Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Ini Kode Etik(a) Blog

March 15, 2008
Oleh Nukman Luthfie

 

Blog adalah dunia bebas. Tempat kita bisa bersuara apa saja. Tak ada satu pihak pun yang bisa menyensornya. Tak ada media apapun yang mampu mengontrolnya. Kendalinya adalah diri blogger itu sendiri. Blog adalah sebuah medium kebebasan, yang dirayakan dengan penuh sukacita oleh banyak orang — namun pada saat yang sama juga dikutuk sebagian orang.

Kata Rebecca Blood, The weblog’s greatest strength — its uncensored, unmediated, uncontrolled voice — is also its greatest weakness. Kekuatan utama blog yang bisa mengungkapkan apapun sebebas-besanya, sekaligus merupakan titik terlemahnya. Maka pengarang buku “The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining Your Blog” itu mengusulkan etika blog.

Apa yang ditulis Blood bukan kode etik — sebuah etika yang disepakati oleh anggotanya secara tertulis dengan kekuatan internal untuk memberikan sanksi bagi yang melanggar. Ini hanyalah etika blog — sebuah tindak tanduk positif yang dipraktikkan banyak peblog di Amerika Serikat. Saya perhatikan, banyak peblog Indonesia — baik yang ditasbihkan sebagai seleb blog maupun yang bukan seleb — yang menerapkan etika-etika blog tersebut.

Sebagai lanjutan diskusi sebelumnya, di bawah ini saya padukan etika yang ditulis Blood dengan penambahan etika lokal peblog Indonesia.

Tulislah Fakta.

Ya, tulislah fakta. Bukan spekulasi. Kalau anda melihat seorang ibu kecopetan, tulislah apa adanya. Kalau anda mendengar peristiwa itu dari orang lain, sebutkan bahwa menurut orang tersebut ada ibu kecopetan.

Jika sesuatu yang anda tulis bersifat spekulatif, sampaikan dalam tulisan. Ada banyak kata-kata yang bisa membantu kita. Misalnya saja, kita melihat seorang ibu turun dari bis dengan muka bingung sambil mencari-cari sesuatu di tasnya, kita tidak boleh serta merta memastikan dan menuliskan bahwa ibu tersebut kecopetan. Maka, kalau mau menuliskan itu, tambahi dengan kata “jangan-jangan”, “boleh jadi”, “mungkin” ibu tersebut kecopetan. Dengan demikian, pembaca tahu bahwa pernyataan kita spekulatif, belum terbukti benar.

Hargai Sumber Tulisan.

Ketika kita menulis sesuatu dengan menyinggung tulisan pihak lain atau berdasarkan sumber online lain, berikanlah link/tautan/pranala luar ke tulisan tersebut sebagai referensi. Pembaca diberi kesempatan untuk membaca referensi tersebut sehingga mereka dapat menilai apakah tulisan kita akurat apa tidak.

Koreksi Tulisan

Tidak ada salahnya mengoreksi tulisan, jika memang apa yang kita tulis salah. Kadang kita salah tulis nama, alamat, sumber tulisan karena keteledoran atau ketergesa-gesaan. Begitu tahu ada yang salah, perbaiki segera.

Kadang pula, apa yang kita tulis setahun lalu, kini menjadi tidak relevan lagi sehingga kita perlu memperbaikinya.

Sedikitnya ada dua cara memperbaiki tulisan, tanpa harus menghapus atau menulis ulang tulisan asli. Pertama, dengan mencoret kalimat/kata yang salah dan menambahinya dengan kalimat/kata baru. Kedua, update dengan tulisan/postingan baru, dan informasi perbaikan itu ditulis di akhir tulisan yang diperbaiki.

Tidak Menghapus Tulisan

Kebanyakan peblog serius tidak menghapus tulisan yang pernah termuat di blog. Mereka sadar, penghapusan itu akan mengecewakan mereka yang mengutip atau menaruh pranala luar ke tulisan tersebut. Juga, jangan menulis ulang sebuah tulisan sehingga terjadi perubahan makna secara fundamental. Itu sama saja dengan menghapus dan menggantinya dengan tulisan baru.

Tidak Mengganti Alamat Postingan.

Mengganti alamat postingan akan merugikan mereka yang menaruh pranala luar.

Keterbukaan Terhadap Konflik Kepentingan.

Tidak ada salahnya seseorang yang memiliki kepentingan tertentu — entah ketika bersaing menjadi bupati, ketua ormas, ketua RT/RW atau kepentingan lain — menulis blog. Tetapi ungkapkanlah hal tersebut agar pembaca dapat menilai tulisan dengan lebih jernih.

Tidak Menghapus Komentar.

Sebagai tempat terbuka, bebas, pemilik blog juga harus menerima risiko untuk mendapat komentar pedas. Biarkan saja komentar pedas, kritis, menusuk, muncul di blog. Jangan pernah menghapusnya — juga mengeditnya — kecuali komentar itu berpeluang menimbulkan kerugian pihak lain atau hanya sekadar untuk jualan/promosi atau meningkatkan page rank pemberi komentar. Kalau komentar tersebut jelas-jelas spam, hapus saja.

Tahu Batas Pribadi dan Publik.

Blog adalah ruang publik. Usahakan untuk ekstra hati-hati menulis seuatu yang sifatnya bukan hak publik — misalnya informasi rahasia perusahaan/tempat kita bekerja, rahasia keluarga, rahasia teman. Hat-hati juga untuk menulis percakapan pribadi kita dengan pihak lain. Usahakan mendapatkan izin mereka terlebih dulu sebelum kita publikasikan di blog.

Update 16 Maret 2008:

Tidak Copy Paste.

Di mana-mana, mencuri itu haram. Apapun yang dicuri, tetaplah tidak halal, –kecuali “mencuri” hati. Mereka yang copy/paste tulisan orang, apa boleh buat, bisa dikelompokkan ke kategori ini. Menyakitkan penulis aslinya. Apalagi jika copy/paste itu dilakukan semena-mena tanpa menunjuk sumbernya dan memberi pranala luarnnya. Maka kata Vandi, Ray dan Mbelgedez, sudahilah perbuatan terkutuk itu.

Meski jelek dan dianggap kampungan, menulislah sendiri. Lama-lama akan bagus juga. Karena sesungguhnya menulis bukan sekadar bakat. Menulis juga kompetensi.

Tidak Memicu Kerusakan.

Tulisan bisa lebih tajam dari pedang. Maka, kata NdoroKakung, janganlah menebar prasangka, fitnah, dan SARA. Lebih baik menebar kemaslahatan umat seperti yang dilakukan Bangsari ketika mengajak peblog untuk mengumpulkan kambing guna membiayai sekolah anak tak mampu. Ia bukan hanya mengajak, tetapi bersama teman-temannya mengkoordinir dan mewudujkan usulannya.

Update 24 Maret 2008.

Menampilkan Identitas.

Blog dilengkapi dengan identitas pribadi yang bersangkutan. Identitas yang jelas akan mempermudah pembaca untuk berkomunikasi dan mempererat keterkaitan antara pembaca dan pemilik/penulis blog.

Demikian pula, identitas — baik berupa nama asli, email yang memang dipakai, serta blog yang dikelolanya, amat penting ketika memberikan komentar di blog lain. Identitas dalam berkomentar ini seringkali diperlukan untuk menyambung silaturahim antar peblog, sekaligus untuk menghangatkan diskusi melalui komentar. Mereka yang tampil tanpa identitas asli, seringkali bertujuan untuk memprovokasi dengan kecenderungan negatif dan tidak bertanggungjawab.

Blog ini pun tak jarang mendapat komentar dengan nama tidak jelas, terutama ketika membahas masalah-masalah sensitif, misalnya persaingan antara Detikcom-Okezone. Ada orang yang berubah-ubah nama dan email, meski IP-nya sama.

——–

Sementara itu dulu.

Ada yang bersedia menambahkan etika blog ini?

44 Responses to “Ini Kode Etik(a) Blog”

  1. Vandy says:

    Ini Paling penting, Tidak Kopas!!!
    btw, Pertamaxxx

  2. ndoro kakung says:

    - tidak menyebarkan prasangka, fitnah, isu SARA
    - mentraktir sesama blogger
    - minjemin duit temannya

    hahaha … :D

  3. tomplee says:

    Wah P Nukman ini postingan tentang cara membuat blog yang tidak sembarangan itu ya… :)

  4. Ray says:

    Astagah… bagus ini pak, sepertinya perlu di bakukan deh biar bisa jadi acuan blogger Indonesia.

    Sering kali saya menemukan artikel yg kopi paste, kopi paste adalah jalan tercepat untuk menulis, masih mending kalo kopi paste disebutkan sumbernya, ada beberapa malah dengan enaknya menuliskan sumbernya adalah diri mereka sendiri..

    Tapi Sampai sejauh ini saya juga masih belum bisa menulis.. he he he

  5. -tikabanget- says:

    itu yang komen nomer 2 tolong koreksi diri sendiri yaaa…
    anda sudah menyebarkan prasangka tentang sayah..!!!
    huh..
    **ngacak pinggang**

  6. boleh juga tambahan masukan Blog Baik dan Buruk he he

  7. iqranegara says:

    kalo kode etik corporate blogging gimana?

  8. The Tracer says:

    Kopas bagi saya pribadi tidak mengganggu. Tulisan saya silakan dikopi paste, disebarkan asal jangan dikomersialkan. Tulisan saya ada misinya sehingga semakin banyak yang baca semakin baik.
    Beberapa kali saya juga melakukan kopi pasti tetapi saya tidak pernah mengakui itu tulisan saya. Cara membedakan apakah itu tulisan saya atau bukan adalah semua tulisan saya terlihat di kategori “my articles”. Di luar itu bukan tulisan saya.
    Tulisan orang lain yang saya kopi paste dan tampilkan di blog saya, berarti tulisan itu saya sukai dan perlu diperbanyak agar banyak orang membacanya. Jangan terlalu pelit lah.

  9. Iya pak. masalahnya banyak yang copas tapi diaku aku tulisan sendiri lo :D

  10. bangsari says:

    ngeblog sebaiknya juga “memberi” untuk orang lain. saya percaya bahwa setiap orang diberi kewajiban sosial oleh tuhan.

  11. bener tuh, tidak memicu kerusakan adalah salah satu etika nge-blog yang perlu diperhatikan banget. Jangan sampe blog membuat kerusakan dan tidak membawa dunia menjadi lebih baik

  12. Eddy says:

    Nah…kalo yang dipake buat acuan seperti yang mas Nukman tulis boleh-lah jadi kode etik :)

  13. snydez says:

    wah, berarti gue blogger taat etika dunk ya ;)
    *nyaris semuanya terpenuhi :P

  14. Firman says:

    setuju…..boss.
    Biar blogger ga’ di cap jelek lagi…

  15. zayn hamdan says:

    Tambahan Pak, “jangan menggunakan kata pertamax”
    Kadang jengkel juga membaca komentar seperti ini :(

  16. arekdugem says:

    Kalau seperti ini :
    http://searchengineland.com/070830-074852.php
    dengan ini : http://seokita.com/index.php/2008/03/17/10-mitos-top-ten-ranking-di-google-yahoo

    Di yg ke-2 tidak menyebutkan sumber tulisan (dari 1), berarti tidak mempunyai etika dong pak?

  17. Hedi says:

    pada dasarnya memang sama seperti hidup di dunia nyata kok… norma standar tetep berlaku :D

  18. mr.keke says:

    arek dugem gak awas wae…. khan dah ditulis diatasnya.. huakekekekekke… nek baca sing jelas mas…. ojo ngawur

  19. mr.keke says:

    setelah saya cek email arek dugem ternyata tidak teregister… heheheheh… berarti ada yang bersembunyi neh pak;)
    kalo itu beretika gak pak?

    NB: Komentar mas Keke ini saya jadikan tambahan untuk etika blog, mengenai pentingnya identitas peblog maupun pengomentar. NL

  20. yeem says:

    Hmm ..Dulu kalo kita menulis blog itu blak-blakan sajah ato sejujurnya,tapi bisa jadi ada yang suka ato tidak. Munkin untuk mengurangi hal-hal yang tidak diingankan harus baca kode etik diatas, Ty Pa jadi tambah wawasan

  21. andri says:

    “ma kash pak nukman – etika blog ini oke banget tuk pencerahan para bloger agar tahu etika penulisan artikelnya”

  22. WURYANANO says:

    Memang sangat disesalkan, jika Pe-BLOG dan Pe-KOMENTAR nggak menunjukkan JATI DIRI SEBENARNYA.

    Lagi pula, ngapai ya mereka yang nggak FAIR denagn dirinya sendiri, kok ikutan ngeblog atau beri komentar. Sungguh pribadi yang aneh, dan tidak menarik.

    Etika dalam kehidupan memang semestinya ada, termasuk berkaitan dengan BLOG.

    Trims Pak Nukman.
    Salam,
    Wuryanano

  23. Vandy says:

    Ikutan diskusi yaa…
    @no 16 : Aku gak setuju, baca dulu artikel ini. Komen pertamaxxx sangat berguba lho…
    @ no 23 : Setuju, selama komentar dan tulisan yg ditulis baik, gak masalah nunjukin identitas yg sebenarnya

  24. aRuL says:

    gimana dengan etika komentar2nya, yg pertamax,hetrikz dll ? :D

  25. Haris says:

    huhuhu….jadi merasa berdosa pernah ngapus komentar dari pengunjung lantaran dia ngritik dengan tidak ramah

    eh…tapi kan dia juga berdosa karena komen tanpa identitas (anonymous)…so…yo wisss lah…impass…:D

  26. Yana says:

    Believe it or not,

    Dua bulan lalu saya dipecat karena menulis blog di 360.yahoo.com yang isinya curhat tentang kelicikan team leader yg kelakuannya sering korupsi dan manipulasi, hwahahahaa!

  27. aulia says:

    sy setuju setiap poinnya…kalau bisa malah bisa dijadikan konsensus umum…dan sebuah busaya untuk mempertanyakan keotentikan setiap tulisan bahkan temen2 blogger kita

    waduh, kalau bisa seketat penjagaan otentitas dalam kadidah ilmu hadist…hehe ini agak mustahil dijalnkan didunia blog yg kadang bisa disimpangsiurkan dgn mudah oleh hoax

  28. Mbelgedez says:

    @The Tracer #9

    Sayah ndak sepenuhnya setuju sama pendapat situ.
    It’s Okay kalok kita nge Blog berarti emang berbagi ilmu….

    Masalahnya, kalok apa nyang selama ini ada di ingsi tengkorak kita, dan dengan syusyah payah kita curahkeun kedalem Blog, tiba-tiba muncul di rak toko buku….

    Apa pendapat situ ???

  29. The Tracer says:

    @Mbelgedez #29

    Kalau muncul di rak toko buku = komersil kan. Ya saya tidak setuju juga.

    Terus terang kalau masalah berbagi ilmu, mas Faisal Basri dan Chatib Basri paling baik. Saya pernah minta bahan tentang satu topik. Kagak tanggung-tanggung, hampir satu flashdisk 256 Megabyte penuh diberikan tulisan dan penelitian mereka. Tentunya saya tidak merusak kepercayaan mereka dengan meng-komersialkan tulisan mereka.

  30. The Tracer says:

    @ Yana #27

    Saya ada rencana tujuan blog saya salah satu untuk membantu/advokasi para karyawan yang dipecat karena membeberkan perusahaan, manajemen atau atasan yang melakukan korupsi atau . Kalau mau mungkin kasus anda bisa dipakai sebagai pilot project
    Kalau ada rekan lain yang mau bantu bagaimana bentuk dan operasional, silakan.
    Pak Nukman, maaf kalau mengganggu nih.

  31. [...] para pemberi komentar yang tidak punya blog (katakanlah non-blogger) ?  Belakangan saya tahu dari tulisan Mas Nukman Luthfie bahwa kode etik di dunia blog sebenarnya belum ada dan masih dalam tahap wacana. Bahkan di kode [...]

  32. Erwin Baja says:

    Salam kenal Mas,
    Minta izin bikin link ke tulisan ini dari blog saya ya.

    Thanks Mas.

  33. rivermaya says:

    kalo berkeliling kasih komen ke blog-blog yang ngga dia disukai, posting komen rada “nyeleh” buat yg punya blog, termasuk memberikan/mengeluarkan aspirasi/uneg2 juga yah ?

    harus dimaafkan dong yah..

    (aku ini ngomong opo to yo :D )

  34. Nubar says:

    Mungkin agak sedikit sensi kalo menyangkut masalah image atau photo. Kita sering menemui Blog yang mempergunakan image yang ‘terlihat’ bebas diipakai di Internet, padahal mungkin image itu hak milik orang lain dan mesti minta ijin dulu ke yang empunya sebelum menempelkan di Blog kita

  35. cool wham says:

    jangan mendeskreditkan satu pihak/pebisnis online lain secara terang-terangan sampai menyebutkan namanya di psotingan kita bahkan dijadiin judul postingan!

    Sebutin aja ciri2 bisnis yang harus dihindari seperti apa atau bisa dengan pakai inisial gitu, terlihat lebih sopan dan ber-etika :-)

    Saya juga ngebahas etika blogger di blog saya :-) Suatu kebetulan pak!

  36. [...] Sementara itu dulu. Ada yang bersedia menambahkan etika blog ini? | Diambil seutuhnya dari  http://www.virtual.co.id/blog/pernik/ini-bukan-kode-etika-blog/ Oleh Nukman [...]

  37. danang says:

    dalam agama kami ISLAM, mengajarkan, tidak boleh mengambil yg bukan haknya.

  38. bloghafidz says:

    artikel yang menarik … salam kenal dari bandung

  39. [...] Ini bukan Kode Etik Blog oleh Nukman Luthfie, 2008. [...]

  40. hanny says:

    hem….hehehehe gawat aku baru tau etika ngeblog nih…..thanks infonya…

  41. yudit says:

    betul…betul…betul
    setuja saya

  42. anam78 says:

    good info nih..!!
    dan bagi saya yang paling penting adalah tidak kopas..

  43. Rahad 2 Six says:

    setuju nih…
    tapi kalau memposting artikel dengan inti yg sama namun cara penulisan,penyampaian,dan kata-katanya berbeda masuk ke golongan kopi paste tidak?

  44. ieien says:

    kadang da sebagian orang yang menghalalkan sebuah peng copy_an sebuah artikel dari blog lain,.,.apakah itu tak melanggar etika,,???? dan apa resikonya???

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting