Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Internet Tidak Akan Membunuh Koran?

January 21, 2010
Oleh Nukman Luthfie

 

Pelaku bisnis media cetak di Indonesia kelihatannya masih yakin dengan masa depannya, meski media Internet tumbuh luar biasa di negeri ini, dan sudah banyak bukti media cetak di Amerika Serikat bertumbangan karena Internet. Gencarnya pemberitaan di televisi dan kuatnya penetrasi internet di Indonesia tak akan mematikan koran atau media cetak lainnya. Di daerah, koran berkembang pesat, jauh lebih banyak dibandingkan dengan koran yang tutup—karena masalah internal. Peluang iklan di media cetak tetap tumbuh dan persentasenya cenderung meningkat. Itulah benang merah Seminar Media Industry Outlook 2010 yang digelar Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Rabu (20/1) di Jakarta, seperti ditulis di koran Kompas hari ini.

Saya dapat memahami apa yang disampaikan oleh para pelaku bisnis media cetak tersebut. Namun, sayangnya, tidak ada narasumber pelaku bisnis media online yang dilibatkan dalam media outlook 2010 tersebut. Sebagai pelaku bisnis online yang non media, saya akan memberikan pandangan berbeda.

Pertama, saya sepakat, bahwa Internet, juga televisi, tidak akan membunuh koran dan media cetak lain, namun dengan catatan.

Itu persis seperti kehadiran televisi yang ternyata tidak mematikan radio. Namun, tetap harus disadari, meski televisi tidak membunuh radio, kue iklan yang semula hanya dinikmati radio, kemudian dinikmati juga oleh televisi. Bahkan kini televisilah penikmat kue iklan terbesar, bukan radio. Televisi memang tidak mematikan radio, namun kue iklan yang seharusnya dapat dinikmati radio digerogoti oleh televisi.

Demikian halnya dengan media cetak. Sehebat apapun media cetak berkembang, kue iklannya tak mampu mengalahkan TV, karena kemampuan menjaring pemirsanya dan kemampuan menampilkan iklannya. Dari belanja iklan pada tahun 2009 sebesar Rp 36 triliun (Januari-September), media cetak “hanya” mendapat pangsa pasar sebesar Rp 13,85 triliun atau setara dengan 39 persen, sementara televisi 61 persen.

Dengan logika yang sama, kehadiran Internet, dengan berbagai media online yang hadir seperti portal Detik.com, forum Kaskus.us, media jejaring sosial Facebook, ikut menggerogoti kue iklan yang seharusnya dinikmati media-media sebelum lahirnya media online. Bahkan, ketika terjadi krisis ekonomi di seluruh dunia, perusahaan memangkas budget iklan radio, cetak dan televisi, untuk dialihkan ke Internet.

Internet tidak akan membunuh koran, itu betul. Namun kue iklan koran mulai digerogoti media online. Saat ini kue iklan yang dinikmati media online memang masih amat kecil dibanding yang diperoleh cetak (dan radio serta televisi). Namun benih ini akan terus membesar. Di Amerika Serikat, sejak  beberapa tahun lalu kue iklan Internet mengalahkan radio dan tv kabel. Data menunjukkan, ketika iklan Internet terus naik pesat, sebaliknya pertumbuhan iklan cetak menurun. Saya menduga, hal ini akan terjadi di Indonesia suatu saat.

Kedua, Internet mengubah perilaku masyarakan mengonsumsi media.

Survei SPS bekerja sama dengan LP3ES di 15 kota meyakinkan  para pelaku bisnis media cetak  bahwa peluang dan potensi media cetak tetap terbuka lebar. Itu terlihat dari waktu rata-rata membaca koran orang di Indonesia per hari berkisar 34 menit.

Namun, jika dibandingkan dengan data lain, para pelaku bisnis media cetak ini mestinya khawatir. Survei yang dilakukan Synovate dan Detik.com pada tahun 2008 menunjukkan, 44% pengguna Internet di kota-kota besar mengakses Internet setiap hari, dan 77% diantaranya yang akses setiap hari tersebut menghabiskan waktu  lebih dari dua jam. Coba bandingkan, membaca koran hanya 34 menit, sebaliknya Internetan selama dua jam. Perbedaan yang nyata.

Akibatnya, meski berlangganan media cetak, makin sedikit halaman yang dibaca. Apa yang ditulis koran hari ini sudah mereka ketahui kemarin saat menjelajah di Detik.com, Kompas.com, Okezone.comVivanews.com dan yang lainnya.

Bisa saja, mereka lama kelamaan semakin tidak membutuhkan koran karena sudah tahu isinya sehari sebelumnya. Meski tidak memegang data, saya menduga oplah koran pada umumnya tidak tumbuh baik (atau bahkan tidak tumbuh atau menurun).

Memang, koran tidak akan mati. Saya sepakat. Namun, dengan dua alasan di atas, saya berpendapat, meski tidak mati, ruang pertumbuhan bisnis media cetak semakin terbatas karena kehadiran Internet.

Dengan dua alasan di atas, saya menyarankan kepada pelaku bisnis cetak untuk membuka pikiran bagaimana mengadaptasi datangnya era Internet ini bagi masa depan, sedini mungkin sebelum terlambat.

41 Responses to “Internet Tidak Akan Membunuh Koran?”

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Lendra Bayu. Lendra Bayu said: RT @nukman: tulisan saya menyikapi optimisme pelaku bisnis media cetak: Internet Tidak Akan Membunuh Koran? http://bit.ly/5Odavg [...]

  2. sangat setuju, mas…

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by nukman: tulisan saya menyikapi optimisme pelaku bisnis media cetak: Internet Tidak Akan Membunuh Koran? http://bit.ly/5Odavg...

  4. Saya sepakat bahwa koran tidak akan mati. Karena khususnya untuk saya pribadi, sensasi membaca koran dan membaca media online adalah dua hal yang berbeda.

    Terlebih karena saya membaca koran lokal yang beritanya sangat jarang (tidak menonjol) ada di media online yang disebutkan Pak Nukman di atas.

  5. kw says:

    wah sudah bertahun-tahun tidak membaca koran ha ha. dulu sukanya baca koran minggu yang isinya “bukan berita”. sekarang semuanya tersedia di ujung jari. :)

  6. imam says:

    bagimana dengan koran online berbayar? apakah bisa berkembang baik di Indonesia?

  7. didut says:

    setuju ..skrg sih udah gak pernah baca koran kecuali bola :)

  8. Apalagi jika media e-reader seperti Kindle makin bagus, dan luas penetrasinya; media cetak mungkin akan kian kehilangan pembaca.

    Tapi omong-omong, saya masih setia baca koran cetak; dan belum mau pindah ke media digital…:)

  9. De says:

    stj mas Nuk, tdk mati, tapi jln ditempat (ada yg tau dimana bedanya?), utk 5 th kedepan, mungkin. Setelah itu? Who knows, let’s wait, see n hope for the best sj.
    Orang bijak berkata, lebih baik mencegah daripada mengobati. Bgtpun bagi para pelaku bisnis media cetak, lebih bijak mencari cara utk mencegah ‘lama-lama juga mati’ daripada ‘mengobati’ yang bisa tiba-tiba mati. Hidup Tanah Air ku !

  10. iphin cow says:

    kalo saya korannya detik sama yahoo.
    hehe

  11. Timlo says:

    Koran yang mempunyai divisi online akan lebih bertahan.

  12. Aria Turns says:

    Jika saya udah menikah berkeluarga n punya anak. Akan kah saya berlangganan koran harian seperti kedua orang tua saya? Mmm..mungkin jawabnya tidak..

  13. untuk saat ini memang belum punya dampak yang signifikan iklan di internet menggerogoti iklan media massa lainnya tapi pada waktunya akan terjadi dampak yang luar biasa yang terjadi kue iklan di media massa akan berkurang jauh dari seiring terjadinya penggunaan internet yang mewabah dikalangan masyarakat. satu2nya jalan media massa/koran akan mengalihkan perhatiannya ke media internet yang lebih memasyarakat untuk menjaring perhatian publik.

  14. KEdua catatan diatas tentu bisa terjadi kalau koran tetap berinovasi dan meraih loyal subscriber + ‘memelihara’ jumalh non techie reader.. kalau justru sebaliknya.. malah akan mati bukan!

    Arham – Inventco.net

  15. Seleksi alam bakal terjadi, yang kuat bakal menang dan yang kalah bakal tersingkir.

    Tapi untuk saat ini saya setuju bahwa media koran belum akan mati, alasannya sederhana masih banyak yang butuh.

    Misalnya seperti paman saya yang tinggal di Bandung yang sudah puluhan tahun berlangganan harian Pikiran Rakyat. Saya pernah mendengar keluhannya bahwa isi harian tersebut makin kurang bermutu, namun tetap aja dia berlangganan, kenapa ? Sederhana, karena koleganya banyak, jadi dia perlu selalu melihat iklan obituary ( kalau-2 ada yang dia kenal meninggal dunia ).

    Atau juga misalnya seperti teman saya yang jual beli mobil bekas, dia butuh koran untuk mencari atau menjual koleksi mobilnya.

    jadi kebutuhannya masih ada, namun sudah bergeser bukan lagi sebagai sumber informasi utama buat mereka, namun lebih kepada kebutuhan sebuah akan medium untuk mencapai sebuah tujuan praktis tertentu ( apapun itu ).

    @Yodhia sebenarnya kindle punya fungsi yang berbeda karena dia sejatinya sebagai ebook reader, jadi yang paling terancam adalah industri buku, meskipun tidak menutup kemungkinan ke arah sana.

    Nah buat saya, yang menarik adalah konsep e-paper, dengan media ini para media cetak harusnya giat terlibat untuk berinvestasi, karena bisa jadi ini jadi penyelamat mereka.

    Dengan e-paper yang dilengkapi dengan koneksi inet, maka para pemain media cetak bisa mendeliver konten mereka secara up to date untuk para subcriber mereka. Tapi kayaknya buat Indonesia harus nunggu sampai koneksi inet bener – bener tersebar dimana – mana.

    Eeer tapi pikir – pikir kalo ini terjadi yang paling kasian adalah para loper koran, bisa pada gulung tikar mereka … yikes ><

  16. Okto Silaban says:

    “Dengan dua alasan di atas, saya menyarankan kepada pelaku bisnis cetak untuk membuka pikiran bagaimana mengadaptasi datangnya era Internet ini bagi masa depan, sedini mungkin sebelum terlambat.”

    Ya.. dan mereka tetap tidak mau dengar.. Ahh.., mereka dengar sih.. tapi gegabah mengeksekusinya. Kultur ‘media cetak’ itu sudah mendarah daging.

  17. Joko Susilo says:

    Posting yang menarik. Memang sudah seharusnya para pemilik media cetak mempersiapkan diri mengurus serius media onlinenya. media online yang bagus saat ini masih bisa dihitung dengan jari. kebanyakan media cetak hanya menjadikan media online sebagai pelengkap. padahal, banyak kasus sudah terjadi dengan bertumbangannya media cetak di Amerika.
    Mungkin gejala serupa di sini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. tapi dalam 5-10 tahun lagi ketika jaringan internet ada di seluruh negeri, dan para anak muda yang sejak sekarang sudah terbiasa menikmati online sudah mulai dewasa, pada saat itulah kira-kira media cetak perlu merasa sangat khawatir.

  18. Aldi Armia says:

    Pada dasarnya perkembangan media di Internet didasari oleh tiga hal:

    1. Kemudahan akan Internet Akses dari segi harga dan bandwidth
    2. Semakin terjangkau nya harga komputer
    3. Kepahaman masyarakat akan penggunaan Internet

    Apabila ketiga hal ini terpenuhi, sudah pasti banyak orang akan lebih mencari informasi online ketimbang lewat media cetak – tentunya karena lebih mudah, lebih cepat, lebih komprehensif, lebih murah (harga majalah atau koran akan terus melambung seiring dengan kesadaran dunia dalam penggunaan kertas).

    Setuju dengan pak Nukman, media cetak memang tidak akan mati, tapi sudah dipastikan revenue akan menurun gradually.

    Beberapa catalyst yang akan mempengaruhi laju pertumbuhan pemakaian Internet di Indonesia dimulai dari 2010:

    1. Pertumbuhan ekonomi (Insya Allah akan membaik)
    2. Penurunan harga Broadband services
    3. Penurunan harga komputer dan netbook
    4. Penurunan harga smartphone (blackberry alike)

    Wassalam,
    Aldi

  19. Dengan TRACKRECORD Bapak sebelum terjun di dunia maya dan dengan BACKGROUND selama ini, adalah sebuag analisa yang memang benar benar DAHSYAT, sukses selalu buat Bapak.

  20. asep on blog says:

    artikel yang luar biasa

    saya sangat setuju. di tambah lagi dengan keberhasilan Jaringan Internet Masuk desa melalui Program 100 Hari Depkominfo, maka semakin banyak pengguna internet di negri INDONESIA tercinta ini.

  21. Saya setuju dengan pendapat pak lukman soal “kue iklan koran mulai digerogoti media online” karena apa yg saya alami adalah, blog saya kini sudah diisi dgn beberapa iklan perusahaan.

    Ada sebuah perusahaan siap bikin kontrak iklan untuk satu tahun, dan minta banner di halaman atas. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan mengakui kehadiran personal blog. Yg penting blogger sudah punya NPWP buat dibayarin.

  22. BudiTyas says:

    Klo koran di daerah justru berkembang pesat, nampaknya benar. Koran nasional justru mulai turun ke daerah, bikin koran regional atau membuat koran grade 2 dgn target market menengah ke bawah (biasanya berisi kriminal dan klenik). Mungkin itu cara survivalnya mengingat pasar kota mulai tergerus media online. Dari sisi iklan, koran daerah juga punya kelebihan khusus dibanding internet, diantaranya; sulit diakses oleh pembaca luar daerah. Ini cocok untuk iklan yg berisi promo yg berbeda2 di tiap region. Nampaknya, tiap ada media baru yg lebih widespread, media lama terpaksa balik kampung. Mirip saat televisi menggeser radio. Btw, bukankah TV2 sekarang juga mulai tumbuh per daerah?

  23. BudiTyas says:

    Sbg tambahan lagi, sekarang menjadi tren pemilik brand melakukan trial pemasaran per region. Mulai dari iPhone Telkomsel hingga produk2 Cina melakukan launching/sale promo per daerah secara bertahap dgn jenis promo yg berbeda2 di tiap daerah. Ini membuka pasar iklan yg besar untuk koran daerah, disamping lebih optimal dan minim resiko dalam pelaksanaannya bagi brand owner itu sendiri. Kesimpulannya, klo koran tersingkir ke daerah sementara pengiklan juga ngikut ke daerah, potensi iklan koran daerah tetap cerah.

  24. Bendry Koto says:

    Selamat Pagi Mas Nukman,
    “Dari belanja iklan pada tahun 2009 sebesar Rp 36 triliun (Januari-September), media cetak “hanya” mendapat pangsa pasar sebesar Rp 13,85 triliun atau setara dengan 39 persen, sementara televisi 61 persen”
    Sepanjang yang saya tahu, data AC Nielsen, belanja iklan pada tahun 2005 Rp 28 triliun, billboard mendapatkan pangsa pasar 10% (Rp 2,8 triliun), radio mendapatkan pangsa pasar 10% (Rp 2,8 triliun), media cetak 15% (Rp 4,2 triliun), televisi 75% (Rp 21 triliun). Pendapatan iklan internet tahun 2007 kurang dari Rp 75 millyar, pendapatan detik.com dari iklan internet kira-kira Rp50 milyar.
    Pangsa pasar iklan di Indonesia bukan hanya media cetak dan televisi tetapi juga ada radio, billboard dan internet.
    Asumsi data di atas relatif benar maka pertumbuhan iklan media cetak di Indonesia sangat significant, dari Rp 2,8 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 13,85 triliun pada tahun 2009.
    Pangsa pasar iklan internet di Indonesia masih sangant kecil jika dibandingkan dengan radio atau billboard apalagi dibandingkan dengan media cetak (bukan kelasnya). Lebih dari 66% pangsa pasar iklan internet adalah “kue” milik detik.com.
    Ada anekdot yang saya dengar mengenai Pos Kota, pendapatan Pos Kota dari iklan lebih besar dari pada penjualan koran Pos Kota, dari penjualan koran Pos Kota saja Pos Kota sudah untung, maka keuntungan Pos Kota lebih dari 100% dari harga pokok penjualannya (Cost of Goods sold).
    Saya dengar juga apa bila mau pasang iklan di Kompas untuk satu halaman penuh harus antri menunggu giliran untuk ditanyangkan karena Kompas tidak mau terlalu banyak iklan yang satu halaman, pada hal tarif iklan satu halaman warna di Kompas kira-kira Rp 350.000.000. Mari kita periksa berapa halaman iklan di Kompas baik halaman Klasika maupun halaman regular per hari.
    Apabila kita memperhatikan target audience dari radio, billboard, media cetak, televisi, dan internet memang berbeda-beda. Informasi dua hari yang lalu dari iklanbaris.detik.com menyatakan bahwa page views detik.com sekitar 5,3 juta per hari, mungkin pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 30 juta orang, namun pendekatan bisnis internet dan yang lain tentu dengan pendekatan cost and benefit, sepanjang pendapatan masih lebih besar dari pengeluaran tentu bisnis tersebut akan bertahan.
    Biarkanlah Internet Indonesia berkembang secara alamiah.
    Salam,
    Bendry Koto

  25. Para pemilik media cetah harus siap-siap beralih ke media online ataw memeiliki keuduanya, sehingga jatah pemasukan iklan bisa tetap dan bahkan meninggkat karena ada dua sumber pemasukan iklan dari media cetak dan media online

  26. dr Salma says:

    Analsisi menarik. Memang internet tidak akan membunuh koran, tetapi bahwa nasib koran dan majalah cetak akan seperti nasib kantor pos, tidak diragukan lagi. Lihat analisis pew atas apa yang terjadi di AS:http://pewresearch.org/pubs/1133/decline-print-newspapers-increased-online-news. Di Indonesia hanya beda waktu saja.

    Tetapi masalah terpenting adalah bagaimana melakukan transisi yang tepat bagi media, yang sampai sekarang masih sulit ditemukan jawabannya. Pengiklan cenderung hanya mau membayar murah iklan online, sehingga “bila saatnya tiba” kenaikan pendapatan iklan online tidak akan sebesar laju penurunan iklan cetak. Mengenakan biaya langganan juga tidak mungkin (New York Times pernah melakukannya dan gagal). Beberapa koran AS kini bahkan membuka kotak sumbangan agar dapat bertahan sampai iklan online bisa diapresiasi sebesar offline.

  27. burhans says:

    sekadar menambahkan saja. menurut survei dari Nielsen selama 10 tahun terakhir koran kompas turun sekitar 14-15 persen kalau nggak salah.

    menurut orang sps, penurunan oplah itu kemudian dikompensasi dg naiknya oplah koran daerah seperti tribun timur di makassar milik kompas. kompas juga punya tribun-tribun lainnya.

    adapun tahun lalu di tingkat nasional hanya dua koran yang penjualannya tak turun yakni jawa pos dan koran tempo. mereka malah tumbuh.

  28. Mei says:

    Nambahin burhans, saya perhatiin koran Kompas makin menurun kualitasnya, terutama kertasnya… ampun deh sekarang, setiap selesai baca Kompas harus cuci tangan dengan sabun. Mungkin juga penghematan karena biaya kertas makin mahal? Kompas juga sekarang semakin gencar mengadakan promosi, koran banyak dibagikan gratis, banyak promo-promo menarik, seperti berhadiah majalah… Akhirnya, tergoda dengan promo2 itu, akhirnya saya berlangganan lagi… Hehehe padahal udah saya stop ketika beli Blackberry satu tahun yang lalu. Setelah langganan lagi, memang betul, saya baca koran hanya 15-30 menit, hanya liat iklan dan baca opini kalau sempat. Kalau tidak sempat, dilanjutkan pada malam hari, karena tidak ada urgency untuk news… just sharing…

  29. Mabrur says:

    Mungkin saja belum pak. Tinggal berjalannya waktu, apakah masyarakat sudah beralih perilaku bacanya. Sebagai contoh, di Amerika ada perusahaan harian ternama, akhirnya bangkrut. Walaupun operasionalnya ditanggung sukarela oleh karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Karena selalu merugi, mereka dengan terpaksa membubarkan diri. Bisa jadi perilaku baca masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit beralih ke arah tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan perusahaan koran (yang tidak menyesuaikan perilaku pasar) akan bernasib sama. Terima kasih :)

  30. BudiTyas says:

    Ganti theme,.. 2 komen saya di post ini hilang. Atau sengaja dihilangkan?

  31. erry says:

    internet mematikan media cetak? iklan online akan mengambil kue televisi dan cetak? masih terlalu dini untuk disimpulkan. saya lebih yakin yang mematikan media cetak bukan karena media online dan sejenisnya tetapi lebih disebabkan karena semakin tingginya biaya kertas koran, baik karena faktor alam maupun regulasi misalnya, tiba-tiba tidak ada lagi bahan baku untuk membuatnya. karena dari faktor kenyamanan dan fleksibelitas, koran tetap tidak ada lawan, tidak butuh wifi, koneksitas internet, sumber daya listrik dan bisa dibawa ke wc, alas tidur dan sebagainya. Jadi kesimpulannya koran dan online akan terus hidup berdampingan saling mengisi dan tidak saling mematikan.

    justru yang akan mati terlebih dahulu adalah media televisi. satu kasus misalnya, saat pelantikan obama yang menonton televisi kalau jauh dengan yang mendownload berita obama di internet. lewat internet, orang bisa memilih informasi yang diperlakukan melalui live streaming atapun sejenisnya, tanpa perlu melihat acara yang tidak perlu. kembali ke media cetak, yang diperlukan oleh media cetak saat ini adalah menyajikan berita dengan kualitas yang lebih baik, lebih terpercaya dan memiliki kredibilitas tinggi, yang semuanya itu maaf saja tidak dimiliki media online, apalagi kalau sampai revolusi murdoch yang membatasi akses gratis media-media online saat ini berhasil, dan orang mengakses berita harus bayar. Maka internet hanya akan bermain pada koridor jejaring sosial, gratisan yang membutuhkan energi lain untuk mampu menghidupinya.

  32. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie and Oemoe Moena, indy rahmawati. indy rahmawati said: RT @nukman: membaca koran hanya 34 menit. Internetan? dua jam sehari! http://bit.ly/bMkD7G #haripersnasional [...]

  33. #30. BudiTyas:
    Kami tidak pernah menghapus komentar yang sudah muncul di blog kami.

    Tadi tim IT saya berusaha melacak mengapa ada komentar yang hilang setelah desain baru. Kami khawatir, bukan hanya komentar mas Budi yang hilang, tetapi juga komentator lain.

    Hasil penulusuran menunjukkan, ketika tim kami mengunggah desain baru beserta databasenya, ada beberapa komentar yang tercecer di server lokal dan tidak sempat terunggah.

    Ini hanya masalah proses migrasi saja. Bukan karena kebijakan Virtual Consulting untuk menghapus komentar.

    Kini migrasi sudah sempurna. Komentar mas Budi sudah tampil lagi.

  34. virtue says:

    bener banget mas :) orang mulai beralih ke internet untuk belanja iklan, karena iklannya bisa di hitung. dalam arti pemasang iklan bisa tau berapa banyak yang view dan berapa banyak yang click.. sedang untuk media cetak tidak bisa di hitung..

  35. Gugus says:

    Iya betul, sepertinya koran tidak akan mati, namun bisnis koran jika tidak menyesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang mungkin tidak akan bertahan lama apa lagi kalau terjadi percepatan pembangunan infrastruktur komunikasi internet di indonesia.

  36. Icuk Andaman says:

    Bagaimana kalau strateginya, membuat berita media cetak yang dalam dan “panjang”. Sebuah strategi menyikapi behaviour user di online yang males baca tulisan panjang2?

  37. Alves says:

    Bagaimana ya? semenjak mengenal dunia internet, sy sdah tidak berlangganan koran lg… Karena ada media internet, sy bisa mendapatkan informasi yg saya inginkan dalam waktu yg singkat…

  38. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by nukman: membaca koran hanya 34 menit. Internetan? dua jam sehari! http://bit.ly/bMkD7G #haripersnasional…

  39. Kekuatan media cetak terletak pada wartawan dan reporternya. Hal ini didukung oleh sempitnya cara berpikir advertiser. Padahal kita tahu bahwa media cetak jelas tertinggal dengan media televisi. Namun dengan bertambahnya media baru yakni internet, maka persaingan semakin jelas. Edukasi pendidikan buat anak-anak sekolah mengenai internet, jelas di masa akan datang berdampak pada pemahaman kehebatan media online itu sendiri. Dengan kata lain, ancaman media cetak jelas riil.

    Kembali ke kekuatan media cetak. Bisa Anda bayangkan jika semua wartawan atau reporter terlebih lagi yang sudah punya nama dan pinter menulis memiliki blog pribadinya untuk menghasilkkan karya yang persis sama dengan yang mereka lakukan di media cetak tempat mereka bekerja dan berkarya? Semua pembaca nanti jelas akan menuju ke sana sebagai referensi. Maka di mana lagi greget sebuah media cetak?

    Cepat atau lambat media cetak akan kehilangan gregetnya. Lama-lama tumbang satu persatu. Nafas sebuah media cetak terletak pada iklan yang ada. Dan iklan2 inilah yang dipergunakan untuk menggaji serta membayar wartawan atau reporter.

    Tetap semangat dan salam sukses.

    Wassalam

  40. mfakhrurrazi says:

    sudah kali pak. faktanya sudah banyak yg berguguran. tinggal nunggu waktu aja kok. kecuali kalo yg dimaksud adalah koran online. atau yg dimaksud membunuh, adalah menghilangkan semua koran.

  41. asep says:

    Saya stuju dengan pendapat bapak, walaupun online news sudah merajalela, tapi saya kira media cetak tidak akan gulung tikar, apalagi yang udah top, misalnya saja kompas, walaupun sudah ada versi koran onlinenya tetep saja laku untuk yang versi cetaknya

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting