Jumlah klik ke site saya tinggi,? kata seorang brand manager sebuah produk yang sangat heavy melakukan campaign via offfline seperti TV dan cetak ketika bercerita tentang pengalamannya melakukan online campaign.
oh…that’s a good start,? kata saya. Tapi setelah visit mereka ngapain? tanya saya.
Ya visit aja, kan saya campaign dengan tujuannya awareness,? jawab brand manager itu.
****
Memiliki jumlah visit yang ‘tinggi’ memang penting karena parameter pertama yang mengindikasikan sebuah site dikenal atau tidak memang dari jumlah visit. Hanya menggunakan measurement jumlah visit saja dalam sebuah online campaign juga bukan sesuatu yang tabu karena untuk mengejar objektif awareness, memang parameter pertama adalah visit, meski parameter ini harus ditindaklanjuti dengan riset lebih dalam karena visit tidak selalu = aware.
Tapi somehow buat saya objektif membangun awareness pada online campaign, pada sejumlah kasus, menjadi terlalu dangkal jika tidak di follow up dengan objektif yang lebih tinggi seperti misalnya mengumpulkan lead to sales, menarik user menjadi member, mengumpulkan data untuk aktifitas online CRM dan lain-lain. Apalagi kalau brand itu secara offline sudah dikenal dengan baik, berkomunikasi di internet definitely memerlukan objektif yang lebih advance.
PS:Saya menulis kata tinggi dengan tanda kutip karena memang kata tinggi di sini sangat relatif. Tergantung kasus, benchmarking dan lain-lain. Artinya, untuk menentukan tinggi atau rendah, banyak elemen yang harus dikritisi
Sangat menarik,
tapi dari mana dia dapat klik tinggi? jika direct access tentunya sudah banyak yg sudah tahu tentang dia – awarnes offline oke, jika referral = bisa kesasar bisa juga memang lagi butuh sesuatu sesuai dengan keyword site tsb.
what next? setuju, menarik user jadi member, memberikan fasilitas gratisan salah satu contoh mungkin, dan selanjutnya terserah anda.
jika google ngasi 6GB for mail dengan nyisipi iklan kalau saya…, apa ya…NULL
gitu ya… hehehe
sory agak kaku pakai kata awareness neh…
Visit penting, tapi harus di breakdown lagi… visit seperti apa. Ada yang visit, 5 detik kemudian udah ngabur. ada yg visit sampai 30 menit. jadi harus diberikan cookie agar dapat dianalisa lbh lanjut. Makin lama berkunjung dan balik lagi sy kira efektifitas site tsb dg sendirinya meningkat, demikian jg probablity awareness.
Dari milis Marketing Leadership Club:
Saya pribadi sependapat dengan Bpk/Ibu Iim Fahima Jachja,
Jika suatu produk sudah melakukan “heavy campaign via offline” (baik media cetak maupun media elektronik), mestinya masalah awareness bukan lagi menjadi tujuan.
Media internet bisa membuat :
1. Target market benar-benar melakukan pembelian (action) via online
Hal ini tentunya memerlukan back up office yang memadai
2. Mengumpulkan calon pelanggan (dengan data yang spesifik, misalnya alamat e mail, no hp & alamat rumah/kantor) yang dapat didorong untuk melakukan pembelian di kemudian hari. Follow up messages yang dikirim ke rumah/kantor, no handphone (dengan sms) & e mail address tidak dapat dikategorikan spam jika pada opt in form dari situs yang bersangkutan, perusahaan meminta ijin untuk melakukan tindakan promosi selanjutnya.
Tahap selanjutnya : dengan ‘prospect client database’ tersebut dapat dilakukan aktivitas ‘online CRM’
Sekedar pandangan pribadi. Jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.
Ari
http://www.AAABisnis. com
Jadi kalau dari segi kuantitas, bagaimana penilaian sebuah website berdasarkan jumlah angka visit yang diterima setiap bulannya?
Adakah tabel umum yang bisa dipakai sebagai tolak ukur? Apakah ukuran website luar negeri bisa dianggap fair jika diterapkan pada website domestik?
saya pikir ukuran website dimanapun bisa dianggap fair selama beberapa parameter seperti jumlah visit, landing page dengan lamanya stay ada didalamnya.
Popularitas juga sesuatu yang misterius sama misteriusnya dengan algorithma yang dikembangkan oleh google.