Hampir semua bakal calon presiden dan partai politik Indonesia terinspirasi oleh keberhasilan Barrack Obama memanfaatkan Internet sebagai wahana untuk menggalang dukungan warga Amerika Serikat untuk menjadikannya sebagai calon presiden dari Demokrat, mengalahkan Hillary Clinton. Maka saya tidak heran jika para bakal capres kini mulai memanfaatkan Internet, terutama yang muda-muda seperti Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman dan Soetrisno Bachir.
Langkah Obama dan tim kampanyenya menggunakan Internet memang luar biasa. Melalui jaringan maya itulah Obama menyebarluaskan kampanyenya dan berkomunikasi dengan warga AS. Dengan jaringan Internet itu pula mereka merekrut partisipan dan pendukung baru. Melalui situs resmi Obama, mereka menggalang dana dalam jumlah banyak — meski recehan — mengalahkan dana yang diraih oleh Hillary, pesaingnya dari sesama Demokrat dan McCain, rivalnya di Republik. Bahkan melalui berbagai jaringan sosial, terutama Facebook, Obama membangun komunitas pendukung Obama — yang pecintanya ternyata bukan hanya warga AS tetapi juga seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kesuksesan inilah yang menggerakkan banyak bakal capres Indonesia untuk masuk ke dunia maya. Sayangnya, mereka kebanyakan menjiplak apa yang dilakukan Obama. Misalnya saja, mereka membuka account di Facebook kemudian mengundang sebanyak mungkin warga Indonesia yang ada di jaringan sosial yang lagi ngetop di kalangan profesional Indonesia ini untuk menjadi temanya (add as friend). Mereka juga akan menjiplak situs resmi Obama, dengan segala fitur yang ada di sana.
Apakah jurus menjiplak langkah Obama itu tepat bagi para bakal capres kita?
Saya yakin, TIDAK.
Kenapa?
Pertama, online user behavior pengguna Internet di Indonesia sudah jelas beda dengan warga Amerika Serikat. User behavior yang berbeda harus didekati dengan strategi yang berbeda pula.
Kedua, kampanye online membutuhkan tim manajemen online yang tidak kalah jagonya dibanding tim manajemen kampanye konvensional. Sejauh yang saya amati saat ini, tim kampanye online dirangkap oleh tim manajemen kampanye konvensional.
Ketiga, Internet bukanlah teknologi. Internet adalah media komunikasi. Jadi bukan sekadar kecanggihan fiturnya yang diperlukan. Lebih dari itu, kehebatan komunikasilah yang menjadi dasar utamanya. Sayangnya, para bakal capres tersebut, sejauh ini, sekadar hadir (eksis) dan bicara di Internet secara satu arah dan sedikit dua arah. Mereka tidak membangun komunikasi dua arah, tiga arah, empat arah, dan seterusnya — yang biasa disebut sebagai many to many.
Saya masih punya banyak alasan lain. Namun tiga hal itu saja sudah cukup untuk mengingatkan para bakal capres untuk tidak menjiplak mentah-mentah jurus Obama karena itu hanya membuang-buang waktu dan biaya. Perlu strategi khusus untuk memanfaatkan Internet sebagai wahana kunci dari kampanye terpadu seorang bakal capres Indonesia agar bisa menuai hasil yang optimal.
Tulisan terkait:
Personal Branding Barack Obama via Web 2.0
Saya memiliki beberapa teman di facebook yang mau mencalonkan diri sebagai Presiden lo pak.
* pamer *
—-
Gerakan kumpul 1000 Buku
http://1000buku.dagdigdug.com
Setuju sekali Om. Obama punya pesan dan karisma, yang rupanya sangat kompatibel jika dikomunikasikan melalui Internet. Andaikata kandidat kita bermain Internet hanya demi ikut-ikutan, ya nanti hasilnya cuma pepesan kosong.
Kalo seandainya Pak Nukman yang mencalonkan jadi capres, akan ngapain aja di ranah online, Pak?
Online itu cuma tools, tapi kalau toolsnya tidak dimengerti sepenuhnya justru pemanfaatannya akan percuma bahkan cenderung mubazir.
Tapi ya… mau gimana lagi, apa sih yang orisinal hasil karya Indonesia saat ini? Ada sih beberapa, tapi sepertinya tidak ada di ranah politik. Maaf deh…
Nunggu situs capres Indonesia yang bawahnya ada tulisan dan logo : powered by VC
Ketika politisi kita terpikat online campaign Barrack Obama.
Sebuah postingan lama http://www.virus-communications.com/blog/?p=156
Barusan ada capres yang nge-add saya di FB..
Beliau sendiri apa asistennya
Betul Pak Nukman, behaviour usernya beda. Apa dibikin kontes SEO saja. Yang nomer satu di Google untuk keyword tertentu jadi Presiden?
saya juga mau nyalon kalau om nukman jadi manajer kampanye online-nya. tapi nyalon sinden, hahaha ….
tanya dong…dari ketiga kandidat yan pak nukman sebutkan, yang mana yg paling oke komunikasi lewat media internetnya???
Saya juga sudah menangkap strategi para Capres Indonesia sebagian banyak merujuk atas keberhasilan obama dalam membangun dukungan. Lucunya gak hanya strateginya aja tp bahkan penampilan dan cara berbicarapun dimirip2in… ini mirip dengan fenomena keberhasilan artis demmi more yang banyak dari para kaum hawa pada ngikut2 potongan rambut pendeknya walaupaun gak cocok. Terlepas itu semua kalo menurut saya, meniru stretegi yang sudah berhasil kenapa tidak, sah2 saja. Tapi yang penting bagaimana kapasitas capres yg berupa pengalaman, integritas, dedikasi, kepemimimpinan yang adil dan bisa diterima di semua golongan itu yang akan menjadi modal memimpin di negeri ini.
Setuju..Pak,
kalo situs capres tsb diajak tukeran link mau ndak ya? *kabooor*
wah…internet kebanjiran kampanye presiden juga yah
namanya juga atm
kalo emang menghasilkan…langsung tiru
siapa tauk memang bisa toh diapply di sini..
sepertinya butuh konsultan seperti Pak Nukman Luthfie
bukan yg web based aja, bahkan td liat berita beberapa caleg saking tidak “kreatif” melakukan sms spamming ke kader2 mereka, biar lebih hemat dan cepat. alasan caleg ini, quote “.. krn semua warga rata2 telah memiliki hp, toh pasti dibaca” . pendekatan yang aneh.
hmm.. ada capres yang mempublish blog nya ngga y?
Nambahin yah pak Nukman…
Ke Empat, yang paling penting bukan cuman bagaimana “marketing”/”PR”-nya, tapi kualitas dari calon pemimpin itu sendiri.
Obama berhasil bukan karena hanya strategy online marketingnya, tetapi karena “kualitas” personalnya. Saya cukup yakin, seandainya obama tidak melakukan online marketing sekalipun, dia masih unggul.
Apalagi untuk negara kita yang saya rasa kita sudah cukup “bosan” melihat aparat pemimpin/pengatur negara yang kurang “beres”.
Setuju dengan pak Nukman & Boy, kalau mau “mencoba” melakukan online marketing, lakukan dengan baik dan benar, jangan hanya sekedar exist, saya juga baru kemarin berpesan hal yang sama ke beberapa brand local besar yang mempunyai rencana melakukan online marketing di FB.
Jika hanya sekedar mencoba, lebih baik tunda dan persiapkan dengan lebih baik terlebih dahulu, jika nekat “main2″ nanti disaat “serius”pun hanya dianggap “main2″ oleh audience. Dan online marketing itu tidaklah simple, tetapi sangat komplek.
Thanks.
“Andy OrangeMood is Online Marketing & Business Consultant”
Itulah orang Indonesia selalu kurang PeDe atau sering ke PeDean! Maaf ya saya bukan menganggap remeh terhadap orang Indonesia. Faktanya, orang Indonesia tidak ada rasa percaya diri! Selalu ikut-ikutan! Yang ada saat ini di orang Indonesia adalah arogan atau minder yang berlebihan.
Semoga di kemudian hari orang Indonesia lebih memiliki percaya diri yang sehat!
ambil positifnya aja bang nukman, itu artinya makin banyak /luas aja calon konsumen virtual (compeni pak nukman) dong…..
Capres Indonesia perlu nge-Blog & nge-Plurk dulu (minim 1 tahun), lalu perlu ujian untuk mendapatkan sertifikasi dr Virtual Consulting. Nah .. baru bisa pakainya
Pakai internet boleh lah, cuman peranannya kecil lah.
Lisa (vlisa.com) kemari (8/9) juga menulis di KOMPAS dengan topik yang sama. Janjian atau sekedar kebetulan?
Btw, ini potensi pasar yang bagus buat Virtual…..untuk menjadi online strategist bagi para capres 2009.
pake internet ,… ?
duhhhh kayaknya masih jauh buat ukuran indonesia,…
apalagi kalo pake web2.0, pasti para capres gak bakalan berani komunikasi 2 arah, yang ada adalah komunikasi 1 arah, cuman visi misi yang sangat sangat NORMATIF alias tipu tipu,…jika ada yang mengkritik atau mengungkapkan ssuatu yang merugikan capres, langsung deh di MODERASI, alias tidak ditampilkan
jadi inget ketika pemilu 2004, PAN juga ga laku ketika memposisikan sebagai partai yang berisi orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mereka tidak menggarap dengan baik para pemilih tradisional,…
menurut saya, para capres indonesia ga perlu pake internet, karena masyarakat pengguna internet, saya yakin sebagian besar sudah muak dengan tingkah polah MEREKA
sebaiknya mereka tetap menggunakan cara tradisional, yaitu gunakan panggung isi dngan acara dangdutan di lapangan , pasti berhasil,…apalagi kalo dibagiin juga sembako, BLT,..sogok tuh rakyat,…rakyat butuh hiburan setelah dibodohi dan dihina oleh bangsanya sendiri
salam perubahan yang mendasar dan menyeluruh,…alias ,….
nambahin ya (maaf) :
jadi mau pake internet atau tidak
bahkan walaupun strategi online nya sudah unggul,…kayaknya gak akan laku di dunia internet, orang gak akan milih capres tsb kalo capres nya LEMAH, LOYO, PENAKUT,…apalagi yang sudah pernah terbukti berpengalaman jadi presiden, trus bikin kampanye via online, dengan strategi yang hebat,…
saya yakin gak akan laku,…buat kita kita pengguna internet, pasti sudah muak, karena tau belangnya
Obama is the tipping point (of American politics)
Obama is the small, Hillary is the big.
Small is the new big.
Mungkin inilah kenapa Obama dan kampanyenya “gathuk” alias mecing alias valid dan efektif dengan dunia internet
PS:
Kenapa meniru itu (selalu) dianggap salah? Pilihan menirunya ataukah cara menirunya yang dianggap salah?
sama seperti biasanya, kita banyak latah.
latah bukan hal yang buruk,
akan tetapi jika latahnya
tidak diikuti dengan resources yang competent.
yang ada malah menjadi momok diri sendiri.
tapi untuk calon presiden indonesia mendatang,
semoga dapat memperbaiki keadaan indonesia.
menjadikan indonesia maju dan makmur.
biar kita gak susah terus.
jadi inget ppt on the sinetron, kata bang jeck kalo mo menang yah kudu ihtiar ma doa. ihtiar itu bentuknya bisa cara konvensional dan online, minimal dua cara tersebut.
tinggal liat siapa yg paling jago presentasinya. coba deh liat info di http://www.presentationzen.com/presentationzen/2008/09/obama-delivers-his-speech-like-a-symphony.html dan http://www.presentationzen.com/presentationzen/2008/09/john-mccains-background-visuals.html
sejago apapun dia presentasi, tidak bisa jadi jaminan. karena budaya disini beda dgn amrik. di sini kudu bla..bla..dan bla…maksudnya kudu jago ini itu….maksudnya lagi kudu jago tau macem2 bahasa dan budaya. kalo diamrik teh basana inggris doang, tp disini cem macemmm! tul gak om?
mangkanya om Nukman, kalo om dah sukses jadi tim sukses via online eta presdiena jgn somse sama saya yah pas saya sukses jadi presidennya
Gubraaaaaaaaak dech
bagus lah. biar para kandidat juga lebih melek teknologi (internet).
kalau website para capres benar-benar terbuka (open mind) bisa unsensored comment, maka capres dr PDIP dan PAN bakal kebakaran jenggot. Lihat saja yang terjadi di bagian komentar detikcom bila membahas topik seputar Agus Tjondro, MSP, SB, PA. Ya resikonya harus terbuka, kalau memang negatif comment ya jangan dihapus tapi sebagai masukan. Ini baru capres open mind spt BO : capres dari USA.
Sepertinya kalo Indonesia semua suka niru deh, termasuk berpolitik. Ya pokoknya selama meniru yg positif gpp juga,mas..
Salam kenal juga ya..
Sukses selalu buat anda.
Obama memang sensational. Namun, banyak hal yang di negaranya berlakau namun di negara kita belum berlaku. Seperti yang mas Nukman sebut tadi. Dari segi mentalitas saja, untuk komunikasi kita belum advance. Itu kaitannya dengan budaya. Point kedua adalah, apakah mereka believer terhadap kekuatan dari internet, apakah mereka hidup di dalamnya, sadar akan teknologi, bahwa teknologi mempermudah hidup. Hingga sekarang masih banyak kalangan pejabat yang masih belum punya kesadaran akan teknologi sebagai media komunikasi. Contoh sederhananya tidak perlu jauh-jauh, misalnya, tidak memiliki e-mail, tidak pernah memakai search engine, dll. Selama berbagai hal itu sifatnya masih teknis dan tidak berdasarkan ‘the why’, maka akan banyak hal yang tidak relevant.
baru Rizal Mallarangeng yg berani nampangin urlnya di iklan TV. tapi belum terukur efektif apa gak.
lihat sisi baiknya, ini adalah start buat dunia politik bangsa kita. dan harapannya terus berkembang utk pemilu berikutnya.
Sepakat 1000 persen pak.
Itu juga salah satu alasan kenapa di yutup lebih banyak beredar hal hal yang berbau pilpres dibandingin yang berbau komersil.
Karena semua pada niru obama. hehehe…
di sini online commerce yg lumayan banyak itu adalah perdagangan online di forum2 (contoh kaskus) , nah kenapa para calon presiden itu tidak memasuki ranah forum spt ini ?
[...] 11, 2008 · No Comments Kalau tulisan ini dan ini lebih menyoroti bahwa beberapa iklan politik online Indonesia hanya sekedar menjimplak [...]
“Pertama, online user behavior pengguna Internet di Indonesia sudah jelas beda dengan warga Amerika Serikat.”
Tetapi tidak bisa dipungkiri, yang menjadi behavior di USA sudah pasti dan kebanyakan akan mempengaruhi dan sedikit banyak berlaku di negara lain.
Kalo di Indonesia untuk menggalang massa yang paling efektif pakai artis sexy dan bisa goyang, nyewa lapangan yang luasss..dijamin uyel2an. *prihatin* mode on.
siapa ya obamanya indonesia
Andaikan obama gak balik ke amerika dan tetep tinggal di menteng.. Mungkin dia bisa jadi capres kita di 2009
wong namanya juga jualan mau laris ya sukur mau ga laris ya harus laris, cocoknya ditaro di situs2 iklanbaris kan banyak tuh yg gratisan juga ada.
Yaa negeri ini FENOMENA TREND SESAAT masih cukup tinggi mas
sedih rasanya baca brita di detik. http://www.detikinet.com/read/2008/09/16/173813/1007368/399/soal-penipuan-bisnis-online-indonesia-jagonya
Tidak adakah solusi untuk (paling tidak mengurangi) memberantasnya??
Kalo kampanye kemanapun ,dengan cara apapun boleh2 aja,
yang penting,janji-jnajinya bisa di realisasikan
Kelihatan sekali bahwa mereka hanya sibuk mengejar jabatan dengan mencoba mengumpulkan massa sebanyak2nya .. gak peduli cara apapun dijalani, sampai2 nyontek abis gaya orang lain ..hehe .. Padahal kan harusnya ATM – Amati, Tiru, Modifikasi – ya pak ? Lha ini yang diambil cuma Tiru-nya doang ..
NL:
Iya, sebaiknya mereka ATM, dengan memahami online user behavior Indonesia
Para Capres yang sering ngiklan maupun yang belum ngiklan dalam waktu dekat akan “reunian” lho.
Coba deh lihat : http://www.republik-kita.com
Apapun kondisinya, menurut saya kampanye internet hanya akan memberikan pengaruh kecil bagi hasil kampanye keseluruhan. Setidaknya untuk pemilu tahun depan.
NL:
Alasannya apa?
Syarat calon presiden gampang.BEBASKAN BIAYA SEKOLAH,GRATISKAN TRANSPORTASI DAN SHOLAT LIMA WAKTU.
sebenarnya kita tidak perlu meniru-niru orang lain, saya kira apa adanya diri kita aja, jadilah diri kita sendiri, syukurilah itu.
Produk dipresentasikan sesuai targetnya. Sy pikir internet adalah kanal tambahan utk menjaring pemilih dr gol terdidik. Di net, bs disampaikan program2 scr lbh detail lsg dr sumbernya. Skr bnyk golput, bnyk yg pilih tdr di rmh drpd ikutan nyoblos. Warga joget selapangan jg g jamin pd ikut nyoblos. Klo d indonesia, lbh disukai penjual sembako murah (ato gratis) drpd penjual asuransi yg menjual janji2. Dgn info yg baik, siapa tahu pengguna net indo bs mengubah masyarakatnya, memilih bkn krn nasi bungkus tp krn hal2 yg lbh prinsip.
Jangan sampai situs capres yang sudah memiliki Page Rank tinggi malah ikutan Paid Per Review untuk menambah dana kampanye
……………………….. *ngacir*
Bang Nukman,iyatalah niru mah olih bae tapi yg penting capresnya ngerti/able to utak-atik komputer. Maaf nih,apa capres model Gusdur, Mega, Kalla and incumbent SBY juga suka online or at least ngerti dunia maya.by the way Si Obam kan org Breakthrough liat saja lahir dr org bule/hitam,yatim di usia rel. muda,prestasi di Harvard,senat and congress melejit bak meteor dan kritis dan tajam analisanya. Dulu kita ada Nur Cholismajid tapi sayng mblebek……
Sukse deh bang Nukman!