Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Belajar “Eksis” di Social Media dari Tokoh Fiktif

February 2, 2010
Oleh Ismujiarso

 

Dalam hitungan menit setelah Detikcom menayangkan berita berjudul “Vena Melinda Dirugikan Akun Twitter Palsu”, akun @VMelinjo di Twitter menghapus dirinya. Kepada 2600-an followernya dia berpamitan:

“Hi! Thanks for the good laughs for the last three days. I’ll be back. Maybe as Ruhut, or as SBY. Stay healthy, stay melinjo.”

Dari twit pamitan tersebut, Detikcom kembali mendapat bahan berita, dan tak lama kemudian muncullah laporan berjudul: Ketahuan, Akun Twitter Palsu Venna Melinda Menghilang

Sejak di berita yang pertama tadi, Detikcom memang sudah langsung menjatuhkan talak tiga bahwa @VMelinjo adalah “akun palsu” Venna Melinda. Kesimpulan itu diambil berdasarkan klaim Venna Melinda sendiri yang merasa sosoknya telah “dipalsukan” oleh orang lain di Twitter.

“Ada yang buat Twitter palsu saya. Membuat imej buruk, misalkan katanya saya waktu ditanya tentang human traficking, tapi saya jawab itu urusan departemen perdagangan. Kesannya kan saya bego banget,” curhatnya seraya tertawa. Venna tidak bisa berbuat banyak dengan citra buruk yang dibuat melalui akun Twitter palsunya yaitu VMelinjo. Hal yang dapat ia lakukan hanyalah menulis di akun Twitternya yang asli.

Pihak @VMelinjo sendiri tampaknya mengikuti berita tersebut, dan sempat membuat twit tanggapan, sebelum akhirnya “bunuh diri”. Twit tersebut berbunyi: Saya tidak ikutan black campaign. Hari ini saya pakai baju warna merah, kok.

Siapa di balik @VMelinjo? Bagi lingkaran tertentu yang aktif di Twitter, tidak sulit menebaknya. Tapi, siapa pun dia menjadi tidak lebih penting dibandingkan dengan kesuksesan @VMelinjo sendiri sebagai sosok fiktif di Twitter.

Seperti telah tersirat dari twit pamitan tadi, @VMmelinjo “hidup” di Twitter hanya dalam tiga hari. Dia nge-twit muncul pertama kali 26 Januari 2010 dengan twit pertama yang isinya mengakui bahwa sosoknya memang imajiner. Tapi, menyimak bio-nya, tak sulit bagi orang untuk mengaitkan @VMelinjo dengan sosok Venna Melinda. Begini bio-nya: semua orang bisa menjadi pahlawan rakyat, tapi tidak semua orang bisa salsa.

Tidak hanya dari bio, tapi dari twit-twitnya, orang tak bisa tidak akan membayangkan bahwa @VMelinjo adalah parodi dari Venna Melinda yang sejak menjadi anggota DPR sering mendapatkan publikasi negatif karena komentar-komentarnya yang “kontroversial”, misalnya, keinginannya untuk memasyarakatkan salsa, dan ketika diminta komentar tentang film “Balibo”, konon dia balik bertanya, “Balibo yang di Filipina itu ya?”

Dengan parodi-parodi yang tajam, kocak, cerdas, twit-twit @VMelinjo begitu mengena di hati para pengguna Twitter dan dalam beberapa jam saja, akun tersebut sudah menyebar ke mana-mana, dan berhasil menjaring lebih dari 1000 follower. Begitu fenomenalnya, pada hari yang sama sebuah website bernama Ngerumpi.com menuliskan berita tentang keberadaan akun ini: Venna Melinjo nama account twitternya. Dia aktif banget nge-tweet macam-macam kegiatan hariannya. Tampaknya dia multitalenta dan bangga dengan jadwal padatnya sebagai penari salsa, instruktur senam, selebritas sekaligus anggota dewan.

Namun, popularitas itu rupanya justru mengkhawatirkan pemilik akun tersebut, sehingga mengganti bio-nya menjadi lebih tersamar: Ada banyak Venna, hanya saya yang Melinjo.

Ketika Detikcom pertama kali memberitakan tentang keberadaan @VMelinjo, followernya sudah 2400-an, dan sebelum dihapus, jumlah itu sudah bertambah lagi menjadi 2600-an. Semasa hidupnya, dia ngetwit 128 kali, tidak termasuk twit pamitan terakhir.

Apa yang terjadi di Twitter sepeninggalan @VMelinjo yang fenomenal? Detikcom melaporkan: Hal itu ternyata membuat banyak orang yang menjadi followernya sedih…Walau status-status dari @VMelinjo kadang tak masuk akal, namun banyak yang menginginkan orang tersebut tetap ada. Mereka malah mengecam Venna asli.

Detikcom mengakhiri laporannya dengan kalimat: Entah siapa lagi yang akan jadi korban akun Twitter palsu?

Sekali lagi, kendati tidak sulit untuk menebak siapa di balik itu semua, tapi mengatakan bahwa @VMelinjo adalah “akun palsu” (dari Venna Melinda atau dari siapa pun) sebenarnya bisa diperdebatkan sampai kapan pun. Tapi, kita tahu, perdebatan ini akan tidak produktif, mengingat UU ITE yang keras kepala itu memang cukup beralasan untuk membuat orang senantiasa berhati-hati. Rasanya memang tidak lucu kalau sampai ditangkap dan diadili hanya karena membuat parodi. Sementara, di luar sana, parodi bertebaran (lihat acara Democrazy di Metro TV dan Republik Mimpi di TV One).

Bagi saya, ada hal yang lebih menarik dan penting untuk dipelajari dari fenomema @VMelinjo. Bayangkan, Anda mewakili suatu produk yang hendak branding atau pun jualan ke masyarakat. Lalu Anda menciptakan tokoh fiktif, dan membuat twit-twit yang menarik sehingga di-follow banyak orang. Di sini, yang kita petik dari @VMelinjo adalah, dengan kecerdasan dan keterampilan tertentu, memobilisasi massa di social media bukan hal yang mustahil. Termasuk, menjadi populer dan dikenal dalam sekejab! @VMelinjo dari bukan dalam sehari menjadi “brand” yang disukai dan diperbincangkan, dan ketika dia hilang, banyak yang “menangisinya”, dan meneriakinya agar kembali.

Tak ada yang baru di sini, intinya konversasi. Sentuh follower-mu, friends-mu, anggota fans page atau group-mu, dengan “cerita” yang menarik. Bila Anda mewakili suatu produk atau brand, atau Anda adalah tokoh politik yang belakangan ini mulai banyak menyerbu twitter, maka berbicara dengan bahasa yang membuat follower (konsumen/calon konsumen, konstituen/simpatisan yang potensial) tergerak, itu mutlak.

Saya ingat, Drajat Wibowo pernah masuk ke Twitter ketika mencalonkan diri sebagai ketua umum PAN. Namun, selebihnya tak ada aksi yang cukup menarik, selain tampak seperti orang kebingungan yang tak tahu mesti melakukan apa.

Moral of the story: masuk ke social media adalah sesuatu yang serius. Perlu usaha yang intens dan konsistensi. Ibaratnya, @VMelindo saja yang cuma tokoh fiktif-parodis, mengerahkan segenap kecerdasan-humorisnya yang cemerlang, maka, jika Anda adalah produk atau tokoh yang hendak melakukan kampanye online bisa mencontoh spirit tersebut.

27 Responses to “Belajar “Eksis” di Social Media dari Tokoh Fiktif”

  1. hedi says:

    keren banget orang2 seperti itu, biasa menggugah orang lain

  2. kw says:

    wah ngetwit yg keren emang lebih sulti dari ngeblog :) salut juga sih sama @Vmelinjo
    mudah2an dia dia muncul lagi meski dalam sosok yang lain

  3. zam says:

    nunggu orang bikin akun twitter @NurdinHalo :D

  4. si_pipiet says:

    komentar @VMelinjo tuh cerdas, menyegarkan, menggugah, dan menggelitik.. ditunggu kedatangannya lg sbg sosok yg laen..

  5. Pitra says:

    Kalau saya menyebutnya lebih ke karakter fiktif sih, meski sebenarnya bisa jadi plesetan dari karakter nyata. Tapi tetap fiktif, karena karakternya tidak ada (imajiner). Namun mau fiktif/tidak, kembali kepada isinya. kalau bermanfaat tentu banyak yg menyukai. Hebatnya si @vmelinjo ini cerdas sekali dalam melakukan plesetan. Nggak norak. Nggak kampungan. Kena ke tujuan tanpa melupakan rasa humor. Menunggu aksinya sebagai karakter lain.

  6. yoshi fe says:

    saya juga termasuk yang kehilangan saat VMelinjo memutuskan utk berhenti ngetweet. padahal dia belom menjelaskan hubungan antara melinjo dan salsa. hal laen menarik adalah munculnya akun2 twitter dari tokoh2 yang pada saat bersangkutan banyak dibahas di media massa, misalnya akun twitter @SusnoDuadji

  7. Vavai says:

    Analisa yang cerdas mengenai fenomena VMelinjo. Untuk kasus tokoh yang seolah “kebingungan” menyikapi Twitter atau social media lainnya, hal tersebut sepertinya umum terjadi karena mereka menganggap social media seperti harta karun dan tempat untuk berkampanye, yang sayangnya tidak dikemas dengan baik dan hanya menjadi trend sesaat belaka :-)

    Kesimpulan diakhir tulisan memberikan pencerahan. Thanks.

  8. didut says:

    ketinggalan aksinya ..mudah mudahan msh muncul dlm bentuk yg lain

  9. Halo mas Ismujiarso,

    Salam kenal :)

    Salut untuk datanya yang akurat dan juga dengan interpretasinya: melihat lebih jauh daripada yang tampak di luar dari fenomena @VMelinjo itu sendiri.

    Kalau saya mengerti benar tentang artikel ini, inti yang bisa kita pelajari dari fenomena ini adalah: “konversasi”;
    “…, intinya konversasi. Sentuh follower-mu, friends-mu, anggota fans page atau group-mu, dengan “cerita” yang menarik. Bila Anda mewakili suatu produk atau brand, atau Anda adalah tokoh politik yang belakangan ini mulai banyak menyerbu twitter, maka berbicara dengan bahasa yang membuat follower (konsumen/calon konsumen, konstituen/simpatisan yang potensial) tergerak, itu mutlak.”

    Tapi saya ada concern yang cukup besar untuk tulisan ini: Apakah ini contoh dari konten yang sukses (seperti yang saya tangkap dan terimplikasi dari tulisan mas Ismujiarso), ataukah ini contoh dari step-step marketing yang sukses?

    Yang kita tahu bersama dari fenomena ini adalah kesuksesannya: mutasi jumlah fan berbanding waktu naik tinggi. Pertanyaan saya: aspek mana yang seharusnya dapat credit di sini? Apakah konten? Ataukah marketing stepnya?

    Concern saya di sini muncul karena, dari yang saya tangkap, mas Ismujiarso sepertinya lebih condong memberikan kredit kepada konten dan kurang memberikan credit kepada marketing step, padahal yang kita tahu hanya kesuksesannya saja.

    Betul, konten “cerita” yang menarik, yang membuat orang tergerak adalah penting. Dan saya setuju bahwa konten @VMelinjo memang menarik. Tapi konten tersebut hanya memiliki potensi untuk menyebar (viral-worthy); aksi penyebaran tidak dilakukan oleh konten itu sendiri. Aksi penyebaran adalah langkah-langkah dalam marketing step.

    Menurut saya, kesuksesan “campaign” ini berhutang banyak kepada marketing step yang diterapkan. Saya yakin bahwa selain daripada konten yang menggelitik, @VMelinjo juga melakukan marketing step yang tepat seperti menarget orang-orang yang cocok untuk menjaring followers: para connectors, mavens dan salesman (The Tipping Point, Malcolm Gladwell) di Twittersphere. Sebegitu tepatnya sampai-sampai bisa menghasilkan 2600 followers dalam 3 hari.

    Salah satu marketing step yang juga “terambil” (karena incidental dan bukan disengaja) adalah memilih Venna Melinda sendiri sebagai tokoh yang diparodikan. Coba yang diparodikan bukanlah orang yang sudah fenomenal; saya rasa walaupun kontennya semenarik apapun, semenggelitik apapun menjaring follower segitu banyak dalam waktu yang singkat juga mustahil. Dan the key thing di sini adalah “pemilihan tokoh” bukanlah bagian dari konten, melainkan “marketing step”

    Betul konten penting, tapi siapa dulu yang menjual? Teknik penjualan apa yang dipakai? Produk terbaik di dunia pun kalau penjualnya tidak memiliki nilai persuasif tersendiri, tidak akan mencapai potensi penjualan yang maksimal.

    Dan ini juga sebenarnya tersirat di dalam artikel mas Ismuarjo:
    “Saya ingat, Drajat Wibowo pernah masuk ke Twitter ketika mencalonkan diri sebagai ketua umum PAN. Namun, selebihnya tak ada aksi yang cukup menarik, selain tampak seperti orang kebingungan yang tak tahu mesti melakukan apa.”

    Perbedaan antara Drajat Wibowo dan @VMelinjo kemungkinan besar ada di marketing step dan bukan di konten. @VMelinjo menerapkan marketing strategi yang tepat karena dia socially-savvy dan / atau twiterspherely-savvy (atau dalam bahasa mas Ismuarjo: “Bagi lingkaran tertentu yang aktif di Twitter, tidak sulit menebaknya.”). Sedangkan Drajat Wibowo “tampak seperti orang kebingungan yang tak tahu mesti melakukan apa”

    So who gets the credit? Konten? Atau Marketing Step? Menurut saya untuk fenomena @VMelinjo ini, keduanya patut mendapat credit yang sepadan :)

  10. Johan A. says:

    Pertama kali berkenalan lewat tweets @VMelinjo, gue seakan bisa ‘mem-pola-kan’ sosoknya. @VMelinjo pastilah terbiasa menulis cerdas di media, witty, umurnya antara 25 s.d. akhir 30-an tahun, pasti berjenis kelamin laki-laki, and obviously … gay.

  11. Mabrur says:

    Mesti lebih berhati2 ya pak. Thanks.. ;)

  12. mutyaarum says:

    well,
    thanks utk mas Mumu yg sudah menyajikan cerita lengkapnya disini, berhubung saya ktinggalan berita krn bedrest mulu :(

    Akun @VMelinjo di twitter rupanya sudah bisa jadi seleb meski umurnya kebilang masih sangat muda. 3 hari dengan jumlah follower yg begitu banyak, bahkan para influencer di twitter pun mungkin sulit mencapai angka itu. Terkecuali dia melakukan aksi -naked- di mini market atau mall.

    Ya, @VMelinjo adalah karakter fiktif meski ia juga adalah parodi dari karakter yg memang nyata. Saya jd berpikir, Vena Melinda telah kalah gesit dan kalah cerdas dalam melakukan personal branding. Atau malah krn saking cerdasnya membangun personal branding, maka ia dianggap cukup “sexy” utk dijadikan karakter fiktif @VMelinjo.

    Mereka yang masuk ke twitter, secara langsung ataupun tidak, telah membranding dirinya dengan apa yg ditulis dan dibicarakannya. Bukan hanya dari Bio saja. Dan mereka yang masuk ke twitter dengan tujuan berkampanye tanpa tahu objective nya seperti apa, terlebih step apa yg harus dilakukan, sama saja buang buang waktu bila tidak ingin dibilang tidak konsisten.

    Kasus ini unik, terlebih dilihat dr banyak sudut pandang. Yg terakhir saya baca adalah menyoal “Who gets the credit”. Apakah ini contoh dari konten yang sukses ataukah step marketing yang sukses? Bagi saya, ini adalah satu kesatuan meski keduanya tidak bs begitu saja dicampur adukkan. Konten alias tweet @VMelinjo yang menarik itulah yang disukai banyak orang, dan akhirnya menyebar dan mengundang banyak follower.

    Menjawab pertanyaan Pandu, artikel ini menitikberatkan pada konten, krn memang hal itulah yg memacu pergerakan di twitter sementara aksi marketing terjadi secara organic. Berbanding lurus dengan kesuksesan tweet atau konten didalamnya. CMIIW

    Tabik!

  13. “Konten alias tweet @VMelinjo yang menarik itulah yang disukai banyak orang, dan akhirnya menyebar dan mengundang banyak follower.”

    Betul konten tweetnya memang menarik. Tetapi konten hanya membuat tweetnya menjadi viral-worthy. Kalau dibilang “tweet @VMelinjo…, akhirnya menyebar…”, tidakkah ini terdengar seperti magic dan lacking any causal explanation whatsoever? Being worthy does not necessitate the virality itself.

    Apakah produk yang secara objective paling berkualitas dan nomer 1 (good content & viral-worthy) sudah pasti akan menyebar? Belum tentu. It is likely but not necessary.

    “Menjawab pertanyaan Pandu, artikel ini menitikberatkan pada konten, krn memang hal itulah yg memacu pergerakan di twitter sementara aksi marketing terjadi secara organic.”

    Betul “memacu” karena di sini konten bukanlah the only agent :)

  14. banyak jalan menuju eksis. @VMelinjo hanya salah satunya, pelaku hanya piawai melihat peluang dan pandai mengolahnya.
    Lihat saja kasus Hendri PSSI tempo hari. dia bertindak tepat di saat dan tempat yang tepat, dan eksis lah dia dengan segera.

  15. Cesar says:

    hueheheheee.. pertama sih account-nya @VennaMelinjo eh begitu kecium detik langsung ganti nama gitu jadi @VMelinjo.. hahahahaa..

    “Siapa di balik @VMelinjo? Bagi lingkaran tertentu yang aktif di Twitter, tidak sulit menebaknya.”

    yeahh..setuju Mas Mumu.. :D

  16. @VMelinjo bs sefenomenal ini krn sptnya telah menerapkan strategi online yg efektif, dieksekusi scr benar dan terarah sehingga menimbulkan adanya aksi, yaitu, jumlah follower yg bertambah dan atensi terhadap @VMelinjo. Bio dari @VMelinjo jg telah secara jelas mengungkapkan tujuan dr pembuatan tokoh fiktif ini.

  17. Nice info pak. soalnya saya malah ngak tahu eksistensi si melinjo ituh…. lain dari itu.. nampaknya pembelajaran bagaimana ‘menggarap’ hati fans.. harus diakui benar benar perlu, trutama yang terbiasa vertikalism ala pejabat negri ini

  18. trid. says:

    Smoga orang2 seperti @vmelinjo bisa muncul lagi, untuk menggugah dan mengkritik dengan cara yang smart, dan unik. ?

  19. wah.. namanya juga dunia maya.. lihat saja di FB, orang pun bisa edit namanya, pake foto orang lain pula..

  20. [...] about @VMelinjo here & here 03 Feb This entry was written by admin, posted on February 3, 2010 at 6:21 am, filed [...]

  21. As usual, narasi anda sangat renyah dan ces pleng…..
    I really like it.

  22. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Nukman Luthfie, Endah N Rhesa, ve handojo, leo nara and others. leo nara said: RT @mumualoha: analisis yg sangat serius dan ilmiah atas eksistensi @VMelinjo yang fenomenal http://bit.ly/b8Ca0A [...]

  23. [...] yang cukup hangat tetapi isi dari pertemuan itu sendiri cenderung ringan. Kami sempat membahas soal entry mas Ismu di blog Virtual yang saya komentari; mas Tuhu (dari Virtual Consulting juga) dan tweetnya yang [...]

  24. Agus Dwi says:

    Memang awalnya social media mudah untuk menjaring masyarakat. Tapi rupanya itu terbatas hanya untuk orang yang sudah kita kenal. Menjaring masyarakat yang sama sekali belum mengenal kita amat sulit. Seperti kata artikel ini, perlu mengerahkan segenap kemampuan.

  25. subhandi says:

    belom sempet liat sih, tapi kok kalau dari artikel mas ismujiarso… si vmelinjo kaya niru account palsunya steve jobs yg boss apple.
    coba deh liat di http://www.fakesteve.net
    dia itu blogger dari jaman baheula sampe sekarang… si steve jobs yg asli malah konon jadi salah satu followernya yg paling setia :P

  26. dadang says:

    gak penting artikelnya

  27. Pertanyaan saya sih pak, apa yang dimaksud dengan palsu itu? Dia khan g bilang vena melinda yang itu… Kai aja memang dia kita ga tahu? Trus, sebenarnya ini ngejek siapa sih pak? Jadi bingung juga…. wkwkwkwkw…..

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting