Koran Tempo hari ini memuat tulisan panjang dan analitis mengenai babak baru perang megaportal. Sayang, yang diwawancara kurang banyak, hanya saya (sebagai CEO Virtual Consulting), Budiono Darsono (pemimpin redaksi Detikcom) dan pimred Kompas.com Taufik Hidayat Mihardja (yang diwawancara melalui email). Kompas tampaknya masih enggan bicara karena megaportalnya baru pada tahap beta. Sementara itu, tidak ada wawancara dengan Okezone.
Seperti dikutip di Koran Tempo, saya mengatakan bahwa Kompas.com berpotensi besar menyalip Detik.com lantaran sumber daya yang melimpah.
Mengapa saya berpendapat seperti itu? Inilah beberapa alasan saya:
1. Tampilan Kompas.com sudah berubah total, amat user friendly, sekaligus advertiser frendly.
Kompas.com sudah lebih enak dibaca. Tata letaknya lebih rapi dibanding versi lamanya. Faktor ini bisa meningkatkan conversion rate pengunjung halaman depan dan halaman dalam, sehingga meningkatkan page views. Pada saat sama, tata letak iklannya lebih bagus untuk para pengiklan karena antar pengiklan tidak perlu saling bersaing seperti yang terjadi di Detikcom.
2. Kompas.com sudah mulai menerapkan budaya online, meski dalam skala terbatas.
Saya perhatikan, sejak versi betanya muncul pertengahan Januari, berita-berita Kompas.com semakin encer, judulnya “nendang”, dan hanya terdiri dari tiga-lima alenea. Biasanya, tulisan Kompas terkesan kaku, formal, panjang dan tidak enak dibaca di layar moniitor. Kini, perubahan sudah mulai terlihat. Saya menduga, Kompas.com sudah menerapkan budaya online. Moga-moga saja, ini baru awalan, sebab budaya online itu amat luas. Masih banyak hal yang harus ditingkatkan dalam hal ini. Tapi, dengan tulisan yang encer ini Kompas sudah melakukan langkah berani.
Berani? Ya, berani. Karena jika kecenderungan ini berlanjut dan salah mengelolanya, citra Kompas yang sudah terbentuk puluhan tahun, sebagai media yang elegan, hati-hati, terpercaya, tidak mudah menyebar isu, bisa tercoreng.
3. Kompas.com sudah mulai melengkapi fitur onlinenya.
Versi beta Kompas.com kini makin kaya. Ada KompasTV, Kompas Image, SelebTV, dan Kompas Gramedia Online. Memang masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi itu bisa dimaklumi karena masih versi beta. Saya dengar, versi full nya sudah bisa ditampikan Maret nanti.
4. Kecepatan beritanya sudah meningkat.
Saya perhatikan, kecepatan berita Kompas.com kini sudah mendekati Detik.com. Bahkan dalam beberapa kasus, Kompas.com pernah lebih cepat. Saya kira, kalau mau, Kompas.com bisa menggenjot kecepatan ini lebih tingggi.
5. Kompas.com punya sumber daya yang lebih kuat.
Kompas punya sumber informasi yang amat beragam, mulai dari majalah, koran, hingga teve. Jika saja bisa dimanfaatkan dengan baik, potensi ini luar biasa. Apalagi, dukungan modal Kompas jauh lebih kuat dari Detikcom. Sayang, selama ini potensi ini disia-siakan.
Itulah lima alasan yang bisa saya kemukakan di sini. Alasan lain masih ada, tapi saya simpan di kantong saja.
Posisi Okezone
Meski demikian, lawan tangguh Detikcom bukan hanya Kompas.com. Saya perhatikan Okezone juga semakin membaik. Bahkan dalam liputan wafatnya mantan presiden Soeharto, Okezone lebih cepat ketimbang Detikcom dan Kompas. Beritanya pun lebih bervariasi dan nyaris tanpa henti. Pada hari ketiga, 29 Januari 2008 misalnya, Okezone masih rajin menulis mengenai hal ini. Perhatikan arsipnya saat itu dan bandingkan dengan Detik.com.
Selain itu, desain Okezone sudah tidak meniru Detik.com. Awalnya , ketika diluncurkan tahun lalu, desainnya memang mirip Detik.com. Namun sejak awal Januari 2008, desainnya berubah total, menjadi lebih user friendly sekaligus advertiser friendly.
Peluang Okezone menurut saya tidak sekuat Kompas.com mengingat Okezone adalah brand baru, yang masih membutuhkan upaya keras untuk memasarkannya, sebaliknya brand Kompas.com sudah amat kuat.
Tentu saja, soal apakah mereka bakal mampu menyusul Detikcom harus dibuktikan dengan strategi yang jitu serta implementasi yang konsisten dan persisten. Apalagi, Detik.com sendiri pasti tidak akan diam. Dengan pengalamannya mengalahkan serbuan Astaga.com di awal tahun 2000an, Detikcom mestinya punya peluru untuk menjawab tantangan dua raksasa baru ini.
Yang jelas, keseriusan dua pemain raksasa ini akan mempengaruhi peta pasar portal. Bagi saya, keseriusan dua pemain ini di tahun 2008, amat menarik. Saya jadi ingat salah satu faktor yang membuat Detikcom bisa melejit sedemikian hebat dalam tempo singat pada tahun 1998. Yakni: kejatuhan Soeharto dari kursi kepresidenan. Fakta sejarah itu yang antara lain membuat Detikcom dibaca banyak orang. Kini, bertepatan dengan wafatnya Soeharto, trafik Detikcom memang meningkat luar biasa. Namun, pada saat yang sama, justru lahir pesaing kuat dan serius: Kompas.com (dan Okezone) yang siap menggoyang Detikcom.
Download:
iTEMPO – Babak Baru Perang Portal
iTEMPO – Kebangkitan Portal Lokal Jilid Kedua
iTEMPO – Membidik Pasar Sempit
#50
kalau yang saya dengar dari teman saya di MNC, MNC memang tidak memasang target iklan untuk okezone. soale, perusahaan raksasa itu belum keluar duit banyak buat okezone. malah kata dia uang yang keluar untuk okezone jauh lebih sedikit yang dibicarakan banyak orang. kalau bahasanya dia “masih secuil”.
MNC lebih fokus untuk cari iklan untuk rcti, tpi, globaltv, karena satu pemasangan iklan di tiga televisi itu sudah jauh lebih dari cukup untuk membiayai okezone. secara revenue grup ini hitungannya triliunan rupiah dan profit ratusan miliar.
dengan grup yang sedemikian besar, saya yakin mencari iklan untuk okezone perkara yang sangat mudah.
tidak adanya target iklan terlihat tidak adanya bidang marketing di struktur okezone.
#51
Quoted: “dengan grup yang sedemikian besar, saya yakin mencari iklan untuk okezone perkara yang sangat mudah.” Kalau mudah, kenapa tidak mau? Ini ganjil banget. Saya mendapat kesan seolah-olah Okezone/MNC itu institusi Departemen Sosial, bukan institusi bisnis…
#28 dan #29: Terus terang inilah.com yang tadinya innchannels.com bukan trend sesaat. Kita berencana mengisi konten untuk informasi kepada publik. Saat ini bisa dikatakan bandwidth iix/openixp sudah sangat besar. Ditambah lagi tidak ada masalah dengan bandwidth international bagi netters di Indonesia.
Jadi kita bukan hanya sekadar meramaikan konten dan bukan sekedar follower. Kita juga luncurkan http://inilah.tv walaupun masih beta. Tidak ada kamus bahwa follower akan bangkrut. Ingat netscape, ncsa mosaic. Mereka termasuk pionir. Tapi dalam perang browser bisa dikatakan mereka jadi pecundang. Lihat Mozilla, Firefox, Opera yang datang belakangan justru lebih sukses.
Jadi kuncinya adalah kesiapan, strategi dan taktik yang baik secara terus-menerus. Disamping perbaikan terus menerus. Insya Allah yang terbaik akan jadi pemenang. Selain itu adalah kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi tentunya menjadi kelebihan plus.
Terima kasih atas jawaban mas Koro.
Selamat datang Inilah.com di bisnis online.
Semoga sukses.
Salam buat mas Gigin ya.
BTW, kapan grand-launching-nya?
#54: terima kasih atas atensinya mas nukman.. insya Allah nanti saya sampaikan ke pak gigin..
untuk soft launch masih muter di beberapa kota luar jakarta, dan terakhir grand launch di jakarta beberapa bulan lagi.
Coba lihat situs The Washington Post (http://www.thewashingtonpost.com), bandingkan dengan Kompas.com dan Okezone.com. Gaya desainnya nggak jauh beda. Jadi nggak ada yang luar biasa dari sudut desainnya.
tuk bung koro #53 Maaf nyela dikit bukannya sinis tapi mencoba mencari pencerahan, postingan Bung koro, anda bilang “Tidak ada kamus bahwa follower akan bangkrut”, maaf menurut saya statement tersebut salah total dan dari kita gak ada yang sebut2 inilah.com bakal bangkrut malah anda membikin statement kata “bangkrut” hehe lucu, dan segi pandang saya pertama itu terjadi bukan diindonesia, kedua core productnya berbeda antara portal dan software atau browser, ini jelas berbeda sekarang anda bisa bilang begitu selama masih ada sang investor yang berdiri behind the scene dan cuek2 aja ngeliat laporan keuangan yang grapiknya kok turun gunung terus gak pernah naik2 kepuncak gunung, apa yang terjadi bila sang investor akhirnya gerah, bubarkan akhirnya jadi saya cuma mo jelasin dikit dari manakah duit masuk disebuah portal, bukannya menggurui cuma mau sharing aja :
1. banner advertising, intinya klien bakal masang iklan dengan harga kakap apabila portal anda kompeten, no1 brand, kontent yang ok, pengakses banyak, statistik yang jujur, dan segudang kelebihannya lainnya dan tentu ini gak gampang sedangkan kompetensi inilah.com apa, apa kelebihannya, apa inovasinya, saya secara pribadi gak bisa liat dengan kasat mata inovasi apa yang dimiliki, lalu bannernya bagaimana, saya liat banner di inilah.com itu bisa dikatakan banner internal semua, lah wong itu bannernya para investor semua ayo ngaku, blom laku kan, kenyataannya sulitkan cari klien yang mau pasang banner diportal situ walaupun kosmetik sudah tebal menghiasi wajah portal anda. logiknya apabila portal anda sudah diakui kompetensinya barulah akan laku percaya deh atau cari marketing yang bener2 jago ngibulin klien baru dapet banner yang real.
2. pay content, pay content itu adalah sebagian kontent eklusif dari sebuah portal dimana apabila user ingin mengaksesnya dia harus menyisihkan sebagian duitnya untuk dapat membaca kontent2 tersebut, ini sudah berlaku di detik, kompas, tempo dll, dan jangan salah duit yang masuk kesini bukan duit kecil, so sudah kah anda melakukan inovasi tersebut, tapi jangan lupa kembali ke topik no 1 sekompeten apa portal anda hehehe.
3. Sindikasi yang berbayar, contohnya berita detik (…….sorry saya hapus karena menyangkut data perusahaan), tapi jangan lupa kembali ke topik no 1 sekompeten apa portal tersebut sehingga kontennya mau di beli hehehe.
4. pendapat dari luar bisnis online semisal e commerce, penjualan tiket pertunjukan, bisnis mobile & vas (value added services) alias sms dan tetek bengeknya, dimana kalo diseriusin bisnis diluar core bisnisnya bakal mendapatkan pemasukan yang lumayan juga. nah yang inilah.com punya apa.
jadi kesimpulan saya portal yang hanya mengandalkan pemasukan dari banner sebagai basic core pendapatan dipastikan bakal bangkrut krut krut, setidaknya bakal bikin dahi investor mengkerut mulu, mangkanya mulailah berinovasi bagaimana mencari inovasi menjadi profit center, karena hari gini sulit kali cari klien yang mau pasang banner dan ada resep dikitnih dari orang internalnya detik semoga bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan http://donnybu.blogdetik.com/2008/01/10/3-resep-mengalahkan-detikcom/ salam, jangan marah ya bung koro saya cuma mau sharing aja nih
Thanks
# 57 : wah menarik, ada pencerahan lain.
tuk #58 Syofiardi, menurut sya sah sah aja sih asal yang di benchmarking portal luar negeri asalkan jangan portal dalam negeri malu2in namanya
yang penting internet indonesia jangan numpang terus Singapore ama Taiwan donk biar internet murah, masa orang Indonesia bayar lebih mahal dari orang Singapore.
#38 #57
untuk bung ivan laksana “what ever you are”, saya cukup menyayangkan komentar anda yg sepertinya kurang punya etika (atau memang tidak punya). sebagai seorang eks karyawan suatu perusahaan setidaknya anda dapat membatasi komentar yg dapat di baca umum, yg sifat nya rahasia. setau saya setiap orang yang profesional tau akan hal itu, kecuali yg tidak profesional pasti tidak tau. untuk itu saya menghimbau kepada bung ivan laksana “what ever you are” agar bersikap agak profesional barang sedikit. saya sangat percaya dengan sikap seperti itu (yang suka buka2 rahasia perusahaan), seseorang akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan.
untuk pak nukman, saya percaya anda cukup mengerti akan etika dan profesionalisme kerja, tentunya anda dapat melakukan filter untuk hal-hal seperti ini
salam
Yup. Komentar #38 sudah jauh-jauh hari saya hapus sebagian besar isinya tanpa Anda minta karena memang saya anggap kurang etis. Sedangkan sebagian isi komentar #57 baru saja saya hapus setelah mendapat komentar ini. Saya memang kurang teliti membaca komentar tersebut sehingga lolos filter. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya akan lebih berterima kasih lagi kalau Anda juga menggunakan identitas asli ketika memberikan masukan supaya terjalin silaturahim.
sebagai penikmat berita, untuk kecepatan, variasi, kedalaman, dan kelengkapan, saya sekarnag lebih prefer ke okezone dan inilah.com. untuk jangkauan, saya suka kompas karena wartawannya di mana-mana jadi beritanya luas.
dan hal hal itu yang penting dari sebuah berita online. soal kecepatan, saya pikir sekarang ratarata. okezone dan kompas sekarang cukup cepat.
tulisannya mas ivan bagus juga. kalau saya saran, sebaiknya tidak perlu diedit pak nukman. bisa buat nambah wawasan.
trims
To : x-comment
Sebelumnya mohon maaf apabila ada kata2 saya yang kurang berkenan, hmm jadi salah kaprah, saya sama sekali tidak menjelek2an eks perusahaan saya itu malah sebaliknya, mungkin sampean bisa baca postingan saya di blog rekans saya didetikcom ini
http://donnybu.blogdetik.com/2008/01/10/3-resep-mengalahkan-detikcom/
baca dulu blogny yang benar baru berkomentar, justru disitu saya menggambarkan bahwa detik itu bak kampus kedua saya, and to Pakde Nukman, sorry banget pakde tak bermaksud membuat blog mu menjadi arena perang barata yudha tapi setidaknya postingan ku itu bisa menjadi gambaran untuk yang blom tau mengenai detikcom tersebut, postingan2 yang bersifat sensitif, sekali lagi mohon maaf, kalo urusan ngebocorin rahasia perusahaan itu salah kaprah, postingan aku diatas untuk menggambarkan kondisi portal yang sehat, ya aku ambil contoh kasus detik.com ya ternyata anda berpendapat lain(ya mungkin aku salah ambil kasus), sekali lagi sorry loh pakde NL,
To : x-comment peace lah what ever u say, saya terima aja, karena saya yang tahu apa yang saya tulis dan saya rasakan, tapi apabila anda merasa terganggu silakan layangkan email kesaya untuk memperjelasnya sekali lagi mohon maaf kalau anda terusik.
Thanks
Ivan
Pak Ivan, dimanapun anda berada, cobalah untuk mengurangi sedikit sifat sombong dan takabur anda. Saya selalu merasa risih, ketika anda begitu, terlebih dulu ketika masih satu kantor.
Bagi saya data-data tentang detikcom seperti itu tidak sepatutnya diumbar di mana-mana. Apakah tujuannya untuk mendapatkan pengukuhan bahwa (mungkin) anda adalah orang teknikal yang paling “oke” saat itu? Padahal, saya yakin 100%, yang anda umbar itu tidak sepenuhnya benar. Itu yang bahaya!
Wallahu’alam.
Wahai Programmer Asli Detikcom aku kenal baik sama programer2 seangkatan didetikcom dan sampe sekarang masih sering ngobrol2, apabila kamu memang benar2 pernah disana kamu akan bersikap Gentle dengan memampang nama dicomment kamu, sebelumnya mohon maaf kalo ada kata2 ku yang bikin kamu gerah, aku cuma mau kasih pandangan aja mengenai bisnis portal, salahnya aku pake case study detik.com coba aku pake case study portal yang lain mungkin situ gak bakal marah ya, tapi saya kira kamu bukan orang detikcom, karena salah kalo kamu bilang aku 100% orang teknikal, sama sekali bukan berarti sampean gak kenal siapa saya, but any way terserah sampen saja lah saya terima aja, cuma kok yang aneh situ sewot banget sama saya ya, kalo gitu aku minta maaf ya semoga aku di maafkan, mengenai data2 tersebut diatas tidak bersifat ilmiah, tapi itu berdasarkan kehidupan yang aku alami waktu masih di sana, kalo aku bahas kompas nanti ribut2 kaya gini lagi gak ya? Just Joke, ayo jangan sewot mulu sorry2 kalo sampen jadi gerah kaya gitu.
To: Pak de, sorry blog mu jadi panas kaya gini, itung2 naekin page views
rame banget ya? sepertinya dari awal udah musuhan
Tonton
Hehehe, engga perlu Pak Ivan, saya cuman mengingatkan saja kok (termasuk jg mengingatkan diri saya sendiri). Maaf saya engga bilang anda 100% orang teknikal, mohon dicermati lebih dalam komen saya sebelumnya. Setali tiga uang untuk komen anda di blog DBU (atau juga pada tulisan Pak Nukman, “Detikcom Mulai Berubah”), tapi saya rasa karena pesannya sudah sampai, tidak perlu saya sambangi ke sana.
Wallahu’alam bishawab.
To : Programmer Asli Detikcom
Sebelumnya terima kasih anda sekarang lebih “bijak” menanggapi comment2 saya, cuma saya lebih menghargai kalau anda comment dengan menggunakan nick name asli, agar lebih kompeten dibacanya, karena apabila anda benar2 asli programmer detikcom kita bisa ngobrol, saya sahabatan kok sama semua programer asli detikcom karena rata2 kenal dekat sama semua dan sering ngerjain project bareng juga bahkan masih sering YM an sama dedengkot dedengkot dapurnya detikcom, tapi apabila anda ASPAL alias palsu apakah anda tidak malu mengaku2 sebagai programmer detikcom, tapi gak masalahlah, gak apa2 sebelumnnya thanks udah comment, By the way jangan ngambek mulu ya saya cuma kasih comment untuk sharing knowledge dengan yang lain, so wajar kalau ada pro kontra, sebenernya saya cuma test case ternyata pada sensitif hehe peace nikmatilah hidup, relax, santai, peace udah ya baekan aja Ok.
To : Pak de NL, boss numpang comment untuk meluruskan masalah ya.
Wassalam
Ivan <– its my name kalo comment lagi pake nama ya kaya saya
Pak Ivan, nggak ada tujuannya saya tulis nama asli, nanti terkesan konfrontasi. Anyway, saya dapet link tulisan Pak Nukman ini justru dari temen-temen detik (baik yang masih di detik maupun yang sudah pindah kapal). Makanya saya terdorong untuk sedikit mengingatkan anda. Semoga juga menjadi pelajaran buat saya. Amiin. So you may find a quote of gentle/ungentle or a needs to clarify.
To : Programer Aspal
Ya terserah situlah, cuma kalo menurut saya anda kurang Gentle dengan tidak mencantumkan nama anda, saya akui kalo postingan saya kadang2 bikin gerah, saya gentle saya minta maaf ke anda padahal anda bukan pemilik detikcom yang punya aja sebodo, sementara tensi anda naik membaca postingan2 tersebut, justru sebenarnya postingan2 saya itu bukan untuk menjelek2an detikcom namun sebaliknya, sehingga portal2 lain bisa bangkit, sekali lagi saya cuma mau sharing knowledge ternyata ada pihak yang merasa gerah, untuk kesekian kalinya saya minta maaf untuk yang merasa gerah
BTW : thanks sudah mengingatkan
Cheers
Ivan
Nanti saja kalau ketemu langsung saya akan bilang yang nulis ini saya. Biar tidak terkesan saya konfrontasi & cari muka di sini. Yang paling penting pesan yang mau saya sampaikan sudah sampai, dan sudah diterima dengan lapang dada….
Hallo Kang Ivan Laksana…kumaha damang?
keren juga nih bahasannya…makin hari makin panas pula…
jadi inget masa lalu nih ngeliat commentnya Ivan…ini kan yg dulu suka kita bahas diperjalanan menuju kantor kan Van?…hehehehe
eks member Patas 73 ini ternyata masih aktif di dunia maya toh…
Salam Sukses buat semuanya deh…
-t-
Hidup detikcom!!!
Perkenalkan pada semuanya, kami adalah pendatang baru yang siap berkompetisi di dunia portal2an
kunjungi http://www.inilah.com
merdeka!
Yups pokoke peace lah,sekali lagi sorry kalo ada yang kepanasan apa kabar yang kenal saya, long time no see
jabluk, cuma saya sudah capek ladeni macan yang tak punya belang, ayam yang tak berkokok, dan orang yang gak punya idung hehe
Hallo omm Ulfi (Kalo ulfi yan bener nih dia embahnya yang jaga dapur detik waktu tempoe doeloe sekarang udah graduate, kalo bukan ya maaf)
hidup juga detikcom hehe
[...] ke Detik.com. Bahkan pada wawancara dengan Koran Tempo akhir Januari2008 lalu saya mengatakan bahwa Kompas.com berpotensi besar menyalip Detik.com lantaran sumber daya yang melimpah. Namun soal bisa mengalahkan Detik.com dalam waktu singkat seperti dikatakan Hermawan? Rasanya [...]
Kompas saya lihat mengadopsi cnn.com walau di modif sesuai selera indonesia. dan okezonepun mulai berhaluan ke kompas.com. sementara detikcom memnag keluhan orang iklan dan desain kuno. dengan warna background biru keras dan tulisan kuning atau putih
tapi pengunjung setia detikcom jg banyak kelebihannya adalah kecepatan load situs.