Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Perception is Reality …

November 15, 2006
Oleh Iim Fahima Jachja

 

perception2.jpg‘Tje fuk bikin kulit kita putih…Tje fuk juga bebas mercury lho…pasti aman’

Begitu kira kira sedikit kutipan dialog iklan TV yang diucapkan oleh sekelompok anak muda pria dan wanita yang dari tampilan rupanya terlihat mereka adalah etnis Tionghoa, yang logikanya, tanpa harus pakai pemutih pun mereka sudah memiliki kulit yang putih.

Melihat kualitas produksi iklan yang jauh dibawah standart iklan produk kecantikan yang selama ini muncul di TV, saya langsung menduga Tje Fuk memang ditargetkan untuk konsumen kelas bawah.

Manuver promosinya yang luar biasa gencar sebagai sponsor utama MTV Indonesia Music Award dan MTV Indonesia Movie Award 2006, sempat memunculkan dugaan di benak saya sebagai langkah yang kurang tepat sasaran , mengingat produk ini terkesan tidak menyasar market MTV.

Namun, berdasar info dari teman teman dan data yang ter-record di internet, Tje Fuk ternyata bukan produk murah, bahkan barangkali bisa dikategorikan sebagai kosmetik yang lumayan mahal karena harga satu produk perawatannya paling murah Rp 150 ribu!

Tak hanya Tje Fuk, namun banyak sekali brand brand yang ketika memutuskan melakukan aktifitas beriklan,lupa memikirkan efek yang bisa didapat dari munculnya sebuah iklan.

Iklan, bukan sekedar cara untuk membuat produk terkenal. Namun lebih dari itu, iklan adalah sarana untuk membentuk public perception. Perception is reality. Apa yang ada di benak konsumen itulah ‘realitas’yang sesungguhnya.

Menjadi terkenal itu perkara gampang. Buatlah sensasi, maka brand Anda akan terkenal. Pasang iklan dengan frekuensi tinggi, tebar uang ke semua media, maka brand Anda dijamin akan terkenal. Namun pertanyaan lebih lanjut, kita ingin brand kita dikenal sebagai apa? sebagai brand pasaran? brand yang memahami kebutuhan konsumen? Brand yang cerdik? Atau apa?

Mungkin saat ini para pemilik brand yang sering beriklan dengan strategi komunikasi seadanya atau bahkan tanpa strategy komunikasi sama sekali, bisa beranggapan bahwa produknya laris manis gara gara iklan yang kencang. Mungkin mereka tidak peduli dengan urusan persepsi, selama sales masih melaju kencang. Namun, sekedar mengingatkan, ketika kita tidak mampu membentuk persepsi yang tepat, maka kita berpotensi kehilangan target market sesungguhnya.

Beriklan memerlukan energi dan biaya yang tidak sedikit. Efek persepsi yang ditimbulkan oleh iklan juga akan teringat dalam waktu yang panjang. Sisihkanlah waktu yang cukup untuk memikirkan strategy komunikasi yang tepat untuk jangka panjang mau pun jangka pendek.

Dan yang tak kalah penting, jika kita ingin dipersepsikan sebagai brand yang berkualitas, buatlah iklan dengan kualitas produksi yang baik. Jangan hanya karena berniat menghemat dalam jangka pendek, kita mengorbankan kualitas produksi sehingga membuat brand kita dipersepsikan sebagai brand murahan.

27 Responses to “Perception is Reality …”

  1. kania says:

    kesadaran berkomunikasi dengan ‘tepat’ memang belum dimiliki banyak pemilik brand. Tadinya saya kira Tjefuk juga produk 5000 an lho…

  2. Gani says:

    Inilah yang disebut dengan kemampuan membangun visi. Ngga cuma bisnis yang harus punya visi. membangun brand juga perlu visi.

  3. Erika says:

    Heheheh…saya tadinya juga mengira ini produk murahan. tapi kalo mba iim bilang paling murah aja 120 ribu, berarti ngga sesuai antara tampilan dan realitas. Hilang deh peluang men-grap pasar high class…

  4. citra says:

    betul mbak Iim..!iklannya itu bikin gw ogah buat pake produknya..padahal gw udah tau harganya cukup mahal…tapi gara2 tampilan iklannya yg nora, persepsi gw tetep aja dia produk murahan..
    masa produk mahal bikinnya kaya iklan obat panu..sayang banget yah.. :(

  5. herdiyanto says:

    Tje Fuk. brnad baru bukan sih ya? tapi denger nya sih baru ya, untuk saya sungguh kasihan jika komunikasi yang akhirnya di jalankan si brand ini seperti yang sudah-sudah kita lihat. Terlihat sekali kalau tidak maksimal. faktor internal dari brand ini nampak nya blom dimiliki oleh si Owner sekali pun, saran aja, untuk membentuk internal branding dulu deh sebelum external branding. Ad Cost yang dibuang udah jelas-jelas sia-sia..banyak yang ngga tepat sesuai analisa mba iim. Kira-kira si company tau ngga ya brand soul nya apa dari si Tjefuk??? :D

  6. Kavi says:

    Si Owner mungkin sekarang dah tau tapi telat karena udah tayang, saya kira secara marketing strategy udah ok kaya segmen di kelas menengah keatas (harga cukup mahal), targetnya mengambil porsi market di segmen tsb dg promosi yg gencar, posisi-nya adl kosmetik aman bebas merkuri tapi kalo semua dilakukan tanpa cretivity maka brand image yg terbentuk akan menjadi bumerang, it’s disaster (saya kirain juga tje fuk itu kosmetik seribuan hehe… eh ternyata)

  7. hudi says:

    memang sih yang punyanya juga orangnya rada norak, cuman dia nggak punya target tinggi2 banget sih, padahal modalnya juga nggak sedikit karena bahan bakunya utamanya (katanya) belanja di LN, jadi hasilnya, yah begitulah ! Tapi kalo mutunya sih lumayan buat prodak yang pengennya di branded made in indonesia ! We love produk indonesia

  8. Rizky says:

    heheh. emang lucu brand satu itu. namanya aja udah bikin males banget. dari namanya orang pasti mikirnya ini ramuan tradisional cina murahan. huehue…

    ngga ada maksut menyinggung etnis tionghoa lho :P

  9. Tejanegara says:

    Memang untuk membuat suatu lompatan yang besar itu membutuhkan efford dan tantangan yang pasti akan menimbulkan reaksi positif dan negatif….
    Tapi secara tidak langsung awareness instant didapat dengan segera…., tapi Follow upnya yang penting…. apakah akan survive…let’s we see

  10. hendra says:

    mungkin untuk mengomentari iklan yang ada, khususnya produk Tje Fuk mesti dilihat company-nya juga ya. Dalam arti apakah company ini sekelas Loreal misalnya yang di kelola oleh para profesional. Saya pernah berkunjung ke tempat ini, jadi saya tidak terlalu heran bila iklan yang di hasilkan seperti ini. Trus mengenai namanya sih kayaknya nggak seperti yang di komentarin bung rizki deh, walaupun nama produknya diambil dari nama pemiliknya. Tidak selalu produk mahal harus menggunakan nama yang berbau western.

  11. purwanto says:

    Gaya beriklan tje fuk ini memang tdk tepat, tp kalo menurut gw, public perception lama kelamaan akan berubah ketika konsumen telah merasakan efect dari produk tsb, artinya iklan tidak serta merta membentuk perception public.

  12. mungkin si brand ingin mengkomunikasikan bahwa TjeFuk dipakai oleh orang biasa (baca: bukan artis), tapi memang eksekusinya payah, jadinya malah kesan murahan yang nampak. Itulah dalam iklan bukan hanya “niat” yang penting, tapi juga “perbuatan”

  13. trianto says:

    mau menambahkan sedikit untuk Tje Fuk ini.

    Kenapa Tje Fuk beriklan di MTV ?
    kalo dari analisa saya seh sepertinya
    mereka menargetkan remaja yang “gaul” untuk memakai produk mereka.

    kenapa remaja ?
    karna remaja adalah entry ato pemula dalam hal pakai memakai kosmetika.
    sementara u/ umur yang lebih mature biasanya yach cenderung sudah punya kosmetika pilihan/langganan mereka sendiri yang tentunya CENDERUNG SUSAH untuk berganti merek kosmetika lagi kalo sudah cocok.
    Kalo dari sejak awal mula remaja (yg pertama memakai kosmetika itu mencoba Tje Fuk dan ternyata cocok, maka diharapkan itu konsumen setia dengan produk Tje Fuk ini.

    Kembali lagi ke placement iklan di MTV.
    kosmetika Tje Fuk dengan harga yang lumayan tinggi memasang iklan di MTV sepertinya dengan harapan cocok dengan karakteristik pemirsa MTV yang memiliki daya beli “cukup baik/mampu”.

    Demikian sedikit pemikiran lain dari saya.

  14. Iim-Adhit says:

    Secara strategy marketing tidak ada yang salah. Kemasan komunikasinya yang tidak tepat, tidak menjawab karakter generasi MTV yang modern, trend setter, update teknologi, sadar gadjet, gaul etc etc.

    Mengutip istilah Mas Andrias Ekoyuono, iklan bukan hanya ‘niat’ tapi juga ‘perbuatan’. Niatnya bagus tapi penyampaiannya tidak tepat ya hasilnya tidak tepat sasaran

  15. ShanShan says:

    Gue rasa harganya terlalu mahal, dan belum tentu cocok dengan iklim/ kulit orang indonesia, takutnya udah dibeli eh malah alergi (khan buang2 uang). Dan apabila target pasarnya untuk para remaja, bakalan enggak tercapai maksimal deh.., selain kemahalan juga banyak produk lain yang lebih murah dan hasilnya sama bagusnya.

  16. budiyanto says:

    Mengenai tje fuk, saya melihatnya malah seperti ini. Jangan-jangan tje fuk memang sengaja melakukan hal tersebut. Iklan yang terkesan sederhana dan asal2an itu (beberapa teman bahkan menyebutnya “norak”) memang adalah salah satu nilai jualannya. Buktinya, iklan ini kemudian menjadi bahan tulisan kali ini juga toh. Mungkin saja yang dikedepankan tje fuk memang bukan brand image, tapi lebih kepada perkenalan produk. Ketika kita melihat iklan yang “norak”, mungkin ke”norak”-annya malah membuat kita selalu mengingatnya. Bukankah itu penting juga bagi pengenalan produk.
    Brand image jelas penting, tapi jangan lupa, brand image juga bukan sesuatu yang mustahil untuk di create ulang.

  17. Iim-Adhit says:

    Hal yang sering kali dilupakan : Do you want people to remember you for a wrong reason?

    Begitu juga dengan brand, akan lebih baik jika kita dikenal sebagai brand yang bagus, berkualitas.

    Contoh: Brand-brand kecantikan Unilever. Dari awal meluncurkan produk mereka sudah sadar dengan pentingnya brand perception, sehingga celah untuk dikenal with a wrong reason tertutup.

    Re-branding, bukan hal yang mudah dan murah.

  18. budiyanto says:

    Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal kok mahal..!
    Jika mahal, diartikan sebagai produk berkualitas, mungkin itu yang ingin dilakukan tje fuk. Jangan-jangan disitulah tje fuk ingin berbicara dalam konteks brand image, ‘harga yang mahal’.

  19. Iim-Adhit says:

    Menjadi dikenal dan dipersepsikan sebagai barang yang berkualitas, itu yang seharusnya dilakukan dalam komunikasinya.

    Iklan adalah salah sarana untuk membentuk image. Adakah image sebagai brand yang mahal dan berkualitas dalam iklan Tje Fuk?

  20. aflahah says:

    allow lam kenal. baca postingan yang seru jadi pengen ikut komentar nih. sebagai orang awam emang sebel ngeliat iklan yang minimalis banget gitu. kayaknya pengen langsung switch ke tontonan lain. tapi logikanya bisa juga diterima, orang tahu iklannya jelek orang ketemu produk itu dipasar, iseng nanya, terus ketauan mahal trus jadi bahan omongan. padahal belum pernah ada nyoba gimana kualitasnya, sampai akhirnya omongan itu kepentok sama fakta dari orang yang pernah make dan puas, akhirnya pembicaraan itu berbalik lagi dengan menantang orang untuk mencoba. Apalagi kalau sampai di bumbu in kalo tje fuk itu adalah kosmetik rahasia yang hanya di ketahui orang-orang tertentu, nah biar nggak banyak orang rame-rame pake, dibuatlah iklan yang bikin orang males ngeliatnya…

    hehehe…ada yang ngerti maksud aku ga seh ? maklum orang awam yang sebel lagi nonton di gangguin iklan dan merasa ga dapet apa-apa dari iklan itu kecuali suruh beli produk mereka doang.

    pieceeee …. ahhhh

  21. Harry Cornel says:

    Seperti kata Mbak Iim. Every Medium has its own magic (tul ya?)

    Cara kita ber-’komunikasi’ itu juga ajaib. Kadang-kadang hasilnya bisa jauh dari dugaan.

    Objective yang Jelas, Konsep yang matang, Eksekusi yang sempurna, itu cuma bisa meminimalisir kegagalan. Ada jaminan 100% pasti akan berhasil? gak ada! Kalo ada Jaminan, tinggal bikin ManualBook Brand Management, terus semua Brand/Marketing Manager dipecatin aja.. hehehehe.

    Nah, apalagi kalo yang konsepnya/strategi (STP) gak jelas kayak Tje Fuk gini.. Kemungkinan gagalnya pasti lebih besar dari Keberhasilannya (Bukan berarti pasti Gagal lho!)

    Taktikal (4P)-nya juga rada amburadul..

    Jadi inget sama sebuah analogi (yang pernah saya baca disalah satu buku Marketing):

    Banyak yang bilang Tim Sepakbola JERMAN itu kalo lagi main kayak robot, ‘TEXT BOOK’ banget! Gak asik buat ditonton. Gak seperti TimNas BELANDA (ato BRASIL ya? lupa), yang kalo lagi main, enak ditonton, banyak Improvisasi, pokok’e sangat cantik deh ‘main’nya.

    Tapi pada kenyataannya TimNas JERMAN ternyata lebih sering Menang Piala Dunia. Meski tidak selalu menang khan?

    Lebih Baik TEXT BOOK, tapi punya kemungkinan Menang lebih besar. Daripada cuma enak buat ditonton tapi JEBLOK??

    Bingung? Gua juga..

    Gua sich berharap Tje Fuk berhasil. Terus kita bahas lagi rame-rame. Biar kita makin pinter aja dapet ilmu dari ke-ajaiban ‘komunikasi’.

    Expect the unexpected ajalah.. hehehehehe

  22. Itha says:

    Halo lam kenal Mbak Iim??????
    Duh rasanya telat banget aku baru gabungnya skrg diblog ini (Btw, lom ditutupkan?;) )
    Aku sangat senang banget karena disaat aku sedang menyusun tugas akhir yang ada kaitannya dengan produk Tje Fuk sebagai objek penelitiannya, aku nemuin forum ini?Ini sangat membantu sekali …
    Pertama-tama aku ingin nanya (mgkn agk gak nyambung) menurut prediksi Mbak Iim kira-kira Iklan Tje Fuk sampe bulan April nanti masih tayang gak di TV?secara dia dah mulai tayang dari sekitar bulan September 2005, kira2 sampe April thn ini msh gak?
    Kedua, menurut mbak Iim apa iklan testimonial Tje Fuk itu bisa berpengaruh ke perilaku ??????brand switching?????? konsumen dalam memilih produk pemutih gak? Habis selain promosi yang gencar lewat iklan, sponsor acara TV, The Fuk juga pernah punya program khusus ??????Cantik&Sehat?????? di Indosiar.
    Trus kalo emang ngaruh ke perilaku brand switching, hal itu ada gak sisi positip dan negatipnya bagi kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen.Tmks Mbak Iim yang manis….

  23. Made Sariada says:

    Kalau memang produknya mahal dan pengen dibuat kesannya produk high class, seharusnya dari segi branding sudah harus terlihat wah..bukan hanya melalui harga, karena itu kontra produktif..

  24. wili says:

    mba,, iklan tje fuk yang menampilkan tokoh2 news.com,, efendi gazali,dkk itu apakah bisa dikategorikan sebagai iklan layanan masyarakat??

  25. Della says:

    Hi Mba Iim, lam kenal ya.
    Aku seneng banget bisa nemu blog ini. Nambah wawasan baru buat aku yg awam bgt ma marketing n communication.
    Bisa dibilang berkat iklannya Tje Fuk juga sih. Karena penasaran ma iklannya yg bikin males, tapi gencar banget. Iseng2 googling, eh nemu blog ini. :)

  26. lena says:

    pertama saya emang bingung sama iklan ini…aneh..tapi setelah saya ingat2 waktu saya pernah juga lihat iklan garing semacam ini di luar negri.dan pernah kita bahas di kelas marketing communication saya dulu, ternyata iklan garing yang frekuensi tayangnya sering semacam ini malah yang bikin masyarakat dari semua lapisan ingat selalu akan brand ini dan malah penasaran untuk mengenal lebih jauh atau malahan mencoba produk ini. Dan terbukti iklan itu berhasil menaikkan omzet penjualan produk tersebut. mungkin ini salah satu strategi unik si owner.

  27. miko says:

    hmmm menarik ya pembahasannya…
    btw menurut saya tje fuk berhasil lo…. anda semua sudah tertipu kan (hehehe maaf ya?) menurut analisa saya:

    - tje fuk sengaja membuat iklan norak supaya emang ya…. emang biar terlihat norak…. semakin norak orang akan ingat ttg produk tsb… ya pasti ditengah gencarnya iklan yang keren lah
    - tje fuk emang ingin tampil apa adanya, dia gak pakek model cantik ato artis terkenal, karena memang ingin meyakinkan konsumen untuk produknya…. bahwa orang tersebut bener2 pakek tje fuk (bukan sononya emang udah cantik)
    - setelah ada iklan norak…. eh ternyata produk mahal…. nah!!! itu kuncinya… bukannya sebagian besar orang indonesia lebih percaya bahwa produk mahal psti kualitas juga bagus???

    hmmm…. itulah persepsi yang ingin di angkat tje fuk!
    selain itu jangan lupa efek “gethok tularnya” tje fuk itu bener-bener mengerikan lo….

    kita lihat aja deh… gimana dia bertahan…

    pisss,-

    miko

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting