Perkembangan situs-situs jejaring sosial (Facebook, Twitter, dll) telah begitu maraknya, sehingga sulit rasanya mengabaikan keberadaan situs-situs itu atau memisahkannya dari kehidupan kita sehari-hari. Eksistensi social media telah berbenturan dengan aspek kehidupan kita yang lain, salah satu yang paling terpengaruh adalah karir.
Bagaimana karir dan social media saling berbenturan? Setidaknya inilah beberapa hal di dunia karir yang menunjukkan besarnya pengaruh social media tersebut:
1. Rekrutmen. Social media telah hadir dan mengguncang dunia rekrutmen. Saat ini, praktisi HRD mau tidak mau harus mengakrabi social media. Mereka dapat menggunakan social media untuk menunjang pekerjaan mereka, misalnya: mengiklankan lowongan melalui situs-situs jejaring sosial tersebut, atau melakukan background check terhadap kandidat melalui keberadaannya di situs-situs tersebut. Seorang praktisi HR pernah berkata pada saya, “Saya sekarang tidak hanya mengandalkan resume dan psikotest yang dilakukan pada kandidat, tetapi saya juga cek Facebook seorang kandidat. Dari Facebook saya dapat mengetahui banyak hal, misalnya: bagaimana kebiasaan kandidat tersebut, apakah dia akan cocok apabila bekerja dengan perusahaan kami.”
Melihat perkembangan itu, maka sebagai seorang kandidat (job seeker) atau siapa pun yang berharap mendapatkan peningkatan karir, sebaiknya jeli memanfaatkan social media untuk personal branding. Hati-hati dengan apa yang Anda publish, karena Anda tidak tahu siapa yang sedang membacanya.
2. Social Media Policy. Saat ini, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang, dan lebih dari 6 juta orang menggunakan Facebook. Sebagian besar di antara mereka adalah karyawan. Tidak jarang malah, Facebook adalah situs web pertama yang dibuka karyawan begitu tiba di kantor. Melihat perkembangan tersebut, belakangan ini perusahaan merasa perlu menerapkan kebijakan resmi, agar aktivitas karyawannya tidak merugikan citra perusahaan, malah sebaliknya.
Karena karyawan mewakili dirinya sendiri dalam situs-situs social media tersebut, terkadang karyawan tidak menyadari apa yang dipublikasi olehnya dapat berpengaruh terhadap citra perusahaan. Beberapa perusahaan di Indonesia telah mulai membuat kebijakan resmi untuk mengurangi dampak negatif aktivitas karyawan di social media.
3. Munculnya profesi-profesi baru. Maraknya social media juga melahirkan beberapa profesi baru di dunia karir, misalnya sekarang sudah banyak perusahaan yang memiliki jabatan Head of Social Media, atau Social Media Manager, atau Social Media Community Manager. Tugas utamanya adalah mengelola aktivitas perusahaan di social media dan meningkatkan citra perusahaan melalui aktivitas tersebut. Kualifikasi orang yang dicari pun aneh-aneh, tidak lagi seperti kualifikasi yang sering kita baca di iklan-iklan lowongan di surat kabar.
Misalnya:
someone who is addicted to the conversation and will be around on the weekends to approve comments, continue discussions and put out fires when needed. 9 to 5’ers need not apply. Make sure they have a thick skin. When you’re managing a community, attacks will come and someone will always have a problem with what you’re doing.
Do you tweet and use Facebook every day, all day? Is building social community so ingrained you just can’t stop? Do you take pride in customer service excellence and fancy yourself an entrepreneur? Do you understand the difference between a “brochure website,” a “publication” and why feeds are important?
Dan masih banyak contoh yang lain. Bermain-main di social media bukan lagi mainan, tetapi lama-lama akan menjadi sebuah skill yang dicari. Apakah perusahaan Anda sudah punya?
4. Pergeseran peran dan job description pada beberapa posisi. Yang ini masih berkaitan dengan yang atas. Di beberapa posisi, terutama yang berhubungan dengan marketing communications telah terlihat pergeseran peran dan job description yang signifikan. Misalnya saja, saya mengenal seorang teman yang bekerja di bidang akuntansi. Gara-gara aktif nge-twit, perusahaan memindahkan dia ke bagian Marketing. Orang-orang di divisi Marketing ini bisa menjadi kurang penting pada suatu saat ketika social media menjadi semakin penting, apabila mereka tidak “pintar” bersosialisasi di social media. Ketika tren ini makin membesar, pada akhirnya, apa yang diperlukan untuk sukses dalam beberapa profesi akan mengalami pergeseran.
Setidaknya beberapa hal di atas yang saya amati, yang menggambarkan tabrakan antara karir dan social media. Silakan apabila ada yang ingin menambahkan.
[...] This post was mentioned on Twitter by Cesar Sidolisa, Tuhu Nugraha D. Tuhu Nugraha D said: Karir dan Social Media, nice analysis http://bit.ly/7NUUdD #MarketInsight [...]
pertamax……….
Dan tentu saja social media bisa menjadi ajang promosi secara efektif. Saya mendapatkan sejumlah projek konsultasi hanya lantaran calon klien melihat profil saya di FB.
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by tuhunugraha: Karir dan Social Media, nice analysis http://bit.ly/7NUUdD #MarketInsight…
@yodhia, thanks atas comment-nya mas Yod. Mas Yodhia ini adalah salah satu social media phenomena di Indonesia. Tidak hanya dari blog, ternyata aktivitasnya di Facebook pun telah menuai klien.
Kapan-kapan kita wawancara ya buat di PortalHR.com.
walaupun belum semua bidang bisa menetapkan sosmed sebagai perangkan indikator resmi rasanya tinggal menunggu waktu. Namun
@Meisia Chandra
satu pertanyaan penting, bagaimana pandangan akun karyawan di sosmed bagi BUMN atau institusi pendidikan?
analisisnya cukup bagus…
tapi bagaimana kita mengontrol social media tuk bisa bersahabat dengan kita……
Sangat menarik melihat bagaimana dunia web bersama dengan aspek-aspek web 2.0 mulai merubah paradigma orang Indonesia hingga ke dunia kerja. Tahun 2010 nanti rasanya akan menjadi tahun yang sangat menarik bagi para praktisi di dunia internet.
Tapi yang paling saya harapkan adalah agar perkembangan professional marketing di dunia internet (termasuk social media marketing) tidak hanya mentransplasikan usaha marketing di dunia offline ke dalam bentuk maya. Aspek dan bentuk dasar dari internet itu sendiri harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sifat dasar internet sebagai medium yang paling dapat diukur dan juga unboundedness dalam reach harus bisa dimanifestasikan ke dalam bentuk nyata usaha marketing online. Kalau tidak, apa yang bisa dibanggakan (secara kualitatif) dari marketing online? Masak hanya costnya saja yang lebih rendah?
Saya juga berharap bahwa nantinya karir di dunia marketing online di Indonesia tidak hanya sekedar penambahan beberapa job title dan job description baru di daftar yang sudah ada. Semoga jabatan di dunia online bisa ikut berkontribusi untuk negara dan ikut mengharumkan nama bangsa.
Meisia…siap. Ditunggu wawancaranya…:)
@ iphin, arham, sugih, dan pandu, makasih komentarnya.
Menjawab arham dan sugih, banyak perusahaan mengkhawatirkan sosial media dapat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan citra perusahaan, tetapi di sisi lain juga dapat merugikan citra perusahaan. Itulah sebabnya beberapa perusahaan di Indonesia mulai sadar akan pentingnya membuat Social Media Policy, sebuah kebijakan resmi yang diberlakukan kepada karyawan ketika mereka berbicara di situs-situs sosmed. Melalui kebijakan ini, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari aktivitas karyawan di sosmed, atau bahkan sebaliknya, menggunakan karyawan sebagai duta-duta brand perusahaan. Pada saat brand “diserang” misalnya, karyawan adalah yang akan membela brand di garis depan. Pak Nukman pernah memberikan seminar mengenai ini di salah satu BUMN.
@ pandu, wah pandangan yang menarik. Perkembangan web telah membuka banyak kemungkinan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Semoga perkembangan itu dapat juga dibawa untuk mengharumkan nama bangsa. Amin….
@ yodhia, nanti kami japri untuk janjiannya mas…
Tidak semua perusahaan dan bidang industri menggunakan
social media sebagai sarana untuk meningkatkan pemasaran, mencari calon pegawai, meningkatkan citra dan brand atau tujuan-tujuan positif lainnya.
Masih banyak banyak perusahaan-perusahaan yang tidak menggunakan social media, bukannya mereka “gaptek” atau kurang wawasan, bahkan mereka sudah menggunakan sistem IT yang sudah sangat baik. Tetapi karena social media menurut mereka dan sesuai dengan bidang usahanya, belum bisa dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan semua itu. Jadi social media belum tentu cocok untuk semua bidang usaha.
Jika Bapak memiliki data-data hasil survey atau penelitian mengenai perusahaan-perusahaan yang sudah/belum menggunakan socila media, mohon di share.
Terima kasih.
@ wadiyo, memang benar tidak semua perusahaan dapat menggunakan social media sebagai strategi marketing. Tetapi adalah fakta yang tidak bisa diabaikan bahwa, sebagian besar karyawan mereka punya account di social media. Itulah sebabnya keberadaan social media tidak bisa mereka abaikan sama sekali. Melarang karyawan menggunakan social media bukanlah langkah yang bijak, karena aktivitas karyawan di social media tersebut dapat diarahkan untuk mendukung tujuan marketing perusahaan.
Data survey yang bapak maksud mungkin survey mengenai perusahaan yang sudah menerapkan social media policy untuk karyawan? Kami belum melakukan survey, kami hanya punya informasi, namun nama perusahaannya tidak bisa kami share tanpa seijin perusahaan ybs.
Yup. Sosial media bener2 mengubah cara interaksi kita dan kita mesti bener2 pandai beradaptasi.
Menurut saya di th 2010 akan semakin banyak brand-brand yg memanfaatkan social media. Aplikasi di lapangan pun akan semakin bervariasi, dr hanya sekedar men-sponsori acara kopdar, launching brand invitation, atau liburan.
Facebook, Twitter, dan Blog (blogger influencer) masih menjadi pilihan ’seksi’ bagi para pemilik brand untuk mengkampanyekan produknya. Saya setuju dgn tulisan ini bahwa kt hrs mulai memanfaatkan social media untuk personal branding.
Krn bukan tdk mungkin di th 2010 (spt yg dicontohkan dlm tulisan ini) akan muncul sebuah profesi2 baru, BMB mungkin? Brand Marketing Blogger?
minimal jadikan social media sebagai media marketing, gunakan dijam – jam non produktif sehingga tidak merugikan perusahaan.
Branding di Facebook seperti pernah saya ulas di blog antara lain bisa dilakukan dengan membuat profil yang merefleksikan brand, update status sesuai brand, klasifikasi teman, dan lainnya.
selain memunculkan profesi-profesi baru, social media sudah menjadi standar baru dalam menjalankan bisnis hingga menularkan opini publik. Bisnis online-pun makin lancar melalui social media.
wach pengen kalo ada lowongan model begitu..
tp kayaknya masih jarang y mbak…
Hi,
dari facebook dan tweeter nya..
Saya seorang recruiter di Executive Search company..
Jujur aja, hampir semua project dr klien bisa saya dapatkan melalui social media networking.
Dan saya juga bisa melihat karakter dan kehidupan para kandidat (maupun client
Memberi ruang untuk menganalisa lebih dalam..
Thank for social media networking..:D
@Charli… wah terima kasih atas komentarnya. Nah ini satu lagi contoh nyata collide-nya social media dengan dunia karir.
@kakday mungkin Charli yang lebih bisa menjawab pertanyaanmu… karena dia seorang recruiter.
@ all, terima kasih atas komentarnya. Banyak tambahan masukan buat saya.
“Kalo ada perusahaan yang butuh kandidat “Social media” minat juga ya, inspiratif artikelnya.”
Hi,
Saya jadi kepikir untuk masukin link socmed dalam CV saya, apakah itu wise enough ?
link seperti linkedin mungkin masih relevan ya, bagaimana dengan facebook dan twitter ?
Thank you.
@Tami, kalau saya sih masukin…
Karena kalau tidak dimasukin pun, perusahaan (yang HR-nya maju) akan mencari tahu. Sebelumnya, make sure personal branding kita di situs-situs jejaring sosial tsb baik adanya.
Lets discuss about personal branding..