Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Starbucks Web 2.0

April 8, 2008
Oleh Nukman Luthfie

 

Starbucks mendengarkan pelanggannya via online? Yap. Dan langkah itu menurut mantan marketer Starbucks, John Moore, layak diamati. Bukan karena langkah itu brilian. Tapi, seperti dikutip AdAge, “karena selama ini Starbuck nyaris tidak pernah mendengarkan percakapan pelanggan via media online”. Bahkan ketika ada situs serius yang memuat semua berita negatif di StarbucksGossip.com, manajemen Starbucks bergeming.

Nah, akhir Maret lalu, jaringan kedai kopi dunia itu meluncurkan My Starbucks Idea, sebuah jaringan sosial online ala kedai kopi. Di situ para pelanggan dan pecinta kopi Starbucks bisa menyampaikan gagasan-gagasannya bagaimana memperbaiki produk dan layanan Starbucks. Mereka juga bisa mengomentari gagasan pelanggan lain atau bahkan mendukung gagasan tersebut melalui voting agar segera dieksekusi oleh manajemen Starbucks.

Starbucks idea

Tentu, manajemen Strabucks tidak main-main dengan program ini. Mereka secara rutin mengumumkan gagasan apa saja yang diesekusi perusahaan melalui blog korporat mereka, yang diberi tajuk Ideas in Action.

Sebenarnya, mendengarkan suara pelanggan melalui media online bukanlah hal baru. Dell Corp. sudah jauh-jauh hari menjalankannya melalui IdeaStorm, yang mempersilahkan pelanggan perusahaan komputer itu mengusulkan ide-idenya. Program ini dianggap berhasil karena Dell bisa meluncurkan produk-produk baru dari usulan pelanggan.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah Starbucks bisa mengulang sukses Dell? Sejauh ini belum kelihatan hasilnya. Kalau kita lihat pada usulan paling populer adalah kedai Starbucks dilengkapi dengan koneksi Internet gratis melalui wifi. Ada juga yang mengusulkan minuman gratis atau bahkan menyewakan kedainya untuk kantor (usulan yang aneh bukan?). Nyaris sulit menemukan gagasan-gagasan brilian untuk melahirkan produk baru atau memperbaiki layanan kedai kopi.

Tapi biarpun disangsikan banyak pihak bisa memberi hasil positif dari sisi produk dan layanan, manajemen Starbucks tentu saja yakin dengan langkahnya. Selama bertahun-tahun Starbucks dikenal sebagai kedai kopi yang melayani dan mendengarkan pelanggan dengan baik. Langkah mereka ke dunia maya adalah ektensi dari langkah mereka di dunia nyata.

17 Responses to “Starbucks Web 2.0”

  1. iqranegara says:

    Saya percaya yang namanya ide itu mahal harganya. Inovasi2 itu harus kita bungkus rapat2 sebelum akhirnya di aplikasikan dan membuat semua orang terhenyak. Nah kalo di share gini apa malah tidak mempermudah pesaing untuk mencuri ide itu?

  2. orangufan says:

    sebenrnya yang beginian ini termasuk dalam CRM gak sih pak???

  3. dian-gresik says:

    ouw…ga laku dong jasa konsultant.. kan udah dapat yang gratisan.. :)

  4. Pitra says:

    jadi inget dulu rumah123.com bikin kontes kreatif promo webnya..:) tapi hasilnya kayaknya ndak ada yg dieksekusi nyata ya?

  5. Great post, pak.

    Inisiatif yang lumayan cerdik ini mungkin diharapkan bisa “menyelamatkan” Starbucks dari penurunan dramatis dalam 2 tahun terakhir ini (dalam dua tahun ini, harga saham Starbuck meluncur drastis dari $ 40 menjadi $20 – atau hancur 50%).

    CEO lama yang juga pendiri, dipanggil kembali. Ekspansi mulai dihentikan. Apakah ini pertanda kehancuran Starbucks?

    Dalam konteks itu, peluncuran situs sosial ini mungkin bisa membantu membangkitkan kembali kejayaan mereka.

    John Moore — brandautopsy blog — menguraikan dengan amat bagus mengenai apa yang harus dilakukan oleh Sbuck untuk kembali bangkit.

  6. pengamen says:

    #4.fitra,
    saya sering mengamati walau `sekilas` ttg hal ini dan
    saya sering mendengar kontes-kontes semacam ini, bukan hanya di ide tapi logo, foto, software dll.. Saya belum mengetahui apakah `pengelola` UU Hak kekayaan Intelektual juga ikut andil jika diadakan kontes2 seperti itu.

    Saya punya pengalaman, direksi kantor saya dulu mengadakan kontes dengan mengundang beberapa software house untuk mempresentasikan program2 mereka dan seperti tadi, tidak ada pemenangnya.. tapi ide/fitur yang telah dipresentasikan itu di implementasikan sendiri secara diam2.

    ta` kira begitu juga dengan iklan2 di TV dengan hadiah gila2an itu, ujung2nya tidak jelas pemenangnya siapa [atau hanya diumumkan diam-diam dan pemenangnya hanya dikalangan keluarga pejabatnya], ya kamu taulah di indonesia bagaimana, semoga tidak begitu dengan starbuck..

    Pada Kontes di rumah123 itu mungkin TIDAK ada pemenangnya, hehehe… Tapi juga mungkin banyak, liat aja disource code rumah123.com, dalam body ada `head` dan `body` `pemenang` yang lainnya :D , mungkin… :D

    Saya kira idealisme itu penting, buatlah sesuatu yang orang lain ga bisa buat/susah/lama untuk membuatnya, kadang nge`lock` sesuatu itu penting, walau semestinya ga..

    * cman sedih dengan teman2 yang sering diperlakukan seperti itu..

  7. iqranegara says:

    seperti #pengamen saya juga punya pandangan miring dgn kontes2 yg memlombakan ide. hal2 semacam ini justru menghargai ide lebih murah. dan sering tidak ada keterbukaan dari pihak yg menampung ide itu

  8. Pernah sekali ke Starbucks di KM 19. Sepi.. Btw, ini semacam kotak saran dan pesan yang sering disediakan di tempat2 tertentu, ya. Cuma bentuknya dikemas lebih apik.

    Kalo masalah ide, tidak selalu 100% original. Sebab di luar sana, mungkin orang lain sudah melakukannya. Atau bahkan sedang memikirkannya. So, kalau punya ide, segera lah diwujudkan (dipatentkan :) )

  9. Sebenarnya ada sesuatu yang lebih dari sekedar “kontes ide”, yaitu Crowdsourcing. Menurut Jennifer Alsever, Crowdsourcing adalah “a technique that sophisticated companies use to translate the enthusiasm of their most highly-engaged customers into valuable marketing, branding, or product-development insight”.

    Yang perlu diingat dari crowdsourcing adalah “niat” company untuk mendengarkan haruslah sungguh-sungguh, bila niatnya tidak sungguh2, maka mending tidak dilakukan usaha membuka masukan dari konsumen. Kemudian perlu dilakukan identifikasi, konsumen manakah yang bisa memberikan insight yang berguna dan mana yang tidak. Setelah itu perlu diberikan reward yang jelas bagi sebuah ide (tidak harus uang), serta bagaimana mekanisme ide itu bisa diimplementasikan di company.

    Company seperti Lego telah melakukan crowdsourcing ini, atau juga diliat di http://www.threadless.com yang mengundang publik untuk mengirimkan desain t-shirt dan kemudian memproduksi desain yang dipilih oleh paling banyak orang.

  10. Populer tidak selalu viable buat bisnis. Untuk langsung melakukan crowdsourcing, mendapatkan ide dari kerumunan, menurut saya kayaknya sih agak susah untuk produk semacam Starbuck. Paling jauh untuk saat ini adalah interaksi dan community building. Itupun kalau bisa dibangun sudah luar biasa dan bisa dileverage oleh Starbuck…
    Tapi gak taulah.. pengin lihat saja perkembangan selanjutnya :)

  11. mas yok says:

    wah infonya bagus dan responnya jg ga kalah bagus.

  12. mirza says:

    Ulasan website yang sangat menarik pak Nukman, saya bermimpi jikalau saja para politisi dan pejabat negri kita memanfaatkan sistim ini untuk menyerap aspirasi rakyat. see my article “Politicians follow the starbuck!!”

  13. Sandy says:

    Briliant idenya, salah satu cara bentuk implementasi cosummunity marketing….tp semoga tidak melupakan kegiatan offline nya juga krn itu tidak bisa dilupakan krn kedunaya saling mendukung…oh iya apa ya nama buat komunitas ini udah ada julukannya ga ya good luck buat Starbucks

  14. christiono says:

    Suatu ide marketing yang ok, dan saya kira bisa masuk ke area CRM.
    ~gakBiasaKeStarbuck

  15. adam says:

    Dh,
    untuk di Indonesia , biasanya orang minum kopi kan sering ditemani dengan pisang goreng, risol,ubi rebus..nah kalau dilihat saat ini yang menemani hanya roti2 dengan taste luar negeri (mdh2n dipertimbangkan).
    Tujuan ada Starbuck di Ind kan untuk menaikkan pendapatan (mohon dikoreksi jika salah)…mestinya produk kopi 2 dari daerah Indonesia juga bisa dijajakan….minimal harganya juga jadi bersaing dengan restorant yang menyediakan kopi.

  16. titi santoso says:

    Dengan nama besar Starbucks keberadaan layanan tambahan itu semakin menguatkan image mereka sebagai merk yang berbasis konsumen. Pelayanan tambahan memberi nilai lebih pada produk mereka yang berakibat pada peningkatan penjualan.

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
valentmustamin @valentmustamin
Online Tech
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • adebudi: - Salah satu konsekuensinya ya pinter milih2 provider- baik tuk mobile or hosting. Tapi...

  • adebudi: - Angklung dan keris pun menyusul diakui UNESCO ya?

  • Stephen Langitan: - memang terbukti koq.. kini ATPM sepeda motor di Indonesia, mengakui...

  • maomao: - harga murah, barang berkualitas sistem transaksi mudah. saya rasa itu cara ampuh...

  • dody: - semua balik lagi kpd interest orang itu apa suka atau tidak dengan film itu, malah...

  • wina: - Salam kenal Mas Nukman, saya Wina. Saya marketing di perusahaan konsultan komunikasi....