebih parahnya lagi beliau mengernyitkan dahi sambil bertanya Apa gunanya Blog ?! ,coba bikin survey para CEO di Indonesia tentang Blog kaitan dengan Perusahaannya ? Bagaimana ? ;-) @salam

  35. abawr-abawr says:

    Salam kenal juga.

    @Mia: Kok belum dicoba sudah bilang gitu sih. Banyak lho yang kepingin puya blog. Kan kita bisa mulai dari membuat blog sendiri dulu.

    Kalau nanya apa gunanya blog, ya, kita terangkan. Perkara mau atau menolak urusan belakangan. Kan gak selalu kalau kita berjualan pasti ada yang beli. Tapi enak juga, ya, kalau setiap orang yang kita temui langsung mau dibuatkan blog. Bisa capek kita cuma ngurus blog orang lain.

    PS: Kalau pendek, saya bisa dibilang mendeskreditkan Anak Muda. Nti refot ah.

  36. retsu782000 says:

    Saya rasa tidak perlu dikaitkan dengan jabatan. ngeblog itu kan media bebas dan milik semua orang. Mungkin ada keuntungannya kalau Anda kebetulan juga menyisipkan karya, tulisan, dagangan, perusahaan Anda ke dalam post di blog sehingga ada kemungkinan Anda mendapat expose yang gratis dari kegiatan ini. Bahkan seorang nenek dari Spanyol berusia 95 tahun juga ngeblog dibantu cucunya. Saya lupa alamatnya, mungkin bisa di googling. Blognya pernah juga masuk blog of the day di blogger.

  37. ecat says:

    Blog emang udah menjadi trend para pulig figure di indonesia. Kemarin Maia Estianty juga sudah buka blog baru. Yang terbaru dan cukup menggugah rasa patriotisme saya adalah blognya Mas Sandiaga Uno, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. (www.hipmi.org/blog) . Isinya kurang lebih menjadi inspirasi anak-anak muda Indonesia menjadi pengusaha.

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting