“Pin BB loe berapa?” Pertanyaan ini sepertinya udah sangat jamak di Indonesia saat ini. Black Berry (BB) memang kini menjadi ikon baru gaya hidup di Indonesia. Sebagai marketer, apa boleh buat, kita harus memahami fenomena ini karena BB berperan penting meningkatkan demam mobile Internet di Indonesia.
Sebelum era kelahiran BB, sepertinya mobile internet hanya berkutat di kalangan early adopter atau IT Freak, dengan gadget yang dilengkapi fasilitas browsing. Begitu lahir BB, dan disukai kalangan umum dan menjadi bagian dari gaya hidup, penggunaan mobile internet melonjak tinggi, terutama untuk bermain Facebook dan Twitter. Bahkan kini memicu munculnya HP non BB yang dilengkapi fasilitas Mobile Internet. Jangan kaget jika anda bertemu teman, yang rela mengganti HP jadulnya dengan yang baru, demi bisa ngetweet, dimana saja dan kapan saja.
Jelas, sebuah demam mobile internet sedang melanda.
Tidak berlebihan jika para pemilik website pun memberikan versi mobilenya, termasuk Facebook, Twitter, Detik.com, dan Kompas.com. Keempat situs itulah yang kini menjadi idola mobile internet users.
Sebelumnya saya sudah pernah membahas dampak Twitter pada perubahan perilaku awak media, sekarang saya akan memprediksi respon para brand manager terhadap tren baru ini.
Sebelumnya, kita perlu memahami perbedaan koneksi internet di laptop/desktop dengan koneksi internet mobile via HP.
Pertama, koneksi via komputer laptop/desktop memberikan kepuasan yang lebih berupa layar yang lebih luas dan aplikasi yang tak terbatas. Sementara versi mobile harus bersifat sederhana karena keterbatasan layar dan kemampuan komputasinya.
Kedua, koneksi via laptop/desktop kurang praktis karena tidak bisa online setiap saat dan kapan saja, dan ini menjadi keunggulan dari mobile internet via handset.
Ketiga, perbedaan ini pada akhirnya membangun perilaku yang berbeda dalam mengkonsumsi internet. Ketika online dari desktop/laptop mereka cenderung browsing ke mana pun yang mereka maui serta chatting, email dll. Sebaliknya, di mobile internet berbasis handset, konsumen lebih banyak berkutat di social media, terutama untuk mengupdate Facebook dan Twitter, dan kalau ada kejadian penting melihat versi mobile Detik.com atau Kompas.com.
Apa konsekuensi pola akses seperi di atas? Salah satunya, iklan banner tidak efektif karena jarang sekali melihat website versi mobile yang dipenuhi banner iklan. Pemilik brand pun kesulitan memanfaatkan medium mobile ini sebagai medium pemasarannya saat ini.
Bagaimana mengatasi hal ini? Jika belum menemukan cara yang tepat beriklan di mobile internet, maka jalan terbaik adalah brand harus eksis dimana konsumen berkumpul via mobile internet. Dan itu artinya harus eksis di Facebook dan Twitter agar konsumen bisa update dimana saja, dan kapan saja. Brand juga harus ikutan ngerumpi bersama konsumen di Facebook, agar selalu dekat di hati.
Di dunia social media, ternyata eksis saja tidak cukup. Brand tetap perlu dukungan para influencer-influencer, agar terus menerus mengupdate hal-hal positif mengenai produk atau brand kita. Lebih dari itu, brand bisa juga memicu Word of Mouth (WoM) sehingga semua orang merasa gatel jika tidak terlibat dalam pembicaraan mengenai WoM itu.
Konsekuensi dari itu semua adalah: pekerjaan alias job desk marketer juga semakin banyak dan rumit ketika memasuki ranah social media. Di medium ini arus informasi nyaris tak bisa dibendung dan diarahkan. Konsumen bisa menyanjung setinggi langit, tapi bisa pula menghabisi merek yang mereka konsumsi bila mendapat pengalaman buruk.
Maka, keahlian tambahan yang harus dimiliki pemasar saat ini adalah kepandaian berkomunikasi langsung dengan konsumen. Kita semua tahu, inti dari komunikasi adalah menjadi pendengar yang baik, bukan hanya menjadi pembicara yang baik.
Nah, marketer, sudah siapkah kita dengan kompetensi komunikasi itu?
follow Tuhu Nugraha di Twitter
pertamax…
ijin baca dulu om…
mudah2an ni artikel mudah di cerna…
marketing yang penting pendekatan pada konsumen pasti tok cer
Indonesia adlah salah satu pengguna opera mini terbesar, jd tren mobile sbenarnya udah terbentuk sebelum tren BB.
Seperti tertulis di atas, jobdesc marketer jadi makin sulit. Yup. Mungkin ekstrimnya, ke depan marketing tdk perlu ada. Budget dialihkan aja ke peningkatan kualitas produk, atau disimpan sbg laba. Toh user bisa jadi marketer gratis kalo mereka puas. Bukan begitu?
bgaaimana eksis saja.. kumpulan brand masih salah besar… mereka masih menganggap ini media vertikal.. kalaupun interaction pastilah kecil jumlahnya…
“inti dari komunikasi adalah menjadi pendengar yang baik, bukan hanya menjadi pembicara yang baik.” rasanya kalau offline tentu ini benar tapi kurang tepat jika Online pada social media. karena yang dibutuhkan tentu ikut serta .. take and give…
Artikel yang sangat bagus!
Membuat saya terinspirasi
Kalau ada ilmu langsung terapkan…
membuat komunitas terhadap produk jualan anda bisa melalui media Twitter & Facebook. So tunggu apalagi, terapkan dan ukur hasilnya…
Memang jadi rumit ya kerjaan marketer itu. Belum lagi klo tren penggunaan Facebook n Twitter nanti bergeser ke social media site lainnya yang terus bermunculan. Perkembangan layanan internet mobile dari sisi teknologi dan perangkat semakin menarik.
Tapi pertanyaan saya adalah apakah semua proses komunikasi ini hanya akan melibatkan brand-manager/marketer dkk saja sebagaimana biasanya ataukan tren ini akan melahirkan (= membutuhkan) PROFESI BARU yang belum pernah ada sebelumnya?
@ BudiTyas, itu ide yang menarik, tapi user kan tidak bisa dikendalikan pesan apa yang ingin disampaikan ke publik tentang produk tersebut.
@Harian, kalau di luar negeri sudah banyak perusahaan punya social media manager
beberapa mobile site, udah ‘menempelkan’ iklan koq – text mode tentunya … ada juga yang grafis.
Menarik.. bahkan di amerika pengusaha Makanan “offline” Rela ber BB ataupun berdekstop/laptop Online untuk mendatangi tempat tempat yang disarankan calon/konsumennya melalui update twitter dan Facebook. Di indonesia “se-interaktif” itu tidak yah..
Wah, melihat fenomena seperti ini, harus ganti strategi nih…
IT memang memberikan ruang baru bagi para marketer dalam promo produknya.
Doddy Varonis M
wah kalau gitu mesti beli bb dulu donk demi melayani pelanggan lebih baik he3
pengamatan yang sungguh baik. bener tu, sekarang pemasangan banner “kehilangan” potensinya, yang udah pada pindah ke mobile.
@Doddy, tepatnya kemajuan teknologi n IT bikin pemasar makin pusing karena banyak hal baru yang harus dipelajari sebagai konsekuensi perubahan perilaku konsumen
@yandy, gak harus BB bisa juga Iphone atau HP berbasis Droid yang sekarang lagi hot. Karena kita ndak di endorse oleh salah satu produk itu hehehe
@Yoshi, semoga para pemasar juga udah menyadari ini, jangan sampe ketinggalan kereta
Forum yg menarik.
ya gak masalah lah walaupun beda aksesnya.yang penting bb bisa dijadikan sarana mencari kesenangan di social media seperti fb.
@Jiwangga, makasih semoga sering berkunjung ke blog ini.
@Jojo, bagi user memang gak masalah. Tapi yang ditekankan disini adalah pemilik brand harus mengubah strategi berkomunikasi di media online dengan adanya tren mobile internet.
mobile internet sangat berdampak pada peran marketer yang sekarang harus ikut ke ranah Social Community,karena dengan ini maka akan terjadi hubungan dengan customers secara Horizontal marketing
Memang sudah seharusnya para marketer selalu meng-upgrade dirinya dengan perkembangan teknologi terbaru. sebab dengan itu para marketer bisa melakukan marketing secara lebih cerdas dan efektif. Salam ACTION!
Eh.. eh.. ada Mbah Joko Susilo… *menjura*
salam Action..! *hi..hi..
seorang marketer sejati seyogyanya tidak terlepas dr yg namanya makhluk bernama BB
Di dunia IT kalau tidak selalu update info, segera tertinggal, karena dunia IT begitu cepat pergerakannya. Salam Super
Salah satu konsekuensinya ya pinter milih2 provider- baik tuk mobile or hosting. Tapi memang para ahli marketing harus memperhitungkan kekuatan dunia maya ya
menurut saya dengan adanya pemasaran melalui media handphone & smartphone akan memudahkan para pembeli dalam memperoleh info produk yang diinginkannya. karena info produk bisa dengan cepat dan mudah sampai ke tangan para pembeli potensial.
berita gembiranya, jumlah masyarakat melek internet bertambah