Brand owner : Saya mau bikin iklan TV untuk produk saya. Targetnya A dan B plus, pekerja kantoran di kota besar, aktif, manager ambisisus bla..bla..bla…
Konsultan komunikasi: Karakternya bisa dibilang ‘kita-kita’ ya pak?
Brand owner: Ya..ya…tepat sekali. Kita kita lah!
Konsultan komunikasi: Bapak semalem nonton TV? Inget nonton iklan apa?
Brand owner: Nonton TV? mana sempat lah! Pulang aja malem, sampai rumah udah capek. Iklan…apa ya? saya nggak inget!
Konsultan komunikasi: Kalau bapak saja jarang nonton TV, bukankah itu juga mengindikasikan bahwa target audience juga berperilaku sama? Lalu bikin iklan TV untuk dikonsumsi siapa?
****
Brand owner: Saya suka sih konsep iklan ini, tapi saya ngga yakin konsumen nangkap maksudnya…
Konsultan komunikasi: Ibu nangkap maksud komunikasi ini ngga?
Brand owner: Saya sih nangkap…tapi konsumen?
Konsultan komunikasi: Ibu kan juga konsumen…
***
Brand owner: Saya mau iklan TV saya yang 5 second di looping (putar berulang-ulang) 3 kali biar konsumen inget iklan saya.
Konsultan komunikasi: Memang konsumen jadi inget pak, tapi kalo sering lama lama jadi annoying…
Brand owner: Ya..ga pa pa lah…yang penting mereka aware sama produk saya.
Konsultan komunikasi: Bapak senang ngga diganggu?
Brand owner: Orang mana yang suka diganggu?
Konsultan komunikasi: Kalau kita tidak mau diganggu, mengapa mengganggu orang lain?
****
Konsultan komunikasi: Untuk hal hal yang sifatnya informasi penting/disclaimer sebaiknya di state secara jelas di komunikasinya, jangan sampai konsumen merasa ‘wah…saya ngga tahu kalau ada informasi ini/saya tidak tahu resiko ini’
Brand owner: Kalau jelas semuanya, ntar ngga laku dong promo saya. Udah…pakai saja ‘asterix’ kecil gitu di pojok bawah.
Konsultan komunikasi: Okey…kalau di iklan TV?
Brand owner: Ya pakai saja tulisan yang muncul selama 2 detik gitu…
Konsultan komunikasi: Kita bisa baca tulisan apa dalam dua detik?
Brand owner: Ya..yang penting kan ada dulu, biar ntar kalo kita dituntut, paling ngga kita punya bukti bahwa kita sudah mencantumkan ‘peringatan’.
****
Ketika sedang menjadi pemilik atau pengelola brand, seringkali kita lupa bahwa kita juga konsumen yang setiap hari disibukkan dengan berbagai urusan kehidupan.
Ketika sedang menjadi pemilik atau pengelola brand, seringkali kita lupa bahwa kita juga konsumen yang tidak suka diganggu,dijejali pesan yang ‘ngga penting’, di under estimate, di bodoh-bodohi, menerima informasi yang sengaja dibuat tidak transparant atau segala bentuk komunikasi lain yang tidak menganggap lawan komunikasi sebagai mahluk respectful.
Untuk sukses berkomunikasi dengan konsumen, lepaskanlah sesaat ‘mahkota’ marketing director, marketing analist, brand manager, Account Director, Creative Director atau apa pun itu. Karena somehow keberadaan ‘mahkota – mahkota’ itu lah yang membuat kita lupa bahwa kita juga konsumen. Akibatnya, tanpa sadar kita menjadi over analis, kehilangan sensitifitas manusia biasa, kehilangan empathy yang ujung ujungnya malah membuat brand kita kehilangan simpati.
Selamat bekerja, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.
allw mbak iim dan mas adit…lam kenal ya…
wah…serasa tersindir nih baca tulisan ttg pemilik brand juga manusia. sebenarnya, saya juga sudah sadar hal ini, tapi kadang big boss gak mau tahu yang penting, produknya laku. meski untuk jangka panjang, saya yakin, hal ini tidaklah bagus untuk konsumen kita…
lagi-lagi, kembali kita kembali ke maunya si big boss atau owner ini…
Saya mo ngutip aja ah
“Untuk sukses berkomunikasi dengan konsumen, lepaskanlah sesaat ??????mahkota?????? marketing director, marketing analist, brand manager, Account Director, Creative Director atau apa pun itu. Karena somehow keberadaan ??????mahkota – mahkota?????? itu lah yang membuat kita lupa bahwa kita juga konsumen”
memang benar promo yang dilakukan berulang-ulang di TV akan sangat mengganggu , luar biasa sekali kritikannya,…
Dulu saya pernah menjadi tim kreatif yang menghandle klien wafer tango. Masih ingat dengan cuplikan terkenal,”Brapa lapis?..ratusan..Brapa lapis..ratusan..Brapa lapis…ratusan.”. Hehe…ternyata itu adalah ‘temuan’ owner mereka, yang diceritakan dengan sangat bangga sekali oleh bawahan2nya.
Saya cuman bisa menahan geli waktu itu
Pemilik Brand Juga Manusia.
saya setuju sekali dengan judul tersebut.
pemilik brand juga punya “ego” dimana
ide mereka lah yang seharusnya dieksekusi.
u/ bp andi, kan ada 2 hukum di dunia kerja :
1. bos selalu benar.
2. kalo bos salah, lihat hukum pertama.
hehe.
seberapa besar kesediaan hati mereka menerima masukan dan ide orang lain saya rasa bisa sgt berpengaruh kepada kesuksesan brand mereka.
Sering yang membuat kita tidak bisa menjadi konsumen, berpikir secara konsumen, adalah kita terlalu dekat dengan produk kita sendiri, sehingga kita kehilangan sense konsumen. Menjadikan segala sudah kita tahu dan kenal.
Benar juga ibu..
jinggle iklan kami dipasang dibeberapa radio tiap jam, belum lagi kuis…
pendengar (konsumen) bs jd bt
saya akan segera sms radio2 tersebut utk mengurangi pemutaran jinggle..
Terima kasih
[...] diatas saya rasa tidak asing lagi bagi sebagian dari kita. Terinspirasi dari salah satu tulisan ??????Pemilik Brand juga Manusia?????? di blog Virus-Communication, saya tergelitik untuk menuliskan pengalaman sederhana di bawah [...]
Dear Mbak Iim dan Mas Adhit,
Kali ini saya menulis “mewakili” konsumen sejati neh..
Kalau dari kacamata seorang konsumen, pengennya seh Iklan tuh bisa jadi hal yang menghibur juga..hmm, seperti nonton film gitu. Saya senang sekali “masih ada” iklan yang sejati nya masih membawa gen itu..adalah produk kosmetik berlabel “P” (hehehe ntar kalo di sebut panjang di bilang WOM untuk produk nya lagi:)), yang mengangkat tematik cinta..pake acara serial pula untuk bisa nangkep semua pesen yang mau disampaikan:) jadi penasaran githu, ini ending nya gimana ya, happy or sad ending?? Soal menghibur buat saya si pembuat iklan emang berhasil tuh (kan saya jadi gregetan pgn tau ending nya gimana..:)), tapi kalau urusan jadi beli itu produk nah itu masih perlu di survey tuh..so, simple Q lagi buat Mbak Iim dan Mas Adhit..kreatifitas iklan yang bagaimana yang secara teori IMC bisa berperan ganda: “Menghibur sekaligus Mempersuasif”? Terima Kasih buat jawabannya:)
Warm Regards,
Icha Gadhafi
Mahasiswa S2 Magister Ilkom/ Ibu RT/ Pengamat Iklan TV