Itulah judul tulisan yang sangat menantang di Majalah GATRA edisi 8 Oktober 2005 halaman 73. Meski sudah banyak yang memberikan ramalan serupa beberapa tahun lalu, namun peringatan kali ini sungguh beda karena disuara secara lantang oleh Raja Media dunia. Dengan jumlah pengguna Internet yang ‘baru’ 16 jutaan jiwa di Indonesia serta mahalnya biaya koneksi Internet saat ini, koran cetak serta media teve di sini mungkin belum akan merasakan dampak Internet dalam waktu dekat. Namun, lebih awal bersiap diri adalah langkah paling tepat untuk mengantisipasi perubahan di masa depan.
Untuk lengkapnya, silahkan baca artikel Gatra yang saya kutip lengkap di bawah ini.
Sabda Rupert Murdock: “Media Cetak, Wassalam!”
RUPERT Murdock skeptis melihat masa depan koran. “Saya yakin, banyak editor dan reporter yang sudah kehilangan relasi dengan pembacanya,” kata Rupert Murdock. Berbicara di hadapan Asosiasi Editor Surat Kabar Amerika pada April lalu, dengan percaya diri Murdock meramalkan bahwa kematian koran dan media cetak lain tinggal menunggu waktu.
Media cetak akan bernasib seperti dinosaurus. Punah oleh evolusi. Wassalam. Sebabnya, perusahaan yang memasang iklan di media cetak akan mengalihkan strategi mereka ke media elektronik dan internet. Pada akhirnya, media elektronik juga harus bersaing dengan internet. Terutama dengan produk seperti blog dan news portal. “Sekarang perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus lebih paham soal internet,” katanya.
Ramalan era kematian koran sebenarnya bukan hal baru. Para peneliti media pun sebelumnya mengatakan hal serupa. Bedanya, kini yang mengucapkan kalimat itu tidak lagi seorang peneliti, melainkan Murdock, sang raja media. Ramalan itu beralasan. Berdasarkan data tahun 1995-2003 dari Asosiasi Surat Kabar Dunia, oplah koran terus menurun: antara lain turun 5% di Amerika, 3% di Eropa, dan 2% di Jepang. Bila pada 1960-an empat dari lima orang Amerika membaca koran, di tahun 2005 perbandingannya menjadi dua dari lima orang. Yang tiga lagi sudah masuk dunia elektronik atau digital.
Tapi, meski peluang media elektronik untuk bersaing dengan internet masih cukup besar, Murdock tidak ingin terlambat. Ia terbiasa bertindak cepat. Itulah filosofi bisnisnya, mungkin juga hidupnya. “Tidak ada istilah yang besar mengalahkan yang kecil. Yang benar adalah yang cepat mengalahkan yang lambat, “ujarnya. Karena itu, bisa dipahami mengapa Murdock bergerak cepat. Semacam upaya “restrukturisasi” antara sayap TV dan sayap internet pun dilakukan. Bila TV memproduksi klip video atau berita, maka selain di jaringan TV itu sendiri, tayangan itu bisa diputar di media online. Integrasi yang manis antara jaringan TV yang dimiliki Murdock – dengan jaringan online-nya yang baru berkembang – bisa terwujud.
Meski bagi media cetak ramalam semacam itu relatif menakutkan, jelas keliru bila menyangkalnya. Memang benar tak semua media online dibaca – seperti halnya tidak semua koran dibaca. Tapi media online bisa berperan penting, bisa jadi lebih penting dari media tradisional seperti koran dan majalah. Buktinya adalah peran blog dalam pemilihan presiden Amerika Serikat terakhir lalu.
Matthew Hindman, professor politik dari Universitas Arizona, mengatakan bahwa blog-blog top selalu lebih dikunjungi dibandingkan dengan halaman opini di koran. Karena itu, jelas salah bila menganggap blog bersifat netral terhadap media cetak. Media online cenderung mengancam eksistensi media cetak. Seringkali sebuah blog membantah, atau bahkan membuktikan, bahwa media cetak keliru memberitakan.
Juga salah menganggap para blogger tidak bisa melakukan reportase layaknya media cetak. Contohnya adalah OhmyNews di Korea Selatan, yang menganut konsep “setiap warga adalah reporter”. Dalam waktu lima tahun, OhmyNews punya 2 juta pembaca dan memiliki sekitar 3.000 reporter. Para reporter-warga itu adalah sukarelawan yang memasukkan berita yang diedit dan dicek faktanya oleh 50 staf permanen.
Jadi, sampai kapan media cetak bertahan? Menurut buku Saving The Vanishing Newspaper: Journalism in The Information Age karangan Philip Meyer, bila trend digital semacam ini terus berlanjut, diperkirakan tahun 2040 masih ada sisa-sisa pembaca koran. Lewat tahun itu, semua goes digital.
Basfin Siregar
Majalah GATRA edisi 8 Oktober 2005 halaman 73
tahun 2040 ,,, kita2 masih ada tidak yah… jadi ingat perangko dan kartu pos, pas ramadhan gini banyak orang kirim kartu lebaran pasti pake perangko nah sekarang banyak yang pake e-mail dan SMS ,…
- welcome digital era
Untuk kasus indonesia beda nggak ya? Daya beli kita kan rendah, internet baru konsumsi orang kota. itu pun baru sebatas kebutuhan kantor…
Suka tidak suka, Selamat datang di era baru bermedia..
Dari dulu pertumbuhan pemakaian internet di Indonesia masih berkisar 5-10% dari jumlah penduduk, kalo pun lebih dari itu hanya sebagian daerah aja, misal Jogja mencapai angka 17%
dari pelanggan Telkom, itu direkturnya seh yg ngaku. Kalo om Murdock bilang kaya githu, tanda2nya pun sudah ada, lihat aja korang sudah pada langsing designnya, space kontentnya dah berkurang. Terus bermunculan Blog2 di internet yang malah membantu orang untuk belajar menjadi jurnalis independen meski tanpa bayaran. Yang pasti jangan tanya tahun 2040 korang hilang apa nggak, yang pasti mikir kita masih dikasih kesempatan hidup ama Allah SWT apa nggak sampai tahun 2040.
gw yakin kok,kalo winmax dah masuk, internet bakalan kayak HP.Bukan barang mahal lagi.Gak sampai 2040,media cetak dah kolaps.
Media cetak belum tentu kolaps. Sama seperti ketika euforia ebook menggema dimana – mana, buku berbahan kertas toh masih laku (dan merupakan penghasilan penerbit terbesar).
Hal yang sama juga berlaku untuk media cetak. Pilih mana, bawa koran sambil ‘mencari inspirasi’ di kamar mandi atau membawa PDA?
Sadar atau tidak, paperless technology justru mendrive penggunaan paper kepada tingkat tertingginya.
Ditambah lagi sekarang Google justru menyewa space – space iklan di majalah untuk mengiklankan klien – klien mereka (it’s true!)
wah klo media cetak dan media lainnya punah sprti zaman dinosaurus, akibat munculnya ’si internet’ bearti beberapa puluh taon kedepan akan berevolusi donk…
kira2 munculnya seperti apa yah…?
kita lihat aja apa yang terjadi nanti.. mudah-mudahan yang pasti dunia akan berkembang dan lebih maju. walaupun koran mati, nantinya juga muncul yang lainnya kan..
aq pikir media cetak nda bakal ada matinya, cos orang tetep suka baca koran katimbang bawa laptop, sembari bwat alas tikar, enak juga buat referensi tertulis. cuma, mungkin aja ntar da perubahan dari media cetak (jadi lebih berwarna gitu), buat terus ngegaet kousumen.
media elektronik adalah sarana alternatif yang akan bersimbiosis. apakah akan terjadi mutualisme atau justru menjadi kanibalisme, itu tergantung bagaimana masing2 media bersaing
[...] Sabda Rupert Murdock: “Media Cetak, Wassalam!â€Â [...]
Brarti simpen baek2 media cetak kita, mana tau nto taon 2040 jadi barang yang langka, jadi harganya mahal… matre yah… hehe…
em…kalo media cetak kita bisa dibuat kaya korannya Harry Potter si keren juga tuh….
Hahahahahaha……..
apa yang diaktakan raja media se dunia ada betulnya, karena hal tersebut berkaitan dengan sifat manusia yaitu “INGIN MENCOBA HAL YANG BARU”. oleh karena itu media cetak, koran akan terjadi vakum. BUT, if di telaah lagi menurut teori John Naisbit “suatu peradaban akan kembali lagi ke masa lampau/tradisional, jika peradaban tersebut terlalu canggih”. teori itulah yang membuat saya bahwa di kemudian hari sewaktu koran telah vakum, maka akan muncul orang-orang yang bosan menggunakan internet dan kembali lagi membaca koran. Cahyo Koran??!!!!