Ada beberapa dotcomers yang saya kunjungi situsnya hari ini. Dua diantaranya membuat saya senang dan bangga. Mereka adalah Yoyges dan Tokohelm. Apa pasalnya? Mereka berdua melakukan ekspansi dengan cerdik. Yogyes yang sudah terkenal sebagai media yang dijelajahi turis asing dan lokal yang menuju Yogyakarta dengan fasilitas utama pesan hotel, kini menambahi layanan baru: tempat mencari kerajinan Kota Gudeg. Tokohelm, yang dari namanya saja bisa dipastikan jualan helm, kini menyajikan jasa baru: tempat titip jualan motor.
Bravo. Itulah yang disebut kapitalisasi trafik. Yakni, bagaimana dengan trafik yang ada kita bisa meningkatkan peluang mendapatkan income. Saya belum tahu hasilnya. Namun langkah itu saya puji. Itulah yang dulu dilakukan toko buku Amazon. Setelah mantap di jualan buku online, Amazon melakukan kapitalisasi trafik dengan merambah ke wilayah lain, yakni barang elektronik, komputer, baju, perhiasan, dan lainnya.
Pesan saya kepada kedua dotcomers tadi hanya satu: tekunilah hal baru tadi sama seriusnya dengan bisnis utamanya. Mengerjakan hal baru yang di luar core business bukanlah pekerjaan mudah. Model bisnisnya sudah pasti berbeda. Saya sudah melihat
contoh sebuah ekspansi horisontal sejenis dilakukan oleh dotcomer domestik lainnya, akhirnya gagal. Dan dotcomer tadi akhirnya kembali ke bisnis intinya.
Saya berharap Yogyes dan Tokohelm berhasil dalam ekspansi ini.
Mereka contoh anak muda yg hebat !!
Kok lama banget baru di update sih Pak blognya. Selamat buat Mas Agus dengan Yogyesnya semoga makin berkibar.
hmm.. model bisnisnya memang berbeda, but still.. bravo buat yogyes dan tokohelm yang melakukan ekspansi pada saat yang tepat..
Amien mas Nukman atas dukungannya, kami berusaha semaksimal mungkin dalam mensukseskan brand tokohelm.com, smoga ekspansi yang ada mampu memperkuat eksistensi dan keberhasilan tokohelm.com di dunia online.
Salut buat mas Agus dengan Yogyes nya, dari pertama saya berkunjung kesitus Yogyes, sampai sekarang selalu bikin saya terkagum-kagum pada Yogyakarta sekaligus kagum kepada websitenya yg menyajikan informasi ttg Yogya secara “Apik”.
Saya yakin saat ini smakin banyak dotcomers indonesia yg berhasil dan sukses dengan websitenya, saya harap tidak sungkan membagi ilmunya kepada kami sesama dotcomers.
Sekali lagi Terima kasih mas Nukman, dan kawan-kawan lainnya yg bikin kami terinspirasi untuk maju.
catur
http://www.tokohelm.com
Terima kasih atas dukungan Pak Nukman.
Sebenarnya saya tidak menganggap kategori handicraft sebagai sebuah ekspansi / perluasan lini dari YogYES karena kategori tersebut sudah ada sejak awal internet archieve (2003).
Biasanya perkembangan pariwisata suatu daerah akan mendorong tumbuhnya industri handicraft setempat, contoh: Bali, Lombok, Jogja. Dalam kenyataannya buyers ketika datang ke Yogyakarta juga biasanya minta servis tour 1-2 hari kepada supplier-nya. Eratnya kaitan pariwisata dan industri handicraft tersebut merupakan alasan saya memasukkan kategori handicraft di situs katalog wisata jogja tersebut. Bila indo.com dulu memilih membangun brand baru (rajacraft.com) untuk kategori handicraft-nya, pasti Pak Eka memiliki pertimbangan lain yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada beliau seandainya sempat menghadiri pengajian dotcomers v6 nanti.
Sementara ini, secara pribadi saya cukup puas dengan hasilnya. Banyak pengrajin handicraft yang beriklan di YogYES sekarang berkembang pesat, contohnya adalah seperti yang ditulis majalah Globe Asia edisi April 2007 (link). Namun sebagai dotcomers, tentu ingin bisnis saya juga berkembang. Jadilah saya melakukan hal yang disebut Pak Nukman sebagai “kapitalisasi trafik”
Beberapa hal yang sudah saya lakukan adalah memasang google adsense dan premium ad 468 x 48 px pada posisi top setiap halaman. So far so good, though there is still room for improvements. Beberapa space iklan sudah dibeli oleh situs lokal maupun luar negeri, meskipun pembeliannya masih ritel. Biasanya mereka membeli karena pagerank halaman-halaman tersebut cukup tinggi, bahkan banyak yang memiliki posisi TOP 10 di google.co.id untuk keyword “furniture”, “furniture indonesia”, “hotel”, dsb. Mengingat 84% halaman di YogYES memiliki pagerank 3 atau lebih, saya optimis bahwa hal ini akan memberikan kontribusi yang signifikan pada pendapatan kami di tahun 2007.
Baca post ini saya jadi + semangat. Baca blog ini saya jadi terlihat bodoh. Uhh…, btw, manusia memang harus terus membangun dirinya.
Makasih Pak Nuk atas ilmunya. Doakan saya bisa seperti anda dan mereka
mas Nukman, langkah detik.com bikin detiksurabaya.com apakah ini termasuk salah satu upaya mendukung kapitalisasi traffic juga?
waktu detik.com saja pangsa pasarnya kan sudah nasional tuh harusnya sih pangsa daerah udah kena juga, tapi kok skrg bikin detiksurabaya.com, atau mungkin biar lebih fokus untuk dapet ikan daerah yang lebih banyak ya mas?
kapan ada detikcilacap.com atau detikpurwokerto.com
(btw domainnya dah dibeli blom yah… halaah)
Iya, bagus2 webnya, cuma untuk toko helm kok kesannya riuh ya.., apa emg kapitalisasi trafik akan berakhir seperti itu?
Jadi inget yahoo. Dulu yahoo juga sederhana, seiring waktu (or mungkin krn kapitalisasi traffic tadi) dia jadi riuh. Sekarang kesalib deh ma google yang klin.
Jika detik adalah yahoo, maka yg bakal ngalahin detik adalah yg seperti google. Clean, fast, to the point. Tapi pesaing2 detik sama2 riuhnya…
Salam buat mas agus,..anak jogja jg nih^_^, tak liatin terus tu web sejak desainnya msh jelek, tulisan dulu ampir ga kebaca kr bg ma tulisan ampir sewarna. Sekarang bagusna….salut2..
salut juga buat mas Agus dan yogyes nya.. dah dari pas di jogja dulu selalu mampir ke sana buat cari2 info tempat buat jalan2 …
iya nih..barusan lihat lagi sekarang tampilan dah makin keren aja dah..
sukses dan selalu sukses dah
Waduh semua emang ahli2 nih dlm dunia dotcom, nah saya baru belajar. Yah ngembangin percetakan toko buku yasin online, tapi untuk ngembangin branding biar kayak yogyes ma tokohelm.com gimana yah?
DetikCilacap.com udah dibeli
. Coba dikunjungi… matur nuwun…
[...] internet? Kan biasanya beli helm harus dicobain dulu kan? Begitulah uniknya, dan tokohelm.com pun sukses juga.. Mas Catur juga bekerja di MarkPlus and Co., perusahaan yang didirikan oleh Hermawan Kartajaya, [...]