Itulah salah satu pertanyaan menarik yang dilontarkan peserta temu bulanan forum pembaca Reader’s Digest Indonesia, Jum’at 15 Juni lalu. Saya kebetulan didaulat sebagai nara sumber, dengan testimoni Bukukita.com dan Tokohelm.com. “Mengapa tidak selaku lewat cara tradisional?” tanya sang pemilik toko aksesoris wanita online tersebut. Apakah ada tips untuk mensukseskannya?
Pertanyaan seperti itu seringkali diajukan oleh pemilik toko online. Namun, khusus untuk aksesoris perempuan, seperti anting-anting, gelang, dan sejenisnya, saya memiliki jawaban tambahan.
Pertama, statistik menunjukkan bahwa 80% pengungguna Internet adalah pria.
Di Amerika Serikat, prosentasi pengguna Internet perempuan sudah melampaui pria. Di Indonesia, sebaliknya. Pengguna perempuan hanya sekitar 20% total pengguna Internet. Tentu saja, dengan pangsa pasar yang relatif kecil ini, diperlukan usaha yang ekstra agar bisa berhasil menjual barang-barang yang dikhususkan untuk kaum Hawa. Cara-cara biasa tidak akan mempan.
Kedua, aksesoris perempuan bukan termasuk jenis barang yang mudah dibeli online.
Barang-barang yang laku dijual via Internet memiliki beberapa ciri khas: tidak perlu dicoba, tidak perlu disentuh, tidak perlu dibaui, dan tidak perlu disentuh. Cukup hanya dengan membaca keterangan dan melihat gambarnya pengguna Internet dapat memutuskan untuk beli atau tidak. Barang-barang tersebut adalah:
1. Barang digital: lagu, ringtone, whitepaper, foto, hasil riset, dan sejenisnya.
2. Komputer dan keluarganya
3. Handphone
4. Barang-barang khusus berbasis hobi.
5. Buku.
Aksesoris kaum Hawa tidak masuk dalam daftar tersebut saat ini. Sepemahaman saya, perempuan cenderung mencoba barang berulang-ulang sebelum membeli.
Dua hal di atas, tipisnya pangsa pasar serta jenis barangnya, mempersulit kesuksesan penjualan aksesoris perempuan.
“Lalu apakah toko online saya sebaiknya ditutup saja?” Tanya sang pemilik toko online penasaran.
“Jangan,” jawab saya. “Ubah positioning dari jualan aksesoris perempuan menjadi jualan kado berupa aksesoris perempuan. Kenapa kado? Karena kado dibeli untuk diberikan kepada orang lain. Sang pembeli, termasuk perempuan, tidak perlu merasakan pengalaman menyentuh, membaui, merasakan, dan sejenisnya. Cukup dengan melihat gambarnya, ia bisa menduga apakah yang akan diberi kado suka atau tidak.”
Dengan perubahan konsep ini, pangsa pasar pembelinya juga melebar ke pria. Kaum Adam yang ingin memberikan kado pacar, pasangan atau istrinya bisa melongok ke toko online ini, memilih baranngya, dan meminta diantar ke alamat yang dituju.
Tentu saja perubahan konsep ini memerlukan strategi yang matang serta eksekusi yang prima.
Tautan:
Mencari Uang di Dunia Maya, Di Mana Uangnya?ÂÂÂÂ
…Coba kalo ada kaum hawa Indonesia yg jualan sesuatu yg berbau intim kaya “Lingeri, Underwear, Bras” pasti laku. Soalnya kalo beli apa mereka selalu mencoba…? pasti malu ama
pelayannya. Heehee..!!!
Acara ini juga dihadiri oleh tiga wanita cantik pemilik kutukutubuku.com toko buku online, yang mengaku bahwa customernya di dominasi oleh kaum perempuan juga
#3 mas, ide bagus tuh. toko lingerie online blom ada
Lingerie online lagi ada yang sedang menggodok tuh!
Siap-siap untuk para wanita atau suami yang pengen cari kado istimewa!
#4 emang kompor pake digodog…
#4 hati2 jangan terlalu lama digodog, ntar bisa gosong, karena ide resepnya udah terpublish dimana-mana.
Sukses bwat ollie
hmmm… kalau untuk toko kerajinan online dengan pasar lokal gimana ya?kira2 nasibnya sama gak dengan barang aksesoris untuk perempuan? soalnya gak termasuk barang yang mudah di beli online seperti P’Nukman bilang.
Mungkin ada yang perlu diingat juga, salah satu kelebihan membuat bisnis online bisa karena instant sifatnya, tetapi untuk menikmati hasilnya terkadang tidak lebih instant dibanding bisnis tradisional.
Saat anda memasuki bisnis online, artinya anda bersaing dengan seluruh dunia, bisnis anda bisa dengan mudah ditiru, dicuri atau dihancurkan oleh pihak lain dari seluruh dunia, itulah yang terkadang orang lupa.
Pengalaman saya pribadi di bisnis online direct selling, saya pernah menjual 150 – 200 barang dalam waktu 2 minggu, pembayaran transfer system kepercayaan saja, indah? tidak juga karena gelombang ke 2 gagal total karena kesalahan kecil, yaitu kurang mengadakan research barang yang di inginkan pelanggan.
Persiapkan bisnis online anda dengan baik, cermat, dan pelihara seperti layaknya bisnis yang lain. Semoga berhasil.
#7.
Pengalaman mas Tomplee sendiri mengelola Gupala.com bagaimana? Sulitkah menjual barang kerajinan di Gupala.com?
#7.
Mas Tomplee, tadinya saya tertarik untuk membeli salah satu produk yang ada di gupala, cuma begitu saya lihat batas pembeliannya minimal 1 juta, wah….batal deh, soalnya saya mau beli satu
Barangkali agak sulit juga ya, kalau jual kerajinan di internet pakai batas minimum pembelian, tapi saya maklum kok, kalau pesan satu harga ongkos kirimnya bisa lebih mahal dari harga barangnya.
Barangkali masalah minimum order dan pengiriman yang jadi kendala buat para penjual barang online di Indonesia, khususnya bagi pemain baru.
[...] Tautan:Buka Toko Online Aksesoris untuk Kaum Hawa kok nDak Laku Ya?Mencari Uang di Dunia Maya, Di Mana Uangnya?Cari Uang di Dunia Maya [...]
#9
lumayan sulit juga pak nukman,sepertinya kerajinan termasuk barang yang lumayan susah kalau di pasarkan online di indonesia,apa lagi di jual pakai model toko online, apa saya yang kurang pinter memasarkannya? ya..
#wah mas eddy makasih dah mau dateng..
yup. kalau gak dikasih minimim order ntar kasian yang beli,, masak harus bayar lebih untuk ongkos kirimnya.:)
#1 Aku dah bikin toko online khusus lingerie
. dah ada yang beli, lumayan komisinya
#12
bukannya ga papa yah kalo kita bayar lebih buat onkos kirim, soalnya kalo liat2 di ebay dll, kita emg bayar lebih untuk onkos kirim tergantung jaraknya
bukannya jadi lebih cepet laku? soalnya kalo order minimum 1 juta, tapi banyak barang 50 ribuan, 200 ribuan kan susah
*inget2 sistem long tailnya pak nukman :p
#12
Lagian yang jual juga repot. Laku seuprit, repotnya ga sebanding sama pendapatannya :p, kecuali kalo udah rame banget, jadi urusan ngirim2 udah jadi kegiatan reguler kayak ebay.
pengalaman saya kalo mau jualan aksesoris lebih mudah kalo positioningnya B2B alias grosiran, jadi orang beli bukan untuk dipake sendiri tapi buat dijual lagi. selain bisa main volume, harga juga bisa ditekan asalkan nemu source yang tepat ajah
#14
buat pembeli maksudnya ongkos kirim sama harga barangnya kdg malah jadi mahal ongkos kirimnya.. trus buat kita yang jual gak sebanding ama repotnya seperti yang di bilang #15
#16.Yup. tapi nemuin source yang tepat itu yang butuh usaha, kesabaran…
Pak Tomplee, nantinya perlu juga lho melayani eceran. Soalnya banyak juga yang mau bayar ongkos kirim lebih mahal dari harga barang (krn memang suka barangnya dan daripada beli 1 jt). Jadi kayak konsep hypermart-hypermart itu.
#18 Makasih bu Lili sarannya.
Wah bagus juga. Toko online untuk kebutuhan kaum hawa. soalnya wanita sekarang tambah pintar dan cantik-cantik. Nanti aku buat lewat blogger saja. Tapi yang ngurusin biasa my love. Soalnya aku sudah sibuk ngurusin online tanaman hias.REZAFLORISTBeli 1 bisa kok. Ongkos kirim tetap pemesan.
Mengenai toko kerajinan online -dan bisa jadi untuk produk dan bidang lainnya, bagimana kalo barang dijual eceran, dengan harga sangat “mahal” (sampe-sampe pembeli gak sadar bahwa ongkos kirim udah termasuk harga barang) tapi, barang tersebut sangat unik, sangat berkualitas, dengan pelayanan yang sangat memuaskan, singkatnya, konsumen seperti membeli “monalisa” dari sebuah toko online dengan reputasi tinggi (hasil pengorbanan materil luarbiasa dari developer web -yang tentunya high cost juga).
.
bertolak dari pandangan sebagian orang – termasuk juga saya pada awalnya, bahwa barang yang dijual online (apalagi dengan minimum order / pembelian partai besar) biasanya mengabaikan kualitas. foto2 yg akan ditampilkan toh bisa di retouch dg software rekayasa visual supaya menarik,berbeda dengan aslinya. dan biasanya updatenya gak jelas karena pemeliharaan web tidak begitu dianggap serius – seprti kotak kaca: simpan, pajang, tunggu orang datang
1.apa konsumen di jagad online bisa menerima konsekuensi spt itu (beli harga “mahal” untuk kualitas sebagai budaya online costumer)
2.seberapa besar proporsi kalangan seperti itu -antique hunters – di dunia maya?
Toko online asesories wanita gak laku? Gak juga.
Kebetulan saya punya toko mutiara asli lombok http://www.grosirmutiara.com
Lumayan ramai juga lho… 3 bulan pertama aja konsumen/agen sudah dari sabang sampai merouke. Bulan-bulan selanjutnya banyak warga Indonesia di luar negeri (staf kedubes) yg pesan untuk dibisniskan di sana.
Kalau boleh berbagi tips, mungkin barang yg dijual online itu harus unik (dipasaran susah ditemukan) dan kalaupun dipasaran ada, harga harus jauh lebih murah.
Ngapain spekulasi ngeluarin duit duluan, belum kenal orangnya, barang juga belum pernah pegang, nunggu lagi (sukur kalau nyampe…) kalau di toko depan rumah ada…
Bulan ini saya membuka website untuk usaha lingerie saya. Menurut saya penggunaan internet untuk media promosi usaha saya yang selama ini offline sangat bagus juga. Belum 1 bulan di launch, saya sudah mendapat customer-customer baru. Bagi Pak Nukman dan teman-teman yang ahli dalam promosi online atau desain web, mohon kritik dan sarannya. website saya http://www.lingerieshop-indonesia.com . terima kasih.
Dear Pak Nuk,
Saya bukan dotcommers, emarketer, pengguna milist dan juga bukan netter. Tapi saya cinta banget fashion he..he.. Jadi saya memulai webstore saya http://www.barangbaru.com hanya bermodalkan kemampuan merchandising dan pelayanan customer (yg udah dr dulu jd kerjaan). Tp akhirnya memang banyak yg heran lho kenapa jualan baju & fashion item lainnya kok bisa laku di internet…
Cuman terus terang krn awalnya saya memang awam pd program2 webstore, jd websitenya masih manual banget. Jd mohon Pak Nuk & teman2 lainnya bisa kasih kritik dan saran spy bisa lbh baik yah… Makasih banyak
Buka Toko Online Aksesoris Kaum Hawa ndak laku?
hehehhe..endak juga siy…pengalaman saya, baru 2 bulan launch Butik Online di http://www.butikgaul.com yang jual produk2 fashion, berupa tas, aksesoris, pakaian, alat2 kecantikan kaum hawa..penjualannya okeeh aja tuh..:)
Hanya saja memang perlu trik khusus dalam menentukan segmen pasar yang dituju dan mengetahui selera konsumen terutama kaum hawa dalam hal ini…
Soalnya di zaman yang serba sibuk seperti sekarang ini, para wanita pun sudah kekurangan waktu untuk mencari dan mencoba produk2 fashion sedangkan keinginan untuk berpenampilan cantik, trendy dengan model up to date kayaknya tidak lekang oleh waktu ya
Nah, sekarang tinggal bagaimana si pemilik toko or butik online, jeli melihat peluang ini dengan berjualan produk2 kecantikan dan fashion di internet sesuai dengan keinginan pasar, bukan keinginan si penjual/pemilik toko/butik online..:)
Wah boleh juga nih informasinya, saya jadi tahu kenapa penjualan Butik online saya di http://www.theredsboutique.com tidak terlalu significant.
Dan kayak boleh juga tuh idenya untuk merubah fokus marketnya menjadi menjual kado khusus kau hawa.
Terima kasih pak Nukman sudah menulis artikel ini.
Menarik sekali tulisan dan replai-replainya, pak Nukman. Kebetulan saya sedang belajar online marketing. Kebiasaan saya, lebih mudah belajar dengan menulis daripada membaca. boleh ya kalo tulisan dan replainya saya rangkum untuk diposting di blog saya. http://angsakecil.blogspot.com
Repot juga sih jualan, saya juga jualan offline barang udah dipegang masih nanyain brosur. Apalagi online yak.. Udah ada brosur nanyain katalog. Eh pas cuman bawa katalog pengen liat botolnya. Gimana ini..
#9
To Mas Tomple : Kalau Boleh Tau Perhari Ordernya berapa mas..
dan responsenya gimana..
wah salut to mba mona,saya sering tuh liat2 webnya mba mona,btw tips triknya gimana mba..saya baru saja buat web untuk jualan baju anak kok kayaknya gak terlalu laris yah..atau salah startegi? apakah penampilan dari web itu sendiri mempengaruhi?
kebetulan kalo saya lebih kebidang jasa. yaitu jasa design, percetakan, web dan film. web saya http://www.whiteshirt.co.cc
website saya pergunakan intinya sih mempermudah komunikasi, jadi saya dan klien ga perlu kemana-mana saat ingin berbisnis dengan saya. tapi saat dimana saya dan klien harus ketemu yah saya yang akan datangi mereka. dan selama semua bisa dilakukan via dunia maya mengapa ngga di pakai.
siapa bLg gak da yg juaL barang barang keperLuan wanita?
udah ada kok
ah, siapa biilang jual aksesoris wanita gak laku???
kaya baju, tas, dll.
alhamdulillah tmen saya laku2 aja tuuuuu…
banyak yang dari daerah yg beli, terutama yang punya toko n males blanja ke jakarta.
juga banyak pelanggannya wanita kantoran di jakarta, yang kalo ga ada kerjaan, ngutak ngatik koputer.
dimanapun kita usaha, rejeki di tanggan TUHAN, yang penting yakin, tekun n optimisss
cyayo!!!!!
Baru 5 bulan ini saya buka usaha toko kecantikan khususnya untuk perawatan wajah,pembelinya sudah hampir seluruh Indonesia, kebanyakan orang daerah banyak yang beli dan berlangganan untuk pengembangan usaha kecantikan mereka… atau juga orang Jakarta yang mau buka usaha perawatan wajah juga pada ambil produk kami…..Lumayan lah untuk otang Gaptek seperti saya…
yang penting serius menjalankan usaha, cari strategi marketing yang tepat, menyenangi pekerjaaan kita, yakin dan berdoa… pasti ada rejeki disitu. weleh weleh gaya ya ?!?
Saya sedikit kesulitan untuk menentukan harga di toko online yang rencana akan saya dirikan.Saya berniat akan membangun toko online dengan target pemasaran ke luar negeri namun jika kita tahu bahwa biaya pengiriman ke luar negeri untuk barang 1 kg mencapai harga 500-700 ribu. Apakah kira-kira akan laku barang kita jika biaya pengiriman sebesar harga tersebut?
Tolong beri tahu saya di email jika sudah dijawab.
Infonya menarik….saya pengguna baru di dunia internet butik saya http://www.fesscool.com, ternyata infomasi ini dapat menjadikan acuan bagi kami untuk bisa meningkatkan kualitas toko online dan offline kami.
Memang membuat toko online mudah tetapi untuk laku perlu perjuangan seperti saya juga punya toko online http://grosirbatikklewer.com perlu perjuangan supaya toko saya laku dan Alhamdulillah cukup mendapat respon meski belum rame banget