Mungkin hari ini salah satu hari yang paling menyenangkan saya dalam konteks ilmu mengenai web. Hari ini saya bertemu dengan Direktur Pemasaran sebuah perusahaan besar di Indonesia yang begitu fasih menerangkan visinya di Internet. Inti dari ungkapan beliau adalah: web experience!
Ia bertutur: Kami tidak menjual produk. Padahal kasat mata yang dijual adalah produk yang biasa dipakai sehari-hari banyak orang. Lantas apa yang dijual? “Ownership experience,” katanya. Pengalaman memiliki? Ya. Dua kata itu diucapkan dengan halus tapi mantap. Pengalaman memiliki itu dimulai dari proses mencari produknya, datang ke outlet-nya, membelinya, kenyamanan menggunakannya, kemudahan perawatannya, hingga berapa harga jual bekasnya.
Setiap titik harus memberikan pengalaman yang mengesankan bagi pembeli. Ketika mencari informasi produk, harus didapat dengan mudah. Tatkala tertarik dengan produknya dan mencari outlet terdekat, harus dilayani dengan baik sehingga mendapat kesan yang ramah. Ketika membeli pun, produknya mesti berkualitas, nyaman dipakai. Kalau perlu perbaikan, prosesnya mudah. Bahkan kalau mau menjual produk itu, pasar bekasnya tersedia dan harganya tidak anjlog. “Itulah ownership experience,” tuturnya.
Nah, menurut dia, website pun harus memiliki semangat seperti itu. Bukan sekadar isinya (produknya) bagus. Yang penting justru harus memberikan experience yang mengesankan. Pengunduhannya (download-nya) cepat. Navigasinya enak. Dipandang juga enak. Interaksi dengan web juga mengasikkan. Pendek kata, menurut beliau: “Website pun harus punya experience yang menawan!”
Sesungguhnya, ilmu tentang web experience sudah saya dengar dan praktekkan sejak lebih dari lima tahun lalu. Banyak buku yang telah membahas ini. Tidak ada yang baru lagi dan mengherankan. Yang membuat saya terpana: hal ini diungkapkan oleh eksekutif puncak pemasaran sebuah perusahaan yang omsetnya lebih dari satu triliun rupiah, di tengah minimnya pemahaman Internet di banyak perusahaan di Indonesia. Hebatnya lagi, hal itu dituturkan dengan sangat jelas, dalam kerangka ownership experience! Dan itu artinya tidak sekadar web experience di dalam webnya, tetapi juga mulai dari kemudahan pencariannya, keseriusan pengelolaannya, serta kesigapan customer relationnya.
Jika saja semakin banyak eksekutif puncak perusahaan di Indonesia yang memiliki cara pandang seperti beliau, industri web di Indonesia akan semakin semarak.
PS:
Ini juga peringatan bagi para web consultan, web developer, web marketer agar semakin pintar. Sebab, pasar sudah semakin pintar sehingga tuntutan dan tingkat kepuasannya pun tinggi. Kalau kita kalah pintar dan tak mampu memenuhi harapan mereka, maka akan tergilas.
makanya kalo mau ikutan pntar ikut gatheringnya tanggal 11 nanti, ya toh Pak
Apakah sudah ada web seperti itu di Indonesia? Terima kasih.
Sistem kalender di komputer anda apa tidak salah?
1#
Gathering nanti memang untuk saling tukar informasi dan menggali potensi dotcome. Sekaligus untuk media berkaca diri mengapa industri web tidak (kurang) berkembang dua tahun terakhir ini. Apa ada yang salah dengan dotcomers dan emarketer. Saya cuma membuat inisiatif saja, berbagi ilmu dan informasi, sekaligus belajar dari yang lain. Jadi, ini ajang saling memintarkan.
#2.
Sudah ada mbak Ade. Detikcom salah satunya. Sang pemilik, yakni Agrakom sudah memperkenalkan istilah user experience sejak thn 1999. Simak salah satu statementnya di menu What We Do?. Ini saya kutip sebagian:
We believe that no matter how great the technology is, how fast the offerings, and how comprehensive the marketing.
a web site won’t generate much interest, let alone bringing in revenue, if users don’t have a great time surfing it. Therefore, all efforts in developing the site must be focused on the single most important factor: User Experience. The user must be able to surf the site easily, find whatever they need without any difficulty and not be left without a guiding ‘compass’ wherever they happen to be in the site.
Contoh lain, menurut saya, adalah KlikBCA yang dibangun sejak tahun 1999 yang saat itu bisa menjadi internet banking yang disukai dan dipakai oleh user, padahal beberapa bank lain yang sudah membangun Internet banking sebelumnya kurang mendapat respon sebaik Bank BCA.
Contoh lain lagi: toko komputer Bhinneka.com
#3.
Halo mas Hendy. Terima kasih sudi mampir ke sini dan memberi komentar. Saya kurang paham komentarnya. Mohon saya diberi pencerahan.
Pasti Direkturnya ini masih muda ya Mas Nukman? Masih melek internet gitu… hehehehe. Soalnya kalo sudah tua seperti di kantor saya, boro-boro intenet, yang remeh temeh aja pertimbangannnya lammmma banget. hehehehehe…
Tidak. Beliau sudah setengah baya. Namun karena konseptualnya kuat, visinya bagus sekali, maka semua hal yang ada dalam rantai pengalaman pelanggan harus dibuat sebaik mungkin. Salah satunya adalah web.
Saya tentu saja kenal eksekutif yang pak Nukman maksud. Saya hanya mengira bahwa beliau menerangkan konsep customer life cycle tersebut pada pertemuan pertama dulu (sebulan lalu?), sehingga agak kaget kok pak Nukman nulisnya ‘Hari ini’ adalah tanggal 5 Oktober. Saya pikir sistem kalender komputer pak Nukman waktu posting yang belum dikalibrasi. Tetapi kemudian tadi sore saya konfirm ke beliau, ternyata memang tanggal 5 Oktober pagi ada pertemuan lagi dengan pak Nukman dan di pertemuan tersebutlah beliau menerangkan visi web yang beliau mau. Mohon maaf kalau tadi pagi saya bikin konklusi yang salah. Saya baru menyadari ketololan ini.
Oh, hanya masalah tangal
.
No problem mas Hendy. Saya juga kadang khilaf.
pak nukman, boleh tau alamat email anda?
lebih tepatnya isi blog bapak kali ini, menyadarkan saya untuk semakin pintar…
selamat siang pak nukman, saya mau nanya pak. Untuk pembuatan web pada dasarnya program apa saja yang dibutuhkan?
Saya membeca artikel mengenai bisnis internet dari readest digest yang bulan nov 2005 ulasan pak nukman, dan saya menjadi tertarik. Konsep pembuatan web, saya plannya buatpasang berbagai komersial dalam web saya . Mohon petunjuk dari pak nukman ..Thx
# timotius
Untuk membuat web banyak program yg dibutuhkan, sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya untuk pengolahan gambar/image, bisa menggunakan photoshop. Selain itu untuk develop web content-nya saya biasa pakai dreamweaver.
Mengenai web plan anda untuk pasang berbagai komersial dalam web anda, kalau boleh saran; lebih baik membangun web yang tidak terlalu banyak iklan komersial dalam satu page, apalagi iklan-iklan berbasis banner/image karena akan segera ditinggalkan oleh pengunjungnya dan tidak dikunjungi lagi.
Menurut saya, strategi awal untuk membangun sebuah web yang berhasil adalah konten atau isi dari web tersebut. Semakin menarik dan informatif, semakin besar peluang untuk berhasil dan setelah itu, iklan komersial akan datang dengan sendirinya
Mas Nukman:
Web site kami (www.arunti.co.id) saat ini sudah di-revamp untuk memberikan user experience yang lebih baik. Users dapat melakukan simulasi terhadap layanan mobile marketing Arunti di web site ini. Hanya perlu memilih kata kunci yang disediakan di drop-down menu, hasil pencarian akan muncul di layar “handphone” yang terlihat di monitor.