Pernahkah terpikir, apa yang Anda dapatkan dari komunikasi online Anda selama ini? Uang yang Anda investasikan, apakah memberi hasil yang significant?
Hasil akhir komunikasi sebuah brand, biasanya memang dihitung dari total aktifitas komunikasi yang dilakukan di berbagai medium seperti TV, Cetak, Radio, internet dll yang dirangkum dalam komunikasi yang terintegrasi. Hasil akhirnya, tergantung dari objektif komunikasi . Jika sekedar awareness, maka dihitung berapa persen awarenessnya naik dari masa sebelum hingga sesudah campaign. Jika objektifnya direct sales, maka resultnya dilihat dari sales yang terjadi selama masa campaign tersebut.
Sebagai sebuah medium, internet memiliki keunikan yaitu adanya web analytic yang bisa digunakan untuk menghitung secara kuantitatif dan kualitatif hasil komunikasi Anda di medium ini. Dengan web analytic, bisa diketahui berapa banyak visitor ke website Anda, halaman paling sering diakses, lama kunjungan dll. Masing-masing elemen menunjukkan indikasi/insight yang berlainan.
Untuk mengetahui bermanfaat atau tidak komunikasi Anda di internet, bisa dianalisa dari ROI-nya.
Salah satu contoh sederhana: menghitung ROI creative site seperti site ini. Objektif utama komunikasi site seperti ini adalah menebar awareness yang diartikan dengan mengundang pengunjung sebanyak mungkin. Karena indicatornya adalah visit, maka ROI bisa dihitung dengan cara:
Biaya produksi + marketing
—————————- —— = Biaya mempengaruhi 1 visitor
Jumlah visitor
Semakin kecil biaya mengundang 1 visitor, berarti semakin baik ROI nya.
Sama halnya jika sebuah site didirikan untuk tujuan purely direct sales. Maka komponen pembaginya cukup diganti dengan jumlah orang yang melakukan transaksi di site tersebut. Jika ROI nya kecil, berarti biaya Customer Acquisitions-nya rendah. Untuk mengetahui apakah komunikasi online lebih menguntungkan dibanding offline, maka bandingkan saja biaya Customer Acquisitions-nya.
Di atas adalah contoh perhitungan ROI yang paling sederhana. Pada prakteknya, elemen dan cara perhitungan bisa berubah dan lebih melibatkan banyak element, tergantung objektif awal berkomunikasi di internet.
Again, yang saya tulis di atas adalah gambaran sangat sederhana dari sebuah perhitungan ROI komunikasi online. Banyak faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mendapatkan ROI yang lebih utuh secara kuantitatif mau pun kualitatif, yang bisa di-achieve dengan menganalisa keseluruhan data di web analytic kita plus online research.
Inti dari tulisan saya di atas adalah, jangan berhenti hanya sampai di tahap membuat website, memasang banner atau pun jenis komunikasi/promosi online lainnya. Mulailah bertanya pada konsultan komunikasi Anda, apa manfaat nyata dari komunikasi online yang sudah Anda lakukan dan seperti apa perhitungannya!
Namun sebelum menuntut terlalu banyak, pastikan Anda memiliki objektif yang sangat jelas ketika memutuskan berkomunikasi di medium ini.
Terjadi diskusi menarik di milis Marketing Club berkaitan dengan topik ini. Setiap komen akan saya cut paste di blog ini.
Salam marketer,
mba iim mungkin yg dimaksud ROI bukan seperti itu. Kalau dr formula yg digunakan seperti yg disampaikan, bisa disebut dengan “acquisition cost per user”. Sedangkan untuk formula ROI / ROR (rate of return) sendiri bisa dihitung dr “??????monetary return/investment”.
Salam,
Chris Adinugroho
Mas chris, formula itu adalah sekedar salah satu contoh formula paling sederhana, dan memang betul jika tujuannnya adalah akusisi, maka itu bisa disebut dengan biaya akusisi per costumer/user.
Tapi coba dibaca lagi postingannya saya, intinya adalah mengajak semua orang untuk bertanya ‘investasi gue balik ga sih?’ atau ‘kalau balik, taunya dari mana?’.
Hitung-hitungannya juga berbeda untuk objektif yang beda.
Thx inputnya, anyway.
IFJ
Kalo soal seperti ini, tinggal aja tanya ke operator Web Hostingnya. Mereka bisa gak menyediakan service web statistik-nya. Penyedia Web Hosting yg baik harusnya sudah punya “service” ini.
Kalo gak punya berarti yang punya web-nya sudah salah milih tempat hosting. Atau karena memang yang punya web merasa ROI belum penting ….
Sadono
Mas Sadono, sejak kapan web hosting bertanggung jawab dengan perhitungan investasi komunikasi? Web hosting fungsinya untuk titip domain, kalo web statistik yang bikin web developernya. Kalo web hosting tanggungjawabnya segede itu…bayaran hosting mahal dong…setahu saya hosting paling mahal sejuta sebulan.
ROI ngga penting? masa sih? banyak pemilik brand yang habis bermilyar atau paling ngga ratusan juta buat beriklan di internet. Masa ROI ngga penting?
Justru kalau menurut saya, tulisan mba iim sangat menyadarkan para brand owner kalo beriklan atau punya web itu harusnya bisa dihitung ROI nya.
Victor
CMIIW, yang saya tangkap di postingan awal adalah bicara efek dan strategy besar komunikasi di interenet deh, bukan soal teknis hostingan.
Web hosting kan bicara teknis menitipkan domain, bukan menganalisa efektifitas komunikasi.
Soal ROI. kalau saya sebagai pengelola brand sih menilai justru keunikan internet itu karena bisa dihitung ROI nya langsung. Dan itu sangat penting! Ngga ada sepertinya pemilik brand yang asal buang duit tanpa ingin tahu apa hasilnya. Cuma…selama ini sepertinya banyak yang ngga tahu tuh kalo ternyata ROI di internet bisa dihitung, kaya saya he..he…
Mungkin ROI jadi ngga penting buat mas sadono, karena web nya dibuat tanpa tujuan bisnis, asal ada tapi ngga jelas fungsinya.
Kalo tujuan bisnis pasti ROI penting
Alex
Mungkin maksudnya Pak Sadono memang bukan teknis
hosting, tapi beliau memberi hint untuk mengetahui
salah satu parameter (yaitu jumlah pengunjung) dalam
rumus biaya mendatangkan satu visitor yang diusulkan
oleh Ibu Iim.
Dan saya setuju, kita memang bisa melihat jumlah
pengunjung website kita dengan masuk ke Control Panel
hosting tempat kita berlangganan.
Salam,
Ferli
http://indotranslator.com
Memang saya jadi bertanya2 dengan posting dengan title dan content kok beda…
In my experience dalam dunia ebusiness dan online branding. ROI berarti return of investment…. Meants… Duit gw balik ngak! hehehehhe…
Seperti yang dikatakan si Chris kalau Formula yang diberikan oleh Iim adalah sangat basic sehingga tidak bisa dibilang ROI. lebih bisa dianggap sebagai measurement KPI dalam segi awareness saja atau cost utk awareness.
Mungkin yang dipermasalahkan adalah penggunaan jargon yang salah.
Maklum anda berhadapan dengan para marketer juga…
Online campaign tidak semudah yang kita duga. Memang semua orang tahu kalau website tidak dibantu dengan marketing tidak akan ada yang datang. Persaingan dionline lebih kompetitive dan rumit.
Kenapa?
Karena online website bukan seperti barang retail.. Kalau barang retail…orang bisa lihat barang ditoko2 setidaknya kalau tidak dipromosikan. Dan juga Website juga jumlahnya bukan cuma 100 atau 1000, akan tetapi jumlahnya Ratusan juta website. Salah ketik URL pun juga bisa nyasar.
Cara memasarkan website ada banyak cara, layaknya seperti kita memasarkan didunia offline. Seperti mba iim lakukan, sebenarnya kita bisa lihat kalau email ini sebenarnya mau mengangkat Online game yang baru dikerjakan oleh XL. inti katanya mau di pasarkan biar para marketer bisa melihat…dan mudah2an bisa main…
Maaf yah mba Iim..Website link yang diberikan mba Iim juga itu adalah online game BUKAN website yang berusaha diselubungi seperti viral…. tetapi jujur kata online game adalah BUKAN Viral… viral itu menyebar seperti virus yang biasanya disebarkan suka rela. Hal yang menarik dari viral… biasanya tidak menjual barang. Kalau anda promosikan lewat ads banner yang bersifat membayar… itu juga bukan viral. viral supposed to be free.
here is an example of viral marketing that done by djarum super….http://www.youtube.com/watch?v=7beD6uFnNMY. video ini setiap hari menambah sekitar 300 – 500 viewer tanpa di promosikan. bergerak dengan sendirinya. Viral ini disebar ke 3000 orang pertama kali…dan berkembang mencapai 19200 viewer
Anyway… keunikan dari online web bukan cuma bisa melihat web static.
Ok! Pertama kali kita musti bisa membedakan antara website dan Online web. Website adalah hanya bagian dari online web. Website, blog, mailing list, forum, email, video portal site, network site, online banner, Messenger, online game… is a part of online web.
Here are some of the benefits the ONLINE WEB
* Allow user interaction
* It can capture database, that translate to sales if follow properly
* Through website, it creates an interactive BRAND experience (imagine you have brand ambassador can talk 24/7 to customer that come into store)
* It can generate sales automaticly (Again…proper manage)
* It can create buzz and rumors
* It tracks visitor and behaviors (per click, per view or statistic in website)
* It can be personalize
* It can be customize
Selain pertanyaan yang dibilang oleh Iim mengenai pertanyaan “Apa yang menjadi objective Anda?” itu sangat tepat…. dan pertanyaan yang musti kita tanyakan bersama…adalah “how you can maximize the benefits from online web for your brand?”
There are a lot of opportunities for marketer to tap into online. Are you ready to be Webtastic?
Cheers
Danny Wirianto
SemutApi Colony
Brand Marketing Communication
Hallo Danny, saya coba jawab dan mengembalikan ke esensi tulisan saya plus meringkas esensi tulisan Danny yang panjang lebar itu ya. Biar diskusi kita lebih fokus dan flow pemikirannya jelas.
‘Bunga-bunga’ yang Anda sisipkan ngga akan saya tanggapi. Karena saya lebih tertarik diskusi esensi instead of bicara bungkus
1. Esensi tulisan saya adalah tentang mengingatkan agar setiap aktifitas komunikasi online, dicermati objektifnya dan di set KPI nya, sehingga ketika kita bertanya ‘apa yang saya dapat dari komunikasi di internet?’ yang saya istilahkan dengan ROI Website, maka jawabannya sangat jelas.
Salah satu cara untuk mengecek apakah objektifnya tercapai atau tidak, adalah melalui analisa web statistik. Web statistik bukan hanya bicara angka yang menunjukkan visit, hit, lama kunjungan dll, tapi dibalik angka itu sebenarnya juga bisa diamati kecenderungan konsumen. Dengan catatan: Bisa menterjemahkan data statistiknya lho…Kalau asal baca tapi tidak bisa menterjemahkan kecenderungan konsumen lebih jauh ya analisanya bisa jadi ’sekedar angka’.
2. Saya tidak sedang membahas topik viral mau pun online game. Link yang saya berikan ya sekedar link contoh, yang bebas untuk diganti dengan link apa saja. Jadi agak mengherankan saya, ketika Anda tiba-tiba membahas soal esensi viral dengan panjang lebar. Kalau Anda mau diskusi soal viral, kita ganti topiknya. Saya punya segudang bahan untuk membahas opini Anda.
3. Kembali ke topik 1, Kenapa perlu dilemparkan topik ini? Karena saya menemukan banyak sekali pemilik brand yang merasa membuang uang di internet. Pasang banner kesana kesini, bikin website ini itu, tapi merasa tidak mendapat result yang significant. Menurut saya, untuk itu harus di cek di dua sisi.
Dari sisi brand owner: Apakah objektif komunikasi jelas?
Dari sisi konsultan komunikasi: Apakah konsultan komunikasinya dari awal sadar bahwa dia harus bertanggung jawab terhadap hasil dari menghabiskan uang klien di internet? Jika bertanggung jawab, maka apa bentuk tanggungjawabnya? Measurementnya based on apa?
Web statistik adalah salah satu alat untuk mengukur apakah objektif komunikasi via online tercapai atau tidak. Karena itulah di postingan saya tertulis:
Again, yang saya tulis di atas adalah gambaran sangat sederhana dari sebuah perhitungan ROI komunikasi online. Banyak faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk mendapatkan ROI (website) yang lebih utuh secara kuantitatif mau pun kualitatif, yang bisa di-achieve dengan menganalisa keseluruhan data di web analytic kita plus online research.
4. Anda menyebut: anyway… keunikan dari online web bukan cuma bisa melihat web static, yang kemudian disertai keterangan panjang lebar tentang benefit online web.
Dugaan saya, Anda menanggapi tulisan saya yang ini: Sebagai sebuah medium, internet memiliki keunikan yaitu adanya web analytic yang bisa digunakan untuk menghitung secara kuantitatif dan kualitatif hasil komunikasi Anda di medium ini.
Jika benar, maka apa yang saya tulis dan tanggapan Anda sangat tidak nyambung. Karena saya bicara keunikan dalam kaitannya dengan medium internet yang bisa langsung dilihat resultnya (baik visit, perilaku kunjungan dll) karena adanya web statistic. Dan itu terkait dengan penjelasan di awal postingan.
Jadi, apa hubungannya dengan penjelasan ttg portal site, messenger, online game dll?
5. Soal maximize the benefit from online web for your brand. Memaksimalkan itu pasti dan harus. Lebih jauh dari itu, menurut saya, kita juga harus berani bertanggungjawab terhadap every single cent that client spend on internet. Harus ada ukuran yang jelas, dan untuk itulah web statistic menjadi penting.
http://www.iimfahima.com
Chris Adinugroho
Salam marketing,
Menyimak esensi dr tulisan mba Iim ini, sebenarnya menggugah para marketer untuk lebih care dalam mengelola website, sebagai salah satu media pemasaran, terutama dalam hal seberapa efektif investasi yg dikeluarkan, dengan hasil yg didapat. Sebuah pertanyaan klasik yg harus dijawab: ??????Jika jumlah pengunjung web meningkat secara signifikan dalam kurun waktu tertentu, apakah penjualan juga akan meningkat??????? Bisa dijawab: ??????Belum tentu??????. Seringkali para marketer yg melakukan komunikasi melalui internet/web, hanya terpaku pada traffic, sebagai satu-satunya indikator.
Pada umumnya, para marketer seringkali terpaku dalam menentukan keberhasilan pemasaran melalui sebuah web pada beberapa indikator seperti: jumlah hit, page view & rata-rata durasi kunjungan. Informasi tersebut sebenarnya hanya merupakan informasi mengenai konsumen secara umum, dan belum menyentuh esensi dari seberapa efektif dalam membangun sebuah website/web-store.
Salah satu indikator yg bisa dipikirkan oleh para marketer utk dijadikan dasar menghitung efektifitas sebuah web-store, adalah dengan cara menganalisa online sales activities & perilaku user pada website tersebut. Ketika seseorang berkunjung ke sebuah website, bisa jadi dia hanya sekedar mencari informasi sebuah produk atau malah melakukan transaksi pembelian. Nah ketika user tersebut telah melakukan pembelian, pola yang terjadi sebelum & sesudah melakukan pembelian, dapat ter-record secara jelas dengan menggunakan suatu program, sepengetahuan saya kalau tidak salah namanya media metrix.
Sebenarnya ini adalah sebuah software, yg digunakan untuk mengukur perilaku orang-per orang/user ketika melakukan aktivitas online trading. Dasar pengukuran yg digunakan hampir mirip dengan alat people meter yg digunakan AC Nielsen dalam mengukur rating program-program tv.
Bagaimana pengelola website tahu, seberapa besar kecenderungan seseorang pengunjung akan melakukan pembelian secara online tersebut? Dari sebagian besar pola seseorang yg melakukan pembelian secara online, akan menimbulkan data streaming yg semakin besar (secara teknis), baik itu dilihat dari page per view, durasi, hit number (sehingga user tersebut bisa dialihkan ke server yg memiliki kecepatan lebih tinggi).
Selain itu kecenderungan user untuk berbelanja secara online, juga bisa dilihat dari sum of weighted number dari masing-masing page (misal page ttg data pribadi, nomor kartu kredit & jenis pembayaran diberi pembobotan yg lebih besar, dibandingkan dengan fill-in nama/umur yg diberi bobot yg lebih rendah). Sehingga dari keseluruhan informasi yg terkumpul dari user tersebut, dapat menjadi indikasi bahwa orang tersebut mempunyai kecenderungan akan melakukan pembelanjaan/tidak.
Dengan bantuan program ini para pengelola webstore dapat dengan lebih detail dalam melakukan pengukuran efektifitas website yg dikelola. Sehingga bisa dibilang daripada melihat jumlah pengunjung secara keseluruhan, lebih baik melihat pola kunjungan masing-masing individu yang sering berkunjung tho?, dan diharapkan pd akhirnya akan melakukan pembelian.
Dari track records yg didapat, kelompok ini bisa dikategorikan sebagai new user, member, potential buyers atau bahkan frequent buyers. Selain itu pengelola webstore juga bisa membuat estimasi pertumbuhan potential customers di masa mendatang, dengan melihat informasi perilaku konsumen yg telah didapat (sehingga dapat dibuat program-program marketing yg sesuai untuk mereka).
Kalo para marketer bisa lebih kreatip lagi, tidak melulu harus bergantung dari software ini. Yang penting adalah esensi dari apa yg akan diukur, dengan menggunakan program ini. Sehingga bisa dibuatkan program yg kurang lebih sama, sehingga tujuan yg ingin dicapai dapat berhasil.
Masalahnya, jika website yg dibuat memang mempunyai tujuan untuk menghasilkan penjualan, akan lebih mudah mengukur ROI, seperti yg dimaksud oleh mba Iim. Namun apabila website tersebut dibuat bukan untuk create sales, maka bagaimana cara mengukur keefektifan website tersebut? Kembali lagi ke tulisan mba Iim: ??????tergantung dari tujuan pembuatan website itu sendiri?????? ??????dan kesepakatan dengan bos bagian finance bgm cara menghitungnya ;D
Hello Juga Iim.
Mudah2an yang lain bisa dapat makna dari perdebatan kita. Mungkin yang salah tangkap tentang tulisan anda mengenai ROI bukan hanya aku tetapi juga berbagai pihak. Kalau menurut aku, perbedaan antara ROI dan KPI itu berbeda…. yang satu Return of Investment, yang satu Key Performance Indicator… which normally to measure awareness, visitor dan yang lain2… sedang ROI membicarakan Sales generate.
kalau anda memberi contoh tentang website mengenai ROI tapi berisi online game… lebih baik anda memberi contoh yang lebih tepat, kalau tidak mau dikritik.
Maklum anda berbicara di ruangan yang penuh para marketers yang mungkin lebih ahli daripada kita semua…dan juga kita pun mempunyai opini masing2.
Lebih baik daripada debat kusir. Intinya Essensi anda sebenarnya benar. Setiap kegiatan baik offline maupun online memang seharusnya dipertanggung jawabkan oleh pihak agency.
Kalau masalah web static..anda menyebutkan keunikan dari website adalah webstatic… yang aku tangkap bedasarkan tulisan anda….(“internet memiliki keunikan yaitu adanya web analytic yang bisa digunakan untuk menghitung secara kuantitatif dan kualitatif hasil komunikasi Anda di medium ini”). berdasarkan tulisan anda… aku menangkap internet HANYA mempunyai keunikan webstatics.. .
Mungkin maksud anda website mempunyai SALAH SATU keunikan web analytic…bukan Internet.
Website yah website. Internet itu lebih luas lagi….
Silahkan deh anda debatin. tapi kalau anda buka kamus mana pun.. yang namanya website itu bukan Internet. Website itu adalah bagian dari Internet. dan of course sebagai marketer yang bergerak di dunia offline and online aku musti menambahkan dan membetulkan biar tidak terjadi kesalah pahaman ke marketer yang lain gitu loh.
Bukannya setiap campaign yang kita lakukan musti selalu terukur dan juga dipertanggung jawabkan kepada brand owner. bagaimana bisa kita sebagai marketer survive kalau sales diakhir tahun turun aka ROI tidak dapat.
Silahkan bungkus deh..
Cheers
Danny Wirianto
SemutApi Colony
Halo lagi dann,
Saya ngga merasa kita sedang debat kusir kok, unless Anda merasa begitu hehehe.
1. Mengenai ROI, dalam konteks tulisan saya yang terkait website, saya melihatnya dalam pemahaman lebih luas, bukan sekedar sales generate. Sama dengan saya meluaskan pandangan saya bahwa mark comm bukan sekedar advertising ATL BTL seperti yang biasa dipahami secara umum, tapi customer service yang ramah, antrian yang nyaman, proses yang mudah adalah bagian besar dari sebuah marketing komunikasi.
ROI komunikasi online (bisa website, bisa banner, bisa buzz etc) dalam konteks tulisan saya adalah apa yang didapat pemilik brand ketika mereka sudah mengeluarkan uangnya di medium internet. Tidak harus terkait dengan sales, tapi terkait dengan objektif komunikasi.
Misalnya: Pasang banner. KPI nya adalah klik. Berapa uang yang dipakai untuk pasang banner? berapa klik yang didapat? itulah yang saya maksud dengan investasi yang balik.
Apakah investasi yang balik itu harus langsung berbentuk uang/sales? Dalam konteks ini, tidak selalu begitu. Karena, again, saya meluaskan definisi saya tentang ROI.
Makanya di dunia internet ada istilah ROI website, ROI Banner.
Mudah-mudahan esensinya ditangkap dengan jelas, dan tidak diartikan sebagai debat kusir.
2. Soal link online game. Hehehe lagi-lagi Anda salah menangkap maksud saya. Kenapa yang dipilih link itu? karena ngitung benefit untuk kliennya lebih gampang. Hitung aja dari jumlah visit dan registrant. Sesederhana itu. Kalo yang saya ambil sebuah blog atau corporate site, menghitung investasi yang baliknya akan lebih rumit, apalagi kalau bicaranya tentang sebuah tulisan pendek di blog.
Sya ngga masalah dengan kritik. Yang saya pertanyakan mengapa tiba2 membahas itu viral atau bukan? Kan kita tdk sedang membahas viralnya tapi konteks website itu sebagai sebuah medium komunikasi dan bagaimana menghitung investasi klien balik/engga nya.
Sementara itu dulu ya…mau meeting dulu nih. kalau ada yang kurang ntar disambung lagi.
Cheers
IFJ
3. Mengenai kalimat ini : internet memiliki keunikan yaitu adanya web analytic yang bisa digunakan untuk menghitung secara kuantitatif dan kualitatif hasil komunikasi Anda di medium ini”
Silahkan dipahami dengan menyimak keseluruhan yang saya bicarakan, bukan kata per kata secara an sich.
Regards,
IFJ
Menambahkan,
Hingga saat ini, masih banyak pemilik website yang hanya ingin agar bagaimana webnya bisa tampil dengan bagus, tapi tidak memperdulikan bagaimana website ini bisa diterima oleh target visitor. Klien saya pun setelah saya berikan analisa statistic setiap bulannya, mereka ada yang acuh, ada juga yang aware.
Tapi memang kembali lagi kepada ??????apa yang ditampilkan di website??????. Kalau hanya corporate profile sekitar 3-5 link saja, rata-rata si pemilik web tidak terlalu concern dengan analisa web yang saya berikan, walaupun tetap diberikan suggest oleh kita untuk improvement webnya. Tapi kalau sudah menyangkut online store, mereka sering aware terhadap peningkatan jumlah visitor, lama waktu kunjungan dan asal kunjungan sehingga bisa dilakukan improvement terhadap websitenya.
Cheers,
Rizal | axometrix digital media | http://www.axometrix. com
Kalau saya sih mikirnya ngga ribet. ROI yang dimaksut di sini adalah ’setelah klien keluar duit, terus dapat apa’. Segampang itu. Nah…dapat apa itu kan tergantung objektif awalnya mau dapat apa.
Mau dapat visit ya KPI nya visit, ROI nya dihitung dari banyaknya visit dan biaya yang dikeluarkan buat dapet visitnya.
Mungkin yang diperlukan adalah memahami secara keseluruhan esensi tulisan seperti yang dilakukan Chris, dan tidak malah sibuk memperdebatkan istilah yang malah membuat kita para marketer seperti terjebak pada ekslusifitas jargon.
Overall, saya sepakat banget dengan postingan awal. Kita harus lebih kritis dalam menanyakan apa benefit yang bisa kita dapat dengan komunikasi di internet dan hitung-hitungannya kaya gimana. Dengan adanya web analitic, itu jadi acuan pertama komunikasi kita berhasil atau ngga.
Alex.
Halo utk semua,
Kalau menyimak pembicaraan mbak Iim memang ROI yang dimaksud bukan dalam artian finansial semata, sehingga berbeda dengan pengertian ROI konvensional. Kalau demikian, maka “ROI” inipun bisa memiliki banyak versi sesuai dengan format komunikasi via internet yang digunakan dan juga preferensi/kesepaka tan dari brand owner dan pengelola internet channel. Saya sangat setuju dengan konsep ini, karena tujuan komunikasi brand owner pun tidak semuanya berujung pada sales.
Sebagai salah satu sumber data kuantitatif untuk website bisa menggunakan web statistics, yang ada di control panel server atau tersedia online. Untuk format di luar website, pengukuran bisa dilakukan dari jumlah anggota, posting, etc.
Sebagai ilustrasi di online games, karena kebetulan pernah mengelola, pengukuran kuantitatif yang kami lakukan sebagai bahan masukan ROI tadi, mencakup jumlah registrasi member, jumlah concurrent player (pada saat bersamaan), lama bermain, total login, total unique login/day, spending pattern dan lain-lain. Penggunaan banner umumnya menggunakan click per million dll. Tentu untuk penempatan banner di onine forum, blog, community network dan format lain memiliki karakteristik ukuran tersendiri. ROI yang digunakan pada akhirnya kesepakatan antara kedua pihak yang terlibat, si brand owner dan pengelola internet channel.
Mari dilanjut diskusinya.
Salam,
Fajar
hehehehe.. Jadi panjang nih….
Dari essence email pertama.. yang aku tangkap adalah setiap aktivitas online musti ada penanggung jawaban dari pihak agency terhadap client…dan client jangan mau dibodohin oleh agency. Bertanyalah…. Semua Setuju. Aku juga.
Siapa sih yang ngak setuju dengan kalau setiap komunikasi baik offline dan online itu musti membuahkan hasil. Semua Setujukan.
termasuk aku juga.
Sepanjang 15 tahun pengalaman dalam dunia marketing both online and offline… belum ada client yang cuma kasih duit dan tidak menanyakan ROI atau KPI atau ROMI utk mengukur kesuksesan dalam meraih objective. Dari size project cuma US$5000 sampai US$1000,000. semua juga minta ukuran.
dari client Microsoft ke Djarum Super ke Nike.com.
Yang membuat binggung adalah kata2 yang digunakan. Seperti aku bilang…Mungkin kurang tepat.
Seandainya kalau dokter menganalisa anda dengan jargon yang salah… mustinya sariawan dibilang kanker mulut. bukannya hal ini membuat binggung dan panik.
Sama halnya dalam hal yang aku bilang ke forum. Website yah website. Internet yah internet. Repot kan kalau tidak bisa membedakan antara internet dan website. dan juga… ROI is ROI and KPI is KPI.
Yang aku tidak mau terjadi adalah..ada marketer yang salah tangkap mengenai ROI KOMUNIKASI ONLINE. Kita membuat online game dia bilang.. what is the ROI? mungkin yang dimaksud klient adalah adalah KPI. Tapi menjelaskan hal ini akan menjadi menjelimet ke klient.
ROI is a Hot word to say in front of client… kalau KPI, ROMI atau other measurement benchmark dipukul rata menjadi ROI… hmmm….are you sure about that?
Mohon maaf kalau salah pengertian. Kalimat itu dibuat dari kata2. kalau kata2 salah…bagaimana orang bisa menangkap essence yang di kasih tahu dalam kalimat.
Subject Title email ngomongin ROI. tapi content dalamnya mengenai KPI dan measurement dan juga cost per acquistion.
Of course I got confuse.
Once again.. to clear up. Every body agreed, every marketing activities in online and offline has to be measure in order to know if we achieve the objective or not….BUT doesnt necessary always ROI or KPI or ROMI or other measurement method. It depend on the agreement between client and agency to measure the objective.
Can we move on…to next subject please.
Cheers
Danny
So…
sebenarnya muara dari permasalahan dr pembahasan ini dr awal adalah penggunaan istilah yg digunakan, antara ROI, KPI & so on. Pembahasan jd panjaaang lueebaar, krn definisi dr istilah yg digunakan sangatlah berbeda.
Saya mengerti yg dimaksudkan oleh mba Iim mengenai ROI-nya, tp yg menjadi akar permasalahan adalah istilah “ROI” sendiri sudah merupakan istilah yg sudah established terutama di bidang finance (krn istilah ROI memang berasal dr bidang finance). Istilah KPI sendiri juga sudah memiliki definisi yg sudah jelas, terutama bila dikaitkan dengan Balanced Scorecard.
Bila kita membahas hal mengenai ROI menurut definisi mba Iim dengan teman2 dr bidang finance, bisa jadi orang2 finance akan sulit menerima meskipun esensinya yg dimaksud mba Iim reasonable, karena istilah ROI sudah menjadi “merek dagang” di bidang finance sejak tempo doeloe.
Jadi alangkah bijak bila dlm menggunakan istilah, sebaiknya menggunakan istilah/definisi yg disepakati bersama, karena dengan demikian mindset yg akan digunakan jg sama sehingga diskusi akan menjadi lebih mendalam.
Chrees,
Chris Adinugroho
Marketing – Semua ada solusinya???????
Ijinkan saya memberikan referensi (based on Corporate
Finance by Ross/Westerfield/Jaffe, 2005)
ROI (Investment) yang dapat berupa ROE (Equity) atau
ROA (Asset) menurut literatur tsb. dapat dihitung
dengan pembilang antara lain revenue atau profit
margin dengan penyebut antara lain modal sendiri atau
equity (uang yang dimiliki oleh perusahaan itu
sendiri) atau aset (yang bisa merupakan gabungan
antara utang dan modal sendiri). Terminologi ROI,
secara keilmuan parameternya harus dalam satuan nilai
uang.
Saya menyarankan agar pembahasan terminologi ke depan
disertai referensi, agar milis ini tetap menjadi milis
dengan bobot konsep kreatifitas & keilmuan yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dapat menjadi acuan bagi
para marketer muda di Indonesia.
Marketer memang pada dasarnya kreatif, senang membuat
atau menafsirkan istilah, misalnya ATL & BTL yang
merupakan istilah keuangan kemudian dielaborasi tanpa
referensi keilmuan sehingga muncul istilah-istilah
lain (misalnya through the line?) yang tidak sesuai
dengan pijakan keilmuan (keilmuan disini adalah
science yang comply dengan penulisan untuk jurnal
bukan pseudo science, yang biasa muncul dalam bentuk
buku pop bergaya science, seperti yang banyak lahir
dari penulis buku tentang marketing di Indonesia).
Semoga kita semua dapat saling menghargai dan
menempatkan kreatifitas beserta referensi keilmuan
pada tempat yang semestinya.
Saya kira diskusi ini dapat disudahi dan bila ingin
lanjut dapat dilakukan secara offline.
Salam hangat,
Godo Tjahjono, SE, MSi, RFC
Young Marketers Award Winner 2003 & 2004
Marketing Auditor & Penasihat Teknis
International Association of Registered Financial
Consultant (IARFC)
17#
Nimpalin lagi ya, sebelum libur panjang
1. Pada kenyataannya, masih banyak klien yang spend uang di online dan ngga tahu uangnya membawa dampak apa. At least itu yang sering saya temui. Agency bikin kegiatan di internet either bikin website, pasang banner atau pun yang lainnya tapi tidak memberi report apa pun ke klien hasil yang di dapat. Padahal pas di audit, hasilnya jeblok banget.
2. KPI pasti bukan ROI. Dan definisi ROI di internet, again, tidak selalu berkaitan dengan uang yang balik karena tidak setiap aktifitas online bertujuan untuk direct sales.
Misal 1: Pasang banner.
KPI yang disetujui: Klik atau impresi, terserah kesepakatan 2 belah pihak
ROI: Hitungan cost per visit
Artinya, investasi klien kembali dalam bentuk jumlah kunjungan ke banner/impressi ke banner. Again, tergantung kesepakatan.
Misal 2: Online PR
KPI yang di setujui: Muncul liputan di sejumlah media online.
ROI: Hitung aja berapa kira-kira harga diliput oleh kompas.com, detik.com. dan lain-lain, lalu dibagi dengan biaya PR yang dikeluarkan.
Artinya, investasi klien kembali dalam bentuk liputan di sejumlah media besar.
Misal 3: Situs khusus untuk jualan
KPI yang di setujui: Transaksi dalam periode tertentu
ROI: Hitung saja berapa jumlah total transaksi yang terjadi dalam periode tertentu. Lebih besar dari modal/investasi tidak? kalau lebih besar berarti klien untung. ROI nya positif. —> yang ini, elemen dan cara perhitungannya bisa lebih kompleks dari yang saya sebut
Jadi kasus per kasus, elemen perhitungan ROI dan bentuk ROI nya berbeda.
So, seandainya dirangkai dalam pertanyaan, bukan : ROI nya apa? tapi KPI nya apa dan ROI berapa (ngitungnya gimana)?
3. Jadi judul ‘ROI komunikasi Online’ itu dimaknai secara luas. Karena komunikasi online bentuknya banyak banget, bisa online PR, online CRM, Online marketing, Viral marketing dll. Kalau contoh yang saya berikan ada creative site, itu karena kebetulan elemen untuk menghitung ROInya lebih simple.
4. Jadi ROI yang saya maksud bukan benchmark seperti KPI. ROI komunikasi online, again, hasil yang didapat dari uang yang sudah diinvestasikan di medium internet yang bentuknya tidak selalu sales/uang.
5. Mengapa saya mengangkat web analytic? Karena itu adalah salah satu alat yang bisa dijadikan standart untuk menilai (tergantung kasusnya ya…) aktifitas komunikasi online.
6. Melihat tanggapan2 dan kualitas diskusi di forum ini sih, saya yakin tidak diperlukan lagi edukasi bahwa di dalam internet ada banyak aktifitas seperti milis, blog, YM, dll dan bahwa internet bukan website
Have a long great holiday everyone.
Selamat Hari Raya Idul Fitri buat yang merayakan.
Mohon maaf lahir dan batin.
Iim Fahima Jachja
Terimakasih mas Godo dan mas Chris atas tanggapannya.
Saya sangat menghargai istilah yang ’science yang comply dengan penulisan untuk jurnal’. Namun seiring dengan pesatnya perkembangan pengetahuan, teknologi, kita juga hendaknya tidak menutup mata terhadap adanya makna mau pun definisi yang lebih luas dari istilah yang telah ada.
Terkait dengan internet (website), ada istilah ROI Website (jika komunikasi online yang dilakukan berbentuk website) yang keberadaannya dikaitkan dengan hasil analisa web analitic.
Postingan awal saya adalah sebuah pancingan untuk terjadinya diskusi yang saling melengkapi dan membuka mata.
Jika ada yang kurang lengkap, ya mari kita lengkapi…karena itulah fungsi sebuah postingan di milis mau pun di blog. Jika mau tulisan yang sangat lengkap, adanya di buku.
Berikut saya sertakan beberapa artikel tentang ROI website. Mudah-mudahan bermanfaat.
http://www.ebiz-marketing-coach.com/better-web-site-roi.html
http://www.inc.com/articles/2004/03/webroi.html
http://www.internetworldstats.com/articles/art080.htm
Sama dengan mas Godo dan mas Chris, dari awal saya pun berharap diskusi ini berkembang menjadi diskusi yang fokus, tidak melebar ke hal yang tidak relevan, enriching, dan saling menghargai.
Iim Fahima Jachja
salam kenal, informasi yang menarik, Trims.
[...] impact ketika dilakukan dengan strategy dan ekskusi yang tepat sehingga menghasilkan ROI online http://www.virus-communications.com/blog/?p=125 yang maksimum. ROI online adalah hal yang bisa di measure jika dari awal kita punya objektif, [...]
apa sih hubungan antara ROI DENGAN BALANCE SCORECARD??THX..