Itulah pertanyaan yang dilontarkan Okto Silaban tiga hari lalu di blog-nya. Mahasiswa yang baru saja selesai KKN (Kuliah Kerja Nyata) itu melihatnya dari sisi iklan saja. Saya justru tertarik memperdalam pertanyaan itu di sini. Mengapa tidak (belum) ada media online (baik yang murni maupun yang datang dari media tradisional) yang mampu menyaingi Detikcom?
Koran Kompas yang begitu hebat brand awareness-nya di cetak, ketika masuk ke online melalui Kompas.com/Kompas.co.id, tak mampu menyaingi Detikcom. Baik dari sisi trafik maupun income, saat ini Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detikcom. Apa kurangnya Kompas? Nama besar, ia punya. Reporter dan tim redaksi yang handal, mereka ada. Manajemen yang tangguh, mereka pasti punya. Bahkan uang untuk investasi pun mestinya jauh berlimpah ketimbang Detikcom. Lantas, mengapa hingga kini pun mereka tidak mampu mendekati, apalagi menyaingi Detikcom?
Dulu, di awal tahun 2.000 sempat ada persaingan yang menarik antara pendatang baru, Astaga.com dengan Detikcom. Sayangnya, badai bisnis dotcom internasional ikut menghanyutkan Astaga.com yang saat itu didanai investor dari luar.
Kini, Okezone yang dilahirkan oleh grup MNC — pemilik RCTI, TPI dan koran Sindo — ikut meramaikan bisnis berita online. Beberapa media online murni kini juga mulai bermunculan. Namun tampaknya, Detikcom masih saja tidak goyah.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
#49 Membuat media online yang bukan seperti Detik sangatlah memungkinkan, tetapi kalau semuanya langsung berpikiran profit oriented dan mau menyaingi detik itu yang salah…..:P , kalo menurut saya alangkah lebih baiknya kita mengedukasi masyarakat terlebih dahulu tentang keunggulan sebuah website atau portal daripada hanya berebutan pasar yang sangat kecil di dunia website / portal ( Khususnya di Indonesia )saat ini.
hehehe sok bijak
#50 Memang banyak koran online lokal seperti yang pak Warsito katakan, tapi perlu kita cermati juga apakah mereka benar benar konsisten menjaga media onlinenya, karena hampir dari semua koran online yang bapak katakan diatas pernah saya temui dan hampir semua dari koran online itu hanyalah kepanjangan tangan dari media korannya, maksudnya mereka hanya melakukan update berita di website mereka mengikuti isi berita dari korannya, tanpa memikirkan pengembangan dari website mereka.
Sebagai contoh Koran online SH , saat ini di tempat mereka yang meng update koran onlinenya hanya 2 orang dari team IT yang juga merangkap sebagai networking di koran tsb itupun kalau sempat kata mereka dan kalau ada waktu lowong.
Kalau mau dilihat lebih detail lagi koran online mereka tidak ada advertiser tapi kalo melihat jumlah hit pengunjungnya mungkin kita akan kaget , kalo tidak salah alexa mereka sekitar 49.000 an rangkingnya, itu menunjukkan pengunjung website mereka lumayan banyak perharinya, walaupun mungkin alexa belum bisa dijadikan patokan resminya , namun setelah saya melihat dari google analyticsnya website tsb ( saya diperkenankan melihatnya ) pengunjungnya lumayan banyak meski jarang di update.
Itulah yang saya maksudkan di comment saya sebelumnya bahwa sudah waktunya bagi kita mengedukasi masyarakat pentingnya sebuah website / portal atau media online daripada berebutan mencari profit di dunia maya yang sangat kecil porsinya saat ini.
Maaf ya kalo aku sok bijak dan sok tau
, tapi demi perkembangan dunia perinternetan kita hehehe
Makasih
Kenapa belum ada situs local yg bisa megalahkan detik?
1. Karena mereka terlalu memirkan income daripada community. We are in a web2.0 era. Focus on community and the money will follow. Dont put too many ads on one page. There is such a thing called as cpm advertising. Use one space for 3-4 ads rotating every time a page refreshes instead of using one space for one ad.
2. They do a poor job designing their site and often copying detik.com and making the page too complicated for visitors to navigate. Simplicity is key here. Make your site as simple as possible for visitors to navigate around. If a user cannot fins what hes looking for withing 10seconds he is sure to leave and never return to the site.
3. They try to put alot of features all at once often confusing the visitors. Having a website is a learning process. You build as you go. You have to keep adding features as you go depending on the community not throw everything all at once.
4. They try to report the same news as detik. If you cannot find fresh news, why should people come to your site for news. You have to find your own identity. Report on news that will benefit the visitors of your site instead of reporting on news that they have already read in detik. You can report on the same news but make sure u add your own identity to it.
Internet is a huge space there is alway room for everything but make sure you find your own identity instead of just copying other people. Internet users are fickle minded they will always keep finding new sites if they are already bored with the old site. Example: Friendster. People were so into friendster then it became slow and people shifted to myspace then myspace became too spammy and people shifted to facebook. Thats the way the internet is. nobody can rule for too long. you have to keep developing your site and introduce new features as you go. Example: google. They are a search company but they keep developing new projects. now they have become a leader not only in search but in other areas as well such as feed reader, email, maps, blogging platform, calender and video. But they still haven’t forgotten their roots which is Search. Their search engine is still the best and their advertising program is still the most widely used advertising program on the internet. So my suggestions to all the local sites getting crushed by detik is: Find your own identity! Do it your way not the detik way! Start small then keep introducing features and never forget your roots.
kalo sampai kapan/…
kira2 sampai mereka ngak aktif ato sampe mereka tidak ada semangat lagi…umm tapi mungkin ngak sih?….heheh
kalo kenapa mereka lebih unggul, itu karena dia yang pertama ato the first sementara yang laen cuman ikut2-an, trus dia lebih learn by doing darpipada learing by the script. oh ya kalo yang jadi pertama itu (be the first) penting lho, kalo ngak bisa ya jadi yang terbaik, kalo ngak bisa juga jadi yang berbeda. nah yang laen kayak kompas cuman ikutan aja tanpa ada ke dua hal sequence tersebut, singkatnya ngak ada entrepreeurshipnya…
Arham
http://road-entrepreneur.com
Saya hanya nimbrung dengan melihat ‘kekurangan’ yang ada di Detikcom. Yaitu kalau bisa lebar websitenya semakin diperlebar agar kita membacanya semakin lega.
Website-website modern sekarang walaupun tidak semuanya, apalagi yang berbasis portal lebih suka dengan tampilan ‘layar lebar’ sehingga akan lebih banyak space yang mungkin akan lebih gampang kedepannya apabila ada penambahan fitur rubrik baru.
Anyway, saya pribadi uga menginginkan adanya pemain baru yang bisa menyaingi Detikcom agar lebih bervariasi.
#39
makasih banyak atas doanya pak Nuk
insya Allah PernikMuslim.com bakalan jadi e-commerce sukses di indonesia. Banyak yang masih harus dilakukan. Tapi kalo konsisten semua tinggal tunggu waktu
Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
Tidak ada keharusan sebuah koran maupun majalah (“medium tradisonal”)yang hebat seperti Kompas ataupun Tempo (di Indonesia) ketika mereka meluncurkan situs musti berhasil (baik dalam jumlah pengunjung maupun iklan) sebagaimana induknya.
Tidak ada satu pun koran dan majalah internasional sekalipun (New York Times, the Economist etc) mengembangkan situs dirinya untuk menandingi keberhasilan “medium tradisional” mereka. Memangnya mereka mau kayak majalah Tempo yang nekat menerbitkan koran Tempo. Sekalian saja bikin radio Tempo, tv Tempo, film Tempo.
Buat sejumlah “medium tradisional” pembuatan situs hanyalah kepanjangan tangan guna pelayanan konsumen (sekaligus menjaga ketaatan -loyalitas bahasa kerennya), promosi dan pemasaran. Sebuah ketololan membiarkan medium baru memakan “sapi” yang selama ini berhasil memberikan pemilik media limpahan “susu”.
Kan persis sebagaimana detik.com juga yang coba-coba bikin medium lain. Apa juga lantas mereka berhasil?
Penyandang dana Sindo boleh saja berpikir koran mereka bisa menandingi Kompas. Tapi, bisnis utama koran itu bisnis kepercayaan. Begitu pula okezone.com. Sah-sah aja mereka akan menandingi Detik.com. Tapi seperti yang sudah-sudah, misalkan, Astaga.com.
Bisnis kepercayaan tidak semudah itu. Perlu kecintaan dan ketulusan dalam membangun bisnis bukan hanya gerojokan dana melimpah. Detik.com menang karena dibangun berdasar dua hal tadi.
Yang pasti: Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
Sampai aku meluncurkan situs sejenis yang dibangun oleh Cinta dan Tukul, eh, Tulus. Tunggu aja. He he he
Avi
http://aviandewanto.multiply.com
Salam,
Dari pengamatan sepintas ,kalau kebetulan mampir ke warnet tetangga ,juga kalau ke Mall didepan internet ,pasti aja ada yang buka detik kom.
Jangan salah lho yang buka itu banyak yang ABG ,kalau warnet yang buka orang kantoran ,soo kelihatannya detik kom itu merata marketnya ,nggak muda ,dewasa dan berumur mengenal detik kom , saya sendiri kalau cari berita teringatnya detik kom ,nggak yang lain tuh !
Salam ,Mia ,http://www.nusashop.com
#59
Oleh karena itulah (“…banyak yang ABG…”, “…merata marketnya..”) saya akan berfikir ribuan kali untuk memasang iklan di detikcom. Menurut saya, sukses bisnis detikcom lebih karena iming-iming trafik (yang sangat tidak tertarget) buat pemasang iklan yang tidak terlalu memperhitungkan rupiah yang didapat dari setiap rupiah yang dikeluarkan.
#60
Waduh bisa-bisa pemilik detik.com ketar-ketir mendengar kritik Bung Indra ini. Tapi, susah juga menentukan sebuah ukuran bagi perusahaan untuk memasang atau tidak memasang iklan di suatu .com.
Persis kayak tayangan sinetron kita ya. Apa ukuran sebuah perusahaan menempatkan iklan di sebuah medium: Apa dari hasil peringkat pemirsa (audience rating, market share? Apa dari isi sinetron (idealism)? Atau, dari blink-blink para pelakon yang tampil?
Nah, apalagi kalau sudah punya pelahap berita macam Jeng Mia, yang bilang, “saya sendiri kalau cari berita teringatnya detik kom ,nggak yang lain tuh!” Mudah-mudahan saja Mbak Mia ini tidak terafiliasi dengan detik.com.
Satu hal yang paling berat dalam melansir sebuah produk -termasuk juga medium baru apa pun mediumnya: koran, majalah, situs berita internet- meruntuhkan fanatisme yang melekat (inheren) pada sebuah produk.
Barangkali menarik juga mencermati hal yang dilakukan Yamaha terhadap Honda dalam kampanye on air. Bukan soal irit bahan bakar ataupun teknologi tapi Yamaha “gak cuma untuk bencong geto looh.” Alhasil penjualan Yamaha sejak -kalau gak salah – April tahun ini terus-menerus di atas Honda. Anehnya, Honda malah mengikuti hal yang sudah dimainkan Yamaha. Kok ceritanya ke mana-mana.
Menurut saya, kalau mau menandingi situs detik.com, tidak cukup hanya guyuran modal. Juga tidak cukup dengan menggempur iklan di tempat saudara sendiri. Perlu sesuatu yang beda sekali. Saya melihat tidak ada perbedaan mencolok antara deik.com dan okezone.com kecuali penampilan luar saja. Beda dengan katakan saja http://www.digg.com yang memberontak terhadap pakem berita.
Tapi tak tahulah. Namanya juga bagi-bagi pendapat. Yang lebih baik, sih, sebetulnya Pak Nukman ini bagi-bagi pendapatan. He he he
Salam, nah justru disitu letak ke unggulan detik dot kom ,karena setiap pemasang iklan nggak usah mikir lagi tepat nggak yaa saya masang disini maksudnya detik dot kom
, bukan maksud promosi nih tapi kenyataannya memang begitu ,pangalaman sendiri ,saya pasang iklan sms aja hnya dalam hitungan menit hotline HP saya sudah berdering order .. .begitulah kenyataannya
Salam
salam kenal, informasi yang menarik, Trims.
Salam kenal juga. Untuk semuanya.
secara konten dan teknologi, menurut saya, yang (sempat) bisa jadi calon kuat penggusur detikcom adalah satunet.com. sayangnya, setelah dibeli grup astaga justru dimatikan
Kekuatan terbesar detikcom yang mungkin tidak disadari para kompetitornya adalah faktor IKHLAS dan CINTA. Dua faktor yang menurut ESQ165 sangat dahsyat kekuatannya. Ikhlas dalam konteks detikcom bukan berarti awaknya tidak dibayar, tapi terkait mentalitas awaknya yang berdedikasi tinggi. Yang saya maksud adalah awak intinya. Dengan kualifikasi seperti itu, mereka siap berkorban dan berdarah-darah untuk fight jika kapal mereka terancam lawan. Adapun awak detikcom yang hengkang ke media lain, menurut saya itu adalah seleksi alamiah. Kemudian faktor CINTA. Mereka saya lihat mencintai pekerjaannya, perusahaannya dan identitasnya sebagai orang detikcom. Itulah saya kira yang jarang dipunyai kompetitor detikcom. Menciptakan SDM seperti itu tidak bisa dengan mengandalkan uang. Mengandalkan kekuatan uang malah kadang bisa jadi bumerang. Anda bisa merekrut awak siap pakai dari kiri-kanan, tapi ibarat anggur: diberi secawan, orang bisa ketagihan dan minta lagi, lagi dan lagi. Dan rekrutmen semacam ini biaya investasinya sangat mahal. Satunet.com, Astaga.com telah membuktikan. Jadi kalau mau mengalahkan kapal detikcom, mulailah dengan IKHLAS dan CINTA. Begitu saya kira.
Salam kenal semuanya.. Kalau menurut saya,secara design,Detik dgn warna warninya yg ngejreng,secara alamiah tentunya akan lebih catchy dibanding kompas atau okezone yg putih&terkesan kaku.. Lalu yg kedua, adanya sub-brand dari detik seperti detiksport,detikhot,dll yg memiliki domain sendiri..tentu lebih menarik dibanding kompas atau okezone yg membuatnya dgn nama-nama seperti “ilmu”,”teknologi”..
Salam jumpa buat anda semua……
sebetulnya banyak yang berpikir kesana akan tetapi belum waktunya untuk mereka muncul,saya yakin mereka pasti akan datang……untuk menyamai detik memang butuh waktu panjang karena mereka yg pertama dan berpengalaman serta punya potensi.kalo boleh saran……seharusnya kompas mencoba itu…!
[...] Tadi saya browsing di internet dan membaca salah satu artikel mengenai detik.com di blog Pak Nukman yang berjudul “Mengapa tidak ada media online yang mengalahkan detik.com“. Setelah membaca artikel tersebut saya juga baru tersadar bahwa saya sendiri hampir setiap hari mencari berita di detik.com atau paling tidak membuka link tersebut sekedar melihat – lihat saja apakah ada berita menarik. Malah saya lebih sering membaca berita di detik daripada membaca koran. Hehe secara saya sendiri tinggal di kos sehingga tidak ada koran. [...]
Saya ingin menanggapi komentar tentang template detikcom yang dari dulu tidak pernah berubah. Menurut saya, di situlah juga kekuatan lain detikcom: kuat identitasnya, langsung dan mudah dikenal. Saya jadi ingat gaya rambut ratu-ratu kerajaan di Eropa. Ratu Inggris Elizabeth dan Ratu Belanda Beatrix misalnya. Mereka gaya rambutnya dari dulu itu-itu melulu. Gaya rambut Beatrix tidak pernah berubah dari sejak resmi naik tahta. Ternyata itu terkait dengan identitas dan imej. Gaya dan tata letak detikcom yang tidak berubah saya yakini sebagai keputusan yang diperhitungkan matang. Kalau mau, saya kira detikcom cukup punya uang untuk membayar disainer (jika timnya sendiri tidak cukup kreatif merancang template). Analisis penonton di tribun memang belum tentu mendekati apa yang sesungguhnya menjadi strategi tim yang bertarung di lapangan. Disain yg tetap, juga membantu pengunjung at home, tahu di mana mereka harus mencari apa.
Dulu aku juga sempet nyalahin warna detikcom yg bikin mata sakit. Sekarang setelah ganti monitor, ternyata nggak sakit lagi di mata. Kata temen monitor dan video card yg kualitas jelek bisa bikin sakit mata, apapun warnanya, kecuali warna putih atau hitam.
#66
dibesarkan dengan cinta? hahaha…. saya dulu keluar dari detikcom karena tidak ada cinta di sana… semuanya saling menjatuhkan… dengki dan iri hati sangat terasa di sana…. hal yang sama dirasakan beberapa pendahulu saya yang sudah keluar…
soal iklan, pendapatan terbesar detik bukan dari iklan… pendapatan terbesarnya dari value added service semisal SMS. besarnya mencapai 70%…
soal tingginya rating di alexa, jangan percaya sepenuhnya… fakta yang sebenarnya tidak sebesar itu… rating detik di alexa tinggi karena setiap kita membuka satu halaman, maka akan dikalikan beberapa kali untuk setiap frame yang ada di halaman itu. dan detik menggunakan angka pengali 6 kali.
untuk mengecek angka pengali ini mudah, bisa dilihat dari page source yang tersedia di masing-masing browser. misal di mozilla menggunakan crtl+U. belum lagi adanya pageview kotor yang itu sengaja dimark-up tim IT di detik, lebih dari 10 persen per harinya.
semoga bisa membuka mata…
Mengapa tidak ada yg mengalahkan detikcom? Sederhana jawabannya: karena publik percaya detikcom. Trustnya tinggi, kukira begitu. Kalau ngga ada trust, publik ngga akan kembali mengklik. Penjelasan mengenai faktor2 lain menjadi kurang relevan bobotnya. Soal cinta atau malah cemburu itu bumbu-bumbu saja, yang merupakan manifestasi loyalitas, persaingan dan bahkan pengkhianatan dari dalam maupun luar, watak jamak manusia. Tapi bahwa detikcom dipercaya publik dan dijadikan referensi itu fakta tak terbantahkan. Okezone misalnya, yang dilahirkan dgn genderang bertalu-talu dan promosi besar-besaran, ternyata capaiannya setelah setahun cuma selevel detiksurabaya.com. Setahun itu waktu yg sangat lebih dari cukup, tapi publik kurang mau ke sana. Rangking Okezone bahkan turun sepuluh tingkat dari 64 ke 74. Artinya kuda hitam MNC ini masih sangat jauh dari mampu menyaingi detikcom. Teratas dan rujukan utama tetap detikcom dan kompas. Karena publik lebih percaya.
Tapi sekarang sudah ada donk….
iJoel
[...] akan ragu untuk memasang iklannya di Friendster atau di Yahoo! Messenger. Hal yang masih menjadi misteri adalah kenapa Detik (di mata para pemasar online sudah gatal melihatnya) masih laku untuk [...]