Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Pencatat Amal Baik dan Buruk Merek itu Bernama Google

November 8, 2006
Oleh Nukman Luthfie

 

“Mengapa informasi perusahaan saya ada di Google padahal perusahaan saya tidak memiliki website?” Itulah salah satu pertanyaan yang muncul dari audience ketika saya memberikan kuliah tamu di program MBA Eksekutif Sekolah Bisnis IPMI, Sabtu 4 November 2006 lalu. Secara teknis, pertanyaan ini mudah dijawab. Namun saya yakin, lantaran dilontarkan oleh seorang direktur perusahaan, maka pertanyaan ini hanyalah awal untuk membahas masalah branding. Kebetulan tema yang saya sampaikan waktu itu memang mengenai berubahnya perilaku konsumen di era komunikasi jaringan saat ini. Google dan search engine lain seperti Yahoo! dan MSN saya sebutkan sebagai salah satu faktor pemicunya.

OK, sebelum ke masalah branding, saya jelaskan dulu secara teknis dengan bahasa awam. Google dan search engine lain adalah sebuah mesin yang pekerjaan utamanya mencatat pergerakan konten Internet di seluruh dunia. Ketika Anda membuat website baru dengan domain baru, Google dan kawan-kawan segera akan mencatatnya, meski kita tidak pernah mendaftarkannya ke Google dkk. Tatkala ada menambahkan content baru di website kita sendiri, Google dkk akan mencatat dan membuat salinannya. Manakala ada pengunjung masuk ke Google dkk dan menemukan website Anda, Google akan mencatatnya. Ketika ada sebuah website memuat tautan (link) ke website Anda, Google dkk pun mencatatnya. Tentu saja, seberapa bagus Google mencatat pergerakan sebuah website tergantung kepada seberapa patuh kita memenuhi aturan-aturan Google. Kalau dalam bahasa para pakar pemasaran search engine: semakin Google-friendly website kita, semakin bagus Google mencatat dan memeringkatkan website kita.

Jika di ajaran Islam dikenal ada malaikat pencatat amal baik dan amal buruk, yakni Roqib dan Atid, maka di dunia maya ada pencatat amal merek bernama Google, Yahoo, MSN dan lainnya. Apapun yang perusahaan lakukan di dunia web, entah baik entah buruk, akan dicatat Google dan kawan-kawan. Biasanya, perusahaan hanya membuat amal-amal baik perusahaan di websitenya. Namun jangan lupa, perusahaan atau merek selalu memiliki pemangku kepentingan (stakeholder) seperti konsumen, pemasok, lembaga pembiayaan, mitra bisnis, pemerintah, media dan masyarakat. Nah, pemangku kepentingan ini bisa berbuat apa saja di Internet.

Konsumen yang puas misalnya, dapat menulis di blog betapa bagusnya produk yang ia pakai. Sebaliknya, mereka yang tak puas bisa melakukan hal yang serupa: menulis kejelekan sebuah merek. Celakanya, di dunia maya, tulisan negatif gampang menyebar seperti virus. Tulisan blog yang berisi keluhan produk akan mendapat tanggapan dari konsumen yang sama-sama kecewa. Entah bagaimana, tulisan itu kemudian menyebar ke milis-milis. Bagai bola salju, ketika isu ini membesar, maka akan menarik media online maupun tradisional untuk menulisnya.

Celakanya lagi, semua yang termuat di Internet dicatat oleh Google dkk selama-lamanya. Lho kok selama-lamanya? Ya, selama website yang memuat itu hidup. Tapi kalau pun website itu mati, Google dkk masih mencatat salinannya dan masih bisa dibaca. Hal inilah yang membuat masalah teknis pencatatan di Google berubah menjadi masalah non teknis bagi pemilik merek dan para pemasar. Perhatikan fenomena di bawah ini:

1. Bagaimana jika seorang calon konsumen Anda mencari informasi produk di Google kemudian mendapatkan lebih banyak informasi negatif mengenai produk itu?
2. Bagaimana jika seorang calon konsumen Anda mencari informasi produk di Google namun tak menemukan website resmi mengenai produk itu akhirnya menemukan produk serupa milik pesaing produk tersebut?
3. Bagaimana jika seorang jurnalis yang mencari informasi sekunder mengenai perusahaan/merek/produk Anda sebagai pelengkap artikel mendapatkan pengalaman seperti nomor 1 dan 2?
4. Bagaimana jika seorang calon investor yang mencari informasi sekunder mengenai perusahaan/merek/produk Anda sebagai pertimbangan investasi mendapatkan pengalaman seperti nomor 1 dan 2?
5. Bagaimana jika seorang pemasok yang mencari informasi sekunder mengenai perusahaan/merek/produk Anda sebagai pertimbangan untuk memasok kebutuhan perusahaan Anda mendapatkan pengalaman seperti nomor 1 dan 2?

Tugas Google dalam hal ini hanya mencatat. Ia tak peduli dengan kebenaran serta baik buruknya informasi. Bahkan ketika memeringkatkan hasil, ia juga tak peduli apakah informasi itu sudah kadaluarsa atau tidak. Tidak mengherankan jika Anda ketik “Olie Top-1″ hari ini, Rabu 8 November 2006, di Google misalnya, hasilnya adalah kontraversi dan suara negatif. Demikian juga jika Anda ketik “Speedy Telkom” hari ini di Google, hasilnya kombinasi informasi baik dan buruk mengenai hal itu. Selain website resmi Speedy, Anda akan menemukan tulisan positif mengenai Gairahkan Speedy, Telkom Gratiskan 14.000 Modem di Detikcom. Sekaligus anda menemukan tulisan berjudul negatif Hati-Hati Dengan Telkom Speedy di halaman pertama hasil pencarian, meski tulisan di blog Prijadi itu ditulis dua tahun lalu, serta suara negatif konsumen di forum majalah CHIP yang dimuat setahun lalu.

Pencatat amal baik dan buruk manusia, yang diyakini agama Islam, adalah malaikat. Hakimnya kelak adalah Allah yang Maha Adil dan Maha Cerdas. Pencatat amal baik dan buruk merek di dunia online adalah Google dkk, sedangkan hakimnya adalah pemangku kepentingan yang sudah pasti memiliki latar belakang kecerdasan dan pengalaman yang beragam. Tuhan tidak perlu Anda yakinkan mengenai amal baik buruk Anda karena ke-MahaTahu-annya. Namun pemangku kepentingan, termasuk konsumen, perlu Anda yakinkan mengenai betapa baiknya produk/merek Anda. Itulah yang selama ini dilakukan para pemasar melalui media tradisional. Di jaman komunikasi jaringan saat ini, sudah terbukti Google dkk merupakan media untuk membangun merek. Sudah saatnya para pemasar dan praktisi public relations alias pehumas untuk memperhatikan media online agar catatan amal baik merek Anda lebih banyak ketimbang catatan buruknya.

37 Responses to “Pencatat Amal Baik dan Buruk Merek itu Bernama Google”

  1. Mas Nukman,

    Sedikit pencerahannya, “Google-friendly” apa maksudnya? Apakah bersifat teknis?

    Hal lain yang ingin saya tanyakan (sebenarnya pada blog lain ini sudah pernah saya tanyakan tapi belum memberi jawaban yang pas menurut saya). Begini Mas, sebagai pengelola portal olahraga bulutangkis, salah satu keyword yang kami andalkan adalah keyword “bulutangkis”. Dalam pengalaman kami dengan keyword bulutangkis tsb kami mencatat antara Google dengan Yahoo! terdapat perbedaan yang nyata dalam melakukan index.

    Pada satu saat yang bersamaan saya coba dengan keyword “bulutangkis” tsb dan hasilnya di Google dan Yahoo! berada pada lembar pertama. Tetapi pada hari kedua bisa saja hasilnya sangat berbeda, di Google masih pada lembar pertama tetapi di Yahoo! bisa terlempar pada lembar ketiga dan hari berikutnya bisa terlempar lebih dalam lagi. Yahoo! sangat fluktuasi sekali dibanding Google. Kenapa bisa begini Mas. Apa ada kiatnya?

    Mas Nukman, terima kasih nih atas info google analitycnya. Saya sudah pasang dan sedang saya pelajari. Yang menarik dari recordnya bisa dilihat dari 3 kepentingan (executive, marketer & webmaster).

  2. Pak Nukman,

    Thanks sudah menyediakan waktu untuk menjadi dosen tamu di kelas MM-Eksekutif IPMI yang menjadi binaan saya. Komentar students di kelas adalah: Pak Nukman ganteng (hehe), dan sharingnya very insightful. Mudah2an ada kesempatan untuk mengundang lagi di kelas-kelas saya berikutnya.

  3. Cah Jogja says:

    Nah, Pak Nukman dibilangin ganteng lho; besok gaji naik ya, Pak :)

  4. Nukman says:

    #1.
    Google friendly itu bersifat teknis. Ada aturan-aturan teknis yang harus dipenuhi. Coba baca blog Komet Digital. Di sana banyak diajarkan soal optimalisasi search engine dari kacamata teknis. Kalau masih kurang paham, konsultasi langsung dengan sang pengelolanya: Rizki, yang juga aktif main ke blog ini.

    Yang perlu diketahui, pemeringkatan hasil pencarian semua search engine itu bersifat temporer. Hari ini nomor satu, beberapa waktu kemudian melorot jadi nomor dua atau nomor 10. Karena apa? ya karena ada jutaan website hidup dan berisi keyword umum yang diindex oleh search engine. Kita berusaha menjadi no 1. Yang lain pun juga berusaha. Itu sebabnya SEO (search engine optimalisation) atau SEM (search engine marketing) itu bukan hal sederhana, dan sekarang menjadi disiplin ilmu sendiri di internet marketing.

    Pertanyaan lain pak Ferry akan saya jawab dalam tulisan khusus. Yang berkaitan dengan teknis, bisakah mas Rizky membantu menjawab di sini?

  5. Nukman says:

    #2.
    Terima kasih bu Amalia. Komentarnya membuat saya tersipu-sipu malu :)

  6. Nukman says:

    #3.
    Baiklah. Besok saya naikkan gaji saya sendiri :)

  7. Hallo pak Nukman,

    Saya baru ketemu situs ini dari situs lain setelah berselancar ke sana-sini. Saya tertarik dengan tulisan bapak di blog ini.

    Salam kenal dari Pekanbaru

  8. Zainal Abidin says:

    Mas Nukman, It was great sharing knowledge on ‘Internet marketing’ for our IPMI MBA class. We learnt how ‘dahsyat ‘ is the impact on brand of a company as miliions users can access it in minutes or even seconds.

  9. Cah Jogja says:

    #8.
    Wew. Kalo sejuta orang (million users) akses bareng dalam hitungan detik, bisa-bisa detik berikutnya sang server sudah pingsan :)

  10. Rizky says:

    terima kasih atas kata-kata baiknya mas Nukman.

    sebenernya secara teknis SEO ngga susah. ada seorang rekan asal malaysia yang menjelaskan teknis SEO dalam satu kalimat aja :

    Unique, readable content with targetted keywords in title tag and many incoming links

    simpel kan.

    well, back to topic.

    kayaknya untuk mengimbangi dgn amal buruk yg udah keburu beredar. sekarang orang2 dari departemen komunikasi dan PR harus diajarin ngeblog. suru nulis yang bagus-bagus. trus jangan lupa rajin bikin press release.

    btw, promosi dikit. klo udah terlalu banyak publikasi jelek. dengan tarif yg reasonable, saya bisa bantu mendepak konten2 buruk ini dari indeks Google :P

  11. Mas Wawan says:

    untuk #2 dan #3, Lah dulu khan pak Nukman PLayBoy ketika masih kuliah, ya kan Pak Nuk..? Pak Nuk sendiri loh yang bilang

  12. Mas Wawan says:

    #1, coba googling aja cari article/PDF untuk topik SEO pasti akan nemu seabrek disana. Soalnya dalam dunia SEO pun ada yang
    black SEO dan white SEO, gampangannya ada yg pake cara curang dan cara yg benar. Ato kalo mau saring masuk aja ke http://www.diskusiweb.com/ kalo forum luar yg bagus untuk SEO http://forum.digitalpoint.com

  13. Nukman says:

    Coba mas Wawan ceritakan sedikit:
    1. bagaimana cara yang curang dan yang baik
    2. apa dampaknya jika pakai cara curang
    3. apa dampaknya bila pakai cara baik

  14. Cah Jogja says:

    #11.
    Wah sesama playboy dilarang saling mengungkap identitas :D (ssst, sekarang ada playboy jenis baru lho, yaitu playboy domain: gonta-ganti domain melulu. hahaha)

  15. Mas Wawan says:

    #14
    pasti ganti pasangan setahun sekali, maksudnya cuman register domain setahun sekali, habis nggak laku ganti register domain yang lebih cantik :p

  16. Mas Wawan says:

    Seharusnya Pak Nukman seorang pemilik company internet marketing tahu dampaknya kalo “duplicate content” antara domain http://www.nukman.com dengan http://www.virtual.co.id/blog

    siap2 aja salah satunya dipenalty Google, Duplicate content di Google

  17. Nukman says:

    Tidak semuanya saya mengerti mas Wawan :) . Inilah enaknya punya teman yang pintar-pintar. Kita jadi ikutan pintar.
    Terima kasih infonya.

  18. Mas Wawan says:

    #16 kalo ada duabuah situs, mempunyai content yg hampir/sama biasanya dalam SEPR di Google utamanya, situs yg dianggap plagiat akan otomatis didepak, setidaknya tidak akan tampil dengan PR 0 di Google.
    Robot Google bisa mengetahui mana content yg dipublish duluan dan mana yg plagiat(copy paste)

  19. Nukman says:

    setelah saya pelajari, ternyata untuk kasus #16 tidak masalah. Karena domain http://www.nukman.com itu di-redirect ke virtual.co.id/blog, semua content ada di virtual.co.id/blog, sehingga content di virtual.co.id/blog lah yang diindex oleh Google bukan nukman.com.

    Istilah penalti itu juga masih kabur. Bagi yang berminat silahkan baca di sini: Duplicate Content – Penalize Me, Please dan Duplicate Content Filter: What it is and how it works

    Buat mas Wawan, sekali lagi, terima kasih infonya.

  20. Rizky says:

    #18: kayaknya ngga sesimpel itu deh. klo emang cara kerjanya begitu, berarti gampang banget donk kita menyingkirkan kompetitor bisnis.

    sori, saya ambil contoh Vitual consulting. mereka kan bisa dibilang pesaing bisnis. kalo gitu ya gue bikin aja kopian situsnya, dengan harapan besok situs mereka ilang dari index Google.

    well, tapi kenyataannya ngga segampang itu kan?

    cmiiw, tapi penentuannya kayaknya berdasarkan trust. dan trust didapet dalam bentuk kutipan/link dari website-website yang dipercaya.

    biarpun konten kopian, tapi kalo kowe dapet link dari situs -situs yg relevan en bisa dipercaya. bukan ngga mungkin konten aslinya yg malah terkubur.

    terbukti

  21. Mas Wawan says:

    #19.Maaf pak Nuk, bisa di cek Site Nukman.com sama Site Virtual Blog bisa diliat title site yg terindex, keduanya sama dengan title yg sama, karena situs Nukman.com dianggap memiliki konten, bukan sekedar redirect saja

    #20 yang jadi masalah bukan blog virtual.co tapi domain nukman.com untuk kedepannya. Ok mas Rizky, pasti juga tahu, kalo saya punya situs utama, terus saya beli puluhan domain baru saya redirect ke situs utama, apa yg akan didapat? yang pasti Google tetep menganggap puluhan domain itu sebagai spam content. Dengan meredirect satu ato beberapa domain ke situs utama salah satu ciri black SEO. Kalo untuk sekedar backlink bukan jadi masalah

  22. VE says:

    Man, nek nulis iki koyo ngene, sing moco puassss tenan.
    Referensine pas, sangat bermanfaat.
    Kapan2 ceramah nang nggon ku yo cah gembagus.

  23. iding says:

    baru nemu web ini nih, alhamdulillah ada yang kaya gini. makasih banyak pak

  24. masdapit says:

    Ternyata bisa banyak belajar juga di sini… sukses pak Nukman…

    salam buat temen temen di sini….

  25. eddy says:

    #Rizky…gampang banget donk kita menyingkirkan kompetitor bisnis.

    Jawabnya adalah YA. Untuk urusan di dunia maya, adalah sangat gampang dan ada banyak cara untuk menyingkirkan kompetitor, bahkan mungkin sangat lebih mudah daripada di dunia non-virtual :) Untuk caranya, saya yakin Bung Rizky sudah tahu karena bung Rizky sudah ber-iklan dengan fee tertentu untuk menghilangkan konten negatif dari halaman google ;)

  26. cayo says:

    Jadi sepertinya baik di dunia maya maupun virtual, konsep kepuasan pelanggan adalah nomor satu. Tapi bagaimana kita tahu tingkat kepuasan mereka hanya dari statistik web ? (saya juga sudah baca tulisan bapak di ttg web statistik, very insightful).

    cayo
    http://improve-it.blogspot.com/

  27. agus maksum says:

    mas nuk, tanya soal ini
    kalo saya punya situs utama, terus saya beli puluhan domain baru saya redirect ke situs utama, apa yg akan didapat? yang pasti Google tetep menganggap puluhan domain itu sebagai spam content. Dengan meredirect satu ato beberapa domain ke situs utama salah satu ciri black SEO. Kalo untuk sekedar backlink bukan jadi masalah

    nah berapa domain name yg redirect ke situs utama bisa dianggap sbg SPAM, kadang ini kan kebutuhan, utk web online reseller.
    thanks

  28. herin says:

    Mas, apakah mas tak keberatan –tentu kalau Jenengan punya– nama2 AE senior yang pinter cari iklan. Saya mau menulis beberpa buku yang butuh sponsor iklan. Nuwun, nggih

  29. radityo says:

    VE itu Mbak Ventura Elisawati bossnya XL yo?

  30. radityo says:

    Oh ya Nukman, aku baru inget. Minggu ini kan lagi hangat dibahas soal Patalian Water Securities. Nah temen-temen wartawan tuh tahu kelompok bisnis ini punya “catatan buruk” ya dari google. Kebetulan “catatan baik” nya saya yang ikut ngisi, sebaliknya “catatan buruk”nya dari komisaris yang ngisi karena keterlibatannya dalam penggelapan uang.

  31. tomplee says:

    wah google kayak malaikat ya? :-)

  32. mahya ramdhani says:

    saya lagi menyenangi dunia PR, waktu search humas pemerintah di google, keluar blognya pak nukman, akhirnya jadi nyari tulisan lain-lain deh. tulisannya bagus-bagus pak, salam kenal.

  33. [...] Nukman Luthfie mengatakan bahwa di dunia maya ada pencatat amal merek bernama Google, Yahoo, MSN dan lainnya. Apa pun yang perusahaan lakukan di dunia web, entah baik entah buruk, akan dicatat Google dan kawan-kawan. [...]

  34. eben says:

    fdfhddfbd

  35. rizky says:

    Sedikit tidaknya pengawasan google juga ada keterbatasannya. bener gak pak…

  36. hanny says:

    wah ni kunjungan pertama langsung betah baca2 artikelnya…kapan ni ke jogja?? kasih seminar dong buat mahasiswa jogja….thanks

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
valentmustamin @valentmustamin
Online Tech
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Stephen Langitan: - memang terbukti koq.. kini ATPM sepeda motor di Indonesia, mengakui...

  • hao: - hahahaha, ngak ngaruh tuh omongan orang lain…

  • Ardi Kemara PRadipta: - memang sih kalo kadang melihat realita yang terjadi apa yang dibacarakan...

  • Andy MSE: - asemik… jebul saya ketinggalan hal2 seperti ini… setelah ketemu Cah...

  • Anis Zegeg: - Menurut saya.. koq lebih penting bisa tampil di 10 besar mesin pencari ya...

  • widya: - Blogger dan jurnalis sama ciptaan Tuhan yang mempunyai tanggung jawab masing-masing....