Mas Nukman, mengikuti jejak sampeyan, gara-gara tulisan tentang teh di blog saya, Reader’s Digest juga menjadikan nara sumber untuk edisi khusus Makanan Dahsyat untuk Orang Hebat. Ketika saya buka halaman 64-65, ternyata disitu diceritakan tradisi minum teh keluarga saya, berikut photonya. Wah, walaupun tidak menjadi artikel utama, lumayan bangga juga dipublish di majalah sekelas Reader’s Digest. Ttd: Bambang.
Itulah komentar orang Solo, yang senang memakai ID Laresolo, di blog ini beberapa waktu lalu. Saya ikut senang membaca artikelnya. Apalagi di situ terpampang fotonya yang kelihatan keren di depan seperangkat upacara minum teh. Mas Bambang memang penggemar teh sejati. Blognya dipenuhi oleh postingan mengenai teh. Ketika ia ngobrol di milis-milis, yang banyak diceritakan ya teh itu tadi. Teh beneran lho. Bukan teh yang lain.
Itulah sekelumit hasil yang dipetik oleh blogger bertopik khusus seperti mas Bambang. Ia pehobi teh, ia tuliskan hobinya dengan penuh cinta di blog dan milis, ia tularkan ilmunya ke siapa saja tanpa perhitungan apapun.
Saya percaya, benih yang ditebarnya di dunia maya bakal menjadi tanaman teh maya yang siap dipetik. Ditulis dan ditasbihkan sebagai ahli atau pecinta teh oleh majalah sekelas Reader’s Digest tentu prestasi tersendiri. Apalagi bagi mereka yang baru atau pertama kali bersentuhan dengan media. Saya menduga, ia akan memetik hasil-hasil lain yang tak pernah diduganya di masa mendatang. Hm.. siapa tahu, ia bakal membuka butik teh di Bogor suatu ketika?
Saya sudah sering melihat bagaimana blog mampu mendongkrak kemampuan dan keberhasilan seseorang. Mas Harry Sufemi contohnya. Gara-gara ngeblog, ia kebanjiran permintaan menulis dari berbagai media. Demikian pula Om Rovicky yang rajin ngeblog via Dongeng Geologi acapkali menjadi narasumber media dan seminar untuk berbagai hal geologi, termasuk lumpur Lapindo.
Contoh lain: ada yang menjadi incaran head hunter gara-gara ia rajin menulis di blog sehingga kelihatan kepakarannya. Beberapa blogger pun sudah bisa mendapat income (meski belum tetap) dari pemasang iklan lokal (bukan adsense lho).
Saya sendiri sering mendapat manfaat dari blog ini. Semakin banyak peluang bisnis yang saya raih. Semakin banyak teman yang saya dapatkan. Blog ini pun pernah diminta penerbit untuk dijadikan buku.
Lain lagi pengalaman Amril Taufiq Gobel. Tak disangka, coretan pengalaman di blog pribadinya Amriltgobel.net dilirik penerbit untuk dijadikan buku, serta diangkat ke layar kaca. Tulisan-tulisan Amril yang hangat dan menyentuh, mengenai putranya,Rizky Aulia, diterbitkan oleh penerbit asal Yogyakarta dengan judul “Warna-Warni Hidupku”. Setelah itu, Amril pun kian giat ngeblog. Blognya begitu menarik hati seorang produser sehingga diangkat ke dalam sinetron. “Cerita soal “Seorang Pelacur dan Supir Taksi” serta “Cinta dalam Sepotong Kangkung” diangkat dalam sinetron Pintu Hidayah dan Maha Kasih 2 di RCTI.
Tentu semua itu ada syaratnya.
Saya perhatikan, hanya dua syarat dasar yang perlu dipenuhi.
Pertama: Tulislah dengan penuh cinta sehingga kita tidak pernah merasa kelelahan.
Kedua: Pilihlah topik yang khusus, yang memang itu hobi kita, sehingga kita memiliki positioning khusus diantara para blogger lainnya. Kalau bisa, posisi itu tak tergantikan oleh blogger lain.
“Kedua, pilihlah topik yang khusus, yang memang itu hobi kita”.
Saya sangat sepakat dengan pilihan blog dengan topik khusus…kata Budi Putra (http://www.thegadgetnet.com), kita mesti bikin “niche blog”. Sayang di tanah air, mayoritas blog masih berisikan tema gado-gado dan acap hanya berisikan curahan hati personal (personal view on so many things)
Blog ini menjadi hebat karena isinya spesifik. SarapanEkonomi, CosaAranda, JennieforIndonesia, Kafemotor, thegadgetnet, adalah contoh lain blog spesifik yang bagus.
“Teh beneran lho. Bukan teh yang lain.”
Hehehe…, jadi keingat Teh Entin.
Kembali ke laptop, berarti blog bisa dijadikan sebagai media untuk “self branding”.
jadi tambah terinspirasi untuk nge-Blog nih ;P
“blog ini pun pernah diminta penerbit untuk dijadikan buku”
udah jadi belon bukunya Pak? ..
Belum dong
. Saya tidak pede kalau blog ini langsung jadi buku. Behavior baca buku kan beda dengan baca blog. Mesti ada upaya tulis ulang. Ini yang nggak pernah kesampaian.
kalo boleh saya tambahin pak, menurut saya, nge-blog itu juga harus dengan passion, selain dengan cinta.. cinta itu membuat tulisan-tulisan kita sepenuh hati dituliskan, sedangkan passion itu membuat kita tidak henti-hentinya belajar untuk terus menulis blog..
dan pak nukman adalah salah satu yang menginspirasi saya untuk mencintai dan mempassion-i (halah bahasanya
) blog saya lho.. ini tulisan tentang itu.. http://www.ilmanakbar.com/?p=170
Kalau bisa sekarang, kenapa harus menunggu besok pak
Hmmm…segernya nyruput teh wasgitel (wangi, panas, legi, kenthel).
Salam kenal bwt mas Nukman, saya penggemar baru Mas. Makasih atas semua artikelnya yang menggugah dan menambah ilmu bwt saya. Saya selalu haus nunggu ilmu-ilmu baru dari Mas. Minta saran dari Mas Nukman, gimana biar situs majalah bisa dioptimalkan sbg e-marketing (ar-risalah.co.id, maaf lagi under construction, Insya Allah segera re-launch).
Usul bwt mas Bambang, gimana kalo keahliannya dikembangkan untuk bikin kedai teh sekelas kedai kopi Starbucks?
email saya faiz5010@yahoo.com, saya tunggu email dari Mas Nukman.
Mas, saya salah satu penggemar blog ini, dan salah satu peblogger yang lagi kerajingan bikin blog. Boleh kan pak, isinya sedikit ada yang saya kutip sebagai bahan tulisan di media? tapi tetap saya cantumkan sumbernya lho….
Mas Nukman, menurut saya, menulis di blog adalah sarana yang efektif untuk menyalurkan stres ke lahan yang benar. Selama itu tidak menyebutkan nama siapapun saat menulis yang jelek-jelek ya mas…Hehe….Karena artikel soal karyawan yg ngeblog berpotensi dipecat, saya jadi makin hati-hati untuk tidak menuliskan aib apapun soal tempat saya bekerja. Hehe….Salam kenal!
Kalau menurut saya, banyak orang tidak memilih blog yang spesifik, dikarenakan selalu kehabisan ide untuk di tulis. Yang akhirnya ambil jalan pintas dengan menulis apa yang ingin dia tulis. jadi Masih sekedar hobi, yaitu hobi menulis apa saja
#10.
Memang tak banyak yang punya stamina untuk membangun blog spesifik. Banyak yang kehabisan nafas di tengah jalan, dan kemudian memilih diam. Akibatnya, blognya perlahan-lahan mati. Maka, sesungguhnya, dengan membangung blog spesifik, kita dituntut untuk terus belajar, memperdalam ilmu, sehingga selalu ada hal baru yang dibagi ke pembaca. Inilah hukum unik berbagi: semakin banyak kita bagi ilmu, semakin pintar kita (karena kita dipaksa untuk belajar dan pintar lebih dulu)
#6.
Wah, dikipasi sama mas penuliskita.
#7.
Salam kenal mas Faiz. Ntar saya email ya
#8.
Jangan lupa, ada strategimanajemen.net. Tulisannya apik. Enak dibaca. Sebentar lagi akan banyak penggemarnya.
#9.
Boleh dikutip mas.
#11.
“Daripada Abi Hurairah (ra), katanya: Telah bersabda Rasulullah (saw): Apabila mati seorang hamba (manusia) maka terputuslah segala amalannya kecuali 3 perkara: sadakah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang salih yang mendoakannya.” (HR Muslim)
Sekarang saya jadi paham kenapa pertemuan dotcomers diberi nama “pengajian dotcomers” dan kenapa Bapak mau repot menulis dan membagikan ilmu melalui blog ini.
Ditunggu bukunya, Pak.
Terima kasih mas Nukman. Saya sudah ngintip strategimanajemen.net, isinnya bagus dan sangat saya butuhkan saat ini. Btw, mas Nukman ikut jadi kontributor di sono nggak? Makasih lagi Mas, mau kirim email ke saya, saya tunggu juga ya…
Saya penasaran Pak Nukman kalo bikin buku jadinya kayak gimana…
hei…om Nuk slm knal om q tertarik ma ngeblog gnian ,om q tunggu terbitnya bukunya coz penasaran bgt cocok gakya ma q
@Ollie – nanti kutukutubuku.com yang dapat hak exclusive release nya ya? Menarik juga tuh
Mas Nukman, trims untuk linknya. Saya melihat ini fenomena yang menarik, dimana perbedaan antara new media dengan media konvensional semakin membuyar. Media konvensional menjadikan new media sebagai narasumber & juga mulai ada online presencenya. Sedangkan beberapa new media mulai merambah ke media konvensional – walaupun memang jumlahnya belum terlalu banyak. Namun dalam skala yang lebih kecil ya seperti ini; kita diminta menjadi penulis di media konvensional. Atau, blog menjadi buku. Dan contoh-contoh lainnya.
Di blog saya juga terlihat satu fenomena menarik lainnya. Saya masih observasi terus, namun sementara ini saya sebut saja “niches generalist”.
Kalau ingin melihat juga fenomena ini dengan mudah, bisa coba aktifkan terus fasilitas komentarnya, (jangan otomatis ditutup setelah sekian waktu, seperti di beberapa blog untuk menghindari spam). Mungkin nanti juga akan muncul pula.
#15 Ollie, ntar kalo bukunya mas Nukman dah jadi, kamu kasih diskon special lah bwat dotcomers
okeh…
Cinta adalah energi…
wah dah lama pak nukman ga menulis yang cinta-cintaan kyk gini. wekekeke..
Kalau Sponge Bob membuat Patty dengan penuh cinta..
Pak Nukman nge-blog dengan penuh cinta..
Bukankah blog itu pada dasarnya seperti perwujudan jati diri seseorang, jadi kalau akhirnya blog itu menjadi spesifik bukankah blog itu sudah tidak menunjukkan jati diri sepenuhnya. Menurut saya sih, kalau seperti Priyadi.net itu baru blog. Tidak spesifik, tapi ya mutu gitu isinya.
Kalau seseorang membuat blognya menjadi spesifik, bukannya malah menjadi pembatas bagi dirinya, Pak? Misal, seseorang telah membuat blognya menjadi spesifik membicarakan soal tanaman anggrek, berarti dia tidak bisa lagi bebas berekspresi untuk tulisannya tentang karate, atau balap mobil (misalnya). Menurut Bapak?
Oh iya.., itu kalo blog perorangan Pak maksud saya. Kalo seperti blog ini kan kelasnya Corporate Blog. Jadi memang sesuai jadi diri perusahaannya..
Mas Nukman,
Makasih udah direview diblognya. Jadi tambah ngetop nih ..;-) Secara blog mas Nukman sendiri ternyata blog yang cukup favorite. Terima kasih untuk encourage dan doanya. Juga untuk Faiz yang mengusulkan untuk membuat butik teh.
Sebenarnya cita-cita saya cukup sederhana, saya ingin Masyarakat Indonesia dapat menikmat teh kualitas tinggi hasil kebunnya sendiri. Selama ini teh-teh kualiatas tinggi hanya diekport ke luar negeri, di blend dengan teh dari negara lain kemudian di import oleh Indonesia dengan harga berkali lipat.
Sedangkan yang dijual dipasaran Indonesia oleh produsen teh lokal hanya teh kualitas rendah.
Selain itu visi saya juga untuk meningkatkan apresiasi masyarakat kita terhadap teh yang selama ini dianggap hanya sebagai minuman murah. Kalau minum softdrink mahal gak masalah, minum alkohol mahal oke, tetapi ketika diminta membayar teh kualitas tinggi (tentu dengan harga tinggi), pikir-pikir dulu.
Menanggapi komentar bung Okto, tentan specifik blog. Dalam istilah marketing dikenal istilah diferential. Produk akan memiliki nilai tambah kalau berbeda. Hal ini banyak diterapkan bukan hanya produk barang tetapi jasa. Contohnya, seperti yang pernah dikemukakan oleh pak Hermawan Kertajaya, arti Jeremy Thomas menonjolkan hidup sehat dalam ke artisannya. Sekarang dia banyak dipakai oleh iklan Multivitamin.
Begitu juga dengan blog. Tanpa spesifikasi khusus, blog akan menjadi blog biasa saja. Kalau memang hobinya banyak, ya bikin blog yang banyak. Tetapi yang paling bagus tentunya kita mesti temukan the best ini me. Pilih salah satu, kembangkan dan menjadi sebuah spesialisasi. Kalau banyak hal digarap, tentu akan kurang fokus dan kurang mendalam.
Blog saya sebenarnya belum terlalu special. Cuma kebetulan yang banyak saya tulis adalah mengenai teh. Tetapi tulisan lain sekedar curhat, autisme, kuliner, dsb juga ada. Ada rencana mau bikin blog khusus, tentang teh saja, cuma belum sempat.
Judul postingnya mengena banget… waktu kenal blog untuk pertama kalinya, cuma tempat curhat, ternyata… semakin lama, semakin bagus untuk ajang berbagi pengetahuan juga.
Ini inspiring banget..
Thank bgt
Nice to have a guru.
Kalau mungkin mau dibikin progresnya, kira-kira perkembangan blog di Indonesia mungkin seperti ini:
Blog 1.0
Terjadi euforia blog. Semua orang bikin blog. Ciri khasnya : nama domain sama dengan nama bloger-nya. Isinya gado-gado, apa saja, personal view on so many things. Contoh blog terbaik dalam kategori ini adalah — diantaranya — http://www.ndorokakung.com dan http://priyadi.net
Namun kedepan, saya memprediksi akan mulai ada seleksi alam…banyak blog gado-gado yang berguguran, dan pelan-pelan akan muncul era Blog 2.0
Blog 2.0
Isi akan mengarah ke isi yang spesifik (diferensiasi). Di luar negeri, ya kalau blog bagus, pasti spesifik : sebut misalnya : endgadget, problogger, brandautopsy, dll.
Nama blog akan lebih dekat dengan isinya — bukan nama bloggernya.
Contoh spektakuler untuk Blog 2.0 di tanah air adalah http://kafemotor.wordpress.com. Hanya dalam waktu enam bulan, blog ini masuk peringkat 50 blog wp global (dari lebih satu juta blog WP.com) dan 5000 visit per day. Mengapa? Karena isinya spesifik : hanya tentang sepeda motor. Lepas dari kita hobby motor atau tidak, bagi saya, kafemotor adalah contoh terbaik tentang Blog 2.0.
Saya pengin ke depan akan muncul blog-blog spesifik di tanah air : blog khusus tentang teh, tentang sepakbola, tentang mobil, tentang cerpen, tentang film, tentang batik, tentang Jogja, dll, dll. Memang blog spesifik butuh energi yang jauh lebih besar…dan sering harus riset mendalam sebelum menuliskannya kedalam blog.
Kalau blog di tanah air ingin terus berkembang bagus, saya rasa kita memang kudu berusaha keras untuk pelan-pelan membangun blog spesifik yang bermutu dan mendalam.
Wahhh Pak Nukman juga makin moncerrr dong. Saya sangat kagum dengan semangat Pak Nukman mengembangkan dunia internet di Indonesia…
Senang rasanya membaca article ini, saya sangat setuju bahwa jika kerjaan yang kita kerjaan akan bisa memberi makna jiaka dialakukan dengan penuh cinta, ketulusan hati.
Nge blog asyik juga sih…
[...] Tulisannya benar-benar dari hati dan penuh cinta (cie..). Coba baja tulisan pak Nukman tentang itu di sini. [...]
huhuhu..
betooll…
ngeblog penuh cinta, ngeblog sesuka hati, lha yang punya kan kita sendiri..
@ Mr. Strategy :
lha terus yang blog gado gado macam sayah besok era blog 2.0 kemana mas?
Makasih mas nukman.. aku jadi semangat ngeblog lagi… Jadi temukan kembali spirit yang baru, ah.. indahnya jika cinta mengisi setiap sisi kehidupan kita….
wow, great tips mas Nukman, thanks very much.
Its great posting…aku tlt ya ngomentanya, tapi gak papa kan?
Orang indonesia skrang tantangannya bagaimana biar internet bisa sampe masuk di desa-desa, karena sebetulnya di desa-desa banyak orang pinter yang ide-idenya cemerlang. Mereka tak bisa mengakses koran, majalah de el el. alternatifnya kelak adalah internet..
tapi itu kapan yach?
aku paling suka dengan kata “dengan penuh cinta”
kayaknya kita diajak untuk menulis sesuatu tentang apa yang emang pengen kita tulis, be your self, berani dan penuh dengan kebebasan
Tambah semangat..ngeblog terus..biar nggak go blog…he..he..he…
Saya sangat setuju, bahwa ngeblog yang dilandasi dengan cinta, maka akan menjadikan hidup kita lebih bermakna dan dengan berbagi pengetahuan & pengalaman (knowledge & experience sharing) ilmu kita malah bertambah bukan berkurang.
Alhamdulillah, kumpulan artikel saya tentang “Good Corporate Governance” yang sudah saya tampilkan di blog, telah selesai saya susun menjadi naskah buku (20 bab)dan saat ini sedang dalam proses editing oleh penerbit buku. Semoga segera terbit dan bisa beredar di toko buku.
Terima kasih, melalui bog Bapak, saya jadi terinspirasi membuat buku.Semoga menjadi best seller.
[...] Menanggapi dari link pak nukman [...]
[...] kata Pak Nukman Luthfie, ngebloglah dengan cinta. Maka kita tidak akan merasa kelelahan atau kehabisan bahan [...]
[...] kata Pak Nukman Luthfie, ngebloglah dengan cinta. Maka kita tidak akan merasa kelelahan atau kehabisan bahan [...]
terima kasih infonya, sangat bermanfaat..
[...] kata Pak Nukman Luthfie, ngebloglah dengan cinta. Maka kita tidak akan merasa kelelahan atau kehabisan bahan tulisan. Sekarang kembali ke blogger, [...]