Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Trend di Twitter Melawan Konsep The Tipping Point

September 8, 2009
Oleh Nukman Luthfie

 

Twitter di Indonesia menujukkan gejala-gejala tren yang aneh di mata saya. Ketika Indonesia dan Jakarta menjadi trending topic pada saat terjadi ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta, saya masih mahfum. Demikian pula ketika #IndonesiaUnite yang merespon bom tersebut memuncaki trending topics Twitter, masih masuk akal. Bahkan tatkala mbah Surip meninggal dan masuk 10 besar trending topics, saya merasa biasa saja. Namun manakala kata-kata yang aneh-aneh bermunculan menjadi trending topics, saya mulai bertanya-tanya: apa yang sesungguhnya memicu sebuah tren di Twitter?

Sebagai contoh, hari ini #alesanputus hanya dalam beberapa jam masuk ke 10 besar trending topics. Padahal kata itu hanya mengacu pada apa alasan kita putus dengan sang pacar.  Sebelumnya, #jamanSD, juga #filmbikinmewek tiba-tiba menjadi tren di Twitter. Entah energi apa yang mendorong kata-kata “kurang jelas” itu menjadi gerakan masal di Twitter.

Salah satu penjelasan terjadinya sebuah trend dikupas secara menarik, penuh dengan ujicoba, dengan analisa cerdas, oleh Malcolm Gladwell. Dalam buku larisnya yang berjudul The Tipping Point, Gladwell menjelaskan bahwa trend akan terjadi jika dipicu oleh sedikit orang yang amat berpengaruh. Hush Puppies, yang mestinya sekarat pada 1994, tiba-tiba berubah haluan karena ada segelintir orang amat berpengaruh memakai sepatu Hush Puppies.  Hanya dalam tempo dua tahun, penjualannya naik 5 ribu persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, menurut Gladwell, karena ada “segelintir superinfluential types” yang mempengaruhi orang lain untuk meniru mereka.

Di dunia marketing, fenomena itu disebut sebagai viral marketing atau word of mouth marketing. Konsepnya: dekati segelintir orang-orang yang amat berpengaruh untuk memakai produk kita, maka orang-orang yang mengagumi mereka akan tertarik untuk membeli produk yang sama, tanpa harus melihat iklan. Paham ini dianut oleh Ed Keller dan Jon Berry yang menulis buku The Infuentials. “E-fluentials bisa membuat atau bahkan merusak sebuah brand,” kata mereka. Tidak heran jika MarketingVOX melaporkan, setiap tahunnya lebih dari US$ 1 miliar dibelanjakan untuk kampanye WOM yang menyasar para Influentials ini, dengan pertumbuhan 36% per tahun, jauh di atas taktik marketing dan advertising lain.

Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry punya pendapat yang sama: tren akan terjadi jika dipicu oleh (segelintir) orang berpengaruh. Tanpa itu, tidak akan terjadi tren.

alesanputusNamun, dalam pengamatan saya, tren di Twitter terjadi begitu saja tanpa dipicu oleh orang berpengaruh. Gerakan #IndonesiaUnite tidak dipicu oleh seleb atau orang hebat. Demikian pula #alesanputus, #filmbikinmewek, dan #jamanSD bergerak cepat, menviral hanya dalam hitungan jam, menjadi tren di Twitter, tanpa picuan dari orang top, seleb, atau orang berpengaruh.

Lalu kenapa bisa terjadi? Jika mengandalkan paham Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry, maka pertanyaan itu tidak akan terjawab. Untunglah, sebuah penelitian bisa membantah paham “Orang Berpengaruh” tersebut. Duncan Watts, saintis teori jejaring lulusan Columbia University yang kini bekerja di Yahoo! membuat model komputer bagaimana sebuah rumor bisa menyebar luas dalam tempo singkat.

Hasilnya? Mengejutkan! Sebuah tren bisa terjadi tanpa harus dipicu oleh segelintir orang amat berpengaruh. Tren bisa meledak, tidak tergantung pada siapa yang memulai, tetapi tergantung pada kesiapan seluruh masyarakat untuk menyambutnya. Tren tidak tergantung pada seberapa berpengaruhnya kelompok early adopter, tetapi justru pada seberapa mudah pihak lain, yang mayoritas itu, terbujuk. “Jika masyarakat sudah siap untuk sebuah tren, siapapun bisa memicunya. Itu artinya semua orang bisa memicu tren, tidak harus orang berpengaruh,” katanya.

Bagi Watts, pengibaratan viral dengan penyebaran virus adalah salah kaprah. Viral lebih cocok diibaratkan sebagai kebakaran hutan. Selama jutaan tahun berkali-kali terjadi kebakaran hutan di seluruh penjuru dunia. Namun hanya beberapa yang menjadi kebakaran hebat. Ini bisa terjadi karena situasi yang amat jarang ditemui: kekurangan hujan, pepohonan yang mengering dan ketidaksiapan pemadam kebakaran. Jika tiga hal tersebut berkombinasi, tidak perlu orang berpengaruh untuk memicu kebakaran. Orang gila yang sembarang membuang puntung rokok pun bisa memicu kebakaran hebat.

Teori Watts ini cocok untuk menjelaskan trending topics di Twitter untuk hal-hal yang kelihatannya remeh-temeh seperti #alesanputus,  #filmbikinmewek,  dan #jamanSD. Sangat mungkin dalam diri banyak pengguna Twitter di Indonesia memang ingin cerita dan berbagi soal alasan putus mereka dengan pacar, film apa saja yang membuat mereka berurai air mata, serta kenangan manis di saat masih di Sekolah Dasar. Twitter, dengan kapasitas 140 karakternya dan sifat penyebarannya, menjadi medium yang tepat. Jadi, siapapun yang memulai tren itu tidak relevan. Bisa siapa saja. Tidak perlu beberapa seleb yang ceriwis di Twitter untuk memicu tren. Anda pun bisa memicu tren di Twitter, JIKA masyarakat Twitter siap menerima tren itu.

Ada pendapat lain?

follow Nukman Twitter di http://twitter.com/nukman

30 Responses to “Trend di Twitter Melawan Konsep The Tipping Point”

  1. richoz says:

    IMHO
    Orang berpengaruh itu biasa siapa saja bukan. Teman, follower, orang-orang yang di-follow. Jadi teori di atas masih berlaku.

  2. narko says:

    sepertinya unsur following dan followers di twitter ga ikut di bahas ma om Nukman :D

    bayangkan saja misalkan satu orang(seleb) punya 5000 pengikut dan setengah pengikutnya punya 500 pengikut dan seterusnya….

    apa yang di tweetkan pasti kelihatan sama pengikutnya…

    mungkin menurut saya, masih ada unsur untuk mempengaruhi…

    CMIIW

  3. orangufan says:

    jujur saya juga ikutan menyumbang tweet utk #alesanputus atau #jamanSD juga krn para Tweelp yang bisa di bilang saya percaya atau “berpengaruh” seperti ente dan Andrias98 dan iimfahima dteman2 lainnya juga ikutan ngetwitt topik2 itu… ya saya jadi ikutan.

    mungkin alesannya ada dua pak!
    satu krn emang orang kita tuh Guyub..suka ngobrol a.k.a. nongkong a.k.a. ngGossip, dan yang kedua ya itu.. orang2 g kita percaya juga ikutan nimbrung.

    jadi menurut saya sih Tipping point masih berlaku pak, hanya saja orang berpengaruh itu bisa siapa saja…bukan hanya artis atau politikus… atau siapalah.

    masing2 dari kita punya pandangan dan penilaian yang berbeda ttg siapa orang yg berpengaruh tadi… dan kadang secara gak sadar kita pun dinilai berpengaruh oleh seseorang di twittersphere, itulah penyebab trend nya

  4. Pitra says:

    Kalau saya melihatnya (setidaknya) ada 4 tipe trend yg ramai di kita:

    1. Live news (seperti gempa, bom, mbah surip). Semua orang menyampaikan spontan tanpa perlu ada influencer.

    2. Permainan (seperti #sawityowit), yang dipicu oleh influencer besar. Kalau yg bikin permainan itu bukan seleb (spt kasus #tebakangaring yang dampaknya gak sebesar dibandingkan #sawityowit padahal sudah jauh lebih dulu muncul)

    3. Sesuatu yg sudah menjadi pengalaman bersama sehingga dengan mudah kita bisa berbagi, seperti #90s #jamanSD #alesanputus. Orang gak susah bercerita krn semua berdasar pengalaman sendiri. Siapapun influencernya gak akan terlalu berpengaruh.

    4. Saya belum dapat istilahnya, tapi sifatnya sesuatu yg membangun kesadaran untuk berubah, seperti semangat #indonesiaunite. Ini pun harus dipicu oleh sesuatu. Influencer di sini tidak melulu selebritis, tapi orang2 yg kita percayai di ranah online.

    Nah, tinggal pilih, kalau ada brand yg ingin diperbincangkan di dalam Twitter, skema apa yg ia pilih dari 4 di atas.

    Btw, mungkin masih ada tipe ke-5 dan ke-6, yang belum ketahuan.

  5. Richos, Narko, Orangufan:
    Yang ditawarkan oleh Watts adalah: tidak perlu orang (amat) berpengaruh untuk MEMICU tren. Dalam hal memicu tren, orang amat berpengaruh sama saja perannya dengan orang biasa.

    Kunci trend, sebaliknya, diletakkan pada kesiapan masyarakat untuk menerima tren, tidak tergantung pada influencer atau trendsetter. Meski ada orang berpengaruh yang berusaha memicu tren, jika masyarakat tidak siap, tren tidak akan terjadi.

    Jadi kalau Orangufan ikut-ikitan menyumbang posting #alesanputus dan sejenisnya di Twitter, itu bukan semata-mata karena melihat saya atau influencer laib melakukan, tetapi karena Orangufan sendiri memang siap menerima tren itu.

  6. Andril says:

    cara efektif ini sudah disebutkan sejak doelo kala :
    1. sampaikan walau 1 ayat(commment)..
    2. sampaikan dgn sesuai bahasa kaumnya(title)…

    tul gak om?

  7. Albert says:

    Mas Nukman, ada sedikit beda antara kasus di Tweeter dengan Hush Puppies.

    #alesanputus, #jamanSD, #filmbikinmewek cenderung lebih mudah terpicu, tidak harus oleh orang yang sangat berpengaruh, karena banyak orang memiliki asosiasi atau ingatan tentang hal itu. Dan karena itu topik2 itu mudah terpicu dan menyebar.

    Lain halnya dengan Hush Puppies, setau saya (CMIIW), waktu itu tidak ada hal apapun yang dapat dikaitkan dengan model sepatu HP. Model sepatu itu sesuatu yang benar2 baru, tidak ada dalam asosiasi atau ingatan siapapun. Dan karena itu perlu orang2 yang sangat berpengaruh untuk menyebarkan trend itu.

  8. Setelah jadi tren di twitter, lalu apa ya? Di tengah derasnya banjir tren yang silih berganti, apakah ada yang bakal nyantol di benak pengguna? *uh, maafkan pola pikir yang terlalu pragmatis ini*

  9. BudiTyas says:

    Yup, sepakat dgn watts. Untuk hal2 tertentu, pada dasarnya potensinya sudah ada, ubo rampenya lengkap, tinggal media mana yang expose duluan. Hanya saja, kalau kebakaran hutan besar akan sangat jarang terjadi. Mentok2nya kayak trend twitter yg sederhana di atas. Kalo Hush Puppies itu bukan kebakaran hutan, tapi hutan yang dibakar. Pembawa koreknya punya stok minyak yang banyak. Tipikal endorser atau ambassador brand.

  10. Menarik sekali penelitian watt. Tapi gini. Walaupun ubo rampe dan bahan bakar sudah ada di tiap orang, belum tentu orang-orang tersebut mau menyulutnya. Pilihan isu jadi sangat menentukan apakah orang-orang menjadi gampang terbakar. Tidak semua orang ikut ‘ganyang negeri sebelah’, #indonesiaunite, #ruufilm, #ruukesehatan dan lainnya. Peran influencer masih diperlukan sebagai pemantik. Paling tidak dengan jalan memberi contoh how to be involved, eg: apa yang harus ditweet untuk #alesanputus.

    Ada sedikit pergeseran definisi influencer menurut saya. Influencer kini sifatnya bottom up, diangkat sendiri oleh anggota kelompoknya, dan tidak ditentukan oleh pihak lain. Dan karena ada hiperkoneksi macam twitter dll, ada banyak sekali tribes dan celeb 2.0 (influencer). Thus, Tipping Point on steroid :d

    cmiiw

  11. Roby says:

    Satu lagi alasan kenapa cara berpikir “influencer” ini problematik.

    Untuk setiap trend besar kita bisa telusuri asal usulnya dan lalu mengatakan individu yang memulai trend tersebut berpengaruh. Tapi masalahnya adalah kita menyebutnya berpengaruh ketika kita *sudah tahu* hasil trend yang dimulai olehnya. Tetapi hampir tidak mungkin kita bisa memprediksi dengan pasti bahwa suatu trend menjadi besar sebelum trend itu terjadi. Jadi seseorang dianggap berpengaruh ketika dia berhasil membuat trend besar, dan menurut penelitian selama ini trend besar ini lebih ditentukan oleh dinamika trend tersebut dibanding asal usul trend itu sendiri. (ini saya bahas disini: http://www.berjejaring.com/?p=19)

    Satu lagi, selebriti tidak termasuk influencer yang dibahas dalam model Watts atau Gladwell. Karena selebriti memiliki tim dan dukungan media besar sehingga pengaruhnya tidak bisa dibedakan dengan pengaruh media tradisional.

    Pada intinya, trend besar adalah fenomena kolektif, bukan individu. Pada fenomena kolektif, konteks dan interaksi antar individu lebih menentukan dibanding sifat individu (apakah individunya influencer atau tidak).

  12. #7. Albert,

    Pada 1994 justru banyak sepatu sejenis Hush Puppies. Namun kenapa hanya HP yang sukses menviral? Itu yang digugat oleh Watt. Ini yang kemudian juga membuat Watts berpikir (dan sudah diuji melalui model komputer), bahwa sukses viral itu terjadi secara RANDOM. Watts menguji, jika kita kembali ke tahun saat Madonna berjaya diulang lagi di lab, besar kemungkinan yang kemudian menjadi artis hebat bukan bernama Madonna, tetapi orang lain.

    Intinya, siapa saja berpeluang untuk memicu tren, JIKA masyarakatnya siap.

  13. #9. BudiTyas:
    Seperti dibilang mas Roby (#11), kesimpulan adanya influencer ala The Tipping Point itu dilakukan SETELAH terjadinya viral, kemudian dirunut ke belakang. Setelah ketemu sang pemicu, maka dilabelihah mereka dengan nama “Influencer”. Pendekatan semacam ini problematik dan bisa saja keliru mengambil kesimpulan. Watts pun berpendapat begitu. Jangan-jangan, pemicunya bukan super influencer seperti yang disimpulkan Gladwell tetapi justru orang biasa saja (yang tidak ditemukan Gladwell).

    #11. Roby:
    Terima kasih tambahan informasinya mas, terutama soal “memprediksi sukses viral itu makin sulit”. Saya sudah baca tulisan di blog mas Roby soal kesuksesan sebuah lagu yang tidak ditentukan oleh kualitas. Menarik.

  14. #12. Toni.

    Tentu saja, tren hanya bisa terjadi jika:
    1. Ada penyulutnya, yang menurut Watts, bisa siapa saja (menurut Gladwell harus influencer hebat)
    2. Ada masyarakat yang dengan mudahnya disulut.

    Penjelasan mas Roby (#11), berbasis pendekatan Watts, sangat menarik: “Pada intinya, trend besar adalah fenomena kolektif, bukan individu. Pada fenomena kolektif, konteks dan interaksi antar individu lebih menentukan dibanding sifat individu (apakah individunya influencer atau tidak)”.

    Toni memaksakan kata “influencer” karena mereka memicu tren. Boleh-boleh saja. Watts pun terpaksa menggunakan kata itu tetapi dengan menyebutnya sebagai “accidental influencer”, yang bisa siapa saja, tidak harus orang yang nyata-nyata punya pengaruh luas.

    Bagi Watts, teori Gladwell mengenai influencer salah total untuk skala massal. Meski Watts membenarkan soal studi Stanley Milgram mengenai Six Degrees of Separations yang dikutip di buku The Tipping Point.

  15. Erik Tapan says:

    Bravo ulasannya Pak Nukman.
    Memang dengan adanya pelbagai media, saat ini semua orang bisa menjadi newsmaker sekaligus trendsetter.

    Semua itu khan tergantung, apakah situasinya cocok/mendukung atau tidak.

    Menurut saya di era horizontalisasi saat ini, pembentuk trend tidak lagi hanya dimonopoli media massa konvensional (cetak maupun elektronik) TETAPI bisa semua orang, karena semua orang memiliki potensinya via social media.

    Nah, mereka yang profesional (media konvensional maupun para blogger/twitter) tentu akan berusaha untuk bisa menjadi trendsetter. Usaha tersebut dihargai dengan biaya pemasangan iklan/banner. Sedangkan yang amatir, kadang bisa, kadang tidak. Tentu sukar menilainya.

    BTW, banyak terima kasih telah sudi mampir di blog saya. Berita gembira, berkat kehadiran Pak Nukman (?), blog saya baru saja dianugerahi Internet Sehat Blog Award.

    Salam trendsetter.
    Erik Tapan
    http://eriktapan.blogspot.com

  16. BudiTyas says:

    # pak nukman,
    Sebenarnya label ‘influencer’ itu untuk pangkal sesuatu itu bermula atau pangkal dimana sesuatu itu terpicu menjadi besar? Saya kira antara Gladwel dan Watt melihat pangkal yang tidak sama. Jika dilihat siapa yang memulai, tentu bisa siapa saja, namun jika dilihat siapa yang memicunya menjadi hal yang besar, maka jawabannya bisa kolektif, bisa juga seorang ‘influencer ala Gladwel’.

  17. Honestly I don’t curious… because it’s MATHEMATIC, perhaps I’m wrong, but you know me.

    I’m waiting another opinion about that here. ;)

    ps : got the clue? same the way I think about?

  18. #16. BudiTyas
    Gladwell mengamati, setiap kabar bisa menyebar menjadi viral melalui enam tahap (six degrees of separations), dan ternyata hampir semua jenis viral melalui titik (orang yang sama), yang disebut sebagai influencer. Gladwell, sejauh yang saya pahami, tidak melihat dari mana viral itu dimulai.

    Sebaliknya, Watts tidak melihat titik yang sama itu sebagai isu penting. Uji lab komputer dalam skala yang lebih masal ketimbang uji lapangan Gladwell menunjukkan, tidak ada titik-titik yang sama itu. Viral terjadi secara random.

    #17 Andy
    It was not about mathematic, but about Cultural and Social factors that shape customer intention

  19. @pitra
    Wah.. sependapat Pit, jadi gak perlu nulis maksud yang sama. Karena yah ituh, bagaimana pun sebenarnya ada faktor faktor yang harus dipicu oleh influencer, ada yang ngak perlu karena sudah menunggu waktu ledaknya, Suatu yang terkini dan dialami bersama ( live news ), Yang terakhir Trend for a change.

  20. Kalau mau dilihat dari sisi lain, jawaban Pitra bisa termasuk, sebuah hal yang simple, yang mudah dilakukan/sudah dilakukan oleh banyak orang.

    Tentunya kita bisa melihat dari sisi angka juga, berapa jumlah twitter user Indonesia? kalikan dengan behavior orang Indonesia yang sangat sangat dan sangat update, secara algoritma itu akan mengalahkan trending topic di saat yang sama karena behavior global twitter user tidak seperti orang Indonesia.

    Bayangkan saja, pada saat gempa, orang berlari saja sambil update twitter/FB status, dalam 10 menit pertama satu orang bisa mengupdate 5 kali mungkin, kalikan saja dengan twitter user Indonesia, mungkin angkanya bisa mengalahkan twitter user negara lain? make sense? :)

  21. #20. Andy

    Andy agaknya masih terjebak sama soal matematika. Bahwasanya ada volume (jumlah) secara matematis agar menjadi trending topics di Twitter, itu memang benar. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana itu bisa terjadi.

    Jawaban atas pertanyaan itu sangat penting bagi perusahaan atau brand untuk membangun strategi viral. Bagaimana memicu sebuah topic agar menjadi tren? Siapa yang bisa menjadi pemicunya? bagaimana pola penyebarannya. Dll. Its about social and culture factors. Its about marketing.

  22. #4.Pitra.

    Untuk kasus no.2, #sawityowit berhasil karena ada konteks puasa Ramadhan, sedangkan #tebakgaring tanpa konteks sama sekali sehingga kehilangan moment

  23. arham says:

    #21 @nukman
    Setuju pak, berkaitan dengan soal matematis memang okeh. Tapi msa ia kalo kita sedang ada campaign harus menyediakan banyak BB / computer + ribuan account. High cost banget kan..

    #22
    saya rasa kasus no.2 . Ngak cuman satu factor pak. #tebakgaring pun jika mampu menemukan cause bisa jadi trend. SawitYowit selain ada factor selebnya juga karena momen. Lagipula di sini, Moment Ramadhan sudah jadi momentum.

  24. Nope, kan bapak menanyakan pendapat lain, jadi saya menjelaskan dari sisi yang praktis. Penjelasan diatas sudah menjawab pertanyaan mekanisme menjadi trending topic.

    Kalau membahas bagaimana supaya bisa menjadi trending topic, dengan teori diatas juga masih sangat general, maksudnya ya kita tahu beberapa faktor pemicunya, tetapi apakah selanjutnya para marketer bisa menciptakan hal itu juga dengan pasti? i don’t think so because too much factor to make perfect and always change.

    Tidak relevan siapa yang memulai juga tidak sepenuhnya benar, untuk case MASS topic bisa jadi ya, siapa saja bisa memulai, tapi apakah untuk NICHE topic juga sama? contoh, jika seorang Jammie Oliver mentriger dengan mengatakan “XXX restoran have the best pasta in the world” then BOOM, people will RT and discuss it for certain time.

    #23 tentu saja tidak ada marketer yang akan melakukan hal konyol seperti itu… :D

  25. Ronald Widha says:

    Kalo kita ingat kembali lebih dari 10 tahun lalu, di saat sebagian dari kita baru saja mengenal internet dan email. Di saat internet harus diakses melalui portal direktori, chat harus janjian di channel tertentu dan email masih sepi.

    Begitu ada email masuk, quiz cinta2an atau chain emails yang lain, kita pun tidak ragu2 untuk mem-forward imel tersebut ke semua teman yang kita tau. Faktor mainan baru!

    Faktor mainan baru ini jg terjadi di tahun 80-an ketika hampir semua lagu pop dihiasi dengan efek gaung (reverb) yang berlebihan. Di saat itu, efek digital menjadi mainan baru, dan para engineer berusaha mencari semua suara yang bisa dibubuhi efek ini.

    Begitu pula dengan twitter. Aku rasa banyak orang yang ingin menggunakan twitter dan tidak tahu mau nulis apa. “lagi nunggu si @anu”. semoga ga sampe terlalu meta sampai “lagi bingung mo nge-twit apa”. Ingin ikut main, tapi tidak punya topik. Tapi dengan adanya injeksi ide yang punya nilai gimmick ini menelurkan ide ke banyak orang untuk bisa berpartisipasi. Faktor mainan baru ini tiba2 mengisi kekosongan yang ada di audiensnya.

  26. [...] saya terhadap Meme ini, saya ingin mencoba merespon Nukman Luthfie yang menulis tentang bagaimana trend hash tag lokal di Twitter tidak sejalan dengan konsep tipping point dari Malcolm Gladwell. Di Misteri Trending Topic, Toni bahkan lebih jauh lagi membandingkan fenomena ini dengan bbrp [...]

  27. atmo says:

    Teori Duncan Watts memang menunjukkan democrazi di Internet. Belum lama kita dikejutkan dengan ulah jokoanwar. Tapi anehnya yang jadi tend malah Circle K. Satu kata yang (saya tak tahu persis apa joko dibayar Circle K atau tidak) mungkin tidka diduga akan menjadi trending. Jadi, meskipun nampak agak acak , kayanya trending topic bisa diarahkan untuk iklan merek juga.

  28. [...] saya harus tidur saja supaya tidak pusing? Ada yang mau urun rembug? Jangan lupa baca blog Virtual, di sana diskusinya sudah mulai dari [...]

  29. aa gym says:

    sebenarnya, ada banyak orang yg memiliki masalah yg sama. hanya saja tidak mau mengungkapkannya. jadi ketika ada yg memicu, mereka seperti api kecil yang disiram bensin. mungkin kira-kira seperti itu kali ya.

  30. mas awe says:

    ada yang tahu cara mengetahui trending topic local khusus Indonesia ?? mungkin alamat webnya gitu kalo ada.. terima kasih..

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting