Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Perlukah perusahaan dengan produk untuk low class consumer memiliki website?

November 8, 2006
Oleh Iim Fahima Jachja

 

tanpa judul1.jpgPenting atau tidaknya memiliki website, masih sering menjadi pertanyaan para pemilik brand terutama jika brand tersebut end usernya konsumen kelas bawah. Jika objektif memiliki website tersebut adalah untuk mengiklankan brand yang notabene konsumennya tidak mengakses internet, maka bisa dibilang memiliki website adalah prioritas yang ke sekian.

Namun, penting disadari bahwa keberadaan sebuah website tak harus selalu dikaitkan dengan aktifitas beriklan di internet. Membangun website adalah upaya untuk membangun brand presence di internet sehingga ketika stakeholder yang mencari info tentang perusahaan kita, mereka menemukan informasi dari sumber yang tepat. Selain itu, Website juga memiliki fungsi penting lain yaitu:

1. Tempat segala informasi resmi dari perusahaan kepada publik

Masih ingat dengan ajakan berhenti minum Coca Cola di milis milis karena perusahaan ini dikabarkan memberi dukungan finansial jutaan dolar kepada pemerintah Israel dalam menyerang Palestina dan Libanon? Bahkan sebagai imbalan, kabarnya perusahaan ini akan mendapat tanah di Kiryat gat, sebuah kawasan di palestine untuk membangun pabrik. Menanggapi itu, dikeluarkanlah sanggahan dari situs resmi coca cola dan rumor itu pun perlahan hilang.

Apa yang akan terjadi jika perusahaan kita tidak memiliki website resmi? sumber mana yang akan dipercaya jika suatu saat brand kita diserang rumor di internet?

2. Sarana berkomunikasi yang hemat dan cepat.

Jika perusahaan Anda produk produknya sudah terdistribusi sampai ke luar kota atau atau bahkan ke luar negeri, memiliki website adalah hal yang sangat disarankan. Hal ini berfungsi sebagai sarana komunikasi dari pusat ke daerah atau sebaliknya sehingga semua orang bisa mengikuti segala informasi yang terjadi dan kebijakan terbaru yang dikeluarkan perusahaan.

3. Menambah value terhadap brand

Website dengan objektif ini, biasanya lebih memfokuskan pada info produk atau layanan yang tidak bisa diperoleh di medium lain. Bentuknya bisa berupa website sederhana seperti ini atau yang lebih interaktif seperti ini.

Dengan gambaran di atas terlihat bahwa membangun brand presence di internet merupakan kebutuhan basic yang sebaiknya dilakukan oleh setiap perusahaan untuk memberi informasi lebih kepada stakeholders sekaligus sebagai jaring untuk menangkap peluang bisnis.

Tak harus berupa website yang ‘keren’ (meski semakin representatif website kita, menunjukkan tingkat keseriusan dalam membangun image di mata konsumen), namun setidaknya ketika stakeholders mencari tahu tentang perusahaan Anda, mereka bisa mendapatkan informasi dari sumber yang resmi.

13 Responses to “Perlukah perusahaan dengan produk untuk low class consumer memiliki website?”

  1. Ade says:

    Apakah dalam website tersebut perlu dibuat ruang interaktif dengan semua bagian perusahaan tersebut atau malahan dengan jajaran direksi termasuk presiden direktur? Terima kasih

  2. Iim-Adhit says:

    Sebelum membuat website, hal terpenting yang harus dilakukan adah men-set objektif, untuk apa website ini dibuat? Jika tujuannya untuk memperlancar komunikasi internal perusahaan, maka dua elemen yang Anda sebutkan sangat bermanfaat.

  3. Ade says:

    Kalau komunikasi untuk pelanggan dan mitra bisnis, bagaimana? Terima kasih.

  4. Iim-Adhit says:

    Dear mas Ade, harus dicari tahu dulu apa permasalahan dan kebutuhan mereka. Setelah data terkumpul, baru kita mencari solusi yang bisa diselesaikan dengan adanya website.

    Misalnya: sebuah perusahaan farmasi memiliki objektif ingin mengundang mitra bisnis baru. Maka sebelum membuat website, harus dicari tahu dulu apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh seorang calon mitra bisnis farmasi tersebut.

    Jika setelah di riset ternyata kebutuhan calon mitra bisnis adalah mengetahui portfolio perusahaan, riset terakhir, jaringan distribusi dll. Maka elemen elemen itu lah yang seharusnya dimunculkan di website (setelah digabung dengan kebutuhan internal perusahaan).

  5. There’s nothing “wrong” with newspapers or magazines. There’s nothing “right” about blogs or podcasts. Given the available technology, a person or business may find that a certain medium or combination of media is right or wrong for achieving a certain communications purpose…

    http://www.knowmoremedia.com/2006/11/old_media_vs_new_media_the_ima.html

  6. Iim-Adhit says:

    Dear mas rahardian, silahkan dibaca dengan lebih teliti lagi. Postingan ini tidak membicarakan ‘benar’ atau ’salah’, tapi manfaat apa yang bisa diperoleh dari memiliki website, salah satunya adalah menebar jaring lebih luas untuk menangkap opportunity bisnis yang bisa datang setiap saat..

  7. Rizky says:

    lumayan nih buat dijadiin bahan presentasi.

    maklum otak marketing gue blom terasah. masih terlalu technical. thx ya!

  8. Iim-Adhit says:

    Sama sama, mas Rizki. Silahkan dimanfaatkan tulisannya.

  9. eno says:

    peramsalahan yang kerap saya hadapi ketika memasarkan website development sebagai salah satu layanan di kantor kami adalah, belum aware-nya calon klien terhadap pentingnya website. atau klien memilih memanfaatkan blog atau fasilitas gratisan lainnya. gimana meyakinkan mereka untuk ‘pindah’ ke web yang lebih ‘resmi’? mengingat bagi sebagian, price does matter, kalau ada yang gratis kenapa harus bayar.

  10. Iim-Adhit says:

    Ketika kita menjual sesuatu, kita harus tahu apa keunggulan produk yang kita jual. Silahkan dijelaskan apa manfaat menggunakan website sendiri dan apa kelemahan menggunakan website gratisan.

    Jika ada penjelasan yang kuat rasionalnya dan menjawab kebutuhan klien, saya yakin klien akan mau mengeluarkan budgetnya.

  11. Henie ZR says:

    Dear P’adhit & B’Iim

    Ketika sedang memulai usaha dengan keterbatasan modal, sementara untuk membuat website diperlukan biaya, apakah marketing dengan memakai blog cukup efektif? dan apakah berpengaruh terhadap brand kami (artinya kurang bonafide / ketahuan kalo kurang modal) jawabannya saya tunggu
    Terima kasih

  12. Iim-Adhit says:

    Dear Henie,

    Memakai blog menjadi efektif ketika kita tahu bagaimana cara me-mantain blog dengan benar dan membuat blog kita dibaca banyak orang.

    Blog tidak mengindikasikan sebuah perusahaan kurang modal/tidak bonafide. Malah, memiliki corporate blog menunjukkan bahwa perusahaan tersebut terbuka terhadap opini publik.

    Namun terkait dengan etika blogging yang tidak tertulis, blog sebaiknya ditulis dengan jujur, berisi kejadian sehari hari dan tidak mengandung unsur iklan.

    Ketika konsumen tahu blog itu (secara literal) berisi iklan sebuah produk, maka konsumen tidak akan melakukan re-visit.

  13. Hasbi says:

    Mbak Iim, saya juga lagi menjajaki bisnis desain internet. Cuma masih bingung bagaimana menentukan harga. Yang client tahu cuma harga domain sama hosting. Mereka nolak kalau diajukan harga desain halaman dan web programming. Makasih

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting