Itulah pertanyaan yang dilontarkan Okto Silaban tiga hari lalu di blog-nya. Mahasiswa yang baru saja selesai KKN (Kuliah Kerja Nyata) itu melihatnya dari sisi iklan saja. Saya justru tertarik memperdalam pertanyaan itu di sini. Mengapa tidak (belum) ada media online (baik yang murni maupun yang datang dari media tradisional) yang mampu menyaingi Detikcom?
Koran Kompas yang begitu hebat brand awareness-nya di cetak, ketika masuk ke online melalui Kompas.com/Kompas.co.id, tak mampu menyaingi Detikcom. Baik dari sisi trafik maupun income, saat ini Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detikcom. Apa kurangnya Kompas? Nama besar, ia punya. Reporter dan tim redaksi yang handal, mereka ada. Manajemen yang tangguh, mereka pasti punya. Bahkan uang untuk investasi pun mestinya jauh berlimpah ketimbang Detikcom. Lantas, mengapa hingga kini pun mereka tidak mampu mendekati, apalagi menyaingi Detikcom?
Dulu, di awal tahun 2.000 sempat ada persaingan yang menarik antara pendatang baru, Astaga.com dengan Detikcom. Sayangnya, badai bisnis dotcom internasional ikut menghanyutkan Astaga.com yang saat itu didanai investor dari luar.
Kini, Okezone yang dilahirkan oleh grup MNC — pemilik RCTI, TPI dan koran Sindo — ikut meramaikan bisnis berita online. Beberapa media online murni kini juga mulai bermunculan. Namun tampaknya, Detikcom masih saja tidak goyah.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
Mungkin sampai ada media yang menawarkan fasilitas RSS Feed. Hal yang paling menjengkelkan dari situs berita online lokal adalah resistansinya terhadap fasilitas ini. Saya sendiri harus “mencuri” agar tetap bisa menikmati detikcom dari rss reader.
pertanyaan menarik. saya sendiri masih beranggapan bahwa dana terbanyak lebih berasal dari corebusiness agrakom daripada detikcom-nya. sama halnya dengan tidak semua media di gramedia menguntungkan.
Sampai kapan detik.com tak tertandingi? Sampai munculnya milidetik.com
Berita baru setiap detiknya. Siapa nolak? Saat ini baru de***.com yang mampu memberikannya plus namanya pas banget dengan selling proposition (maaf nggak tahu bahasa Indonesianya yang pas) yang dibangun. Andai saja ada yang mampu memberikan berita terbaru setiap milidetiknya….pasti deh orang berbondong pindah.
Jujur saja saya paling ogah nengok de***.com Boleh dibilang kalau bener-bener ada berita paling hot yang saya sangat ingin ketahui. Bukan sok anti. Saya takut sakit mata gara-gara lihat warna-warni penuh kelap-kelip flash yang menaburi setiap halamannya.
Untuk skala nasional, media berita online memang tidak dapat dipungkiri telah dikuasai oleh detik.com. Oleh karena itu, kita bisa mulai menguasai pangsa pasar media online lokal saja yang masih lowong dan terbuka lebar dengan segala fasilitas yang lengkap dan bermanfaat bagi pembacanya.
Lalu bentuk juga sebuah komunitas pembaca lokal yang setia mengikuti media lokal tersebut. Bisa lewat mailing list, member card, gathering, friendster dan sebagainya. Trafiknya memang tidak akan bisa menyamai detik.com, tetapi untuk media lokal, sudah cukup apabila dia memiliki banyak pengunjung yang loyal dan beritanya dirujuk oleh media nasional, radio, tv, dsb.
sebagai mantan “orang detik”, kenapa sampean ndak memberi jawaban itu? atau untuk posting berikutnya?
Hmm,hanya ada 2 cara mengalahkan sang pelopor.
Pertama, kesalahan dari pihak si pelopor sendiri yang tidak merawat apa yang sudah mereka miliki; situs, komunitas, pengguna situs, dan teknologi.
Kedua, ada pemain yang mengejar ketertinggalan mereka dengan kecepatan sangat tinggi dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar saat itu.
Gitu sih klo nurut aku
#5…. HooH harus nya lebih tahu, lah mantan Marketingnya.. ujung tombak duit Detik masuk !
mungkin mas kw punya jawabannya pak…
wah materi yang menarik untuk dibahas… terus terang saya sebenarnya juga bukan pengunjung setia detik.com. tapi memang detik saya lihat masih menjadi yang nomer 1 di indo. sebabnya mungkin saya kira adalah sbb:
1. nama detik sudah “mendarah daging”
2. fitur iklan yang tidak mengganggu pembaca.
3. dan tentu saja berita yang selalu update.
tapi coba klo ada pesaing yang membuat berita ataupun situs berita mereka mirip dengan http://www.cnn.com atau wired.com ataupun juga http://www.techcrunch.com mungkin bisa menjadi pesaing besar detik. intinya sih klo saya liat di detik, beritanya masih kurang berbau “multimedia ( rss, podcast, dsb )” bandwith jangan dikuatirkan … sudah broadband world gitu lho…
kayaknya dah terlanjur sih
aku sndiri ndak suka dengan tampilannya yg culun, dan bikin pusing
#5 & #7 sabaar sabaar… bentar lagi dipaparkan jawabannya dari sesepuh detik.com
#9 Justru menurut saya, iklan detik.com sudah sangat mengganggu pembaca
, designnya ‘audubillah deh. Tapi justru itulah uniknya detik.com
, dibenci tapi sekaligus dikangenin juga.
Detik.com sulit disaingi, karena dia setia dengan komitmennya untuk menyajikan berita terupdate terkini ter-detik sekarang. gaya beritanya pun unik dan mudah dipahami pembacanya.
Selama ini media online yg berupaya menyaingi detik.com masih “Me Too”, dan terkesan meniru detik.com (mungkin karena saking kuatnya brand detik.com itu sendiri),
jadi selama belum ada suatu media online lainnya yg dengan ciri khasnya sendiri, yg setia mengabdikan komitmennya utk menyajikan berita akuran tajam terpercaya dan terkini sekelas detik.com saya rasa detik.com tidak akan bisa disaingi oleh media berita online lainnya.
Mungkin kalo ada media berita online kayak “Lampu merah Online” bakalan menarik dan dia bakal punya penggemarnya sendiri hehe..
Kalau menurut saya sih hanya masalah waktu. Masa-masa ini adalah masa dimana Detik.com dapat memanen jerih payahnya atas bertahan dari terpaan jatuh nya bisnis dotcom beberapa tahun lalu.
Saya ingat sekali Detik.com menjadi benar-benar booming adalah disaat untuk pertama kalinya Jakarta banjir besar. Semua orang stuck di kantor karena kebanjiran atau menunggu macet, dan akhirnya lihat2 detik untuk update situasi terkini. Karena disini yang bisa lihat foto keadaan terbaru dalam hitungan detik.
Saat itu, orang yang awam dengan dunia internet pun jadi ikutan masuk. Ini salah satu modal Detik.com karena menjadi first experience nya beberapa orang.
Kembali ke pernyataan awal, Tinggal tunggu waktu, ini maksudnya tunggu waktu netters sudah bisa memilah mana website yang dia butuhkan. Kalau sudah ada beberapa pilihan dengan content yang sama update nya kan tinggal hal2 diluar content yang berpengaruh. Kenyamanan dibaca, feature tambahan yang dibutuhkan, dan lainnya.
Atau tunggu waktu juga Detik.com mengeluarkan hal-hal baru untuk tetap mempertahankan user nya.
Tapi tetep aja, kalo menurut Alexa.com Kaskus lebih tinggi dari Detik. Mungkin emang orang lebih doyan nge-gosip dari pada baca fakta
Yang saya maksud berhasil bukan hanya dari sisi trafik saja, tetapi keberhasilannya menjadikannya sebagai sebuah bisnis, baik dari sisi menghasilkan income, maupun sebagai fondasi dan brand untuk mendapatkan kapitalisasi.
Mengenai trafik detikcom yang kalah dari Kaskus (versi Alexa.com), data tersebut mesti diuji lagi. Cara menilai Alexa adalah dari user (mereka yang memaki toolbar atau pernah ke alexa dan komputernya terpasangi cookies alexa). Saya yakin, berdasarkan data statistik di server masing-masing, trafik Detikcom masih lebih tinggi ketimbang Kaskus, unique usernya pun pasti jauuh lebih besar detikcom.
Namun, untuk pembahasan kali ini sebaiknya fokus di bisnisnya.
ini komentar pertama saya di blog ini
sebelumnya cuma baca2 doang…
dari sebaian isi blog yang saya baca, kebanyakan pak nukman hanya melontarkan isu saja, kemudian dibahas di komemtar.
saya sepakat dengan rekan yg lain bahwa keunggulan detik.com terletak pada isi beritanya yang selalu update.
#5 dan #7 setuju…
Yang bisa mengalahkan Detik ya “Detik” itu sendiri. Artinya, pertama, orang Detik yang membikin portal sejenis. Kedua, begitu “semangat”nya Detik dalam melahap kue iklan, yang saya rasa tidak memperhatikan pembacanya lagi. Ketiga, tidak ada yang abadi di dunia (maya) ini…:)
Kenapa detik susah untuk menyainginya?
1. Detik.Com, merupakan pioner media berita online di Indonesia.
2. Berawal dari media cetak yang sempat dibrendel, justru menjadikan nama detik semakin populer.
3. Berita yang disajikan, up to date.
Mungkin itu beberapa hal yang menjadikan detik.com top 1 in news media online. So, jika kita mau beriringan dengan detik.com, jadilah follower yang bisa mencari celah untuk menjadi nomer 1. Good Luck…
Danang
http://www.iklananda.com
Saya sendiri sebetulnya sudah bosen sama detik.com. tapi alternatif yg lain belum ada yg bagus.
Tadinya sempet beralih ke okezone, sayang sekarang okezone sudah dihilangkan fasilitas rss feed-nya, lagian design okezone lebih parah dari detik.com..kekeke
Sejarah memang selalu berubah, teknologi per-Websitan berjalan sangat cepat. Tapi kenapa design Detik githu2 aja, cenderung seperti portal Iklan dibanding berita.
#9 Fitur iklan tidak menggangu..? Berarti anda blom pernah mengujungi situs2 berita luar kaya CNN, NY Times, Businessweek. Mereka selalu mere-design situsnya kurang dari 2 tahun sekali. Terlihat “nice and clear” meskipun disetiap berita artikle disisipi iklan. Bandingkan dengan DETIK, ber-hati2lah meng-mouseover pointer mouse, alih2 bukan title berita yg anda klik tapi malah “Trapping” ato jebakkan Javascript Ads yg ter klik. Detik menjebak user agar CTR (Clicktrough) Ads yg ada di atas title berita tinggi, laporan CTR inilah yg diberikan ke pihak pemasang banner Ads kalo Ads CTR nya tinggi, padahal bisa dikatakan sebagian besar CTR itu adalah “Click accident” ato tidak sengaja ter-klik akibat mouseover javascript.
Misalkan, ada kenal web design luar apalagi webdesign situs berita, apa yg akan mereka katakan?. Situs jadul gitu dibanggakan, iklan “pating grandul” ngalor ngidul…. mereka pasti akan tertawa terbahak2. Dan bertanya, siapa seh webdesignnya..?
Kenapa detik.com unggul, simple aja.. karena detik punya keunikan… ya dari namanya yang nggak “umum”..ya dari tampilan warnanya yang norak, memang dari pandangan seorang webdesigner detik itu designnya nggak ok banget deh, but hey.. its work, pengunjung jadi lebih kenal bahwa itu adalah tampilan nya detik.com, walaupun nggak oke lama2 pengunjung jadi terbiasa dan suka (sama dengan saya yang anti kangen band tapi setelah dengerin beberapa kali jadi suka juga sama musinya…halah… hehehe..) …. kompas.com…okezone.com mungkin bisa bangga bahwa tampilannya lebih bersih dari detik tapi mereka nggak punya keunikan dan ciri khas… putih bersih… ahh.. kayanya semua website berita juga sama seperti itu ….
Terlepas dari apakah media online yang baru muncul selalu “harus” bisa mengalahkan existing (online) media, untuk membuat sebuah online (news) media, sering melupakan 3 aspek utama:
- Jurnalisme, kaidah jurnalistik yang digunakan kebanyakan masih menggunakan pola lama (yang diterapkan di “media konvensional”).
- Komunikasi, “mengingkari” teori-teori dasar komunikasi, bahwa pesan adalah media itu sendiri, artinya media dibuat memang untuk publik, bukan untuk (selera dan ego) pengelolanya.
- Teknologi, menempatkan teknologi sebagai pembawa pesan, bukan penyampai pesan. Artinya teknologi hanya dipandang sebagai carrier.
Faktor lain adalah faktor “masa”. Membuat media yang relevan dengan masa ketika media itu dibuat, adalah titik tolak untuk keberhasilan media tersebut. Titik lontar berikutnya adalah kemampuan visioner untuk “membaca” masa selanjutnya.
Selama ini (IMHO), masih banyak online (news) media yang dibuat seperti halnya detikcom dibuat 5-6 tahun lalu.
Faktor terakhir adalah keinginan publik: apakah sekarang sudah membutuhkan online (news) media lebih dari satu? Jika jawabnya BELUM, maka detikcom akan tetap berkibar.
Saya membayangkan petinggi detik sedang membaca komentar-komentar ini sambil tersenyum-senyum dan mangut-mangut.
Ya ya ya…
* saya jadi sungkan untuk berkomentar, belum cukup ilmu
#15.
Pendapat yang menarik mas Yaser. Detikcom hanya bisa dikalahkan oleh Detikcom. Pendapat seperti ini diyakini oleh banyak pengusaha/investor. Kalau ingin membuat bisnis yang berhasil seperti sang pionir, maka gerogoti tim intinya, bikin usaha baru dengan tim inti tersebut. Ini berlaku umum, bukan hanya Detikcom. Bahkan ketika para pengusaha berlomba-lomba membuat bank pada tahun 1990-an, Citibank Indonesia sempat kelimpungan karena eksekutifnya banyak yang jebol desa. Robby Djohan yang berhasil mengerek bendera Bank Niaga itu mantan Citibank.
Maka tidak mengherankan jika orang-orang Detikcom juga jadi buruan mereka yang mau mengembangkan media online. Tapi sejauh ini belum ada online yang menggunakan awak Detikcom menunjukkan tanda-tanda untuk bersaing. Mungkin perlu dilihat 2-3 tahun lagi
Dari banyak pendapat di atas, terlihat bahwa teknologi detikcom ketinggalan jaman dan belum mengadopsi pendekatan-pendekatan baru sebuah portal (termasuk tidak mengadopsi konsep iklan yang tidak mengganggu user).
Meski demikian, sejauh ini, “kelemahan teknologi dan kelemahan pendekatan iklan” tersebut tidak (atau belum?) bisa dijadikan senjata oleh pesaing untuk menempel Detikcom.
Bahkan ada kecenderungan pemain-pemain baru, seperti disampaikan mas Catur (#11), justru mengadopsi kelemahan tersebut. Layout dan desain pertama Okezone misalnya, mirip pola Detikcom. Kompas.com pun, yang sudah menerapkan pendekatan desain baru, kini malah terjerumus ke model iklan ala Detikcom: semuanya ditumpuk di halaman depan.
Satu hal yang SANGAT menyebalkan dari Detik, kita ga bisa ngakses lagi berita yang umurnya lebih dari dua minggu dan tentu saja struktur URL yang sangat jelek
IMHO
Ini masalah domain, yang udah lengket di lidah, seperti orang dulu bilang “ho*da” itu adalah segala jenis sepeda motor.
Apa begitu ya?
mungkin pikiran orang2 detik, mengganti layout webnya sama seperti “pindah agama”, hehehehe butuh pemikiran dan kebijakan2 ekstra.
#23
Pak Nukman, soal pendekatan iklan, sepertinya detikcom tidak terlalu peduli dengan user. Iklan tentang event yang kadaluarsapun tetap mereka pasang asal pemasang iklannya masih mau bayar dan tidak peduli dengan uang yang terbuang…
Barangkali Pak Nukman berkenan memberikan hitung-hitungan kasar konversi iklan di detikcom? Saya hanya bisa menduga bahwa sebagian besar belanja iklan di detikcom terbuang percuma….
Sekedar contoh, ada iklan soal event yang sudah kadaluarsa masing terpasang hari ini. Ada iklan yang 25jutaan tiap minggunya tidak melakukan apa-apa terhadap pengunjung yang hadir….
Jadi, keberhasilan bisnis detikcom menurut saya lebih karena masih banyak pemasang iklan yang 1) Punya banyak sekali uang 2) Tidak tahu bagaimana memanfaatkan uang untuk beriklan
eh…sepertinya Pak Nukman lagi ancang-ancang bikin tandingan detikcom, nih?
Kalau dari pandangan saya, ada beberapa hal yang membuat detik.com tidak dapat ditandingi.
Bahkan awal tahun 2000 pesaing seperti astaga.com dan kompas.com dengan dana super kuat mempromosikan portal mereka juga tidak bisa merebut pasar detik.
Faktor pertama, adalah strategy detik.com dengan positioning statementnya : Detik ini juga!
Kedua, dulu waktu saya membuat demografi pasar pengguna internet, saya sempat mendapatkan bahwa masyarakat kita ini doyan dijejelin informasi2 tergres, gosip dan infotainment. Nga peduli info itu beneran atau nga, yang penting di makan dulu.
Ketiga, detik.com berhasil mem posisikan diri sebagai pioner dalam ini. Kalau kita lihat perbandingan tampilan web tahun 2000 antara detik dan pesaing2nya di: http://web.archive.org/web/*/http://detik.com
kelihatan mengapa pengunjung lebih memilih detik daripada portal serupa lainnya.
Terakhir, investasi infrastuktur server detik sangat kuat. Loading halamannya cepat.
Jadi, bila Anda ingin membangun bisnis online, jangan lupa ke-4 faktor diatas: 1. Positioning statement yang kuat. 2. Pahami kebutuhan market Anda. 3. Tampilan visual yang menarik, komplit dan navigasi mudah. 4. Server yang mendukung aksesibilitas lebih baik.
#25.
Betul mas Bambang, brand image Detikcom memang sdh menancap kuat di benak usernya. Ini termasuk salah satu faktor yang mempersulit pesaing masuk ke wilayahnya.
#26.
Saya kira tidak seperti itu mas Sabri. Secara perlahan, desain-desain dalam Detikcom sudah mulai berubah.
#27.
Tanpa data, saya tidak bisa menghitung konversinya mas Indra.
Mau bikin tandingan Detikcom? Hahahaha enggaklah. Fokus kami di sektor bisnis, seperti PortalHR.com yang menarget pasar para praktisi human resource, Niriah.com (pasar ekonomi dan bisnis syariah), bisnis.com (bisnis,perdagangan, finance dan ekonomi mikro), serta SWA.co.id (bisnis dan manajemen). Belum kepikir masuk ke horisontal portal.
#28.
Analisa yang menarik mas Andry.
Keempat hal itu juga sudah dilakukan pesaing detikcom. Tapi kelihatannya tak mempan untuk mendekati Detikcom tuh.
Jadi, adakah faktor lain?
Menurut saya, ada satu faktor yang tidak atau belum dimiliki pesaing Detikcom. Yakni saat peristiwa besar revolusi politik 1998 (semoga tidak terjadi lagi), kebetulan saat itu Detikcom berkibar sendirian (cmiiw).
Jika pesaing Detikcom cerdas memanfaatkan momentum lain (semoga momentum yang baik tentunya), mungkin kita akan menemui penantang serius Detikcom.
Lho.., baru tau postinganku nyasar juga disini..
Nah liat komentar – komentar diatas, berarti orang – orang (*selain ex orang Detik) udah pada ngerti dong apa aja celahnya..
Kalo dah sebegitu banyak orang yg ngerti, apa ya OkeZone dan Kompas gak tau hal itu? Saya rasa mereka pasti tau.. (seperti dipostingan saya..). OkeZone sendiri bahkan sampe beriklan di media cetak dan elektronik, Detik setahu saya tidak pernah beriklan.. Kalo branding iya.. (lewat sponsorship).
Lalu kalo memang kelemahannya sudah terpampang jelas di depan mata, kok gak ada yang bisa ngalahin?
*kepanjangan kayaknya disini.. lanjut di blog saya aja kali ya..
kalo menurut aku untuk menyaingi detik.com dari segi trafik, harus sesuatu yang berbeda dan mengambil ceruk khusus yang tidak dipunyai detik.com.
#30.
Ya, itu faktor keberuntungan Detikcom. Tapi saya rasa itu sulit dibahas dan dijadikan tolok ukur.
#31.
Okto bertanya: “Lalu kalo memang kelemahannya sudah terpampang jelas di depan mata, kok gak ada yang bisa ngalahin?”
Saya menjawab: ada beberapa kemungkinan.
Pertama, pesaing keliru mendeteksi kelemahan Detikcom. Yang selama ini diwacanakan sebagai kelemahan (termasuk yang banyak disampaikan di komentar ini), bisa jadi bukan kelemahan. Lha kalau sudah keliru mendeteksi kelemahan, sudah pasti akan salah mengantisipasi.
Kedua, asumsikan pesaing sudah benar mendeteksi kelemahan detikcom, namun karena strategi dan eksekusi mereka kurang tepat maka mereka tidak juga mampu mengejar detikcom.
Masih ada kemungkinan lain yang bisa dikembangkan. Tapi dua kemungkinan yang saya sampaikan, saya duga amat dominan menjadi penyebab pesaing detikcom jalan di tempat.
perdebatan yang menarik antara blog Okto SIlaban dengan blog Nukma Luthfie. Lanjutkan..
Karena semuanya berlomba menjadi ‘pesaing’ detikcom. Sederhana ya?
Coba lihat contoh lainnya. Amazon tidak tergoyahkan dengan bisnis bukunya. Yahoo masih berjaya walaupun digerogoti Google yang notabene tidak pernah ditargetkan untuk jadi ‘pesaing’ Yahoo. eBay masih kuat dengan online auctionnya.
Di era Web 2.0 pun begitu, Friendster, Facebook dan MySpace walaupun terkesan ’saingan’ tapi punya pasar masing-masing (Friendster dengan pasar terbatas Asia saja, Facebook dengan aplikasi2nya yang heboh dan MySpace dengan… er, apa ya? Hype?).
Visinya harus jelas. Sekarang rata2nya visinya “merebut kue iklan detikcom” dan bukan “menciptakan portal berita yang akurat, terpercaya, berkualitas dan memudahkan pengguna”. Ya, susah kalau begini – mendingan uang investasinya dipakai untuk modal dagang kain atau bikin restoran, lebih pasti revenuenya.
Detikcom berangkatnya bukan dari ‘jualan space iklan’ – tapi semua pesaingnya berangkatnya dari situ, ya jelas sudah salah menaruh kaki…
hehehe…. rame nih.
setuju sama pak Avianto, karena semua berlomba untuk jadi pesaing detikcom.
Kalo dari saya pribadi, kekalahan detik tinggal tunggu waktu, seperti kata banyak rekan disini. Dari sisi teknologi, desain, dan konsep sudah mulai ketinggalan. Kecuali detik berubah, sudah pasti lama kelamaan akan ditinggalkan.
Poin kuatnya hanya satu, update berita paling cepat.
Kedepannya, semuanya pasti berubah, tapi kalo hanya karena RSS aja sih saya kok kurang sreg ya
karena setau saya orang malah enggan make RSS (baca research dari luar lo ini, bukan dari indo). Mereka masih lebih suka email. Dan karena semakin hari informasi semakin banyak, manusia jadi semakin selektif milih berita.
Ini yang jadi trend kedepan. sistem ‘langganan berita’ semacam RSS (tapi yang via email subscription) mungkin akan lebih dilirik saat jumlah informasi sudah jauh lebih banyak daripada yang mampu dicerna manusia.
Toh lama lama pengiklan juga sadar dan akan lebih memilih untuk beriklan di media yang targeted, daripada media global semacam detik. Kan perusahaan konsutasi online macam Virtual juga ngasih saran dong ke calon pengiklan diinternet.
Sering saya berpikir, kok yang gede duitnya cuma bisnis iklan aja ya di internet ini. Padahal orang ngiklan tujuannya kan ‘jualan’ juga. hmmm…. kapan ya e-commerce di indo bisa serame di negara yang micro paymentnya jalan?
Loh…masih rame ngomongin det*k?
idem sama mas Avianto. Why waste time en money, sedangkan masi banyak lahan subur diluar sana. Biar dikit tapi targetnya jelas.
Kebetulan Itu juga yang lagi coba dibidik sama ClearAfterHours.com –website e-magazine en soon-to-be social networking website– yang target pasarnya adalah profesional muda yang modern en dinamis.
Statusnya sih masi Beta, tapi tanggal 30 November ini kita ada acara di Hard Rock Cafe Jakarta, with Glenn Fredly en friends, 7 PM onwards. Yang sekaligus dijadiin acara launching ClearAfterHours.com.
Dijamin bikin bikin banyak kepala nengok kemari (terutama para profesional muda), Glenn gitu lohh!
Detail acara bisa diliat di sini:
http://www.clearafterhours.com/events/
Kalo pak Nukman dan para sesepuh disini ada yang mau mampir, saya bisa usahakan untuk dapetin invitation. Kontek aja via YM, ID: br4inwash3r
#35.
Benar mas Avi, sejauh yang saya amati, kebanyakan investor dan mereka yang ingin menyaingi detikcom, memandang detikcom dari sisi income. Maka ketika mereka ingin besar, segala langkah detikcom dipakai. Jurus yang sama dipraktikkan. Padahal jurus yang terlihat itu hanya gerakan luarnya. Jauh di dalamnya ada visi.
Namun yang jelas, kue income yang besar, RoI yang bagus (meski tidak banyak bisnis dotcom yang menunjukkan RoI bagus) serta masa depan yang cerah, selalu menarik minat investor. Amazon.com misalnya, sebenarnya mendapat banyak pesaing, termasuk dari toko buku terbesar dunia Barnes&Noble. Maka pengusaha Indonesia yang berani menyiapkan modal puluhan miliar rupiah lebih tertantang masuk ke bisnis dotcom dengan meniru model bisnis yang sudah terbukti berhasil. Dan yang mereka lihat ya cuma satu: apa lagi kalau bukan breaking news ala Detikom.
Social Networking juga saling berebut menjadi nomor satu.Mengenai facebook, friendster dan myspace segera akan saya bahas sendiri, karena ini juga tak kalah menariknya. Dalam hal ini saya punya pandangan yang beda dengan mas Avi.
#36.
Mas Fauzan ada bakat kuat di ecommerce. Coba kembangkan PernikMuslim.com menjadi ecommerce yang berhasil di Indonesia.
#37.
, saya pingin datang nih mas Rizky.
Saya sudah lihat Clearafterhours.com. Konsepnya bagus. Tapi untuk menjadi “dijamin bikin kepala nengok kemari (terutama profesional muda)” masih panjang jalannya. Sebagai profesional muda
Detikcom pintar memainkan emosi pembaca. Berita secuil saja bisa tampil di halaman depan. Padahal esensinya mungkin sedikit, hanya update dari berita sebelumnya. Lihat saja judul-judul detikcom yang bombastis…
Mengapa pageviewnya tinggi? Karena editor detikcom juga pinter mainan headline. Berita dari detikhot, misalnya, tampil di halaman detikcom. Tapi ketika di-klik, yang terbuka bukan berita itu, melainkan halaman depan detikhot. Dengan cara seperti ini detikcon bisa melipatgandakan pageviews. Ini dilakukan utk semua berita yang ada di detikinet dan detikhot. bayangkan berapa jumlah pageviews yang diciptakan dari cara seperti ini. Juga jangan lupa detikforum yang judul-judulnya juga tampil di bagian bawah berita. namun ketika diklik yang terbuka bukan thread dari judul itu. yang terbuka adalah sub-section. Pintar juga cara detikcom menaikkan pageviews.
cara-cara di atas belum dipakai oleh kompas.com dan okezone.
ato jangan2, justru ada segmen yg menyukai detik karena ia ingin melihat iklannya?
toh, masih ada juga pembeli koran Pos Kota kan?
Pendapat menarik mas Puji. Tapi itu sih menurut saya relaif tak banyak mendongkrak pageviews detikcom. Yang terjadi di detikcom itu bukan hanya pageviewsnya yang luar biasa, tetapi juga jumlah pengunjungnya.
pesaing baru sudah muncul http://www.koraninternet.com, nah sekarang tinggal menunggu sampai berapa lama sang pesaing bisa bertahan.
Jadi..inget dengan website http://www.newscaptain.com, ternyata hanya bertahan kurang dari 1 tahun. semoga aja yang baru ini bisa lebih lama
ya, bertahannya detikcom menurutku tidak lepas dari income yang masuk dari para pengiklan. Tapi detik menurutku masih mengedepankan content-nya, berita yang update. Baik berita yang ga mutu sampai berita yang mutu (lha emang adanya berita2 seperti itu). Yang penting informasi sampai ke user. Toh user kebanyakan juga cuma cari beritanya aja, bukan untuk liat iklannya.
Aku sendiri sering buka detikcom (sekarang juga buka) cuma buat liat beritanya aja. Dan menurutku-untuk masalah iklan, asalkan si pengiklan mbayar, mungkin detikcom menerima (dan menampilkannya).
(bener ga ya pendapatku?hehe…)
udah ah…
Numpang lagi Pak Nukman,
Ramai ya ngomongin detik baik keberhasilan mereka sampai kelemahannya , sebagai user jujur saja saya suka mencari berita ke detik.
Ada pengalaman unik waktu saya ketemu pak Budi ( detik ) , ada yang bertanya ke beliau pak kok detik iklannya rame banget jadi malas bukanya ( kata si penanya ) dan dengan berwibawa pak Budi ngomong kalo nggak mau liat iklan di detik, jadi aja member di DETIK Portal dengan subscribe sejumlah uang…..
Bener juga sih yang pak Budi katakan, lah wong beritanya aja udah gratis, kok masih komplain iklannya kebanyakan… hehehe
itu semua hanya bahan masukan buat rekan sekalian, jangan kita pikirkan masalah desain, teknologi dan bla bla bla yang lainnya, toh mereka masih nomor satu.
Yang paling penting buat kita pikirkan adalah apakah kita semua yakin bahwa saat ini dengan popularitas detik yang nomor wahid , detik masih untung?? antara pemasukan dan pengeluaran detik masih dapat profit?? Apakah semua iklan yang ada di detik itu semuanya bayar tanpa ada co-branding?
hehehe itu aja sih yang kepikiran, benar atau tidaknya saya tidak tau.
Makasih pak nukman
#39.
Emberrr, jalan emang masi panjang. Tapi untuk kedepan promo-nya juga akan terus digencarkan. Untungnya Citibank sebagai partner juga sangat mendukung website ini.
Kalo pak Nukman mo dateng silahkan aja. Acara bebas kok. Malah kalo pak Nukman pemegang kartu kredit Citibank Clear Card bisa dapet free entry. Diluar itu cukup bayar 50 ribu, dan temen-temen udah bisa nikmatin suara merdu Glenn Fredly en friends.
#45.
Di tempat gue ada programmer ex-detik yang kasi bocoran tentang detik. Katanya staff-staff IT detik udah banyak yang cabut ke okezone. jadi mungkin aja situ ada benernya juga.
gosip abisss….
#45.
Statement Mas Esa sangat menarik: “Yang paling penting buat kita pikirkan adalah apakah kita semua yakin bahwa saat ini dengan popularitas detik yang nomor wahid , detik masih untung?? antara pemasukan dan pengeluaran detik masih dapat profit?? Apakah semua iklan yang ada di detik itu semuanya bayar tanpa ada co-branding?”
Ada yang bisa membantu menjawab?
#33 : Hmmm…., ini dia nih yang bikin Pak Nukman tetap luar biasa. Ya..ya.., “Jangan – jangan para pesaing dan bahkan para ex-Detik pun salah melihat celah dari Detik..” Ini baru kepikiran oleh saya..
Lalu, bagaimana dengan “usul” jika tidak usah terlalu membandingkan/membuat mee-too nya Detik? Tapi, buat yang bener – bener baru.. Mengacu pada kebutuhan (tercakup didalamnya kemudahan), teknologi, dan trend media online? Bukan mengacu pada kelemahan Detik (yang mungkin saja kita salah kira).
#47 : Eitts.. Kalo dari Pak Nukman sendiri yang bercerita gimana? He..he.. Business ethics yah..
Kayaknya sih profitnya masih ada. Tapi dari Detik.com nya sendiri sudah tidak se-signifikan dulu sepertinya. Makanya Detik pun mulai mengembangkan macem – macem. AdPoint, DetikLelang, DetikForum, dll.
*Perkiraan saya sih..
Membuat mee-to bukan bisnis yang menarik. Sulit mencari studi kasus mee-to yang berhasil.
Pertanyaannya, mungkinkah membuat media online yang bukan seperti Detikcom? Menurut saya mungkin. Sayangnya, ini yang belum bisa diterjemahkan oleh banyak pebisnis online yang masuk ke terjun ke media online.
Bagaimana dengan koran online lokal, seperti Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Waspada, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Republika, mereka juga konsisten dalam menyampaikan berita, tampilannyapun juga bagus menarik, tapi koq iya tetap saja banyak orang yang lebih memilih detik, Why? pak Nuk?