Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Apa Kata Teman di Media Sosial Lebih Penting Ketimbang Iklan

March 5, 2010
Oleh Nukman Luthfie

 

Saya bukanlah penggila film dan menonton bioskop. Bahkan, tergolong amat jarang menonton film di layar lebar. Namun lalu lintas pembicaraan yang amat kencang tentang 3Idiots berkali-kali menerjang mata saya setiap kali membuka  Twitter baik di laptop maupun smartphone. Entah mengapa, teman-teman di Twitter heboh membicarakan film India itu dengan kalimat-kalimat provokatif: lucu, mengharukan, bikin ketawa ngakak, sekaligus bisa menguras air mata. Saya tidak pernah tertarik menonton film India, tidak pernah melihat iklan film tersebut di mana pun, tiba-tiba terpengaruh. Meski terlambat, saya akhirnya menyempatkan diri menonton!

Apa yang terjadi? Begitu usai menonton, saya sama sekali tidak kecewa dengan “hasutan” teman-teman di Twitter. Saya mendapat pengalaman emosional yang hampir sama dengan mereka. Bahkan, mungkin lebih antusias dari mereka. Seusai nonton, saya tanpa malu-malu menulis status di Twitter, Facebook, Plurk dan Koprol beberapa kali, antara lain seperti ini : ” Meski terbahak-bahak menonton 3Idiots, saya juga beberapa kali menangis.”

Apa yang kemudian terjadi? Mereka yang belum menonton 3Idiots dan melihat status saya tersebut kemudian terpengaruh untuk menonton. Bahkan mereka yang tinggal di kota yang tidak mendapat distribusi film tersebut sampai mengeluh, betapa malang nasib mereka tidak bisa menonton di kotanya. Dan, seterusnya, pesan itu menviral ke pengguna social media lain.

Perhatikan, saya sama sekali tidak melihat iklan film tersebut sama sekali. Kalau pun melihat iklannya, saya tidak akan terpengaruh karena saya bukan penggila film, apalagi yang India. Yang mempengaruhi saya untuk “membeli” adalah celoteh teman-teman di semua jaringan media sosial yang saya ikuti. Heran dengan pengalaman ini, saya mencoba bertanya dan riset ke teman-teman lain. Yak, hasilnya sama: mereka terpengaruh apa kata teman-temannya di jejaring sosial.

Tidak mengejutkan jika kita melihat hasil riset AC Nielsen Reseach, April 2009, rekomendasi orang yang kita kenal (teman atau saudara), sebagaimana biasa, masih menduduki posisi pertama. Namun, opini konsumen di dunia maya menduduki posisi kedua yang paling menentukan konsumen untuk membeli. Posisi ketiga dan selanjutnya baru diisi oleh berbagai jenis iklan.

Film barangkali salah satu contoh ekstrim karena sifat produknya yang menyentuh emosi. Namun hasil riset tersebut menunjukkan, kategori produk lainnya pun mendudukkan perbincangan konsumen di dunia maya, berpengaruh lebih besar ketimbang iklan.

Nukman Luthfie @ Twitter

26 Responses to “Apa Kata Teman di Media Sosial Lebih Penting Ketimbang Iklan”

  1. didut says:

    memang benar benar social media sudah menjadi pengganti media mulut dengan ketikan jari di keyboard atau di HP :)

  2. tedi says:

    hm.. menarik. kemaren tertarik nonton avatar juga karena koar2 temen di twitter :D

  3. lianacihuyy says:

    haha , iyah bnr bgt , kmrn ntn paranormal activity karna tau n liat dr update status fb temen temen

  4. St.Aboe says:

    Sejujurnya sy nonton 3Idiots setelah baca status anda di tweeter hehe. Bisa jadi opini konsumen di dunia maya suatu saat menduduki posisi pertama, menurut anda?

  5. waraney says:

    Kekuatan word of mouth 3 Idiots di Twitter (dan social media sites lainnya) memang mantap. Saya juga ketularan nonton gara2 baca di Twitter. Dengar2, 3 Idiots pertama diputar di Blitz akhir tahun lalu (Dec? Nov?), dan gara2 ‘hasutan’ penonton yang puas, jadi terus-menerus diputar.

    Lucunya, menurut teman saya yang orang India, banyak joke-joke di 3 Idiots sebenarnya ’sangat India’. Artinya, mungkin nggak gampang dimengerti mereka yg bukan orang India atau jarang nonton film India.

    Eh, ternyata nggak ngaruh dong. Tetep aja laku dan disukai penonton! :)

  6. galeshka says:

    Pengaruhnya bisa dua arah sih kalo menurut saya, dan itu yang harus diperhatikan oleh produsen. Jujur aja ada beberapa filem yang tadinya saya ingin tonton, karena baca respon terhadap filem tersebut di twitter maupun plurk, malah jadi males. Dan setelah nonton di dvd, ya saya tidak menyesal, melewatkan filem-filem tersebut …

  7. Di ranah Social Media, Brand tidak memiliki kemampuan mengontrol message untuk kepentingan dirinya , yang merek bisa lakukan saat ini adalah Marketing Through Influencer :)

  8. ogahrugi says:

    hahaha..betul..betul..hampir sama seperti diskon..karena hasutan teman2 di social media barang yg diperlukan akhirnya terbeli dengan sukses dan mudahnya :(

  9. Getok tular yang difasilitasi oleh teknologi pada jaman sekarang membuat penyebaran tentang sesuatu menjadi lebih cepat. Semua brand harus lebih berhati-hati dalam bertindak tanduk, bagaimanapun bad news mempunyai potensi untuk lebih cepat terdengar di telinga.

  10. Aulia says:

    seperti akhir weekend siap2 untuk nonton nih, film sudah ada tinggal play aja :)

  11. Itulah mengapa ada ras baru yang disebut people savvy . mereka cerdas karena Info yang didapat sangat berlimpah plus bebas dipilih tampak interruption / paksaan dari iklan

  12. Opini pribadi pak Nukman yang mewakili suara banyak orang, ditunjang oleh data Nielsen. Great…

  13. Eriek says:

    melihat hasil riset AC Nielsen Reseach, April 2009, itu hampir satu tahun lalu. yang terbaru (tahun 2010) ini ada gak ya om? siapa tahu kecenderungannya berbeda :)

  14. dengan media sosial, tipping point mungkin memang lebih cepat diraih. Namun mungkin cepat layu juga.

    tipping point melalaui jalur tradisional (via mulut) mungkin life cycle-nya lebih panjang, lebih durable, dibanding jika melalui media sosial online.

  15. BudiTyas says:

    Klo gitu, mending pangkas anggaran pemasaran utk meningkatkan kualitas produk dong pak. Dgn harga jual sama, prod bisa lebih bagus, potensi viral konsumen yg puas lebih besar.

  16. Andy MSE says:

    asemik… jebul saya ketinggalan hal2 seperti ini…
    setelah ketemu Cah Gembagus ini di Amprokan Blogger, barulah saya sadar soal sosial media…
    suwun atas pencerahannya!

  17. memang sih kalo kadang melihat realita yang terjadi apa yang dibacarakan oleh bapak adalah sesuatu yang benar, tapi pak kadang saya juga berpikir apakah riset dari nilsen dan opini dari bapak bisa saja salah.

    kemarin riset yang kami lakukan mengenai pengaruh terkuat dari pembelian produk kami, hasilnya sangat mengagetkan,bukan dari rekomendasu orang, tapi dari kekuatan SPG/SPM kami. Dan hasil tersebut semakin membuat saya pusing pak hehehhe

  18. hao says:

    hahahaha, ngak ngaruh tuh omongan orang lain…

  19. endar says:

    betul sekali mas. jika kita akan membeli barang/jasa masukan dari konsumen lebih kita dengar atau perhatikan daripada ndobosannya si produsen yang menawarkan barang melalui iklan.

  20. dody says:

    semua balik lagi kpd interest orang itu apa suka atau tidak dengan film itu, malah pengaruh itu biasanya hanya penasaran aja, mungkin baru setengah jalan banyak orang bilang,.. ah biasa aja..,biar di tweet ama fb bilang film ini bagus tapi kl nggak suka dengan filmnya ya nggak akan di tonton krn filmnya tapi karena curious aja

  21. memang terbukti koq.. kini ATPM sepeda motor di Indonesia, mengakui pentingnya tulisan/artikel dari kalangan blogger.

  22. DeNi says:

    betul sekali bos.. hidup social media dan media sosial :)

  23. alfaroby says:

    saya sangat setuju pak, memang benar bahwa iklan yang paling baik adalah face to face, yang dalam hal ini bisa juga diartikan langsung dari people, baik itu saudara maupun teman

  24. asri wulandari says:

    hmm hmmm yang terbaru yang cukup bikin heboh di timeline twitter saya adalah “holycowsteak”.. patut dibahas juga. karena menurut saya resto steak pinggir jalan di radio dalam ini berani sekali melaksanakan viral marketing dan tamoaknya belum siap memperhitungkan impact social media terhadap kapasitas resto itu sendiri sehingga akhirnya mereka juga kewalahan dengan banjir pelanggan

  25. Setuju Pak, tapi menurut saya itu hanya untuk moment yang sesaat, bisa book melalui twitter atau facebook. Untuk produk agar survive, saya kira juga perlu melakukan iklan.

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting