Sebelum ini, Internet Marketing dianggap sebagai anak tiri oleh banyak kalangan. Selama periode tahun 80-90an misalnya era periklanan dikuasai oleh media televisi dan cetak. Kejayaan dunia iklan di kedua media tersebut masih terasa hingga kini. Meski demikian, sebuah fenomena menyeruak di tengah dua media tersebut. Apalagi kalau bukan iklan di media online.
Seiring dengan meningkatnya perusahaan yang ngotot untuk berebut posisi “Top of Mind†di mata para pelanggannya, maka upaya-upaya iklan tradisional dirasa kurang terasa efektiv. Bahkan ada sebuah buku yang membahas advertising berpendapat bahwa advertising agency telah kehilangan fokus dan hanya berlomba membuat iklan yang menjadi sebuah karya seni. Itulah sebabnya mengapa muncul anggapan bahwa advertising akan mati.
Meski demikian, ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa advertising dapat berubah pada masa yang akan datang. Perubahan itu mulai terasa saat ini. Berdasarkan penelitian eMarketer misalnya, perusahaan mulai serius beriklan di media baru: Internet. Tahun ini misalnya, budget iklan online perusahaan di Amerika Serikat untuk pertama kalinya akan menembus angka 10 Milyar Dollar AS, bahkan diproyeksikan dapat mencapai 12 Milyar Dolar AS. Empat tahun mendatang, angka itu akan membengkak menjadi 22 Milyar Dolar AS.
Peningkatan angka belanja iklan online ini memakan korban media tradisional. Berdasarkan survei InsightExpress, 74% eksekutif media buying dan planning meningkatkan budget iklannya ke media internet. Itu berarti 23 poin lebih tinggi daripada media yang paling diminati yaitu TV Cable. Sedangkan 19% atau lebih responden menyatakan akan memotong anggaran iklan pada media seperti Koran, radio, majalah dan TV.
Meski anggaran belanja iklan pada media internet meningkat, perkembangan tersebut tidaklah setinggi peningkatan jumlah audience. Secara keseluruhan pengeluaran untuk iklan online meningkat 32,5% namun belanja untuk setiap pengakses Internet hanya meningkat 27,9%. “Ini berarti uang telah gagal mengikuti ‘eyeball’ di Internet,” kata David Hallerman, analis senior eMarketer.
Penyebab utama fenomena itu adalah miskinnya tingkat kreativitas iklan online. Dibandingkan iklan audio dan visual di televisi atau design dan warna yang memikat pada iklan majalah, iklan pada internet terlihat datar. Akibatnya, banner pada portal dan website dinilai kurang memikat ‘eyeball’.
Ya… saya setuju dengan buah pikiran anda, tetapi untuk Indonesia, saat ini pengguna internet masih terbatas, mungkin kurang dari 10 juta. Jadi belanja iklan “on line” masih terbatas karena kurang atau belum efektif
cara membuat iklan di internet
Orang Indonesia maunya yang gratis-gratis. Termasuk untuk beriklan. Saya pengelola iklan online RuangBisnis.com
Jika tidak ada layanan iklan gratisnya maka tidak ada yang beriklan.
Yang gratis sepertinya bukan hanya maunya orang Indonesia saja, itu sudah hal yang manusiawi. Kalau bisa gratis kenapa harus bayar.
Mungkin jangan pesimis dulu, sepertinya dibutuhkan kreativitas serta kesabaran. Saya melihat adanya peluang (share) yang bisa digarap. Jika semuanya mudah mungkin kita akan menjadi yang paling akhir memperolehnya, atau tidak kebagian sama sekali.
Perlu dilihat model bisnisnya dulu. Kalau tujuannya memang membuat portal iklan baris gratis, ya jelas pemasang iklannya gratis. Dengan demikian harus dipikirkan sumber pendapatan lainnya.
Kalau media online, seperti SWA Online, Detikcom, KCM dan sejeninya, sudah jelas bisnis modelnya: yang membaca gratis, pemasang iklan bayar.
Bung Nukman, kalau portalnya menyediakan fasilitas iklan baris gratis dan juga menyediakan ruang iklan yang bayar apakah tepat? Maksudnya, apakah model bisnis seperti ini pas?
Bagaimana menentukan tarif iklan dengan melihat tingkat unique visitor yang datang setiap bulannya?