Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Konsumen Berubah, Jurus Komunikasi Jalan di Tempat.

February 21, 2007
Oleh Iim Fahima Jachja

 

Semakin tingginya tuntutan hidup membuat konsumen saat ini menjadi mahluk yang luar biasa sibuk. Mereka bukan lagi mahluk yang bisa setiap saat duduk berlama-lama di depan TV atau membaca majalah.

Nonton iklan apa semalam? Tanya saya ke para klien setiap kali kami mengawali presentasi.

Wah…saya ngga sempet nonton TV, bu! Nyampe rumah udah cape! Begitu jawaban mayoritas klien.

Tak perlu dibahas panjang lebar insight para pekerja, karena sudah menjadi rahasia umum jika pekerja/eksekutif adalah orang-orang yang setiap hari hidupnya disibukkan oleh pekerjaan dari pagi hingga malam, bahkan kadang hingga weekend.

Bagaimana dengan pola hidup konsumen lain yang secara image jauh dari kesan sibuk?

Saya pernah iseng bertanya ke tukang pijit saya apa saja kegiatannya setiap hari dan kapan dia punya waktu untuk nonton TV.

Saya itu pagi sebelum subuh udah bangun nyiapin keperluan anak sama suami.

Rada siang saya ada panggilan mijit ke mana mana sampe sore.

Pulangnya, saya ngurus rumah. Nyetrika, beres-beres.

Malemnya, paling nonton TV bentar trus tidur.

Saya ngga bisa tidur malem-malem, soalnya besok paginya saya musti bangun pagi lagi….

Atau, jika kita berpikir bahwa secara general anak SD, SMP dan SMA punya banyak waktu, maka kita harus menengok apa saja yang yang mereka lakukan setiap harinya.

Pagi sampai siang jam 14.00, sekolah.

Pulang sekolah, persiapan les mulai dari les pelajaran tambahan, les bahasa Inggris, les musik, les sempoa dan lain-lain yang harinya digilir sesuai dengan jadwal. Les biasanya dilakukan jam 16.00 ??????? 18.00.

Pulang les, istirahat sebentar dan kemudian berlanjut dengan mengerjakan PR dan belajar untuk pelajaran besok pagi.

Nonton sinetron? Sesekali kalau sempat atau kalau sinetronnya emang keren abis dan tayang di hari Jumat malam dimana esok harinya mereka libur sekolah.

Anak-anak sekarang adalah generasi yang luar biasa sibuk. Bahkan bukan tidak mungkin, mereka lebih sibuk dibanding orang tuanya. Setelah urusan sekolah dan les beres, masih ada tuntutan lain yang harus dipenuhi yaitu sosialisasi dengan teman yang pasti juga akan menyita banyak waktunya.

Aaah, yang sibuk itu kan anak-anak yang ekonominya menengah atas aja. Les ini itu, gaul sana sini, argumentasi seorang klien ketika saya menceritakan tentang kesibukan anak-anak sekarang.

Ok. Mari kita tengok insight tentang kesibukan seorang joki 3 in 1 yang kebetulan saya ajak untuk mengantar saya meeting di suatu malam.

Tiap hari mangkal di sini? Tanya saya.

Iya. Dari sore abis pulang sekolah sampe ntar 3 in 1 slesai

Oh, masih sekolah? Saya pikir dia ngga sekolah.

SMP atau SMA? Tanya saya lagi.

SMP…

3 in 1 berakhir jam 19.00. Jika diakumulasi dengan waktu yang harus dihabiskan untuk pulang ke rumah, artinya dia baru menginjak kembali rumah paling cepat sekitar jam 19.30.

Jadi, kata siapa kesibukan hanya milik anak gedongan?

*****

Ketika konsumen pola hidupnya berubah, akan kah kita masih menggunakan jurus-jurus komunikasi pemasaran yang pernah kita gunakan di jaman baheula?

19 Responses to “Konsumen Berubah, Jurus Komunikasi Jalan di Tempat.”

  1. windo says:

    komunikasi jaman bahula? beberapa teutep! MLR sebagai media paling tua di dunia.. tetap bertahan sampe saat ini. malah melahirkan anak2,cucu2nya dalam bentuk kreatif mediany. buat konsumen yg banyak menghabiskan waktunya dijalan tentunya cocok sekali. ini yang berevolusi mengikuti perubahan jaman.. Cara komunikasi lainnya bisa juga ngadopsi cara bahula dulu yg menggunakan pengamen untuk mengiklankan minuman anggurnya(prancis jadul) bisa dengan menyelipkan lagu2 iklan pada acara musik di kafe, atau lainnya… Trus terang saya klo pulang kerja, malm, udah nonton HBO aja, konsen deh tnpa ada iklan. mungkin kalau ada pesan iklan dalam film saya mulai melihat ada iklan… tanpa trasa diperlihatkan telak ‘itu iklan’. eh tunggu dulu.. ini yang berubah cara komunikasinya di pesannya apa medianya..? ;)

  2. cc-line says:

    Pernah gak Mba’ Iim survey ke luar Jabodetabek… ke Daerah… bahkan ke pedesaan ?? Secara mereka juga manusia, yg butuh berkomunikasi… dan sangat mungkin juga konsumen, dan pemirsa TV kali aja.
    Karena tulisan di atas gak ada pengantarnya… bahwa semua itu hanya terjadi di perkotaan… atau di Jakarta aja. Ketika kita bilang konsumen… kaya’nya sampe ke perbukitan di Gunung Kidul, Yogyakarta juga ada yg namanya konsumen, secara mayoritas penduduk negeri ini justru hidup di ‘luar kota’. Bisa jadi jurus2 komunikasi pemasaran yg di ‘kota’ udah kedaluwarsa… tapi di ‘desa’ masih barang aneh.

  3. agus siswantoro (cobus) says:

    Pernah nggak bu iim nanya-nya ke orang high end? yang secara gaya hidup sudah tidak kerja tapi aktiv paling secara gaya mereka golf.. arisan dll… yang mungkin.. dari bangun pagi sudah stel TV.. mandi di kamar mandinya ada TVnya,trus makan dan di ruang makan ada tv-nya, trus pergi belanja yang secara transportasi ada TV di MPV-nya trus turun di mal makan di restoran VVIP yang ada tvnya trus pulang naik MPV-nya lagi sambil nonton TV lagi.. trus ke SPA sambil nonton TV dari ruang tunggu sampi di Jakusi-nya.. trus pulang ke pusat kebugaran fitnes center sambil nonton TV di depan butterfly-nya trus makan lagi di coffe sambil nonton bola sampai larut malam trus naik MPV-nya lagi sambil nonton TV lagi trus pulang ke rumah santai di ruang keluarga sambil nonton TV trus tidur sambil nonton TV yang terpasang flat di dinding atau di plafondnya ( tentu saja di stel timer off dan on-nya.. mereka orang yang tiap hari bersama dengan yang namanya TV…
    apa mereka orang 2 yang kedaluwarsa..mereka adalah konsumen yang paling konsumtif saya rasa
    orang yang sibuk itu orang yang belum mampu membeli waktunya… tapi dia terbeli oleh waktu…

    trus pernah nggak mbak iim juga nanya ke SPG yang jual TV di carefour atau di pameran tv,,, trus tanya ke tukang reparasi TV dll….

    karena secara prolog ga ada..
    terimakasih…..

  4. Iim-Adhit says:

    Mas Budi Yuwono dan Mas Agus:

    Hehehe menarik pertanyaannya.

    Konsumen beragam. Jika harus diteliti satu persatu, akan ada puluhan atau bahkan ratusan jenis konsumen yang masing-masing memiliki pola hidup yang berbeda.

    Tulisan di atas bukan untuk mengecilkan arti TV sebagai sarana komunikasi, namun untuk melihat sisi lain dari konsumen yang selama ini sering kali kita salah persepsi.

    Dan mengejutkan. Selama ini saya pikir steriotipe ibu rumah tangga adalah penonton sinetron yang kerjaannya ngga banyak. Tapi ternyata ngga begitu (semuanya).

    Di sinilah perlunya untuk tidak memukul rata konsumen. Selama ini ketika bicara konsumen, sering kali kita berdasarkan asumsi. Padahal, ketika membuat sebuah komunikasi, kita harus based on current situation.

    Tulisan di atas sebagai ajakan untuk melihat bahwa konsumen adalah mahluk yang bergerak dan berubah, sehingga cara komunikasi pun seharusnya juga berubah.

  5. budiyanto says:

    He..he.., mbak saya rasa memang terlalu menggeneralisir sebuah keadaan
    .
    Saya sepakat dengan mas #1.

  6. Iim-Adhit says:

    Mas Windo dan Mas Budiyanto:

    Komunikasi jaman bahuela: Membombardir pesan hanya lewat mass medium dengan asumsi medium tersebut paling efektif, red.

    Dengan berubah dan bergeraknya konsumen, seharusnya kita lebih jeli dalam memilih medium.

    Misalnya: Benarkah membuat iklan TV untuk anak SMA senjata paling efektif untuk komunikasi dengan mereka?

    Jangan-jangan roadshow lebih efektif karena current situation menunjukkan anak SMA di target lokasi (harus based on research ya) sudah berubah behaviornya, bukan lagi nongkrong di rumah tapi waktunya habis di sekolah? Dan karena di sekolah ngga bisa nonton TV, mereka juga lebih into radio bahkan di kelas pun colongan dengerin radio. Jadi..akan lebih efektif jika bicara ke mereka lewat roadshow dan radio kan?

    Itu adalah salah satu contoh.

    Kalau kita ngga sensitif dengan perubahan, maka kita akan membuang uang tanpa pernah tahu uang itu kemana larinya. Makanya banyak pengiklan yang mengeluh kemana uang saya lari?
    Sensitif terhadap perubahan konsumen, adalah satu cara untuk semakin menajamkan peluru komunikasi kita. Makin jeli kita mengamati perubahan konsumen, semakin tepat sasaran peluru yang kita tembakkan.

  7. Machless says:

    Pertanyaan berikutnya yang cukup menggelitik adalah “Gimana sih ngukurnya bahwa uang saya gak lari ketika saya buat suatu komunikasi?”

    Buat orang finance gak ada lain ukurannya adalah pencapaian revenue sebagai impact dari komunikasi gaya baru ini. Mungkin ini yang perlu ditelisik lebih lagi …

    Pada kenyataannya begitu banyak paham untuk membuat komunikasi lebih mengarah ke caranya tapi melupakan aspek bisnisnya. Sekali lagi rasanya yang tidak kalah pentingnya adalah pengukuran, bahwa sebuah komunikasi mesti bisa diukurkan ke pencapaian sales. At very least ada potential sales yang bisa dihitung …

  8. Iim-Adhit says:

    Terjadinya buying action karena melewati sejumlah proses dan dipengaruhi banyak faktor.

    Dalam konteks komunikasi/iklan secara general, tidak ada alat pengukuran secara pasti/measurement standart untuk memastikan berapa sales yang akan saya dapat jika saya spend sekian rupiah.

    Namun jika berbicara potential sales, masing masing medium punya ‘takaran’ seperti:

    - TV dari jumlah penontonnya
    - Cetak dari jumlah pembacanya
    - Radio dari jumlah pendengarnya
    - Roadshow dari jumlah pengunjung
    - Internet dari jumlah klik/kunjungan.
    - dll.

    Namun sejumlah medium kini juga mulai mendapat pertanyaan kritis: apakah orang2 yang nonton TV, baca media cetak pasti melihat iklan saya?

    Bagaimana dengan fenomena TV zapping dan melakukan aktifitas lain saat iklan muncul? http://swa.co.id/primer/pemasaran/advertising/details.php?cid=1&id=2234

  9. Bu, pembantu saya juga sangat sibuk. Pagi jam 04.30 sudah mulai nyuci, terus masak, dan beresin rumah sisa semalam. Sewaktu saya dan istri berangkat ke kantor, ia harus mengurusi anak saya. Belum ke pasar, nyetrika, ngepel, ngelap sana sini, dan sebagainya.

    Tapi tidak berarti dia tidak punya waktu buat nonton TV. Di antara kesibukan itulah ia menyempatkan diri menonton. Dan saya kira para pengiklan, atau para media planner tahu betul kebiasaan seperti ini. Nonton TV bukan aktivitas yang memerlukan waktu khusus, seperti mandi atau makan. Kesempatan bisa datang kapan saja, pas makan, bahkan pas mandi. Bukankah sekarang bukan mobil saja yang dipasangi TV, tapi juga kamar mandi, dapur, dan entah apa lagi.

    Artinya, (menurut saya) TV tetap punya tempat. Lagipula brand mana sih yang cuma mengalokasikan duitya di TV? Pasti nggak khan? Kalau awareness yang ditarget, saya kira TV, koran masih, dan tradisional media lainnya masih cukup ampuh. Kalau perubahan perilaku yang ditarget, wah, perlu mix media yang ramuannya “sedap”.

    Pertanyaannya adalah, kalau budget perusahaan terbatas, dan mungkin hanya cukup dialokasikan untuk 1-2 jenis media, kira-kira media apa yang harus dipilih? Yang pasti akan tergantung siapa konsumennya, dan apa yang menjadi tujuan komunikasinya.

    Bisa jadi TV masih jadi pilihan. Bukan berarti jalan di tempat, tetapi memang kebutuhannya begitu. Bukankah banyak jurus dari “perguruan” lama dan baru yang kini jadi buku? Atau mampir ke tempat seminar?

  10. Iim-Adhit says:

    Pertanyaannya adalah, kalau budget perusahaan terbatas, dan mungkin hanya cukup dialokasikan untuk 1-2 jenis media, kira-kira media apa yang harus dipilih? Yang pasti akan tergantung siapa konsumennya, dan apa yang menjadi tujuan komunikasinya.

    Setuju. Hanya saja hampir semua orang berpikiran bahwa TV adalah medium paling manjur buat mempengaruhi target audience.

    Padahal, belum tentu.

    Celakanya, kondisi ‘belum tentu’ ini yang tidak pernah dibuka oleh konsultan komunikasi pemasaran dengan alasan tertentu.

    Saya baca di Marketing Mix terbaru, Tje Fuk yang sudah menggelontorkan budget TV sedemikian besar di TV mengakui bahwa kampanye paling paling efektif dilakukan lewat word of mouth.

    Bahwa kemudian dengan masuk TV brand ini menjadi kenceng awarenessnya, tak bisa dipungkiri. Budget placementnya juga gede ;)

    J.co, pernahkah dia beriklan di TV? Tapi siapa yang ngga kenal J.CO? Dalam waktu singkat berhasil membuat buzz dimana-mana dengan experiental marketingnya.

    Banyak lagi contoh brand yang menjadi terkenal bukan melalui hujan iklan di media massa, nanti saya bikin postingan khusus tentang ini.

    Di sini point saya, menciptakan awareness tidak harus lewat media massa. Manusia berubah, bergerak. Seharusnya para konsultan komunikasi pemasaran tergerak untuk membuka itu ke klien.

    Bold note ya, saya tidak mengatakan TV tidak efektif, tapi berkurang tingkat efektifitasnya ;)

  11. irtiawan says:

    memang benar sekarang ini perlu perubahan untuk bisa mengimbangi dunia yang makin sibuk.

    perlus ebuah inovasi yang baru untuk di tampilkan sehingga mambuat kita nyadar akan keberadaan mereka.

    sebagai contoh,

    beberapa hari lalu di kota saya, kebetulan di semarang, sebuah promosi. 6 pemuda menggunakan pakaian adat jawa lengkap dengan kerisnya mondar mandir di lampu merah sambil membawa media promosi dari bebas,,,

    sebenarnya yang mereka promosikan ini saat ini juga sedang di iklankandi televisi.
    tapi jujur saja komunikasi apa yang pengen XL bebas sampaikan di iklan itu baru saya tangkap ketika sekelompok pemuda itu modar madir di lampu merah.

    keesokan harinya saya menjumpai mereka lagi, dan sekarang yang membuat saya tersenyum lebar adalah mereka menggunakan becak untuk keliling jalan. ;-)

  12. mario says:

    kemarin saya berkesempatan melihat presentasi pak RTS Masli di kampuz saya. ttg siklus periklan INA include comparasinya dgn periklanan global. beliau mengemukakan bgmn jurang antara audiens dgn iklan yg lg tayang.signifikansinya adl packaging iklannya gak deket ma daily mrk.kemudian ada estimasi konstelasi AdMarket terbesar 2008 dr slh satu agency bhw INA akan naik jadi #13 yg sebelumnya # kucrit..! bener gak y?
    jauh dr itu semua, saya berpikir dgn logika air aja. bhw let it flow, artinya di dunia ini ada satu bahasa lg yaitu UNDERSTANDING..so mengertilah apa yg diinginkan audience.
    “kreatif adl kemampuan melihat sesuatu dari sebelumnya yg tak terlihat dgn merekonstruksikan hal lama ke model lebih baru” ujar James Mapes dlm bukunya Terry Barret ‘Art of Innovation’
    Regards

  13. widarto adi says:

    saya sedikit bingung, karena situasi ini apa ya diseluruh kota besar ?

    mohon maaf, tapi sepertinya terlalu dibuat simple.

    jurus komunikasi saya pikir tergantung target, demografis, dan SES.

    kalau jabodetabek, mungkin apa yg mbak iim gambarkan bisa terlihat benar.

    tapi kalau di bandung, surabaya ?
    apa ya seperti itu juga ?

    saya takutnya message yg mbak iim tampilkan disini jadi salah kaprah.

    lalu definisi baheula itu apa ya ?
    billboard, radio comm, mungkin yg mbak maksud baheula (kalau saya gak salah tangkep), tapi para pekerja commuter kalo pulang malem, lewat jalan utama, sambil dengerin radio lho mbak.

    mungkin ada baiknya mbak mencari bahan dari Ogilvy yg berjudul Through The Line Strategy. gak ada jurus yang basi/baheula, semua tergantung behaviour target.

    satpam, para pekerja pabrik, kalau pulang, mereka nonton tivi mbak, sebagian besar.

    kalo gak, sinetron punjabi itu gak bakalah diomongin, siaran gosip gak akan laku.

    demikian mbak, i believe you guys please dig deeper, deeeper.

    -fans viral marketing, darto, pelajar.

  14. Iim-Adhit says:

    Saya balas dengan postingan terbaru ya Mas Darto

  15. Victor says:

    Ini tulisan kurang prolog, makanya banyak yang terkaget kaget. Padahal esensinya menarik

  16. ulung says:

    kalau diskusi dengan relativitas semua menjadi relatif..
    mbak iim coba cari data deh tentang kekuatan tv dengan untuk semua lapisan. di desa saya tv telah berhasil menyepikan tongkrongan ronda..
    kalau pakai data mungkin diskusinya jadi lebih pasti dan jelas.
    karena jangan-jangan ( karena nggak pakai data) tv tetap yang terbaik.

  17. Iim-Adhit says:

    Mas Ulung, coba baca lebih teliti tanggapan2 saya. Silahkan dilihat esensinya secara keseluruhan, bukan sepotong sepotong ;)

  18. arief_wismilak says:

    Okey… kita harus secara dewasa sadar, bahwa media tv belum tentu media yang terbaik untuk para pelaku pasar. Jika kita boleh menilik bahwa ketika kita menonton tv; ok lah pada acara yang rating-nya tertinggi-pun, saat jeda iklan, so channel-nya akan berubah ke channel yang lain. ini menyebabkan pola komunikasi yang kurang efektif untuk pemasaran. solusinya, kata orang2 pinter harus selektif milih tayangan tv, iklan kita dikonsumsi kaga? and itu-pun didukung oleh penelitian yang dilakukan agb nielsen; rating tiba-tiba jatuh saat jeda iklan pada suatu acara yang paling digemari penonton. tuh…

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting