Hari jumat minggu lalu, saya terpaksa berangkat kantor naik taksi karena mobil sedang dipakai suami tennis di Patra. Seperti biasa, setiap pagi para penghuni apartemen harus berlomba mencari taksi karena jumlah taksi yang stand by tak sebanding dengan demand.
Sambil menunggu taksi di lobby, seorang satpam menghampiri saya: ‘Bu Iim mau diantar Gamya ke depan?’ tanya satpam dengan ramah.
‘Maksudnya?’ tanya saya balik karena tidak paham dengan arah pertanyaannya.
‘Gamya sekarang punya mobil khusus yang dipakai untuk mengantar penghuni mencari taksi ke depan, bu.Dari pada ibu nunggu lama di sini kan bisa kelamaan. Kalau di depan kan taksi pasti banyak…’ jelas pak satpam saya.
‘Di depan’ ini maksudnya adalah pintu gerbang apartemen yang berada di dekat jalan raya yang jaraknya lumayan jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki.
‘Wah, boleh tuh. Gratis atau bayar?’ tanya saya lagi.
‘Gratis kok bu. Ini kan service yang diberikan Gamya untuk penghuni apartemen…,’ jawab pak satpam.
Dua menit kemudian, muncullah mobil sejenis kijang yang di depannya tertulis ‘Gamya’. Di dalamnya ada dua orang petugas Gamya dengan pakaian yang rapi, bersih dan berdasi. Satu orang kemudian turun dan menghampiri saya. Dengan sopan petugas itu mengucapkan selamat pagi sambil membukakan pintu dan menyilahkan saya masuk.
Selama mobil berjalan, petugas tadi menjelaskan bahwa ini merupakan layanan baru Gamya untuk membantu penghuni apartemen yang kesulitan mendapatkan taksi di lobby.
Tak berapa lama kemudian, kami menemukan taksi. Petugas tadi dengan sigap membukakan pintu keluar untuk saya dan menemani saya berjalan hingga ke taksi yang sudah menunggu. Again, ia membukakan pintu dan menyilahkan saya duduk sambil tidak lupa mengucapkan ’selamat pagi, hati hati di jalan, bu…’.
*****
Weekend, saya dan suami berencana makan malam di Fish & Co EX Plaza Indonesia. Sampai di sana, tak ada satu pun tempat duduk yang tersisa. Karena penasaran dengan menu ‘ikan isi keju meleleh’ yang kata suami luar biasa enak itu, kami kemudian memutuskan untuk antri.
Jika biasanya antri di restoran terkenal harus berdiri/duduk di kursi yang disediakan pihak restoran sambil menunggu panggilan selama belasan sampai puluhan menit dan kalau ditinggal sebentar atau kita tak mendengar panggilan maka meja akan diambil orang lain, kali ini berbeda.
Pelayan Fish & Co meminta kami meningggalkan nama serta no hp dan mempersilahkan kami jalan jalan dari pada berdiri menunggu. Kami juga tak perlu takut kehilangan meja karena begitu meja kosong kami akan langsung ditelepon.
Dan benar…15 menit kemudian Fish & Co menelpon kami mengabarkan kursi telah tersedia.
****
Selama ini, kita mengenal istilah non traditional marketing communication sebagai komunikasi marketing yang melibatkan medium medium berteknologi tinggi. Padahal non traditional marketing communication juga bisa diartikan lebih luas sebagai marketing komunikasi yang menggunakan cara cara yang tidak biasa.
Diantara kepungan ratusan brand yang setiap hari mencoba mencuri perhatian konsumen, dua brand di atas dengan cerdik berkomunikasi dengan cara yang non traditional yang low tech namun high impact.
Hasilnya, mereka tak sekedar berhasil mencuri perhatian saya, tapi mencuri hati saya.
Taksi datang tepat waktu dan supir yang ramah, adalah layanan yang standart. Begitu juga dengan mempersilahkan konsumen menunggu dengan menyediakan tempat duduk yang pantas. Gamya dan Fish & Co berhasil membawa komunikasi beberapa tingkat lebih maju dibanding brand sejenis.
Selamat datang di dunia non traditional marketing communication, dunia dimana setiap cara berkomunikasi dituntut menjadi lebih baru dan lebih baik dari apa yang sudah pernah ada…
menarik sekali tulisan mba Iim.. ternyata persepsi saya tentang Non Traditional Marketing selama ini ’salah’.
Tapi… bukannya upaya2 gitu juga dilakukan para Public Relation ?? wlaupun bukan untuk tujuan marketing dalam jangka pendek.
Non Traditional bisa disebut sebagai konsep berpikirnya, mas. Tools nya beragam, bisa PR, event, internet atau apa pun
menjadi baru tidak selalu pake hal yang baru, harus kreatif ya intinya,
buka mata, dan berpikir
idenya sederhana tapi memberi pengalaman yang “beda”, sangking terkesanya, Mbak Iim sampai nulis di blog segala,..:)
Itulah yang disebut dengan kekuatan ide…
pengalaman yang menarik sekaligus bisa memberikan inspirasi. btw, sewaktu diantar “gamya” ke depan tadi. kemudian waktu di depan itu naik apa ya?taksi gamya atau bukan? kalo taksi gamya juga, kenapa nggak sekalian tunggu di dalam aja ya? kan pastinya supir2 taksi gamya tersebut tau kapan waktu2 ramenya.
Di apartemen, ada beberapa merek taksi yang stand by khusus melayani penghuni. Salah satunya adalah Gamya. Namun seperti yang saya tulis, pagi itu semua taksi habis, jadi saya musti menunggu. Biasanya jika taksi tidak tersedia, penghuni ya menunggu aja di lobby sampai taksi datang, tidak ada effort dari pemilik brand taksi untuk memfasilitasi penghuni.
Kebetulan taksi yang saya ketemu di depan apartemen bukan Gamya.
trims mbak, tulisan pengalamannya sungguh memberi inspirasi
Mbak Iim, yang dimaksud ntm itu mungkin di luar kebiasaan kebanyakan pemasaran.
Menarik tuh untuk didiskusikan. Oh iya, kalau tulisan Mbak Iim ini dipublikasikan di media cetak dan dibukukan, mungkin bisa bersaing dengan Hermawan Kertajaya. Ayoo… coba dong supaya jangan jadi tradisonal lagi…
Afoez,
Terimakasih dukungannya. Semuanya sedang dalam proses persiapan, doakan saja
halo Mbak Iim..
tulisannya menarik sekali,pengalaman yang patut di share..
namun ada yang ingin saya tanyakan, apakah aktifitas Fish & Co diatas dapat dikategorikan sebagai marketing communication?aktifitas Fish & Co, bukankah termasuk kedalam Customer satisfaction?karena tentunya orang yang datang ke restoran mereka dan menunggu sudah menjadi customer potensial bukan?
mohon pencerahannya ya….
terima kasih…
Mbak Iim, yang ini bagus lho untuk jadi salah satu ide. Belum banyak yang mengangkat hal ini dengan khusus. Meski sudah banyak disinggung. Karena ini sebenarnya kan termasuk dalam peningkatan pelayanan terhadap konsumen atau disebut juga marketing yg berfokus pada (kebutuhan) konsumen (saya jadi agak lupa istilahnya ;P). Oke saya tunggu kabar selanjutnya. Salam.
Dear Mas Ogi,
Secara garis besar, semua bentuk komunikasi brand/perusahaan ke publik bisa dikategorikan marketing communication.
Marketing communication sangat luas, tidak hanya berbentuk iklan, namun juga PR, Event, CSR, Customer Services, Packaging, distribusi dll.
Program customer satisfaction juga bentuk komunikasi kepada publik kan?
Mba Meiana, terimakasih atas supportnya.
Pembicaraan kita via YM nanti kita follow up lagi ya.
Istilah marketing yang mba maksud adalah ‘customer satisfaction’
salam kenal mbak iim,
memang di jaman sekarang yang makin sulit saja semuanya harus berlomba2x meningkatkan service mereka .. kompetisi menambah kreativitas si marketer.
Banyak sekali cara2x non traditional marketing yang kita bisa implementasi di Indonesia
Mardi
http;//www.duniakarir.com
cool…!
) menginvestasikan dana yang mungkin tidak sedikit, Bensin mobil yang dikeluarkan untuk bolak-balik appartement ke jalan raya, dan pulsa hp yang menelpon puluhan bahkan ratusan konsumen setiap harinya, namun mereka telah mencuri hati konsumen, yang tidak bisa dilakukan hanya dengan common ad’s yang ber-budget ratusan juta. dan akhirnya menjadi WOM, seperti ini contohnya, jadi penasaran juga nih pingin nyoba Fish & Co & taksi Gamya nih hehe..
inilah langkah kecil yang tidak terpikirkan marketer yang terkadang terlalu “ketinggian” mikirnya, kedua perusaan tersebut Gamya dan Fish & Co (saya sebutkan namanya karena saya salut kepada mereka
thank’s for the inspirational blog
Wahh…mbak iim sering2 yah kirim tulisan yang Inspire begini, kadang jika kita sudah terlalu banyak melihat dan membaca konsep dan Teori marketing kita jadi agak buta dan ‘mentok’ sehingga hal sederhana seperti ini jadi tak terlintas, Thanks mba, Bravo…Maju terus bersama coretannya yang ‘menginspirasi’.
Menurut saya praktik ini masih termasuk traditional marketing communication: yang penting bukanlah apa yang kita katakan, tapi apa yang kita lakukan. Daripada Gamya bikin slogan: “Pelanggan adalah prioritas utama kami”, tindakan menyediakan jasa angkutan dan orang yang membantu mencarikan taksi itu menyampaikan pesan yang sama dengan jauh lebih efektif.
Sebelum zaman radio dan TV, komunikasi pemasaran yang ada itu ya berbentuk tindakan seperti di atas. Bukan hanya itu, entrepreneur seperti P.T. Barnum (1810-1891) sudah melaksanakan berbagai praktik komunikasi pemasaran yang berbasiskan hype. Atau bahkan hoax yang menghibur. Jadi word-of-mouth atau viral marketing itu sebenarnya masuk sebagai praktik komunikasi pemasaran tradisional.
Dengan kata lain, ketergantungan kepada media massa dan periklanan berbiaya besar itu merupakan praktik modern. Atau nontradisional. Justru kita harus kembali ke [komunikasi] pemasaran tradisional–>yang kembali berfokus kepada orang (bukan media).
Media hanya alat bantu.
Namun itu pendapat saya. Bisa saja salah.
INSPIRING!
saya baru tahu tentang blog ini dari blognya pak Nukman. Inspiring inded!
Kadang, kita terlalu berpikir terlalu rumit untuk sesuatu yang sederhana..
Padahal, sesuatu yang sederhana, meski kecil, asal dilakukan dengan sepenuh hati, hasilnya adalah kecintaan. Kecintaan konsumen kepada brand yang melayani mereka dengan hati..
Selamat Tahun Baru Mbak Iim…
lam kenal buat mbak iim. saya terkesan sekali dengan tulisan-tulisan mbak iim. keren dan inovatif.. gak pernah terbayang ternyata hal – hal kecil pun bisa jadi bagian marketing communication
Asik juga kalo kita bisa melihat dari banyak view. Thanks udah banyak share ilmunya Mbak.
Cool!
punten…
simple tapi berbobot,dan saya kira pelayanan seperti itu hanya ada di hotel2.Tapi ternyata restoran pun…
saya pun setuju dengan customer satisfaction.Karena sebuah bisnis ataupun usaha ga bisa maju kalo ga ada konsumen.Trims Mba’, salam
[...] komunikasi non traditional yang lain bisa dilihat di tulisan ini, ini, ini, dan [...]
Pengalaman yang dapat dikatakan sepele akan tetapi sangat luar biasa kita dapat mengemukakan hal tersebut dan dapat dikaji secara teoritik Ilmu Komunikasi. Kebanyakan orang sudah biasa menemukan kejadian seperti itu ya, berlalu begitu saja. Coba ketemu orang komunikasi ya mungkin kaya kejadian Mba Iim yang menceritakan kemudian menjadi hal dan solusi baru bagi dunia perkembangan Ilmu komunikasi.
Saya sepakat dengan memakai bahasa meninggalkan komunikasi tradisional karena di situ ada marketing dan ada PR, dalam arti disini menciptakan pencitraan yang lebih baik terhadap corporate yang kita punya.
Teknologi disini adalah memakai sebuah teknologi komunikasi dengan cara menelpon customer untuk tidak menunggu sambil berbete ria. Jadi apakah demikian teori yang dimaksud?dan termasuk dalam teori siapa ya?kalau saya boleh berbagi saya ada tugas kuliah mau menyelesaikan tesis tapi aku belum punya judul dan proposal tesisnya bagusnya apa ya rekan2 semua?
Siang Mba,
Baru baca nih thread yg cukup menarik, yg menjadi pertanyaan saya adalah, apakah measurement yg digunakan untuk menyebut suatu komunikasi itu tradisional ato non tradisional ?? misalnya website, saat ini hampir semua orang kenal dan menggunakan yg namanya internet, beda dengan tahun 1997. maksud saya mungkin saat itu komunikasi online menajdi non trad , tapi bbrp tahun kedepan komnukasi online mungkin sudah menjadi trad comm. gimana menurut mba Iim ??