Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Re-think Your Advertising Medium

December 1, 2005
Oleh Iim Fahima Jachja

 

Bukan waktunya buang uang buat beriklan! Don’t trust advertising people! Advertising Agencies must re-think of their business! Dan masih banyak lagi omongan sinis terlontar dari sejumlah marketer dunia terhadap bisnis periklanan. Di awal tahun 2000 sejumlah buku bermunculan seperti  The end of advertising as we know it by Sergio Zyman, mantan CEO Coca Cola World Wide, Life after 30 Secs Spot etc dan yang paling dibenci oleh banyak orang iklan adalah The Fall of Advertising and the Rise of PR by Al Ries dan Laura Ries.

Banyaknya pandangan sinis bermunculan tentunya bukan tanpa alasan. Luapan iklan yang mengalir setiap hari bagaikan air bah yang menerjang rakyat Amerika membuat mereka dari hari ke hari semakin membenci iklan. Dari yang semula sekedar mengganti channel ketika iklan muncul hingga puncaknya ditandai dengan lahirnya TiVo, sebuah alat yang mampu membuat penonton menikmati program favoritnya tanpa diganggu iklan. Iklan yang semula dianggap sesuatu yang entertaining dan informatif, kini menjadi salah satu “musuh” yang harus dihindari karena dianggap sebagai interuption (gangguan).

Hal ini tentu saja membuat biro iklan dan para klien kelimpungan. Bagaimana tidak, setiap saat produk baru bermunculan dan memerlukan promosi, namun tingkat rejection konsumen terhadap iklan begitu tinggi.

Akibatnya, biro iklan mau tak mau harus menemukan strategi baru dalam berpromosi. Sejumlah cara baru diciptakan diantaranya dengan memanfaatkan internet, media luar ruang, SMS, Viral dll yang notabene memanfaat medium diluar mainstream medium seperti TV, radio, media cetak. Tak hanya itu, mereka juga bahkan menggunakan film sebagai sarana promosi seperti Cast Away yang dibintangi Tom Hanks digunakan sebagai sarana beriklan oleh Fedex, atau The world is not enough yang dibintangi James Bond ditunggangi promosi handphone Nokia dan masih bnayak lagi contoh lainnya.

Penggunaan alternative medium bukan semata mata menghindari TV sebagai medium yang paling besar rejectionnya, namun juga berdasarkan penelitian yang lebih dalam terhadap consumer insight. Contohnya ketika BMW meluncurkan BMW 5 Series (?) yang target audiencenya eksekutif papan atas. Setelah diriset, eksekutif papan atas Amerika memiliki pola konsumsi informasi yang berbeda, yaitu mereka lebih banyak menyerap informasi melalui internet dari pada TV. Sehingga untuk “berbicara” dengan mereka, biro iklan BMW berpikir menggunakan pendekatan internet viral.

Dengan menggandeng sejumlah sutradara ternama dunia diantaranya Quentin Tarantino dan Guy Ritchie, mereka memutuskan untuk membuat film pendek yang didalamnya selain kita bisa menikmati jalan cerita dan sinematografi yang menarik, kita juga bisa melihat bagaimana BMW tersebut beraksi dengan elegan dan gesit. Film itu kemudian selain dikemas dalam bentuk DVD dan dikirim ke sejumlah prospektif konsumen, juga diupload di website mereka untuk bisa disebar dalam bentuk viral. Efeknya luar biasa! Film tersebut tak sekedar menciptakan image dan awareness yang tinggi namun juga berhasil create sales karena promosinya tepat sasaran. Dari yang semula ditargetkan hanya 250.000 viral, ternyata viral bisa menyebar hingga menembus angka 5 juta!

Bagaimana dengan Indonesia? Perkembangan industri periklanan yang pesat yang ditandai dengan semakin besarnya budget iklan tiap tahun, sayangnya belum dibarengi dengan kecerdasan berpromosi. Mayoritas biro iklan membujuk klien mereka untuk selalu menggunakan mainstream medium sebagai senjata utama berpromosi dengan dalih TV, radio dan media cetak jangkauannya nasional. Padahal seperti kita tahu dan alami sendiri, betapa sering kita mengganti channel TV atau radio ketika iklan muncul karena kita merasa terganggu. Atau betapa sering kita mengabaikan iklan di media cetak karena infonya tidak relevan dengan kebutuhan kita. Jika begitu, bisa dibayangkan betapa mubazirnya uang milyaran rupiah yang dikeluarkan klien setiap tahunnya untuk berpromosi. Karena jangankan beli produknya, yang terjadi malah informasi yang ada dianggap sebagai sampah dan diabaikan begitu saja.

Oke, mungkin biro iklan dengan segala teori ratingnya akan berargumen bahwa memang tidak semua penonton atau pembaca merupakan target audience mereka., target audience mereka adalah sebagian dari penonton atau pembaca tersebut. Nah, jika begitu kenapa masih menggunakan mainstream medium sebagai senjata utama? Kenapa tidak memilih medium yang langsung berbicara ke target audience seperti yang dilakukan BMW dari pada buang uang milyaran rupiah untuk produksi iklan dan media placement yang belum tentu efektif ? saya tidak anti terhadap penggunaan mainstream medium, namun tidak semua brand atau produk perlu menggunakannya apalagi sebagai senjata utama.

Para pengiklan, sebelum buang uang untuk komunikasi, mending paksa biro iklan Anda untuk berpikir bagaimana caranya dengan low budget bisa menghasilkan high impact. Manfaatkan non mainstream medium sebagai senjata utama dan mainstream medium sebagai elemen pendukung. Apalagi jika budget komunikasi Anda terbatas, tebarlah garam ditempat yang memang perlu garam, jangan menebar garam di lautan. Asinnya ngga nendang! It’s time to re-think your advertising medium!

5 Responses to “Re-think Your Advertising Medium”

  1. Kukuh TW says:

    setuju…sekedar ide buat yang kebetluan lagi baca blog ini, bagaimana kalau memanfaatkan game untuk endorse your brand/product ?

  2. alex says:

    Bu,
    kalau yang mengiklankan punya duit buat bikin TVC kan sah sah saja ya? atau gimana? kalo bisa ngga bikin TV ato apa?

  3. Shyam says:

    This is shyam From India can u please Do marketing for my web designing company in India

  4. nasty says:

    saya mau tanya tentang promosi on air..
    apa sig promo on air itu?
    untuk suatu perusahaan pertelevisian promo on air itu sama dengan meng-iklankan tentang program2 acara mereka.
    berarti promo on air itu sama dengan iklan dong??bener gak sih?
    saya bingung nih,,adakah yang bisa memebantu…

  5. timbhoelsoekotjo says:

    Menurut kabar…
    Sekarang ada yang bernama BRAND RELIGION.

    Mohon bisa dijelaskan apa maksudnya? Mungkin dengan subjek yang baru… makasiii

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting