Televisi memang masih ampuh menembus pasar massal di berbagai negara di Asia, kata Hermawan Kartajaya ketika memberikan keynote speech di World Marketing Conference, Manila, pekan lalu. Namun, pengaruh teve kian hari kian mengecil karena konsumen semakin banyak yang memiliki telepon genggam dan menggunakan Internet. Saat ini, pengaruh teve dalam merengkuh pasar Asia masih 90% dan new media baru sekitar 20%. “Namun, pada tahun 2020, dua belas tahun dari sekarang, pengaruh teve tinggal 10%,” kata Presiden World Marketing Association tersebut ketika diwawancarai oleh ABS-CBN News.
Bukan hanya Hermawan yang berpendapat seperti itu di forum bergengsi tersebut. Stephen Yap, Direktur sebuah perusahaan pemasaran , Client Services and Insight, pun mengatakan demikian. “Saat ini masih sulit mengalahkan teve untuk menjangkau kalangan luas,” katanya. Namun, pengaruh new media, terutama mobile phone, tumbuh dengan cepat. Konsumen lebih sering menggunakan mobile phone — baik untuk menelpon, sms, browsing, cek email, dan lain-lain — ketimbang nonton teve.
Oleh karena itu, para marketer harus mulai memperhatikan new media ini dengan serius.
Tumbuhnya new media ini akan mengubah strategi pemasaran perusahaan. Strategi vertikal promosi dan penjualan barang melalui teve, media cetak dan radio, akan berubah ke strategi horisontal: produk dan jasa tampil di Internet dan bersentuhan langsung dengan konsumen.
Kompetitor anda terkoneksi ke Internet. Konsumen Anda juga pengguna Internet. Semua agen perubahan juga tersambung ke jagad maya. “Jika Anda tidak terkoneksi ke Internet, maka Anda akan mati,” tegas Hermawan Kartajaya.
Apa boleh buat, perubahan ini juga menuntut perubahan strategi para marketer dan advertiser. Mereka tidak bisa lagi sekadar promo dengan cara konvesional. Mereka harus membangun percakapan dengan konsumen melalui media online. “You can only do conversation. Conversation will be more effective than top-down communication,” kata Hermawan yang sedang getol mengkampanyekan New Wave Marketing ini.
Nah, pekerjaan rumahnya adalah: Bagaimana cara membangun online conversation itu?
Anda punya jawabannya? Silahkan diskusikan di sini.
Mungkin benar ada saatnya new media ini bisa mengalahkan old media, tapi itu terjadi ketika kesejahteraan masyarakat sudah membaik, tentu saja untuk ukuran masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kemampuan ekonomi pas-pasan mereka akan lebih banyak “mengkonsumsi” tv dari pada internet atau mobile phone dengan fitur canggih yang sudah berisi content-content iklan, bagaimanapun juga harapan tetaplah ada jadi bersiaplah ..
Cara membangun online conversation?
Yah yang namanya ngobrol kan pertama kali musti kenalan dulu. Kemudian basa-basi, abis itu ada topic yang dibahas, pembicaraan makin intens, hubungan makin deket deh, the next thing is… terjadi sebuah ikatan. Hehehe.
Kalo untu awal nya sih, mau nggak para perusahaan atau pemilik barang itu berkenalan dengan ‘online customer’.
Saat ini: Ada yang mau, banyak yang belum tertarik, lebih banyak lagi yang tidak mau.
Walaupun keadaan ini akan berjalan seiring makin banyaknya online customer, suatu saat mereka juga akan bertemu kondisi terpaksa untuk kenalan. Hanya saja disaat itu ya resiko menjadi tertinggal menjadi sangat besar.
#1 : setuju!!!
mungkin era ini baru akan muncul saat generasi setelah ku, berarti generasi cucunya om nukman ( emang dah punya cucu??, ya… dak tau aku )
buat PR nya, sorry om, aku lupa ngerjain :p
Cara-cara consumer-generated ideas seperti yang dilakukan DELL (http://www.dellideastorm.com/) dan STARBUCKS (http://mystarbucksidea.force.com) merupakan contoh bagus untuk membangun interaksi yang produktif dengan konsumen.
Di Inggris tahun ini belanja iklan online sudah mengalahkan belanja iklan TV dan media cetak. Di Amerika, diperkirakan tahun 2010. Banyak media cetak sudah mulai lay off di sana karena berkurangnya pendapatan.
Di Indonesia?
Tahun 2007 lalu belanja iklan media cetak justru sedang bagus-bagusnnya, dengan pertumbuhan double digit. Kompas sampai “terpaksa” membuat “Kompas Update” agar pendapatan iklan tidak lepas ke perusahaan lain.
Kita memang tertinggal dalam tren, behind the curve. Namun, pasti akan menyusul. Mungkin 5-10 tahun lagi apa yang terjadi di negara maju akan terjadi di sini. Direct selling booming di AS pasca PD II dan mulai ditinggalkan di tahun 1970-an. Di kita, sampai akhir 80-an kita masih menjumpai para “lady avon” yang menggedor pintu konsumen. Kini, para lady avon masih berjaya di Mexico dan Amerika Selatan. Booming MLM di kita sudah mulai menyurut, namun kini di Cina MLM sedang bagus-bagusnya.
Kecepatan adopsi new media memang tidak sama, tapi trennya sama. Cepat atau lambat semua bisnis akan online. Seberapa siapkah Anda menangkap peluang itu?
om nukman kok belum keliatan yah???
Tetapi yang ingin saya tanyakan adalah, bagaimana dengan jargon “Seeing is believing”?
Bagaimana strategi (misalnya) menjual baju online sehingga customer merasa “melihat, menyentuh dan merasakan” kainnya?
Mungkin besok (sekarang juga sudah), hanya berisi.. klik http://www.blablabla.com..
harus ada perubahan istilah juga. soalnya pada 2020 internet udah ngga bisa disebut “new” lagi. gimana klo kita ganti pake istilah “Online Media” aja? wouldn’t u agree?
heheh, sori nyampah…
btw, saya pernah baca klo brand Vodka ABSOLUT ga pernah melakukan kampanye iklan di TV. so, klo mereka bisa…
eh, tapi klo dipikir-pikir, ini kan miras, klo orang udah mabok, conversation pasti mengalir terus ya? hehehe…
Setubuh pak.. eh setujuh pakk…
di EU, sudah banyak brand2 yg ‘hanya’ maen di online, dan gak pernah di tv lg… tp itu juga mungkin karna disini broadband udah kaya kacang goreng harganya
online conversation..Kalo menurut saya di jaman sekarang ini hal itu sangat mudah untuk diimplementasikan om, dengan adanya teknologi RSS dan Web 3.0 semuanya itu adalah mungkin. Saya juga sedang membangun bisnis yg berlandaskan konsep online conversation ini dengan mengadopsi teknologi web 3.0. Dengan teknologi ini, sebuah bisnis dari yg manajemennya paling simple sampai dengan kompleks sekalipun bisa dijadikan sebuah kode, dan dengan kode ini nantinya akan mampu berhubungan dengan konsumen, dan istimewanya adalah konsumen tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mampu menggunakan aplikasi. Jadi apa yg disebut dengan online conversation itu adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan dengan mengadopsi teknologi ini. Pada saat boomingnya RSS, orang/konsumen hanya mendapatkan content/informasi, dengan adanya web 3.0 orang/konsumen mendapatkan informasi+operasi dari suatu aplikasi. Sekian pendapat saya om, semoga bisa diterima
[...] 24, 2008 Aku barusan mampir dari tempatnya pak nukman, dan baca-baca postingan terakhir dari blog beliau. Berikut ini kutipannya : Kompetitor anda terkoneksi ke Internet. Konsumen Anda juga pengguna [...]
yah bikin aja microsite yang ada aplikasi chat dengan officernya…jadi abis liat anner iklan ke microsite untuk keterangan lebih lanjut lalu tanya ke officernya kalo ada yg ga tau….
kalo pake YM dan sejenisnya gimana?
hayo yg di industri tv mesti was-was…
Saya rasa industri TV tidak usah khawatir karna semua ada pasarnya masing2, hanya tiggal menyikapi dan mempersiapkan strategi2 jitu untuk mengimbangi perkembangan media internet/mobile.
Menanggapi komentar Dadan Darmawan, saya juga termasuk yang tidak khawatir TV akan mati. Saya belum lama ini berkesempatan ikut Asia Pacific Publishing Conference bertajuk “Where online and traditional media converge.” Intinya tidak hanya marketer yang harus mulai berfikiran online, tetapi juga media. Kata kuncinya konvergensi. Teknologi memungkinkan kita menonton TV lewat pesawat telefon, mendengarkan radio lewat internet. Bahkan saya sekarang saja tidak lagi berlangganan koran, karena semua berita saya subscribe melalui Google Reader.
Kembali ke masalah ‘online conversation’. Yang belum disadari oleh para marketer adalah, digital media memerlukan paradigma yang sama sekali berbeda dengan tradisional.
1. Kita tidak boleh lagi menciptakan pengaruh, tetapi pengertian
2. Pahami audience kita: siapa mereka, informasi apa yang mereka butuhkan dan bagaimana mereka mendapatkannya
3. Tinggalkan pesan-pesan yang transactional (press release, promotion, marketing spin, statement, briefing, call to action) dan mulailah pesan-pesan yang conversational (isu-isu hangat, topik pembicaraan, diskusi)
Ketiganya sangat berhasil dilakukan seorang Nukman Luthfie. Buktinya, jadi hangat toh topik ini. Jangan merendah lah bung, anda jagonya gini-ginian!
Kalo saat ini, mungkin sekedar online conversation saja belum bisa cukup. Aktivitas below the line, yg langsung berhadapan dengan konsumen masih tetap diperlukan.
Sampai saat ini saya belum melihat ada suatu campaign online murni yang benar-benar berhasil tanpa si brand/product melakukan pendekatan ke konsumen secara offline. Misalnya: bikin gathering lah, bagi2 collateral lah, promo di mall lah.
Online conversation sepertinya di Indonesia baru bisa jalan kalau di-initiate pula di dunia nyata.
Saya rasa medium untuk melakukan transaksi online di Indonesia sudah menunjukkan perkembangan yang positif. Seperti contoh sudah tersedianya Paypal Indonesia. Walaupun demikian, perkembangan, yang dilihat dari hasil penjualan, yang dapat dinikmati antara marketer di Indonesia dengan negara Asia lain akan tergantung dari biaya pemakaian internet itu sendiri. Di negara maju, koneksi internet sudah “hampir” menjadi kebutuhan pokok yang akan terus ditindih dengan berbagai polemik yang sejalan dengan perkembangan teknologi itu sendiri.
Polemik yang timbul ini, seperti kriminalitas di cyberspace, online bullying, scammers, dsb membawa kita ke point berikutnya, yakni bagaimana hukum tetap berlaku baik di darat maupun secara virtual. Sebagai contoh, pengadilan di Amerika menjatuhkan hukuman penjara lebih dari 10 tahun bagi seorang ibu yang membuat hoax di akun Myspace yang berakibat seseorang bunuh diri.
Apakah hukum Indonesia sudah bisa menyeret kriminal online ke dunia nyata? Atau bisa bersikap fair terhadap users dalam hal free speech? Atau apa saja yang dapat membuat online sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi yang baru? Saya tidak bisa menjawab, namun berharap kita menuju ke arah sana.
terima kasih semua, komentar-komentar anda bisa membangkitkan pemikiran baru dan pencerahan untuk menjadi lebih baik dalam pemahaman bisnis online. bravo mr. nukman yang bikin tema ok
Topik yg menarik Pak,
Menurut saya menbangun online conversation itu tidaklah mudah – namun bukannya tidak bisa dilakukan.
Mungkin hal yang paling sulit dimengerti oleh perusahaan besar yang terbiasa menggunakan media konvensional adalah mengenai aspek ‘engagement’/ keterlibatan yang dibutuhkan untuk memulai pembicaraan itu sendiri.
jadi ingat sama ceritanya Flickr – salah satu icon kesuksesan era web 2.0.
Ada hal menarik yang dilakukan oleh para pendiri awal situs ini, setiap dari anggota tim secara bergantian terlibat dalam pembagunan hubungan dengan para pengguna awal mereka.
mereka menyambut setiap pengguna baru, terlibat aktif dalam forum, menjawab setiap pertanyaan para pengguna, dan dengan konsisten memberitahu mereka tentang fitur – fitur yang ada, maupun yang baru mereka luncurkan, dan hal – hal yg cukup remeh lainnya – dimana itu sebenarnya menyita cukup banyak waktu mereka.
Pada intinya, mereka peduli pada konsumen mereka, dan dengan tulus bersedia terlibat dengan mereka.
Cara lama yaitu membombardir konsumen dengan pesan iklan yang unik, lucu, inovatif, hanya memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil di ranah online.
cerita ini cuma contoh PAk, karena masih ada banyak hal lain yg juga perlu diperhatikan.
” Online conversation is a two way conversation, not one way “
Topik yang menarik,
walau pro dan kontra pasti ada, saya melihatnya positif
ini pencerahan..untuk masalah penerimaan, silahkan di COBA langsung saja sbg pembuktian..
thanks pak Nukman…saya tunggu tulisan2 berikutnya..
kalo dilihat dari kondisi masyarakat indonesia sekarang ini dan tingkat pendidikan yang masih dibawah rata-2 memang hanya mengandalkan televisi sebagai media, tapi tidak menutup kemungkinan toh sekarang bisnis online atau network makin menjamur, bisa jadi 10 atau 15 yahun lagi generasi sekarang yg sudah “melek” internet siapa tahu nantinya jadi pebisnis yang akan mengandalkan media internet, bahkan menurut prediksi hampir di setiap rmh sdh terconect dg internet bersiaplah …
Ya Siip, setuju Banget, Advertising di televisi tidak tertarget dan berbaiaya mahal, sedangkan melalui internet target market cukup jelas and Niche.
Semakin Majunya teknologi internet kemudahan akses dan kecepatannya ( speednya ) maka online conversation, akan segera teratasi dengan sendirinya….
Mungkin Online Conversation yg di maksud pak Nukman adalah sesuatu yg bisa dibicarakan oleh para (calon) konsumen di dunia maya. Salah satunya dengan menulis artikel di blog resmi perusahaan, nggak mesti tentang barang yang akan dijual, tapi bisa dengan memberikan tips2 pengunaan barangnya.
Ya kayak pak Nukman ini lah, khan dia ga jualan service companynya lewat artikel2 ini, tapi dengan adanya blog ini pamornya naik, dan orang2 jadi semakin ingat dengan “Virtual Consulting”. Meskipun sekarang jasanya belum tentu di butuhkan anda, mungkin anda bisa memberi rekomendasi ke teman atau relasi anda.
BETUL ga Pak Nukman? PR nya berhadiah apa nih?
[...] dengan membaca topik2 menarik dari blog2 favorit saya. Salah satunya adalah artikel tentang New Media, oleh Pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting. Dalam artikelnya, yang juga merupakan tinjauan [...]
Saya setuju dengan statement dari pak Hermawan tersebut. Contohnya Pak Adji Watono ( Dwi Sapta ) bergerak dari advertising agency menjadi integrated marketing communications yang punya cakupan – dan target market tentunya – yang lebih luas.
online conversation- ada cara jitu untuk menerobosnya…kembali ke basic concept of marketing (S T P) bidiklah pelanggan online dengannya dan persiapkan teknologi untuk merangkul segmen serta posisi yang dibidik. buatlah mereka loyal dan belajar dr facebook dan twitter….konsumen bisa berpendapat sesuai pendapatnya masing-masing. ini harus difasilitasi dan dilayani dengan baik ……iya g?
Menurutku media Traditional tidak akan mati…
Kenapa karena semua ada segmennya masing-masing
Untuk otomotif yang notabene orang yang punya duit, sudah harus dan wajib untuk terjun ke Online.
Tapi kalau mau jualan obat nyamuk bakar kan gak mungkin di Online, pasti dia akan menyasar ke TV or media cetak lokal.
Semuanya itu intinya adalah, kita sebagai produsen yang mengikuti dimana sih konsumen kita berada, media mana yang konsumen kita baca, lihat, dengar….bisa di TV, bisa di Facebook, dan lain-lain…
Bahkan di facebookpun kita harus memilah-milah…
Saat ini banyak yang punya account facebook hanya sekedar punya account..diakses lewat HP yang belum begitu canggih…dan hanya bisa lihat text, dan update status.
Untuk di Indonesia, memang unik, seperti kata pak Pitra, Brand Activation di Online akan jalan atau bisa dibilang impactfull bila ada aktivitas offlinenya juga.