Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Non Traditional Medium versi Bond & Kirshenbaum

March 29, 2007
Oleh Iim Fahima Jachja

 

Komunikasi non traditional itu apa sih? Kok word of mouth masuk komunikasi non traditional, bukankah itu sudah ada sejak dulu yang dikenal dengan istilah getok tular?

Begitu kira-kira pertanyaan mas Wirastomo dan mas Andi Santoso di postingan saya terakhir tentang komunikasi non traditional ala Dagadu.

Istilah traditional dan non traditional media, salah satunya dibahas di buku Under the radar, Talking to todays cynical Customers yang ditulis oleh Jonathan Bond dan Richard Kirshenbaum. Bond adalah orang yang berada di balik kesuksesan komunikasi Snapple, Citibank dan lain lain yang kini merupakan board member termuda dari American Assosiation of Advertising Agencies. Kirshenbaum adalah creative entrepreneurs yang sudah memenangkan sejumlah penghargaan periklanan seperti Clio, One Show dan EFFIE Awards.

Di buku itu dijelakan bagaimana konsumen dari hari ke hari semakin sinis terhadap iklan dan mulai resisten dengan segala pesan yang sifatnya iklan/jualan banget. Dan hal ini bukan hanya terjadi di Amerika melainkan sebuah gejala global yang terjadi di mana saja, karena pada dasarnya konsumen memang menolak dengan segala sesuatu yang sifatnya membujuk secara frontal.

Media-media yang selama ini sering dipakai untuk beriklan seperti majalah, radio, koran, TV dan outdoor advertising dikategorikan adalam Low Integrity Traditional Media karena media-media ini sudah begitu sering dijadikan media beriklan sehingga radar penolakan konsumen pun semakin tinggi. Hal ini juga bisa diartikan tingkat kepercayaanya rendah.

Sementara Word of Mouth, PR, Product Placement, Guerilla Media dan Internet dikategorikan dalam High Integrity Non Traditional Medium karena sifat mediumnya yang lebih kredible dan cenderung lebih dipercaya konsumen. Misalnya, kita lebih percaya omongan teman dalam memilih sebuah merek (word of mouth), kita lebih percaya tulisan netral dari sebuah media (PR), kita lebih percaya statement seseorang di milis (internet).

4 Responses to “Non Traditional Medium versi Bond & Kirshenbaum”

  1. Andy Santoso says:

    Thanks sudah memperhatikan pembaca setia :) penjelasanya bagus, lalu apakah ada kemungkinan media non traditional seperti internet ini akan mengalami hal yang sama seperti media traditional yaitu menjadi “Low Integrity” jika Indonesia internetnya sudah sangat bagus? atau malah hal ini sudah terjadi di negara2 yang sudah maju? kalo iya lalu media apa lagi yang efektif?

    Kalo hal itu terjadi dalam waktu cepat, bisa2 saya pusing jualan online advertising deh… hahaha…

    *oh iya maaf Andy-nya pake Y… :)

    Best regards.

  2. lqchss says:

    Balik lagi ke jaman saya kecil (th 90 ke bawah)di daerah dong, waktu itu acara bioskop disebarkan secara pribadi (selebarannya) door to door ataupun pakai “war war” yaitu mobil dengan amplifier/speaker yg berkeliling ke kampung kampung dan berteriak teriak acara bioskop (mobilnya has, ada spanduk acara bioskop)…………..Tapi sekarang bioskop sudah nga ada, theater 21 juga nga melakukan promosi seperti itu……..dan teater 21 di daerah saya juga udah tutup tuh 3 bulan lalu…….Memang dulu sih iklan seperti itu bisa dikatakan sangat efektif, tapi dengan hilangnya bioskop hilang juga tuh iklan model begitu, yg ada sekarang yg teriak teriak di mobil paling tukang obat (tapi itu juga udah sangat berkurang jika dibandingkan saya kecil di daerah saya saat ini (sukabumi))…………

  3. Iim-Adhit says:

    Mas Andy (pakai Y =) maaf ya baru respond sekarang. ‘Bed rest mode’was on.

    Segala hal yang non traditional, suatu saat akan menjadi traditional seiring berjalannya waktu. Begitu juga soal high integrity dan low integrity.

    Menurut saya, ujung-ujungnya yang membuat sesuatu menjadi low atau high integrity adalah etika dari pengiklan itu sendiri.

    Internet secara medium dianggap sebagai high integrity, tapi jika pesan yang disebar mengganggu ala spam di email atau milis, akhirnya jadi low integrity juga.

    Hanya saja, keunggulan internet adalah adanya interaksi 2 arah. Konsumen bisa menolak spam.Sementara di media yang satu arah, ‘iklan spam’ tidak bisa ditolak karena memang sifatnya yang monolog, bukan dialog.

    Jangan pusing mas, masa depan online Indonesia Insya Allah masih panjang dan akan terus berkembang.

  4. zain says:

    gejala alam akan berulang seperti halnya mode yang terus berputar dan banyak berulang jadi kemungkinan online akan mengalami masa titik jenuh sekitar tahun 2010 dan diganti dengan media baru atau berulang lagi. tapi media online masih cukup cerah. thank

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting