Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Kok Malah Website Building Daripada Brand Building?

June 15, 2008
Oleh iimfahima

 

…begitu komentar yang ditinggalkan oleh Ivan, salah satu pengunjung blog Virus di postingan saya tentang 10 trik online branding untuk micro, small dan medium business part 2.

Saya sudah menduga, penyataan seperti Ivan akan muncul. Dan memang, bagi yang belum terbiasa dengan konsep online brand building akan melihat tulisan saya ’semata-mata’ website building alias judul sama konten ngga nyambung, atau kalau mau lebih buruk lagi, konten tulisannya eksekusi banget instead of strategis, padahal brand buidling adalah aktifitas yang strategis.

Dalam online brand building, hal paling mendasar yang harus dipersiapkan dengan sesempurna mungkin adalah website. Jika diibaratkan car racing, maka website adalah mobilnya. Bagaimana bisa memenangkan kompetisi, jika mobil tidak disiapkan dengan benar? Bagaimana bisa terus bertahan menjadi pemenang jika engine perfomance tidak ditingkatkan ?

Analogi engine perfomance dalam konteks website building, tidak hanya melibatkan back end engine, yang oleh orang marketing atau komunikasi sering diistilahkan sebagai sesuatu yang ‘teknis banget’. Engine perfomance dalam konteks website building salah satunya adalah peningkatan jenis konten website yang berangkat dari kejelian mengamati perilaku konsumen online.

Memikirkan konsep website, online business strategy nya, membuat tahapan perencanaan pengembangan konten, mengamati perilaku konsumen untuk terus meningkatkan kualitas website, definitely merupakan langkah strategis konseptual, bukan eksekusi.

Situs informasi pariwisata jogja yogyes, adalah salah satu contoh kasus yang online branding menarik.

Berangkat dari situs informasi pariwisata Jogja biasa, Yogyes terus meningkatkan kualitas websitenya dengan menambahkan fasilitas-fasilitas yang meningkatkan website value seperti online booking dan tempat mencari informasi kerajinan jogja.

Pengakuan atas kualitas Yogyes dikeluarkan oleh John Auchard, Professor di the University of Maryland yang ditulis nya di Washington Post . John Auchard yang ketika berkunjung ke Indoesia merasa sangat tertolong oleh informasi website ini, menyebut Yogyes sebagai website pariwisata berbahasa inggris terbaik.

Oleh pengiklan, Yogyes juga diakui sebagai sarana beriklan yang efektif yang testimoninya di tulis di Globe Asia.

Tak hanya itu, untuk keyword jogja, furniture, furniture indonesia, hotel dll di google.co.id, Yogyes menempati peringkat 10 besar.

Dari contoh di atas, bisa dilihat bahwa memang proses online brand building bertumpu pada kualitas website. Website berkualitas, brand building berjalan lancar. Begitu juga sebaliknya.

Kok beda ya sama offline brand building? Ya tentu saja beda, lha wong mediumnya saja lain!

7 Responses to “Kok Malah Website Building Daripada Brand Building?”

  1. Jujur saya sendiri suka pusing kalau habis baca blog ini… mungkin yang lain juga kah?… *take that as a support from your reader… thanks. :)

    “Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”

  2. Agustinus Bill says:

    Dari Milis Creative Circle Indonesia.

    komen…

    di indonesia yg persentase penetrasi online nya belum termasuk tinggi saja, sekarang ini juga kalau saya mau cari info ttg suatu perusahaan, langsung saya cari di internet

    secara tidak sadar saya juga menilai suatu perusahaan dari website nya, kalau saya memang belum tahu sama sekali
    kalau dari website nya saja terkesan ecek2, saya cenderung ragu dengan perusahaan tsb
    istilahnya kesan pertama tidak begitu menggoda
    sebaliknya kalau website nya terlihat profesional, saya cenderung merasa perusahaan tsb lebih ada isinya

    jadi untuk saya sebuah website secara langsung juga bisa mempengaruhi penilaian / persepsi org terhadap apa yg ditampilkannya (brand, perusahaan, produk, berita… dsb)

    thank you

  3. Menarik nih diskusinya.

    Untuk lebih memperjelas dan mempertajam tulisannya, Mbak Iim, saya usulkan untuk membagi dua dulu:
    - Website sebagai sebuah produk atau entity
    - Website sebagai ekstra services bagi sebuah offline brand, menjadi pusat informasi dan entertainment.

    Untuk website sebagai sebuah entity (misal http://www.thetrekkers.com), tugasnya bukan hanya untuk menarik traffic untuk datang dan mengunjungi lebih sering, tetapi juga ada tekanan untuk penciptaan leads yang nantinya harus menjadi sales.

    Sedangkan untuk website yang merupakan ekstra services bagi brand (misalnya website TAM, website Cocacola), bebannya berbeda. Bagaimana agar pengunjung mau berkunjung lagi, berkunjung ke lebih banyak halaman, stay disana lama-lama agar internalisasi pesan-pesan brand bisa merasuk di benak pengunjungnya.

    Mungkin approach ini bisa menengahi issue yang dipertentangkan – yang dibangun websitenya atau brandnya?

    Salam hangat,

    Amalia
    visit my blog: http://www.amaliamaulana.com

  4. Iim-Adhit says:

    Hi Bu Amalia, komentar yang sangat jeli. Thanks.

    Memang pada akhirnya harus dibagi, tapi kok sepertinya ngga cuma 2 kategori tapi 3:

    1. website sebagai produk aka website sebagai brand seperti detik.com dan amazon, dimana pada kasus ini, membangun website yang terencana sehingga bisa melewati siklus online branding adalah sebuah keharusan.

    2. Website sebagai support services bagi brand yang besar di offline.

    3. Website sebagai sumber informasi utama dan (bisa jadi) satu-satunya sumber informasi bagi offline brand yang belum populer dan berencana membangun popularitasnya pertama kali di internet.

    What d u think?

  5. Rahmat H Pulungan says:

    Mba Iim
    Jika dasar dari online brand building adalah web development yang strategic, dari semua sisi (content, design, engine, creative, navigasi, interaktifitas , SEO dll) saya setuju Mba

    Sering di analogikan bahwa penciptaan brand secara online harus di ikuti dgn penciptaan microsite/portal/web, menurut saya memang itu menjadi salah satu point penting .Beberapa microsite komersial dari Brand-Brand besar bahkan ikut dalam tren pengembangan web based on Community Development dgn objective menciptakan sebuah komunitas virtual yang loyal terhadap brand. Mnrt sy Community Development mmg baik dan positif dalam membangun brand tp ada kekurangannya misalnya jika dikaitkan dgn user behaviour yang cenderung mengisi apa adanya dan ala kadarnya, istilah Credit Card Mba..databasenya nggak valid dan tdk porspektif. seringkali juga “Habis masa kampanyenya” sehingga database usernya jadi nggak ke maintanace baik online maupun offline

    Bbrp web komersial pada awalnya eksis bergerilya dgn jalur Oline untuk beriklan dan mempromosikan web melalui channel-channel premium (detik, kompas, yahoo, friendster, dll) dan tidak menggunakan saluran massive seperti TV/Media Cetak mengkin budgetnya jadi membengkak.

    TVC Asuransi pendidikan saya lupa iklan/webnya.(alamatnya muncul tll sebentar).yang skrg lg tayang .. justru menggunakan medium non internet (kebetulan sy juga belum lihat iklan onlinenya di bbrp media online). Positifnya mnrt saya, audience yang belum ngenet.. mugkin akan jadi pasar yang potensial..dibandingkan Netters asli yang punya puluhan account online..

    pertanyaan saya
    secara bsinis labih baik mana Mba?
    mengembangkan Comunity Development yang short term (tergantung budget promosi sesaat) atau yang long term (iklan TV habis tapi Web tetap di maintanance)??

    mana yang lebih strategic secara bsinis dalam online brand buidling . Bergerilya online atau jalan singkat beriklan melalui media massa, lalu ngukur impression nya dalam perkembangan rich media dimana Mba?

    Makasih ya Mba

  6. justduit says:

    Marketing off line is dying. Gak mungkin terjadi. Sampai kapanpun marketing on line tidak akan pernah menggantikan marketing off line. Karena marketing sebenarnya adalah people relationship, bukan website relatioinship. Mungkin untuk mewakili expresi, pelayanan dari hati, pendekatan, persuasi kl di on line dgn letter content yang betul2 bagus baik secara bahasa maupun isi maksud. Website hanyalah sebuah toko secara fisik tergantung target market dan kemana bran toko mau di bawa. Content is the Owner’s mind and heart. Salam GBU M. Ismail

  7. arhan says:

    take action, sambil action sambil meluruskan…

    salam

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
valentmustamin @valentmustamin
Online Tech
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Stephen Langitan: - memang terbukti koq.. kini ATPM sepeda motor di Indonesia, mengakui...

  • hao: - hahahaha, ngak ngaruh tuh omongan orang lain…

  • Ardi Kemara PRadipta: - memang sih kalo kadang melihat realita yang terjadi apa yang dibacarakan...

  • Andy MSE: - asemik… jebul saya ketinggalan hal2 seperti ini… setelah ketemu Cah...

  • Anis Zegeg: - Menurut saya.. koq lebih penting bisa tampil di 10 besar mesin pencari ya...

  • widya: - Blogger dan jurnalis sama ciptaan Tuhan yang mempunyai tanggung jawab masing-masing....