Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Jumlah Visit Itu Penting, Tapi What’s Next After Visit Itu Lebih Penting

June 29, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

 

Jumlah klik ke site saya tinggi,? kata seorang brand manager sebuah produk yang sangat heavy melakukan campaign via offfline seperti TV dan cetak ketika bercerita tentang pengalamannya melakukan online campaign.

oh…that’s a good start,? kata saya. Tapi setelah visit mereka ngapain? tanya saya.

Ya visit aja, kan saya campaign dengan tujuannya awareness,? jawab brand manager itu.

****

Memiliki jumlah visit yang ‘tinggi’ memang penting karena parameter pertama yang mengindikasikan sebuah site dikenal atau tidak memang dari jumlah visit. Hanya menggunakan measurement jumlah visit saja dalam sebuah online campaign juga bukan sesuatu yang tabu karena untuk mengejar objektif awareness, memang parameter pertama adalah visit, meski parameter ini harus ditindaklanjuti dengan riset lebih dalam karena visit tidak selalu = aware.

Tapi somehow buat saya objektif membangun awareness pada online campaign, pada sejumlah kasus, menjadi terlalu dangkal jika tidak di follow up dengan objektif yang lebih tinggi seperti misalnya mengumpulkan lead to sales, menarik user menjadi member, mengumpulkan data untuk aktifitas online CRM dan lain-lain. Apalagi kalau brand itu secara offline sudah dikenal dengan baik, berkomunikasi di internet definitely memerlukan objektif yang lebih advance.

PS:Saya menulis kata tinggi dengan tanda kutip karena memang kata tinggi di sini sangat relatif. Tergantung kasus, benchmarking dan lain-lain. Artinya, untuk menentukan tinggi atau rendah, banyak elemen yang harus dikritisi

5 Responses to “Jumlah Visit Itu Penting, Tapi What’s Next After Visit Itu Lebih Penting”

  1. hadi says:

    Sangat menarik,

    tapi dari mana dia dapat klik tinggi? jika direct access tentunya sudah banyak yg sudah tahu tentang dia – awarnes offline oke, jika referral = bisa kesasar bisa juga memang lagi butuh sesuatu sesuai dengan keyword site tsb.

    what next? setuju, menarik user jadi member, memberikan fasilitas gratisan salah satu contoh mungkin, dan selanjutnya terserah anda.

    jika google ngasi 6GB for mail dengan nyisipi iklan kalau saya…, apa ya…NULL

    gitu ya… hehehe
    sory agak kaku pakai kata awareness neh…

  2. Novento says:

    Visit penting, tapi harus di breakdown lagi… visit seperti apa. Ada yang visit, 5 detik kemudian udah ngabur. ada yg visit sampai 30 menit. jadi harus diberikan cookie agar dapat dianalisa lbh lanjut. Makin lama berkunjung dan balik lagi sy kira efektifitas site tsb dg sendirinya meningkat, demikian jg probablity awareness.

  3. Ari says:

    Dari milis Marketing Leadership Club:

    Saya pribadi sependapat dengan Bpk/Ibu Iim Fahima Jachja,

    Jika suatu produk sudah melakukan “heavy campaign via offline” (baik media cetak maupun media elektronik), mestinya masalah awareness bukan lagi menjadi tujuan.

    Media internet bisa membuat :

    1. Target market benar-benar melakukan pembelian (action) via online
    Hal ini tentunya memerlukan back up office yang memadai

    2. Mengumpulkan calon pelanggan (dengan data yang spesifik, misalnya alamat e mail, no hp & alamat rumah/kantor) yang dapat didorong untuk melakukan pembelian di kemudian hari. Follow up messages yang dikirim ke rumah/kantor, no handphone (dengan sms) & e mail address tidak dapat dikategorikan spam jika pada opt in form dari situs yang bersangkutan, perusahaan meminta ijin untuk melakukan tindakan promosi selanjutnya.
    Tahap selanjutnya : dengan ‘prospect client database’ tersebut dapat dilakukan aktivitas ‘online CRM’

    Sekedar pandangan pribadi. Jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.

    Ari
    http://www.AAABisnis. com

  4. Lex dePraxis says:

    Jadi kalau dari segi kuantitas, bagaimana penilaian sebuah website berdasarkan jumlah angka visit yang diterima setiap bulannya?

    Adakah tabel umum yang bisa dipakai sebagai tolak ukur? Apakah ukuran website luar negeri bisa dianggap fair jika diterapkan pada website domestik?

  5. Ikmawan says:

    saya pikir ukuran website dimanapun bisa dianggap fair selama beberapa parameter seperti jumlah visit, landing page dengan lamanya stay ada didalamnya.

    Popularitas juga sesuatu yang misterius sama misteriusnya dengan algorithma yang dikembangkan oleh google.

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting