Akhirnya Kompas.com memetik hasil awal dari jerih payahnya membangun versi barunya yang dirilis beberapa waktu lalu. Dengan content yang jauh lebih menawan, perpaduan antara berita yang cepat, video seleb yang terus diperbarui, serta berbagai content menarik lainnya, pageviews (jumlah halaman yang dibaca oleh pengunjung) Kompas.com meningkat tajam. Saya tidak memiliki statistik resminya. Namun jika mengacu pada satu-satunya sumber yang bisa dipegang saat ini (meski kesahihannya masih harus dikritisi), yakni Alexa.com, sejak 2 Juni lalu pageviews Kompas.com telah mengalahkan Detik.com. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana sebaiknya Detik.com meresponnya?
Perhatikan grafik di atas. Jika ditarik ke belakang hingga beberapa bulan, bahkan lima tahun yang lalu, tak pernah sekalipun pageviews Kompas.com mengalahkan Detik.com. Namun sejak versi barunya diumumkan, pageviews Kompas.com melejit tinggi. Saya ucapkan selamat untuk tim Kompas.com atas keberhasilan ini. Sebaliknya, saya ucapkan “waspadalah” kepada tim Detik.com karena ada pesaing serius yang siap bertarung dengan energi yang seolah tak ada habis-habisnya. Kompas-Gramedia misalnya, terlihat serius memanfaatkan jaringan media tradisionalnya untuk mempromosikan Kompas.com Reborn. Iklan Kompas.com dalam berbagai bentuk menghiasi koran Kompas dan teve Trans-7.
Namun, di sisi lain, tim Kompas jangan terburu-buru tertawa. Jalan masih panjang. Kenapa saya mengatakan demikian?
1. Kompas.com baru mengalahkan pageviews pintu gerbang Detik.com, bukan Detik.com.
Secara sederhana, Detik.com bisa diibaratkan sebagai pintu gerbang di mana pengunjung masuk. Setelah itu pengunjung akan diantar ke tempat-tempat lain yang dituju, misalnya Detiknews.com, Detiksport.com, DetikHot.com, DetikFood.com dan kanal Detik.com lainnya yang memiliki domain sendiri, bukan subdomain Detik.com. Apa artinya? Sederhana: yang dicatat oleh Alexa adalah pageviews pintu gerbang Detik.com, serta beberapa kanal forum, tv, tetapi tidak termasuk kanal-kanal lainnya yang memiliki domain sendiri dan menjadi andalan dan dianggap sebagai product brand Detik.com selama ini.
Sebaliknya, pada kasus Kompas.com, kanal-kanalnya berada dalam domain Kompas.com dengan membuat subdomain. Misalnya, bola.kompas.com, entertainment.kompas.com, tekno.kompas.com dan lain-lainya. Artinya, yang dicatat Alexa adalah pageviews Kompas.com dengan seluruh subdomain andalannya — kecuali seleb.tv dan Videoku.tv.
Kalau seluruh kanal-kanal Detik.com disatukan, demikian juga seluruh kanal Kompas.com disatukan, maka pageviews Detik.com masih jauh lebih banyak dibanding Kompas.com. Bahkan, kanal Detiksport.com saja masih belum bisa dikalahkan Kompas.com. Perhatikan baik-baik grafik di bawah ini.
2. Jumlah Pembaca Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detik.com
Prestasi awal “yang masih harus dikritisi” ini ternyata belum berdampak ke meningkatnya daya saing Kompas.com terhadap Detik.com. Memang, ada kenaikan jumlah pembaca Kompas.com, namun pada saat yang sama, pengunjung yang melewati pintu gerbang Detik.com juga naik dengan pola yang sama. Secara total, pengunjung Detik.com saja lebih dari dua kali lipat Kompas.com — padahal belum ditambah dengan kanal-kanal Detik.com lain yang berdomain sendiri. Perhatikan grafik di bawah ini.
3. Alexa tidak menggambarkan statistik yang sesungguhnya.
Cara kerja alexa adalah berdasarkan user. Hanya user yang memasang toolbar Alexa di browsernya, atau terpasangi cookies Alexa, yang behavior browsing-nya tercatat oleh Alexa. Artinya, hanya dari orang-orang itulah Alexa menampilkan data peringkat trafik, bukan data eksak berapa banyak pengunjung. Mungkin karena gratis dan mudah dipakai, Alexa kemudian populer sebagai alat untuk membanding-bandingkan peringkat trafik portal.
Jika ingin tahu trafik yang sesungguhnya, maka harus masuk ke dapur masing-masing portal dan melakukan audit di sana. Atau, gunakan pihak ketiga yang menghitung langsung ke dapur para kliennya, seperti Comscore. Kalau mengacu pada pihak ketiga seperti ini, masih jauh dan berliku langkah Kompas.com untuk mengejar ketertinggalan dari Detik.com
Saran untuk Detik.com
Sebagaimana saya sebut di atas, kemenangan kecil nan semu Kompas.com harus diwaspadai. Biasanya, kemenangan kecil terhadap penguasa pasar akan memicu semangat untuk membuat kemenangan kecil-kemenangan kecil lain, yang bisa saja kemudian menjadi kemenangan besar.
Jika ingin menghapus kemenangan kecil Kompas.com di pageviews, caranya gampang. Satukan saja seluruh kanal andalan Detik.com di domain detik.com, dan “matikan” domain-domain non-detik, terutama Detiksport.com dan Detikhot.com. Dalam seketika, pageviews Kompas.com akan terjembab jauh di bawah Detik.com.
Tapi saya tidak merekomendasikan langkah mudah ini. Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Kompas Reborn adalah langkah strategis yang berorientasi jangka panjang. Langkah strategis tidak akan mempan dilawan dengan langkah taktis seperti menyatukan. Harus ada langkah strategis yang dilakukan Detik.com.
Apa itu langkah strategisnya? Tunggu tulisan saya berikutnya.
Note:
Minggu, 22 Juni 2008. Mohon maaf, dengan berbagai pertimbangan, langkah startegis itu tidak jadi saya tulis di blog ini.
Dan saya akan setia menunggu tulisan berikutnya
well, ini artinya kompetisi makin menarik. dan akan lebih atraktif lagi jika portal-portal baru bermunculan kelak. lets see …
Kalimat “langkah strategis tidak akan mempan dilawan langkah taktis…” ini menarik. Strategis berarti menciptakan competitive advantage yang artinya masuk jauh ke dalam proses bisnis, menggali core competence, resourcing dsb.
Trafik hanyalah representasi sederhana dari kerja keras nan rumit dari dapur perusahaan.
persaingan semakin sengit…
Detik.com harus benar-benar berhati-hati. Kemenangan kecil ini sebenarnya cuman awal, yang sudah lama saya prediksi. Kompas itu sangat agresif tampaknya, apalagi mereka punya sumber daya yang sangat besar. Dan tampaknya mereka sedang tidak main-main dengan dunia online. Kita tunggu saja, inovasi apalagi yang akan dimunculkan keduanya??? Untuk memenangkan persaingan
Parameternya masih terlalu prematur Pa Nukman yang baik, melihat screenshootnya alexa diatas, kompas.com belum teruji benar bisa mengungguli pageview detik.com secara konsisten. Itu yang terlihat unggul kan baru beberapa hari/minggu saja, sedang detik.com sy kira memiliki pengunjung yg loyal, kita lihat saja babak baru persaingan ini ..
NL:
Betul anak nakal. Makanya saya menyebut fenomena ini sebagai “kemenangan kecil nan semu”. Kompas.com masih harus membuktikan bahwa tren ini berlanjut. Meski demikian, titik di mana Kompas.com bisa mengungguli Detil.com adalah titik bersejarah yang patut dicatat…
dan situs-situs berita yang lainya pun mulai berevolusi..
tampilan kompas.com dan okezone.com jauh lebih segar ketimbang detik. dan khusus di berita olah raga (khususnya sepakbola), detik sering kali telat. jadi wajar kalau baik kompas maupun okezone mulai naik daun. tapi kalau dilihat dari iklan yang berhasil di raih, jauh… detik jauh lebih banyak iklannya.
Bener Pak Nufman, tataan domain dari detikxxx.com ke xxx.detik.com sangat membantu kalo cuman urusan pageviews. Domain asli masih bisa di forward aja, dan untuk kedua alternatif, brand marketing masih jalan koq.
Tapi yang dijadikan standard masih Alexa, sangat tidak bisa dipercaya.
Niche market? apakah ini akan dikejar-kejar oleh kompas dan detik yang pada akhirnya, user akan membuka kompas dan detik pada saat yang bersamaan karena mengannggap dua situs ini berbeda?
[...] berita dengan media internet jadi semakin sengit, membuat semua unsur menjadi faktor untuk menang. Pada dasarnya kualitas materi merupakan faktor [...]
daripada ribet mending mampir ke rangkum.com, semuanya dirangkum disana.. hehe
Nanya mas,
saya masuk situs http://www.rankwidget.com/
kemudian saya masukkan kompas dan detik, hasilnya
alexa traffic rank : 1.100 (kompas) dan 510 (detik)
google page rank : 6/10 (kompas maupun detik)
yahoo search inlink : 216 ribu (kompas) 535 ribu (detik)
pencerahannya gimana mas ?
tks
eshape
Sip dhe maju terus Kompas!
Hah Detik? Rasanya pernah dengar…
Oh.. inget, Detik itu web dengan warna indah vintage 1995 dengan sejuta iklan dan sangat optimal untuk dilihat dengan komputer-nya kasir Alfamart itu yah?
Jadi inget, dulu sempet “marah2″ di http://fec.blogspot.com/2006/11/kupas-detikcom-babak-1.html
He2.. Detik web-nya masih terjebak di detik2 masa lampau. Cwape dee.
Kapan ya aku bisa punya website dengan trafik kayak gitu… Still have to learn a lot….
Terlihat jelas trend untuk mendapatkan uang di internet sudah berubah.
Detik; masih mengandalkan space iklan seperti layaknya traditional media. Walaupun dengan kekuatan mereka (mengupdate berita dalam hitungan menit) cukup masih menjadi daya jual, tapi user interface yang terlalu ramai -terkadang mengganggu pembaca untuk bisa nyaman- menjadi faktor yang sangat perlu dibenahi.
Kompas; dengan wajah baru yang lebih ‘clean’, bidikan pasar Kompas cukup jelas. mereka cukup dapat melihat trend media dan menggunakan afiliasi mereka di group untuk memperkuat konten mereka di Internet. kekuatan mereka untuk dapat beriklan di koran Kompas -dengan harga khusus tentunya
-, turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Dengan beriklan di Kompas, orang-orang yang terputus waktu membaca koran ketika pagi hari, kemudian dapat melanjutkannya di Kompas.com – hal ini membuat interaksi antara pembaca Kompas terpelihara dengan baik.
Riset independen yang saya lakukan membuktikan bahwa traditional media (koran, tv) mempunyai dampak yang significant dan memberikan kontribusi direct traffic yang sangat baik.
~just my 2 cents
hw
http://rangkum.com – kumpulan headline berita di Internet
mungkin saatnya Detikcom melakukan langkah-langkah taktisnya..selama ini jarang promo offline-nya (PR atau CSR)…lakukan investasi brand awareness di segmen pengakses pemula ,karena bisnis untuk masa depan….bukan untuk detik ini juga..
ttk
Ini baru permulaan…
Hmmm… Semoga dugaan saya salah mengenai fenomena Kompas.com…
http://imid.wordpress.com/2008/06/12/fenomena-kompascom/
Dan mengenai pageviews, untuk advertiser/agency yang smart, tidak hanya melihat faktor itu saja…
“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”
Satu situs dari Indonesia yang alexanya paling tinggi. Google.co.id, detik digabungpun belum tentu menang.
dua raksasa media bertarung, media modal nekat hanya bisa nonton!
“Kalah” itu bagus.
Artinya ada banyak gilda-gilda inovasi berkarat yang mulai dilumasi di Detikcom
setuju sama yang diatas saya !
Waduh bos Detik mampir kesini juga
kalo berita lebih suka baca detik
kalo kompas lebih ke masalah kesehatan oke
Kompas.com memang memiliki peluang untuk menang, apalagi didukung dengan jaringan koran Kompas yang sangat kuat. Namun begitu untuk media online menurut saya dominasi detik.com masih terlalu kuat, benar bahwa keunggulan kompas.com saat ini baru mengungguli pintu gerbang detik.com..
dengan jumlah pembaca lebih sedikit tapi page view besar menunjukkan bahwa pembaca Kompas lebih loyal. Pembaca detik cuma lewat, kadung kenal.
pengen rasanya bisa bikin website kayak detik dan kompas yg pengunjungnya bejibun
Untuk masalah tampilan, saya lebih menyukai detik.com ketimbang kompas.com. Tidak semua tampilan yang ngikut trend bisa diterima oleh masyarakat luas.
Misal kompas.com, walaupun tampilannya lebih “segar” dan trend tapi bagi saya malah menjadi sebuah “kebisingan visual” alias terlalu rame yang bikin saya jadi bingung mempelajari navigasinya.
Kalo detik.com tampilannya sederhana dengan alur yang gampang dimengerti.
Regards,
http://www.arimurti.com
Apa yang tengah berlangsung antara detik dan Kompas mengingatkan pada kisah abadi tentang perseteruan, kalau boleh dibilang begitu, antara Coca Cola dengan Pepsi. Rivalitas yang menjadi makin menarik tatkala keduanya membuat blunder yang hampir sama dalam “perang cola” yang terjadi (dimulai) pada era 80an. Bagaimana ceritanya?
Pada 1985, pangsa pasar Coca Cola tergerus sedikit demi sedikit oleh saingan terberatnya Pepsi Cola. Gara-garanya, Coca Cola terpengaruh oleh sebuah acara televisi yang disponsori Pepsi mengenai uji-coba rasa cola yang paling digemari masyarakat Amerika waktu itu.
Hasil uji coba mengatakan, masyarakat lebih menyukai rasa cola yang lebih manis. Ini menunjuk pada rasa Pepsi Cola yang memang sedikit lebih manis dibandingan rasa Coke dari Coca Cola. Hasil riset didukung fakta, dari hari ke hari, penjualan Pepsi Cola terus meningkat!
Terpengaruh oleh uji-coba yang dilakukan Pepsi, Coca Cola mengadakan uji coba sendiri dalam rangka memperkenalkan produk baru mereka New Coke. Dalam uji coba tersebut publik diminta memilih rasa mana yang lebih mereka suka: New Coke, Coke “classic” atau Pepsi Cola. Hasilnya, New Coke menempati urutan pertama disusul Pepsi Cola, dan Coke di urutan terakhir. Berdasarkan hasil uji coba itu, Coca Cola dengan yakinnya melemparkan produk barunya New Coke ke pasaran Amerika dan memensiunkan produk lama mereka Coke “classic”.
Apa yang terjadi kemudian? Penjualan New Coke memang melonjak pda bulan-bulan awal. Namun, selanjutnya penjualan mulai seret. Coca Cola mulai menerima banyak telepon dan surat. Sebuah grup bernama “Old Cola Drinkers” melancarkan protes dan menuntut untuk dikembalikannya Coke “classic” ke pasaran. Banyak analis bisnis dan media yang memperdebatkan masalah ini waktu itu, dan setelah dipensiunkan selama dua bulan, Coca-Cola kembali menjual Coke “classic” di pasaran bersama-sama dengan New Coke. Penjualan total Coca-Cola mulai meningkat lagi.
Pepsi juga membuat blunder ketika memunculkan produk Crystal Pepsi. Ide Crystal Pepsi adalah menciptakan cola dengan warna bening, bukan warna gelap kehitaman seperti lazimnya cola. Soal rasa tidak terlalu beda dengan Pepsi lama. Ide menciptakan cola yang berwarna bening didasarkan pada persepsi masyarakat Amerika waktu itu, bahwa sesuatu yang bening lebih bersih dan lebih alami! Hal itu didukung kenyataan saat itu bahwa sesuatu yang bening (mulai shampoo, lotion hingga sabun) lebih laku terjual di pasaran.
Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata nasibnya sama dengan New Coke. Crystal Pepsi hanya sukses pada awal-awal bulan penjualan, untuk kemudian penjualan menurun secara drastis!
Apakah hal serupa bisa terjadi pada detik atau Kompas… time will tell!
Maaf, mas Nukman, postingnya kepanjangan…
Makin menarik untuk dicermati kompetisinya. Dan sebagai pembaca, kita makin punya banyak pilihan. Walau di awal terkesan Kompas masih meraba-raba, namun harus disadari, mereka menyiapkan bisnis ini cukup serius. Dan melihat inilah bisnis masa depan. dan mereka belajar dari experience yang ada, tak hanya bisa mengandalkan dari induknya.
Jadi memang tak bisa dianggap enteng.
Saya pribadi, kalau membaca berita-berita di kedua portal tersebut, suka mencermati komentar-komentar yang ada. Dan dari situ sebenarnya saya bisa mendapatkan customer insight-nya. Atau siapa sih yang baca portal ini. Dengan begitu, terlepas dari data page view dan lainnya kepada pemasang iklan, sebenarnya kita sebagai orng yang mau menempatkan iklan di situ, bisa “membaca” apakah karakter pembacanya match dengan produk kita.
Komentar-komentar kasar dan tak santun yang kerap ditulis pembaca ketika memberi komentar sebuah berita, juga jadi catatan lho bagu produsen. karena, itu setidaknya memberikan gambaran, siapa sih visitornya. Dan, itu sebaiknya mulai diperhatikan oleh pengelola mega portal. Begitu kan Nukman.
Ayo, saingi detik. Tapi jangan kompas-gramedia dong, tuh media kan udah kuat banget.. wajar kalo suatu saat bisa nyalip detik.
” Sebagaimana saya sebut di atas, kemenangan kecil nan semu Kompas.com harus diwaspadai. Biasanya, kemenangan kecil terhadap penguasa pasar akan memicu semangat untuk membuat kemenangan kecil-kemenangan kecil lain, yang bisa saja kemudian menjadi kemenangan besar.”
Apalagi diulas di sundutpandang.com wah pasti terus melejit tu pageviews-nya
diliat2 kayak detak jantung katak ama ikan… wakakaka… pisss ah…..
Dunia usaha di Indonesia masih sangat membutuhkan banyak analisis, semacam ini dari para pengamat, peneliti dan mereka yang menggeluti bidangnya dengan tekun.
Saya tidak membaca semua analisis Anda, tetapi teruslah menulis. Supaya kita makin cerdas. Salam!
setelah di lihat dan membandingkan,
detik lebih mudah di cerna
navigasi lebih mudah
mendapatkan info yang saya inginkan lebih mudah
. . .
yang harus di antisipasi detik, jika internet user di indonesia
sudah lebih banyak yg mempunyai koneksi Broadband . . . .
mungkin detikTV nya harus lebih di per-canggih
wah, saya dulu memang baca detik, tapi sekarang tidak lagi. pilihan saya sekarang jatuh ke kompas, inilah, dan okezone. detik buat saya sudah tidak menarik lagi. ada banyak faktor, misalnya saja akurasi yang tidak tepat, juga soal judul2nya yang bombastis. dari sini saja saya sudah ragu dengan kredibilitasnya.
ke depannya, saya melihat persaingan di media-media online akan dimenangkan perusahaan2 besar yang disokong sinergi grup yang kuat. dan itu saya melihat ada di kompas dan okezone. kompas kuat dengan jaringan medianya di seluruh nusantara, begitu pula dengan okezone.
secara multimedia, okezone saya pikir akan jauh lebih unggul ke depannya. sebab, grup yang ada di belakang okezone sangat besar, dari televisi, radio, surat kabar, tabloid, hingga jaringan televisi kabel dan televisi mobile.
Forum yang bisa anonim seperti ini sangat rawan disusupi kepentingan media yang bersaing, melalui para buruhnya, untuk mendiskreditkan satu sama lain. Karena ada indikasi seperti itu saya jadi tidak percaya tulisan yang memuji kompas, inilah, okezone dan detikcom. Saya ikuti semua media dan saya menemukan kekurangan dan kelebihan. Salah ketik dan ketidakakuratan ada merata di semua versi online (buktikan statemen saya ini dan silakan catat). Tapi menurut saya itu minor-minor saja. Jadi kalau ada di forum ini pendiskreditan terhadap satu media dan menjunjung media lain, itu bagi saya sebuah promosi murahan yang ketahuan bohongnya. Kayak kaki tangan fanatik parpol. Modusnya sama, “saya dulu pendukung partai X, tapi sekarang tidak lagi karena bla, bla, bla…(menjatuhkan)” atau “saya ini bukan pendukung parpol Y, tapi bla,bla,bla…(menjelekkkan)” Hehehe… Semua itu buat saya sampah. Saya baru percaya kalau data riset lembaga kredibel sekelas AC Nielsen tentang media-media itu dipakai dan dibeberkan di sini. Bukan propaganda murahan untuk promosi atas nama samaran orang per orang secara anonim. Tak ada yang bisa dipercaya, kecuali ada dukungan data lembaga kredibel.
Saya coba ketik kompas.com tanpa www, ternyata nggak masuk. Kelihatannya tim IT kompas masih kebawa model kuno kalau masuk situs harus pakai www. Berapa potensi trafik yang hilang gara-gara orang menyangka situs kompas nggak bisa diakses karena tidak menulis lengkap http://www.kompas.com?
Kesalahan kecil, tapi besar dampaknya.
Mungkin pak Nukman bisa menyampaikan, biar Kompas.com tidak kalah canggih sama virtual.co.id yang bisa diakses dengan atau tanpa wwww?
kompas seharusnya bisa unggul jauh. Mereka punya resource (Human resource, uang, koran, dll), cuma mereka tidak menyadari hal tersebut. Saya lagi membangun kartubisnis.com berjuang dengan resource yang terbatas.
Masalah mendatang yang dihadapi Kompas adalah bagaimana memonetize trafik yang sudah didapat sama bagusnya (atau lebih bagus) dibandingkan pendapatan versi cetak.
Analisis di http://publishing2.com/2007/07/17/newspaper-online-vs-print-ad-revenue-the-10-problem/
cukup bagus. Isinya menganalisis kasus NYTimes. Berbeda dengan di media offline yang sedikit pesaing untuk meraih readership nasional, di dunia online Kompas akan bersaing dengan ratusan ribu blogger dan publisher lainnya yang mampu menjangkau secara nasional dan global. (Coba lihat, total pageviews dari publisher di kumpulblogger saja mungkin melebihi Kompas. Mereka bermain di longtail yang kalau dikombinasikan melebihi “head” nya, semacam kompas atau detikcom).Tarif iklan online tidak akan sebesar di offline. Coba saja, lihat di Kompascom sekarang masih menerima iklan “recehan” yang nggak mungkin diterima di versi cetak.
Pendapatan dari iklan banner porsinya juga akan semakin menurun di masa mendatang. Iklan banner bagus untuk branding, namun kalau untuk call to action, medianya adalah contextual ad (PPC) yang lebih tajam bidikannya dan mudah ukuran keberhasilannya.
Dilema yang dihadapi NYTimes kini akan juga dihadapi Kompas nanti.
Kompas.com didukung jaringan Kompas Gramedia yang tersebar di seluruh Indonesia. Merekalah yang menyuplai berita ke Kompas.com.
Kalau tidak waspada bisa saja terjadi apa yang dinginkan awak kompas.com
@ Fachri
Saya setuju dengan pandangan Anda. Saya sendiri karena tidak memiliki kepentingan bisnis di kompas/detik/okezone/inilah/portal berita lain malah merasa terbantu dengan kehadiran dan inovasi tiap portal. Jika tidak ada berita “A” di detik, ternyata di kompas/inilah/okezone ada dan hal sebaliknya pun sering terjadi..
@ all
So,saya gak mau menilai mana yang paling bagus karena sebagai orang kantoran saya makin terbantu dengan banyaknya portal berita Indonesia. Terlebih tiap portal tidak selalu sama agenda settingnya, jadi sudut pandang beritanya bisa berbeda. Saya pun meyakini banyak orang seperti saya yang tidak melulu loyal pada satu portal berita, karena kesemua portal tersebut GRATIS untuk dibaca,,tidak seperti koran/majalah..
@ Pak Nukman
Ulasan Anda memang lebih banyak berguna untuk kalangan yang berbisnis di sana. Tapi pak,,kok gak jadi diterusin ulasannya, mungkin bisa diganti dengan strategi yang sama tetapi dibidang non-IT seperti contoh Saudari @Erna…
Salam Hangat,,
Dani
[...] melalui strategi e-paper. Begitu juga koran Kompas dengan Kompas.com-nya, bahkan sempat disebut-sebut page view-nya mulai melampaui detik.com. Demikian juga dengan media-media cetak lainnya, yang [...]
simple aja kok….kl gw ngeliatnya detik masih yg menang ? knp ??? karena tanpa elo2 sadarin…elo udah dijejelin brand image nya detik.com yg terkesan acak adut tampilannya…tapi elo2 semua terbius untuk menyenanginya…..
gw pernah denger dari sumber terpecaya… pas detik ganti tampilan…hitnya langsung drop. kenapa ?? karena ya itu tadi.. user udah terlanjur nyaman dengan tampilan yang acak adut gitu tapi dari segi penyampaian berita cukup up 2 date dan beda kl kita baca koran.
orang kl mo cari informasi di internet pasti bahasanya ga mo serius2 bgt deh… kl terlalu kaku pasti boring juga lama2.
sedikit gaya bahasa lampu merah + poskota tapi kredibilitas bisa dipercaya kenapa engga ??
hehehe… tapi ga tau deh kedepannya… lama2 mah tenggelem juga ni detik kl ga bisa nemuin inovasi baru.
Coba bandingkan detik, kompas, dan cnn? apa bedanya dari segi tampilan? Kompas terlalu banyak iklan. Iklan sharp, dan A-mild sangat mengganggu sekali. Orang “dipaksa” untuk baca iklan itu.
Yang namanya dominasi bisa bergilir sih,tinggal tunggu waktu aja…let’s see…
[...] bazar: Yang namanya dominasi bisa bergilir sih,tinggal tunggu waktu aja…let’s see… [...]
detik ganti tampilan tuh …. kyknya udah mengantisipasi pengunjung yg udah mulai bosen… *siul2
Wah ini akan menjadi kompetisi yang seru untuk 3 portal ternama Detik, Kompas dan Okezone. Akan sangat menarik melihat gebrakan-gebrakan Okezone dan Kompas untuk melengserkan dominasi Detik.
Namun akan sangat sulit melihat itu terjadi, walau Okezone dan Kompas didukung oleh banyak media untuk promosi. Detik terlanjur menang di start dan terlanjur diterima pembacanya.
But, competition is going to be more and more attractive ahead.
Salam,
Made Sariada
e-Kuta.com