Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Berita di Era Social Media: Apa yang Harus Dilakukan Reporter dan Apa yang Perlu Disadari Narasumber

February 9, 2010
Oleh Ismujiarso

 

Dengan nada kesal, penyanyi yang belakangan dikenal sebagai penulis novel best seller Dewi ‘Dee’ Lestari memprotes Detikcom yang telah mengutip twit-nya untuk berita berjudul “Ketahuan, Akun Twitter Palsu Venna Melinda Menghilang.”

Dee dikutip sebagai salah satu “narasumber” yang merasa kehilangan atas lenyapnya “akun palsu” Venna Melinda tersebut. Intinya, Dee merasa keberatan dan lewat Twitternya dia mengecam, “dengan rasionalisasi apapun” dia tak bisa membenarkan “media yang suka ngutip twit orang”.

Kita bisa menganggap bahwa Dee sebenarnya hanya terlalu “malas” untuk mengakui bahwa bagaimana pun, Twitter adalah ruang publik. Sedangkan wartawan yang mengutip pernyataan seleb di Twitter barangkali memang malas “beneran”.

Tapi, mari sedikit lebih serius. Ilustrasi di atas menggambarkan adanya pergeseran dalam hubungan antara reporter dan narasumber di era social media sekarang ini.

***

Mengutip pernyataan tokoh yang diungkapkan di Twitter sebagai sumber berita memang sudah jamak dilakukan oleh reporter masa kini. Sebagai jejaring sosial internet yang baru, Twitter langsung menarik perhatian kaum seleb dan tokoh masyarakat (dari politikus hingga motivator), sehingga bagi repoter berita,ini merupakan sumber berita baru yang bisa dikutip dengan mudah, tanpa melakukan wawancara.

Dari sisi narasumber sendiri, sudah mulai banyak yang menyadari bahwa Twitter bisa dimanfaatkan sebagai saluran untuk menyebarkan berita. Vokalis Fall Out Boy, Patrick Stump misalnya, menyatakan mundur dari band lewat Twitter. Di samping itu, apa yang terjadi di Twitter dan social media lainnya seperti Facebook juga bisa menjadi bahan berita. Misalnya, kematian Michael Jackson dan Mbah Surip yang menjadi trending topic, atau group dukungan untuk Sri Mulyani.

***

Media massa konvensional mulai melihat social media (atau dunia online secara umum) sebagai sumber berita terutama sejak kasus Prita mencuat. Disusul kemudian dengan “keberhasilan” gerakan pembelaan Bibit-Chandra dan Koin Keadilan yang terbilang fenomenal. Sebelumnya, gerakan-gerakan massa secara online memang sudah muncul, seperti “Say No to…” tapi belum berhasil menarik perhatian media secara massif.

Kasus Luna Maya yang “memaki” infotainment di Twitter semakin membuka mata para reporter untuk senantiasa mengawasi media-media jejaring sosial di internet sebagai tambang emas berita yang bisa dieksplorasi dengan mudah dan murah. Dan, itu semua belum termasuk kemudahan-kemudahan teknis yang merupakan berkah buat para pekerja media: Bingung cari foto narasumber? Tinggal ambil di Facebook-nya. Mau menghubungi tokoh tertentu tapi tidak tahu nomer HP-nya? DM saja via Twitter-nya.

***

Tapi, setiap perubahan selalu menimbulkan ekses. Terusiknya Dee karena merasa pernyataannya dikutip “tanpa izin” tadi, termasuk ekses tersebut. Ekses lain tentu banyak. Dalam teori berita ada yang namanya faktor keutamaan, juga relevansi. Orang mulai mengeluh, apa sih pentingnya memberitakan debat kusir Wimar Witoelar dengan Aburizal Bakri di Twitter, yang ‘dikompori’ oleh Fadjroel Rahman?

Tentu saja, apa yang “utama” dan “relevan” di mata media untuk disiarkan ke publik bukanlah rumus mati yang tak bisa diotak-atik. Kehadiran social media yang telah membuat informasi menjadi sesuatu yang murah dan melimpah ruah, ikut mendorong pergeseran kriteria mengenai “apa yang penting” dan “apa yang harus” diketahui publik. Namun, memang perlu adanya usaha tambahan dari para reporter untuk membuat beritanya tidak sekedar “menarik keluar” peristiwa di social media ke halaman koran atau website.

Melaporkan mentah-mentah bahwa ada dua orang tokoh “berantem” di Twitter memang akan terasa seperti omong kosong saja bagi masyarakat umum, yang bahkan masih banyak yang belum tahu apa itu Twitter. Reporter perlu lebih rajin sedikit saja: memberi bingkai, konteks, penjelasan tambahan. Dalam bahasa Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (lihat: The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect), jika memang wartawan kini tak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik, maka dia membantu audiens mengerti secara runtut apa yang seharusnya mereka ketahui.  Jika potongan-potongan “informasi” di Twitter membuat suatu isu menjadi membingungkan dan simpang siur, maka tugas wartawan adalah menambahkan interpretasi atau analisis pada laporannya.

***

Bagi kaum seleb dan para tokoh yang merupakan narasumber media, makna dari pergeseran ini tiada lain kecuali mesti lebih arif dalam ber-social media: sadari sejak dini bahwa masuk ke social media sama artinya dengan menanggalkan (setidaknya sebagian) batas-batas privasi. Twitter, Facebook, sekali lagi, adalah ruang publik. Sekali mengungkapkan sesuatu di sana, akan dibaca oleh banyak orang, termasuk para pencari dan pengumpul berita.

Tidak elok rasanya, marah kepada reporter, merasa kecolongan karena tiba-tiba ada media yang mengutip pernyataan kita. Bukankah Twitter dan Facebook sendiri juga telah dilengkapi dengan perangkat yang semakin dan semakin memungkinkan kita untuk membatasi akses orang atas akun-akun kita? Kuasa ada di ujung jempol kita. Remove, Delete, Unfollow, Protect…tinggal pilih.

Selamat Hari Pers Nasional 2010!

28 Responses to “Berita di Era Social Media: Apa yang Harus Dilakukan Reporter dan Apa yang Perlu Disadari Narasumber”

  1. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by idvirtual: Berita di Era Social Media: Apa yang Harus Dilakukan Reporter dan Apa yang Perlu Disadari Narasumber http://bit.ly/aYnY3s...

  2. mantap..
    memang itu tugas jurnalis, membaca situasi di lingkungan yang tengah berkembang dan membingkainya sehingga jelas dan siap dikonsumsi publik sebagai berita yg utuh.

  3. Cesar says:

    weleh weleh.. tulisanmu mengalihkan kerjaanku..
    keep posting mas bro.. :D

  4. nivell says:

    Inilah grey area yang penting untuk ditelaah. Kita tahu social media adalah wadah berekspresi, menyampaikan pendapat, berinterkasi dan sebagainya. Sementara media tradisional punya rambu2 yang jelas. Banyak sekali contoh kasus tweet seseorang menjadi berita, dan itu diamini karena memang twitter ada di ranah publik juga.

    Namun untuk kasus Dee, sang wartawan melewatkan beberapa etika. Pertama: sang wartawan sudah mencoba menghubungi Dee belum untuk komentar resminya? Kedua: Si wartawan sudah coba reply ke dee, minta izin lewat twitter? Ketiga: ini kan cuma komentar semata…kenapa mesti Dee? Kenapa gak coba komentar dari seleb lain yang lebih mudah dihubungi?

  5. ndoro kakung says:

    menurut saya sih, elok saja reporter itu dimarahi. setidaknya untuk diingatkan bahwa tindakannya bisa membuat seseorang merasa dilanggar privasinya. berada di ruang publik tak serta merta boleh diperlakukan seenaknya oleh siapa pun. tapi kita boleh berbeda pendapat soal ini.

  6. si_pipiet says:

    melakukan RT kan sebenarnya salah satu bentuk mengutip tanpa meminta ijin dari org ybs. kenapa kl ada yg me-RT, tidak diprotes? begitu kita sdh set tweet kita masuk public timelines, mustinya kita hrs siap dg dikutip atau di-RT. kl gak mo dikutip sembarangan, ya atur aja jd private.

  7. mirza says:

    mantap, mas tulisannya.
    ya begitulah fenomena social media saat ini.

  8. Setuju! Orang yg membuka akun dan lalu aktif di social media berarti bersedia ranah pribadinya dimasuki banyak orang, jadi ga perlu heboh kalau dikutip wartawan. Tinggal wartawannya yg harus elok mengemasnya. Kalo emang bnr wartawan mestinya ngerti donk etika dan tata cara pengutipan.

  9. J.L.Nawan says:

    Seyogianya setiap orang yg sdh memutuskan diri utk me”masuk”i dunia social networking, menyadari bhw dirinya sdh tidak “tertutup” lagi. Jangankan di Twitter, sekali saja nama kita muncul di sebuah situs (apapun situsnya, situs berita, situs sekolah, situs kantor dlsb.), maka dengan mudah publik bisa me”lacak” kita lewat Google … so? Itu resiko kita, tetapi di sisi lain, memang akan sangat elok apabila si reporter berusaha menghubungi Dee terlebih dahulu dan meminta comment/persetujuannya, jadi jangan asal RT saja (tapi ini RT nya bukan di Twitter sih, tapi malah langsung dimuat di media).

  10. inal says:

    mungkin dewan pers atau aji perlu nambahin etika jurnalisme dalam ranah internet, meskipun gak mengikat at least ada semacam nilai yang bisa jadi patokan, hehhe

  11. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Adhitia Sofyan, Mumu Aloha, Ruswinar Nawangsari, Ruswinar Nawangsari and others. Ruswinar Nawangsari said: Social media adalah ruang publik jadi berhati-hatilah dalam bertutur kata.. http://bit.ly/aztXkq [...]

  12. nivell says:

    Quoting Twitter term of service

    You are responsible for your use of the Services, for any content you post to the Services, and for any consequences thereof. You should only provide Content that you are comfortable sharing with others. Twitter has the right to distribute your contents worldwide.

    But it doesn’t say about media organization not associated with twitter can(Re)distribute your contents. So perhaps @deelestari has every right to be mad.

  13. Jejaring sosial kadang memang jadi sumber masalah. Ya bagaimana kita menyikapinya saja.. Btw, pak nukman masuk TV & semoga bisa ngalahin tenarnya om roy.

  14. 11_12 says:

    saya kutip kta2 trkhir :
    “Kuasa ada di ujung jempol kita. Remove, Delete, Unfollow, Protect…tinggal pilih”

    kl udah bgityu yaudah ga usah dibesar2kn lah masalah bgituan :D

    bru tahu ada seleb disini :D

  15. Wadiyo says:

    Bukankah setiap pekerjaan selalu ada rambu-rambunya?

  16. Tidak seperti media konvensional yang menganut model Broadcast:Top-Down News, kini social media mengubahnya menjadi model Intercast:Bottom-Up News. Twitter memang bukan sebuah kantor berita, tapi jelas sebuah media yang memiliki konten dan dapat diakses oleh masyarakat luas, seharusnya pengguna sudah sadar sebelum menggunakanya.

  17. “Mau menghubungi tokoh tertentu tapi tidak tahu nomer HP-nya? DM saja via Twitter-nya.” mungkin maksudnya mention kali yah? :D

  18. Pitra says:

    Mungkin gak usah jauh2. Kita melirik diri sendiri saja. Senangkah kita bila tulisan kita di blog, atau tweet kita dikutip oleh media cetak apapun, tanpa kita tahu?

    Kalau kebetulan yang dikutip bagus, tentu saja kita senang. Namun kalau yang dikutip adalah sesuatu yang bersifat sensitif, bisa jadi kita gusar.

    Meskipun tulisan/tweet saya memang bisa dinikmati publik internet, saya sendiri akan lebih apresiasi bila si pengutip meminta izin terlebih dahulu. Wong posting dicopas saja kita suka kesal, apalagi ini bila dikutipnya di media yang berbeda dari sumber aslinya.

  19. BudiTyas says:

    Ternyata muncul paparazzi model baru berkat twitter. Twitterazzi, :D .

  20. samodro says:

    waaa nggak sabar nih liat “pergeseran”2 lain… khususnya di perilaku beragama (yang juga erat kaitannya dengan social activities) mudah2 an makin meredam ekstremitas dan fundamentalism tanpa harus jadi sekular…

  21. Anab Afifi says:

    Tidak perlu heran Sesuatu yang baru sering dianggap asing.

    Twitter, juga media sosial lain seperti Facebook di Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kepentingan positif. Jejaring sosial masih sebatas digunakan sebagai sarana ngerumpi, ngedumel, bahkan berantem.

    Saya sendiri punya beberapa akun Twitter untuk segmen audiens dan topik yang berbeda.

  22. Joko Susilo says:

    Kedua pihak, saya pikir, perlu menyesuaikan diri dengan kultur di social media atau secara lebih luasnya kultur di internet.

  23. Akmal says:

    Apa yang harus dilakukan reporter dan apa yang perlu disadari narasumber? ya di situlah intinya…

    Mereka semua harus tahu dimana mereka berada sekarang. Dalam suatu ranah sosial yg lebih luas, dan dengan menerima segala konsekuensi adalah suatu bentuk pertanggungjawaban untuk keduanya.

  24. Great post.. terima kasih atas pencerahannya

  25. Unggul says:

    Dua-duanya kudu sadar :-)

  26. Denok says:

    Sebagi mantan reporter majalah kampus, saya jadi kangen reportase lg :P . Tentunya bukan asal ngutip pernyataan narasumber di Twitter. Reporter musti pinter cari celah tapi tetep dalam rambu2 n etika. He2…

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting