<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mengapa Tidak Ada Media Online yang Mengalahkan Detikcom?</title>
	<atom:link href="http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 15:43:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Media-Ide &#187; Blog Archive &#187; Tahun 2007: Apa yang Berlalu dan Apa yang Menanti - Bagian Dua</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-84117</link>
		<dc:creator>Media-Ide &#187; Blog Archive &#187; Tahun 2007: Apa yang Berlalu dan Apa yang Menanti - Bagian Dua</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 14:39:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-84117</guid>
		<description>[...] akan ragu untuk memasang iklannya di Friendster atau di Yahoo! Messenger. Hal yang masih menjadi misteri adalah kenapa Detik (di mata para pemasar online sudah gatal melihatnya) masih laku untuk [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] akan ragu untuk memasang iklannya di Friendster atau di Yahoo! Messenger. Hal yang masih menjadi misteri adalah kenapa Detik (di mata para pemasar online sudah gatal melihatnya) masih laku untuk [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Joelsinaro</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-83648</link>
		<dc:creator>Joelsinaro</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 18:39:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-83648</guid>
		<description>Tapi sekarang sudah ada donk.... :-)

iJoel</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tapi sekarang sudah ada donk&#8230;. <img src='http://virtual.co.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>iJoel</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Amir</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-77705</link>
		<dc:creator>Amir</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 06:11:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-77705</guid>
		<description>Mengapa tidak ada yg mengalahkan detikcom? Sederhana jawabannya: karena publik percaya detikcom. Trustnya tinggi, kukira begitu. Kalau ngga ada trust, publik ngga akan kembali mengklik. Penjelasan mengenai faktor2 lain menjadi kurang relevan bobotnya. Soal cinta atau malah cemburu itu bumbu-bumbu saja, yang merupakan manifestasi loyalitas, persaingan dan bahkan pengkhianatan dari dalam maupun luar, watak jamak manusia. Tapi bahwa detikcom dipercaya publik dan dijadikan referensi itu fakta tak terbantahkan. Okezone misalnya, yang dilahirkan dgn genderang bertalu-talu dan promosi besar-besaran, ternyata capaiannya setelah setahun cuma selevel detiksurabaya.com. Setahun itu waktu yg sangat lebih dari cukup, tapi publik kurang mau ke sana. Rangking Okezone bahkan turun sepuluh tingkat dari 64 ke 74. Artinya kuda hitam MNC ini masih sangat jauh dari mampu menyaingi detikcom. Teratas dan rujukan utama tetap detikcom dan kompas. Karena publik lebih percaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa tidak ada yg mengalahkan detikcom? Sederhana jawabannya: karena publik percaya detikcom. Trustnya tinggi, kukira begitu. Kalau ngga ada trust, publik ngga akan kembali mengklik. Penjelasan mengenai faktor2 lain menjadi kurang relevan bobotnya. Soal cinta atau malah cemburu itu bumbu-bumbu saja, yang merupakan manifestasi loyalitas, persaingan dan bahkan pengkhianatan dari dalam maupun luar, watak jamak manusia. Tapi bahwa detikcom dipercaya publik dan dijadikan referensi itu fakta tak terbantahkan. Okezone misalnya, yang dilahirkan dgn genderang bertalu-talu dan promosi besar-besaran, ternyata capaiannya setelah setahun cuma selevel detiksurabaya.com. Setahun itu waktu yg sangat lebih dari cukup, tapi publik kurang mau ke sana. Rangking Okezone bahkan turun sepuluh tingkat dari 64 ke 74. Artinya kuda hitam MNC ini masih sangat jauh dari mampu menyaingi detikcom. Teratas dan rujukan utama tetap detikcom dan kompas. Karena publik lebih percaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ajeng</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-77475</link>
		<dc:creator>ajeng</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 16:06:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-77475</guid>
		<description>#66

dibesarkan dengan cinta? hahaha.... saya dulu keluar dari detikcom karena tidak ada cinta di sana... semuanya saling menjatuhkan... dengki dan iri hati sangat terasa di sana.... hal yang sama dirasakan beberapa pendahulu saya yang sudah keluar...

soal iklan, pendapatan terbesar detik bukan dari iklan... pendapatan terbesarnya dari value added service semisal SMS. besarnya mencapai 70%...

soal tingginya rating di alexa, jangan percaya sepenuhnya... fakta yang sebenarnya tidak sebesar itu... rating detik di alexa tinggi karena setiap kita membuka satu halaman, maka akan dikalikan beberapa kali untuk setiap frame yang ada di halaman itu. dan detik menggunakan angka pengali 6 kali.

untuk mengecek angka pengali ini mudah, bisa dilihat dari page source yang tersedia di masing-masing browser. misal di mozilla menggunakan crtl+U. belum lagi adanya pageview kotor yang itu sengaja dimark-up tim IT di detik, lebih dari 10 persen per harinya.

semoga bisa membuka mata...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#66</p>
<p>dibesarkan dengan cinta? hahaha&#8230;. saya dulu keluar dari detikcom karena tidak ada cinta di sana&#8230; semuanya saling menjatuhkan&#8230; dengki dan iri hati sangat terasa di sana&#8230;. hal yang sama dirasakan beberapa pendahulu saya yang sudah keluar&#8230;</p>
<p>soal iklan, pendapatan terbesar detik bukan dari iklan&#8230; pendapatan terbesarnya dari value added service semisal SMS. besarnya mencapai 70%&#8230;</p>
<p>soal tingginya rating di alexa, jangan percaya sepenuhnya&#8230; fakta yang sebenarnya tidak sebesar itu&#8230; rating detik di alexa tinggi karena setiap kita membuka satu halaman, maka akan dikalikan beberapa kali untuk setiap frame yang ada di halaman itu. dan detik menggunakan angka pengali 6 kali.</p>
<p>untuk mengecek angka pengali ini mudah, bisa dilihat dari page source yang tersedia di masing-masing browser. misal di mozilla menggunakan crtl+U. belum lagi adanya pageview kotor yang itu sengaja dimark-up tim IT di detik, lebih dari 10 persen per harinya.</p>
<p>semoga bisa membuka mata&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lusi</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-76549</link>
		<dc:creator>Lusi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 06:37:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-76549</guid>
		<description>Dulu aku juga sempet nyalahin warna detikcom yg bikin mata sakit. Sekarang setelah ganti monitor, ternyata nggak sakit lagi di mata. Kata temen monitor dan video card yg kualitas jelek bisa bikin sakit mata, apapun warnanya, kecuali warna putih atau hitam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu aku juga sempet nyalahin warna detikcom yg bikin mata sakit. Sekarang setelah ganti monitor, ternyata nggak sakit lagi di mata. Kata temen monitor dan video card yg kualitas jelek bisa bikin sakit mata, apapun warnanya, kecuali warna putih atau hitam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mulky</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-75408</link>
		<dc:creator>Mulky</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 03:11:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-75408</guid>
		<description>Saya ingin menanggapi komentar tentang template detikcom yang dari dulu tidak pernah berubah. Menurut saya, di situlah juga kekuatan lain detikcom: kuat identitasnya,  langsung dan mudah dikenal. Saya jadi ingat gaya rambut ratu-ratu kerajaan di Eropa. Ratu Inggris Elizabeth dan Ratu Belanda Beatrix misalnya. Mereka gaya rambutnya dari dulu itu-itu melulu. Gaya rambut Beatrix tidak pernah berubah dari sejak resmi naik tahta. Ternyata itu terkait dengan identitas dan imej. Gaya dan tata letak detikcom yang tidak berubah saya yakini sebagai keputusan yang diperhitungkan matang. Kalau mau, saya kira detikcom cukup punya uang untuk membayar disainer (jika timnya sendiri tidak cukup kreatif merancang template). Analisis penonton di tribun memang belum tentu mendekati apa yang sesungguhnya menjadi strategi tim yang bertarung di lapangan. Disain yg tetap, juga membantu pengunjung at home, tahu di mana mereka harus mencari apa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin menanggapi komentar tentang template detikcom yang dari dulu tidak pernah berubah. Menurut saya, di situlah juga kekuatan lain detikcom: kuat identitasnya,  langsung dan mudah dikenal. Saya jadi ingat gaya rambut ratu-ratu kerajaan di Eropa. Ratu Inggris Elizabeth dan Ratu Belanda Beatrix misalnya. Mereka gaya rambutnya dari dulu itu-itu melulu. Gaya rambut Beatrix tidak pernah berubah dari sejak resmi naik tahta. Ternyata itu terkait dengan identitas dan imej. Gaya dan tata letak detikcom yang tidak berubah saya yakini sebagai keputusan yang diperhitungkan matang. Kalau mau, saya kira detikcom cukup punya uang untuk membayar disainer (jika timnya sendiri tidak cukup kreatif merancang template). Analisis penonton di tribun memang belum tentu mendekati apa yang sesungguhnya menjadi strategi tim yang bertarung di lapangan. Disain yg tetap, juga membantu pengunjung at home, tahu di mana mereka harus mencari apa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Detik.com &#124; life is a journey&#8230;and this is mine..</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-75325</link>
		<dc:creator>Detik.com &#124; life is a journey&#8230;and this is mine..</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 15:25:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-75325</guid>
		<description>[...] Tadi saya browsing di internet dan membaca salah satu artikel mengenai detik.com di blog Pak Nukman yang berjudul &#8220;Mengapa tidak ada media online yang mengalahkan detik.com&#8220;. Setelah membaca artikel tersebut saya juga baru tersadar bahwa saya sendiri hampir setiap hari mencari berita di detik.com atau paling tidak membuka link tersebut sekedar melihat - lihat saja apakah ada berita menarik. Malah saya lebih sering membaca berita di detik daripada membaca koran. Hehe secara saya sendiri tinggal di kos sehingga tidak ada koran. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Tadi saya browsing di internet dan membaca salah satu artikel mengenai detik.com di blog Pak Nukman yang berjudul &#8220;Mengapa tidak ada media online yang mengalahkan detik.com&#8220;. Setelah membaca artikel tersebut saya juga baru tersadar bahwa saya sendiri hampir setiap hari mencari berita di detik.com atau paling tidak membuka link tersebut sekedar melihat &#8211; lihat saja apakah ada berita menarik. Malah saya lebih sering membaca berita di detik daripada membaca koran. Hehe secara saya sendiri tinggal di kos sehingga tidak ada koran. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jaka</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-75318</link>
		<dc:creator>Jaka</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 13:13:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-75318</guid>
		<description>Salam jumpa buat anda semua......
sebetulnya banyak yang berpikir kesana akan tetapi belum waktunya untuk mereka muncul,saya yakin mereka pasti akan datang......untuk menyamai detik memang butuh waktu panjang karena mereka yg pertama dan berpengalaman serta punya potensi.kalo boleh saran......seharusnya kompas mencoba itu...!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam jumpa buat anda semua&#8230;&#8230;<br />
sebetulnya banyak yang berpikir kesana akan tetapi belum waktunya untuk mereka muncul,saya yakin mereka pasti akan datang&#8230;&#8230;untuk menyamai detik memang butuh waktu panjang karena mereka yg pertama dan berpengalaman serta punya potensi.kalo boleh saran&#8230;&#8230;seharusnya kompas mencoba itu&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Eko</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-75099</link>
		<dc:creator>Eko</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 07:41:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-75099</guid>
		<description>Salam kenal semuanya.. Kalau menurut saya,secara design,Detik dgn warna warninya yg ngejreng,secara alamiah tentunya akan lebih catchy dibanding kompas atau okezone yg putih&amp;terkesan kaku.. Lalu yg kedua, adanya sub-brand dari detik seperti detiksport,detikhot,dll yg memiliki domain sendiri..tentu lebih menarik dibanding kompas atau okezone yg membuatnya dgn nama-nama seperti &quot;ilmu&quot;,&quot;teknologi&quot;..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal semuanya.. Kalau menurut saya,secara design,Detik dgn warna warninya yg ngejreng,secara alamiah tentunya akan lebih catchy dibanding kompas atau okezone yg putih&amp;terkesan kaku.. Lalu yg kedua, adanya sub-brand dari detik seperti detiksport,detikhot,dll yg memiliki domain sendiri..tentu lebih menarik dibanding kompas atau okezone yg membuatnya dgn nama-nama seperti &#8220;ilmu&#8221;,&#8221;teknologi&#8221;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anggun</title>
		<link>http://virtual.co.id/blog/dotcom/mengapa-tidak-ada-media-online-yang-mengalahkan-detikcom/comment-page-2/#comment-75095</link>
		<dc:creator>Anggun</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 07:21:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.virtual.co.id/blog/?p=320#comment-75095</guid>
		<description>Kekuatan terbesar detikcom yang mungkin tidak disadari para kompetitornya adalah faktor IKHLAS dan CINTA. Dua faktor yang menurut ESQ165 sangat dahsyat kekuatannya. Ikhlas dalam konteks detikcom bukan berarti awaknya tidak dibayar, tapi terkait mentalitas awaknya yang berdedikasi tinggi. Yang saya maksud adalah awak intinya. Dengan kualifikasi seperti itu, mereka siap berkorban dan berdarah-darah untuk fight jika kapal mereka terancam lawan. Adapun awak detikcom yang hengkang ke media lain, menurut saya itu adalah seleksi alamiah. Kemudian faktor CINTA. Mereka saya lihat mencintai pekerjaannya, perusahaannya dan identitasnya sebagai orang detikcom. Itulah saya kira yang jarang dipunyai kompetitor detikcom. Menciptakan SDM seperti itu tidak bisa dengan mengandalkan uang. Mengandalkan kekuatan uang malah kadang bisa jadi bumerang. Anda bisa merekrut awak siap pakai dari kiri-kanan, tapi ibarat anggur: diberi secawan, orang bisa ketagihan dan minta lagi, lagi dan lagi. Dan rekrutmen semacam ini biaya investasinya sangat mahal. Satunet.com, Astaga.com telah membuktikan. Jadi kalau mau mengalahkan kapal detikcom, mulailah dengan IKHLAS dan CINTA. Begitu saya kira.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kekuatan terbesar detikcom yang mungkin tidak disadari para kompetitornya adalah faktor IKHLAS dan CINTA. Dua faktor yang menurut ESQ165 sangat dahsyat kekuatannya. Ikhlas dalam konteks detikcom bukan berarti awaknya tidak dibayar, tapi terkait mentalitas awaknya yang berdedikasi tinggi. Yang saya maksud adalah awak intinya. Dengan kualifikasi seperti itu, mereka siap berkorban dan berdarah-darah untuk fight jika kapal mereka terancam lawan. Adapun awak detikcom yang hengkang ke media lain, menurut saya itu adalah seleksi alamiah. Kemudian faktor CINTA. Mereka saya lihat mencintai pekerjaannya, perusahaannya dan identitasnya sebagai orang detikcom. Itulah saya kira yang jarang dipunyai kompetitor detikcom. Menciptakan SDM seperti itu tidak bisa dengan mengandalkan uang. Mengandalkan kekuatan uang malah kadang bisa jadi bumerang. Anda bisa merekrut awak siap pakai dari kiri-kanan, tapi ibarat anggur: diberi secawan, orang bisa ketagihan dan minta lagi, lagi dan lagi. Dan rekrutmen semacam ini biaya investasinya sangat mahal. Satunet.com, Astaga.com telah membuktikan. Jadi kalau mau mengalahkan kapal detikcom, mulailah dengan IKHLAS dan CINTA. Begitu saya kira.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
