Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Kenapa Mereka Googling Sebelum Membeli Barang?

July 24, 2007
Oleh Nukman Luthfie

 

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa sebelum membeli sesuatu, pengguna Internet akan mencari informasi terlebih dulu di Internet via search engine seperti Google dan Yahoo!. Kira-kira 85 persen pengguna Internet di Indonesia melakukan aktivitas “googling” sebelum membeli barang di dunia nyata. Di luar negeri, angkanya sekitar 90 persen. Nah, yang menjadi pertanyaan kini adalah: apa yang mendorong mereka mencari informasi di jagad maya?

Tidak usah kaget: Mereka mencari informasi online setelah dipicu oleh iklan tradisional. Itulah hasil analisa BIG Research’s Simultaneous Media Survey (SIMM 9) yang diselenggarakan olkeh the Retail Advertising and Marketing Association (RAMA) beberapa waktu lalu.

Konsumen mengaku bahwa mereka search ke Internet gara-gara:

1. Melihat iklan di majalah (47,2 persen)

2. Melihat iklan di koran (42,3 persen)

3. Nonton iklan di teve (42,8 persen)

4. Membaca artikel (43,7 persen)

Melihat analisa di atas, bisa disimpulkan bahwa, strategi iklan online harus terintegrasi dengan iklan offline. Bagi para pebisnis online, saran saya: Search Engine Marketing harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Namun pada saat yang sama, jangan lupakan strategi iklan tradisional. Bagi pebisnis tradisional, saran saya sebaliknya: meski Anda mengeluarkan budget untuk iklan tradisional, jangan sampai lupa menjalankan strategi Search Engine Marketing sehingga ketika konsumen mencari informasi produk Anda di Internet, mereka mendapatkan dengan mudah, sehingga mempercepat keputusan mereka membeli produk.

21 Responses to “Kenapa Mereka Googling Sebelum Membeli Barang?”

  1. [...] Related:What makes them Googling before buying? ~ Kenapa Mereka Googling Sebelum Membeli Barang?Print Media Will Never Die ~ Media Cetak Tidak Akan MatiNewspaper will not (ever) Die ~ Surat kabar tidak (akan pernah) mati [...]

  2. Bendry Koto says:

    Selamat Pagi Mas Nukman,

    Yang saya tangkap dari tulisan Mas Nukman, pengguna internet di Indonesia mencari data ditransformasikan menjadi informasi yang dibutuhkan dalam rangka keputusan pembelian, dan lain-lain.

    Disisi lain, karena adanya iklan offline men-drive orang berkunjung ke situs tertentu.

    Korelasi antara iklan offline dan iklan online dianggap significant.

    Pendapat Optimistik:
    Kita bangun situs, ditindaklanjuti iklan offline, sales naik, perusahaan berkembang.

    Pendapat Pesimistik:
    Kita bangun situs, ditindaklanjuti iklan offline (biaya mahal), overhead naik, perusahaan bangkrut.

    Saya melihat tujuan promosi dalam periklanan bukan hanya untuk memperkenalkan produk atau perusahaan kepada calon pelanggan, lebih jauh adalah untuk menyakinkan pelanggan dan calon pelanggan, dan lebih jauh lagi adalah mengingatkan pelanggan, seperti yang dilakukan oleh Coca Cola, siapa yang tidak tahu Coca Cola? Namun bauran media periklanan offline dan online tetap jalan.

    Apakah detikcom tidak perlu melakukan offline promotion? Saya belum pernah lihat offline promotion dari detikcom. Bagaimana dengan swa.co.id?

    Mas Nukman, saya mau bertanya mengenai perlakuan google terhadap domain international satu sisi dan domain Indonesia di sisi lain. Saya lihat pada data statistic dari beberapa domain saya, sepertinya domain international seperti .com, .net lebih sering dikunjungi googlebot dibandingkan dengan co.id, web.id.

  3. Lili says:

    Sekalian tambahan pertanyaan Pak, sebaiknya pada saat seperti apa/kapan, iklan offline mesti dilakukan ya ? supaya tidak mubazir dan pendapat pesimistik jangan sampai terjadi. Thx

  4. meiwanto says:

    Jika menilik riset oleh SIMM 9, memang sulit dibantah kerukunan antara iklan online dan offline. Menurut saya, iklan offline menggenggam keuntungan “gampang dibaca” ketimbang iklan online. Lebih dari itu iklan offline lebih gesit menjemput bola dalam merangkul pembaca (konsumen).

    Tapi ada alasan klasik, biaya produksi offline jauh lebih mahal, tersekat-sekat dan gampang menjelma menjadi bungkus kacang. Sementara online, sangat leluasa menjangkau pembaca tanpa peduli demografi.

    Bagi media offline, cepat atau lambat harus cermat mencari mesin uang alternatif jika tak mau tergilas kompetisi. Nantinya, walau media offline tetap mampu mereguk iklan, biaya produksi sulit terkejar. Ujungnya, masa depan memang telah dikapling rapi oleh iklan online.

  5. Andy Santoso says:

    Iklan di berbagai media tidak bisa dibedakan2 mana yang lebih baik dan jelek, karena sebenarnya kita harus meninjau dari banyak faktor, bukan hanya dari medianya itu sendiri, seperti misalnya : brands itu sendiri, target audiencenya, objectif campaignnya, dsb.

    Di era sekarang ini, kita (terutama orang2 agency dan marketing brands) harus berpikir bagaimana memanfaatkan semua media yang ada dengan maksimal, bukan berarti harus memasang iklan di semua media, tetap lakukan priority mana yang memberikan hasil paling maximal tetapi pikiran seperti media A yang paling bagus itu harus di rubah.

    Dari tulisan Mr. Nukman diatas menjelaskan tentang media traditional yang mendukung media non traditional yaitu internet, kita juga perlu ingat, bahwa media internet juga memiliki market dan potensi sendiri yang tidak bisa di pandang sebelah mata (18 juta dan potential buyer), dan media internet juga bisa dipakai untuk mendukung secara langsung dan di integrasikan dengan media traditional. (dalam hal ini bisa sebaliknya dari tulisan diatas)

    Saya juga mau menambahkan beberapa hal yang membuat konsumen searching di Internet :
    -Pengguna internet itu sendiri yang memang memiliki potential buying power.
    -Kemudahan internet untuk mendapatkan informasi dan mengexplor lebih jauh segala kebutuhan informasi user, seperti misalnya price comparison, details information, visualisasi produk, bahkan demo produk (buka website SonyEricsson, ada demo produk hp sampai ke dalam menu2nya seperti memutar lagu, sms, bahkan memotret)
    -Saving time. (anywhere, anytime)
    -No sales pressure (tidak perlu bertemu sales2 yang agresif)
    -other opinios (ada forum yang membahas baik buruknya produk)
    -Online order (pesan langsung diantar)

    dan masih ada lainnya, Thank you.

  6. BudiTyas says:

    Tergantung barangnya juga. Segmen yg diteliti sdh jelas, pengguna internet indonesia. Di riset dicantumkan jenis produknya nggak, Pak? Soalnya aneh saja bisa 85%. Mungkin itu untuk produk2 tertentu saja. Ada banyak sekali kebutuhan kita yg sama sekali tidak perlu googling untuk sekedar memutuskan untuk membeli.

  7. Nikolaus says:

    ini sesuai dgn buku Marketing in Venus – Hermawan Kertajaya, yang mengakatan bahwa dunia ini sudah menjadi dunia Venus, dimana semua orang (calon konsumen) sudah menjadi sangat kritis. sudah jarang sekali orang yang membeli produk dengan hanya melihat brosurnya saja, mereka pasti mau tahu lebih lanjut, spec-nya apa?, harganya berapa?, alternatif produk tsb apa?, berguna untuk mereka atau tidak? dan dimana mereka bisa dapat info selengkap itu??… ya di internet…

    rgds,
    Niko
    http://www.Kiosdvd.com

  8. Andhee says:

    Ya itulah salah satu alasan kenapa Google jadi Top Global Brand sekarang. Karena kredibilitas Google dalam search engine yang udah dipercaya sama semua orang.

    Kalo emang data bilang gitu, berarti SEO jadi hal utama tuk dapat Traffic gratis dari situs search engine. Para pelaku UKM yg mempromosikan produknya online tampaknya harus serius dalam SEO.

  9. #2.
    Biasanya mereka yang sudah menjadi raja pasar, seringkali lupa untuk terus mengiklankan diri. Apalagi jika pesaing tak juga muncul. Situasi itu yang barangkali dihadapi Detikcom beberapa waktu lalu. Meski demikian, Detikcom sebenarnya juga melakukan iklan tradisional, meski dengan cara tidak langsung,yakni dengan membuat majalah gratis Detikcom yang disebar di warnet-warnet dan beberapa lokasi nongkrong di kota-kota besar.

  10. verdinand says:

    wah artikel yang sangat bagus Pak!
    Menjadi masukan bagi saya untuk memasarkan sebuah rencana bisnis online!
    danke!

  11. Bujang says:

    Kenapa Mereka Googling Sebelum Membeli Barang? Untuk mencari informasi lebih detail atau untuk mencari second opinion tentang produk itu? Hehehe…

  12. andika dj says:

    Memang sekarang era paling pas untuk online marketing. Tapi perlu diingat, offline marketing (dalam bahasa saya tradisional) masih menjadi dambaan masyarakat. Tidak semua orang kritis kok… dalam membeli produk, tidak semua orang cerdas dalam memutuskan apa yang dibeli. Sepertinya “kesibukan” menjadi alasan mereka yang males searching di google atau di yahoo. Apalagi dari harga yang akan dibeli tidak sebanding dengan waktu yang terbuang. Kecuali kalau harga barang yang dibeli memang sangat mahal, dan barangkali bisa mempengaruhi cashflow perusahaan atau rumah tangga. Jadi, saya setuju dengan pak Nukman… dua-duanya mesti jalan dan bisa support satu dengan yang lainnya. Online or offline…. Bravo Pak!

  13. Andy Santoso says:

    @andika… Sedikit memberikan opini tentang masalah “saving time” saya ada beberapa data dari research2 seperti synovate / ac nielsen / public lainnya, bahwa salah satu alasan kenapa mereka browsing adalah karena lebih tidak membuang2 waktu, seperti misalnya ketika kita ingin membeli barang elektronik, automotive, informasi pendidikan, dsb. bahkan sudah banyak yang memesan langsung / order online.

    Kalau memang produknya “terlalu murah” seh jelas ngga usah browsing di internet, masa mo beli garam dapur aja browsing di internet… hehehe. (lebih lanjut saya baru menulis tentang Online Advertising Need or Not di blog saya, silahkan di”nikmati”… thanks)

  14. Memang iklan offline sangat membantu untuk mengarahkan seseorang mengetikkan alamat baru di browsernya. Kalau dilihat perilaku para pengguna internet kantoran, rutinitasnya adalah ketika menghadapi komputer maka akan langsung membuka situs2 rutin seperti detik.com, yahoomail atau gmail, dan friendster. Nah aktifitas googling baru dilakukan bila memiliki kebutuhan tertentu dan belum mendapatkan referensi situs yang tepat. Disinilah aktifitas promo di media offline ataupun TVC sangat membantu untuk mengenalkan situs tersebut kepada calon pengunjungnya.

    Tapi pada prinsipnya aktifitas marketing adalah mencapai target market dengan memperhatikan budget. Jangan sampai nanati besar pasak daripada tiang, hahaha

  15. DIki says:

    Salam kenal Mas Nufie,
    Kalo saya jualan burger kelilingan apa ya efektif pake internet buat branding?

  16. To Diki : tentu saja internet marketing or marketing by net tak membatasi scala usaha, dari micro ke MNC bisa memanfaatkannya, malah buat usaha kecil ataupun micro cocok sekali, yang penting niche marketnya tajam, smaller better.

  17. seo-blog says:

    Menarik untuk menggabungkan ( kolaborasi ) antara pemasaran tradisional dan Internet marketing.

    #2.

  18. Nav Online says:

    Informasi yang menarik, Trims !

  19. dagus says:

    #11 mas bujang
    dua-duanya,tidak dua-duanya, hanya saja tangan ini sudah terbiasa begitu liat browser kebayang logo google, kebetulan butuh sesuatu, menclak menclok dulu. toh belanja di internet tidak harus buru2, santai saja, belanda masih jauh hehe…
    kesimpulannya :
    faktor internet behaviour jd bahasan yang luas gak sekedar sub bab dari internet marketing
    dari behaviour driving ke culture driving, wuiihh mengerikan yah

  20. komennya agak oot dikit,
    blognya maknyus,insya allah bakalan sering2 ngunjungin ni blog

  21. Benny says:

    terima kasih mas atas tipsnya :) , btw kalo bikin jaringan /exchnage bannerlink bisa mendongkrak popularitas kita situs kita nggak mas?, terima kasih #www.pemberani.web.id

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting