Salah satu ganjalan banyak pemasang iklan di Google melalui Google Adword adalah “dilarang menggunakan merek dagang tanpa izin pemilik merek”. Toko penjualan handset Blackberry misalnya, tidak boleh menggunakan kata “Blackberry” dalam iklan teks di Google, seandainya RIM, sang pemilik merek dagang Blackberry, tidak memperbolehkannya. Kini, aturan itu mulai dilonggarkan secara bertahap.
Rencananya per tanggal 4 Juni 2009, secara umum Google tidak lagi melarang para pengiklan menggunakan nama merek di layanan iklan teks perusahaan mesin pencari terbesar dunia tersebut. Di negara asal Google sendiri, Amerika Serikat, aturan baru akan efektif 15 Juni 2009. Beberapa negara tertentu yang belum masuk dalam daftar, seperti Australia, China, Jerman, Perancis dan beberapa negara-negara Uni Eropa terpaksa masih terkungkung aturan lama.
Selama ini Google memang amat ketat dalam hal iklan teks untuk melindungi merek dagang. Semua iklan online yang dipasang harusmelewati proses investigasi terlebih dahulu dan hanya diijinkan apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
Karena aturan ketat inilah kebanyakan iklan text di Google bersifat generik sehingga tak banyak menarik minat pengguna Internet untuk mengkliknya. Google sendiri mengakui, jika aturan lama diperlonggar maka, seperti kata penasehat merek dagang senior Google Terri Chen, maka kinerja iklan-iklan online akan meningkat.
Nah, dengan aturan baru ini, anda para penjual Blackberry misalnya, boleh menggunakan kata “Blackberry” dalam iklan teks Google AdWords tanpa harus mendapatkan izin secara eksplisit dari RIM. Hal ini menguntungkan para pengiklan karena iklan dapat lebih spesifik sehingga lebih dapat dibedakan dari pencarian organik.
Kebebasan ini sepintas tampak merugikan pemilik merek dagang karena mereka harus bersaing dengan para pengiklan/reseller untuk keyword yang mengandung merek dagang mereka. Otomatis harga penawaran untuk kata kunci merek tersebut akan meningkat. Otomatis pula, biaya untuk direct sales bagi mereka juga meningkat.
Namun Google memiliki pandangan sebaliknya: user akan mendapatkan pilihan iklan yang makin beragam dari pengiklan/reseller selain iklan sang pemilik merek. Google memanjakan usernya dengan banyaknya pilihan iklan sehingga dapat memilih produk/layanan/harga terbaik.
Meski aturan diperlongar, Google tetap menjaga etika bisnis. Google tetap tidak memperkankan iklan yang menjual barang-barang palsu/bajakan, menjual produk-produk kompetitor, menjelek-jelekkan merek dagang tertentu. Iklan ”Anti Blackberry”, ”Say no to Blackberry” dan sejenisnya misalnya, akan ditolak oleh Google. Setiap iklan yang menggunakan kata merek dagang tertentu akan diperiksa baik copywriting-nya maupun landing page-nya.
.
Wah, bahaya inih boss….
Akan bermunculan Mbelgedez-Mbelgedez palesu….
**lebay…**
ambil positifnya aja deh. Sepertinya persaingan melalui google adword akan semakin ketat. Semoga bisa bermanfaat deh untuk semua. Thank pak Nukman atas informasinya.
Gara-gara ini beberapa tahun yang lalu google sempat disidangkan. Kalau dilonggarkan lagi bakalan lebih sering sewa pengacara.
Wah sekarang peluang untuk beriklan di Google Adword lebih besar peluangnya dong, terimakasih infonya pak Nukman…
Wass
Memang menggiurkan bisnis pay per click AdWords ini, tapi bukan berarti tanpa masalah. Dari click fraud sampe trademark, masalahnya ga kunjung habis.
Tahun-tahun lalu saya sering melihat iklan yang mis-leading. Misalnya, “Don’t buy Blackberry” Before You Read This Review. Real Shocking Truth.
Ujung-ujungnya sih rekomendasi. Cara ini efektif untuk mencuri penjualan dan banyak dipergunakan affiliate.
Iklan seperti ini menurut saya lebih berdampak buruk untuk jangka panjang karena nadanya yang serius tapi sebenarnya memancing. Isi landing page tidak lain hanya ulasan palsu yang ujung-ujungnya menjual. Lain halnya bila ulasannya nyata.
Dalam menggunakan AdWords, saya cenderung menghindari trademark terms. Efektif memang, tapi bila bisnis tergantung dari traffic dari trademark perusahaan lain, rasanya terlalu insecure, bagaimanapun nada iklan itu.
Saingan makin ketat aja nie
tampaknya memang mulai menguntungkan pihak publisher secara jumlah klik. namun tentu ada konsekuensi dibalik hal ini. jangan sampai melukai publisher adsense yang berada di jalan yang benar..
after all, Google masih mengingat ‘don’t be evil’
Saya termasuk pemasang aktif di Google Adwords. Sebulan rata-rata budget iklan saya di Adwords sekitar Rp 8 juta.
Cukup efektif, dan sekarang gara-gara krisis global, tarif per klik-nya rata-rata turun hingga 30-40 an persen.
Mas Yodhia kayanya emang benar nih Adwords kena krisis juga. Karena pendapatan Adsense saya turun sekitar 30 s/d 40% juga. Jadi google pengen cepet keluar dari krisis dengan cara membuat iklannya “makin luwes” seperti kata pak Nukman. Tapi saya yakin Google-lah paling pertama keluar dari krisis ini dengan catatan dia nggak ikut main saham
.
Saya malah baru tahu kalau selama ini kalau Google melarang penggunaan merk dagang. Hmmm…
mau pasang iklan ko susah
susah aja kok tetep masang iklan
ribet emang ngiklan di adwords, mahal pula,,, SEO emang still the best heuhee *bau iklan
)*
terima kasih atas informasinya..
Wah makin semangat main PPC lagi!!
wah makin banyak advertiser makin menguntungkan pemain adsense…
nais inpo…
sisi negatipnya kayaknya akan banyak lagi iklan sampah spt ppc indonesia skg ini, ngiklan sak karepe dewe
cmiiw miaw miaw
klw begini, membuat pencarian ke produk aslinya semakin lama aja, apa lagi klw smua sub dan lini di bawahnya semakin gencar beriklan… need more time to find the real shop. he2
mantaf, berarti sekarang boleh pake keyword amazon.
sepertinya kita harus selalu mensikapi, bahwa aturan memang harus fleksibel, meskipun ada resiko tetapi jika manfaatnya jauh lebih bagus kenapa tidak. Posting yang mantap pak Nukman, saya tunggu posting selanjutnya…
thanks infonya pak.
di sisi penjual memang peluang bagus,tp di sisi customer harus makin selektif dong
oh my … ngak ada modaL .. ngak bisa ngikLan di GugLe .. traffic juga dikit …
makin jaya gan…. diambil positifnya aja… buang negatifnya… semoga semakin sukses buat kita semua….Thanks for information and sharing…