Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Babak Baru Perang Megaportal: Kompas dan Okezone Goyang Detikcom?

January 31, 2008
Oleh Nukman Luthfie

 

Koran Tempo hari ini memuat tulisan panjang dan analitis mengenai babak baru perang megaportal. Sayang, yang diwawancara kurang banyak, hanya saya (sebagai CEO Virtual Consulting), Budiono Darsono (pemimpin redaksi Detikcom) dan pimred Kompas.com Taufik Hidayat Mihardja (yang diwawancara melalui email). Kompas tampaknya masih enggan bicara karena megaportalnya baru pada tahap beta. Sementara itu, tidak ada wawancara dengan Okezone.

Seperti dikutip di Koran Tempo, saya mengatakan bahwa Kompas.com berpotensi besar menyalip Detik.com lantaran sumber daya yang melimpah.

Mengapa saya berpendapat seperti itu? Inilah beberapa alasan saya:

1. Tampilan Kompas.com sudah berubah total, amat user friendly, sekaligus advertiser frendly.

Kompas.com sudah lebih enak dibaca. Tata letaknya lebih rapi dibanding versi lamanya. Faktor ini bisa meningkatkan conversion rate pengunjung halaman depan dan halaman dalam, sehingga meningkatkan page views. Pada saat sama, tata letak iklannya lebih bagus untuk para pengiklan karena antar pengiklan tidak perlu saling bersaing seperti yang terjadi di Detikcom.

2. Kompas.com sudah mulai menerapkan budaya online, meski dalam skala terbatas.

Saya perhatikan, sejak versi betanya muncul pertengahan Januari, berita-berita Kompas.com semakin encer, judulnya “nendang”, dan hanya terdiri dari tiga-lima alenea. Biasanya, tulisan Kompas terkesan kaku, formal, panjang dan tidak enak dibaca di layar moniitor. Kini, perubahan sudah mulai terlihat. Saya menduga, Kompas.com sudah menerapkan budaya online. Moga-moga saja, ini baru awalan, sebab budaya online itu amat luas. Masih banyak hal yang harus ditingkatkan dalam hal ini. Tapi, dengan tulisan yang encer ini Kompas sudah melakukan langkah berani.

Berani? Ya, berani. Karena jika kecenderungan ini berlanjut dan salah mengelolanya, citra Kompas yang sudah terbentuk puluhan tahun, sebagai media yang elegan, hati-hati, terpercaya, tidak mudah menyebar isu, bisa tercoreng.

3. Kompas.com sudah mulai melengkapi fitur onlinenya.

Versi beta Kompas.com kini makin kaya. Ada KompasTV, Kompas Image, SelebTV, dan Kompas Gramedia Online. Memang masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi itu bisa dimaklumi karena masih versi beta. Saya dengar, versi full nya sudah bisa ditampikan Maret nanti.

4. Kecepatan beritanya sudah meningkat.

Saya perhatikan, kecepatan berita Kompas.com kini sudah mendekati Detik.com. Bahkan dalam beberapa kasus, Kompas.com pernah lebih cepat. Saya kira, kalau mau, Kompas.com bisa menggenjot kecepatan ini lebih tingggi.

5. Kompas.com punya sumber daya yang lebih kuat.

Kompas punya sumber informasi yang amat beragam, mulai dari majalah, koran, hingga teve. Jika saja bisa dimanfaatkan dengan baik, potensi ini luar biasa. Apalagi, dukungan modal Kompas jauh lebih kuat dari Detikcom. Sayang, selama ini potensi ini disia-siakan.

Itulah lima alasan yang bisa saya kemukakan di sini. Alasan lain masih ada, tapi saya simpan di kantong saja.

Posisi Okezone

Meski demikian, lawan tangguh Detikcom bukan hanya Kompas.com. Saya perhatikan Okezone juga semakin membaik. Bahkan dalam liputan wafatnya mantan presiden Soeharto, Okezone lebih cepat ketimbang Detikcom dan Kompas. Beritanya pun lebih bervariasi dan nyaris tanpa henti. Pada hari ketiga, 29 Januari 2008 misalnya, Okezone masih rajin menulis mengenai hal ini. Perhatikan arsipnya saat itu dan bandingkan dengan Detik.com.

Selain itu, desain Okezone sudah tidak meniru Detik.com. Awalnya , ketika diluncurkan tahun lalu, desainnya memang mirip Detik.com. Namun sejak awal Januari 2008, desainnya berubah total, menjadi lebih user friendly sekaligus advertiser friendly.

Peluang Okezone menurut saya tidak sekuat Kompas.com mengingat Okezone adalah brand baru, yang masih membutuhkan upaya keras untuk memasarkannya, sebaliknya brand Kompas.com sudah amat kuat.

Tentu saja, soal apakah mereka bakal mampu menyusul Detikcom harus dibuktikan dengan strategi yang jitu serta implementasi yang konsisten dan persisten. Apalagi, Detik.com sendiri pasti tidak akan diam. Dengan pengalamannya mengalahkan serbuan Astaga.com di awal tahun 2000an, Detikcom mestinya punya peluru untuk menjawab tantangan dua raksasa baru ini.

Yang jelas, keseriusan dua pemain raksasa ini akan mempengaruhi peta pasar portal. Bagi saya, keseriusan dua pemain ini di tahun 2008, amat menarik. Saya jadi ingat salah satu faktor yang membuat Detikcom bisa melejit sedemikian hebat dalam tempo singat pada tahun 1998. Yakni: kejatuhan Soeharto dari kursi kepresidenan. Fakta sejarah itu yang antara lain membuat Detikcom dibaca banyak orang. Kini, bertepatan dengan wafatnya Soeharto, trafik Detikcom memang meningkat luar biasa. Namun, pada saat yang sama, justru lahir pesaing kuat dan serius: Kompas.com (dan Okezone) yang siap menggoyang Detikcom.

Download:

iTEMPO – Babak Baru Perang Portal

iTEMPO – Kebangkitan Portal Lokal Jilid Kedua

iTEMPO – Membidik Pasar Sempit

78 Responses to “Babak Baru Perang Megaportal: Kompas dan Okezone Goyang Detikcom?”

  1. Erna says:

    Soeharto lengser detikcom jadi hebat. Soeharto wafat detikcom harusnya jauh lebih hebat… jangan (jangan) malah ikutan wafat. Hehehe… Sory, gak lucu, yaa?

  2. Jiewa says:

    Kompas branding offline-nya sudah kuat, tulisannya selalu akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu bisa jadi andalan buat mengimbangi kecepatan berita detik.
    Kalau di detik, kadang saya melihat ada berita yg agak absurd dan salah2 ketik .. :D

  3. Okto Silaban says:

    Ya…, melihat redesign kedua portal itu (Kompas & OkeZone), kalau Detik tidak juga berbenah..,maka bisa saja dia digilas.

    Kompas kans nya memang besar, tetapi menurut saya dia juga harus hati – hati menampilkan materinya. Terlalu banyak materi yang disajikan justru akan membua orang bingung.

    Dan satu lagi, saya rasa SelebTV ini kalau videonya masih seputar “itu – itu” saja, punya kans buat merusak citra Kompas. Setidaknya saya pribadi merasa seperti itu.

  4. rustamandi says:

    mas, okezone sudah naik tuh trafiknya di alexa ke 50… kompas juga naik…. hebat euy… saya berharap tempo, inilah, dan antara bisa menyusul…biar semakin menambah alternatif bagi masyarakat…

    benar mas, dari sisi konten, okezone sudah banyak yang unggul. hanya brandingnya yang butuh waktu…

  5. noudie says:

    wah wah, target 10M y mas buat niriah? aduh, langsung terasa gurem banget nih…butuh berlajar banyak :P

    btw, kenapa y kok pemainnya mulai belingsatan nya sekarang? kenapa ga tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya?
    apakah mendompleng harga bandwidth yang akan semakin murah? jadi berharap target marketnya semakin luas?
    tapi kalaupun makin luas, memangnya infrastruktur di luar jakarta sudah cukup matang?

    begitukah mas?

    -nodi (yang bingung sendiri ngeliat orang2 b’modal gede…kata siapa indonesia miskin? :P )

  6. Hedi says:

    Yang saya ingin tahu apakah Kompas sudah mengubah strategi antara media cetak dan online. Karena setahu saya, media cetak yang punya web, kandungan berita online-nya ga akan lebih cepat dari mainstream-nya. Artinya, kalau strategi itu dipakai maka akan ada bentrokan karena sifat online (news) adalah ASAP.

    Salah satu contoh mengenai strategi ini adalah saudara segrup Kompas, Tabloid Bola. Berita di web mereka tidak akan secepat dan selengkap tabloidnya. IMCW

  7. yano says:

    mestinya my-indonesia-info, berkaca pada 3 portal berita ini.

  8. Rezki says:

    makin minder dengan pake gratisan… :D

  9. samsu says:

    @yano
    lha mereka cuman pengen terkenal doang… nggak mikir end user dan sebuah dedikasi berkarya

  10. affandi says:

    untuk saat ini, saya masih pegang detik. di kompas.com tatanan info terlalu luas, sehingga orang akan sedikit lebih lama berpikir untuk meng”klik” sebuah berita. hanya, akhir-akhir ini, detik memang iklan terkesan dominan. tentang kecepatan sebuah, saya pikir tak terlalu jauh amat jaraknya. bahasa di kompas.com tak terlalu kaku. di okezone saya pikir hanya pada tata letak aja yang berubah. namun demikian, toh akhirnya user juga yang akan menikmati ketiga portal di atas. seorang yang haus berita, tentu tak puas hanya mengunjungi satu portal.

  11. hasyim says:

    kompas dan okezone terus menunjukan kenaikan. sedangkan detik.com mengalami stagnan.. waspadalah… waspadalah….

  12. ndoro kakung says:

    ramalan ini bukan karena dilandasi “urusan lama”, kan? :D

  13. rezayazdi says:

    Kalau saya berpikir, dari sisi design dan layout, kompas.com dan okezone.com lebih berbau-bau cnn.com. Coba saja bandingkan, hampir-hampir 1 nafas. Karakter nya kurangkuat, bandingkan dengan bbc dan nytimes.
    Urusan content dll saya Amin dengan Pak Nukman. Kalau kecepatan diakses, ya detik masih jadi pemenang lah sama urusan iklan yg mengganggu.

    @ndorokakung: wahh.. kok bawa2 “urusan lama” ? Apa karena “pabrik”nya ndoro gak disebut2 sama Pak Nukman? Hehehehhee….

  14. alfaroby says:

    jujur saja kalau dari segi design memang kompas bolehlah kita acungi jempol, oke zone juga udah lumayan bagus tampilannya, aku sangsi, jika detikcom masih tetap dengan design yang seperti saat ini, aku yakin pembaca akan mulai eranjak ke situs media berita online yang lain.

  15. ginanjar says:

    wah.. saya baru liat lagi kompas.com dan okezone.com, design layoutnya sudah berubah ya… tapi kok senada ya designnya.. secara design sih saya pegang kompas.com lah lebih rapih.. tapi secara siapa yang unggul untuk pengunjungnya.. saya tetap pegang detik.com, karena ketika enduser buka detik langsung terlihat berita terbarunya (nggak bikin bingung), sedangkan kalau buka kompas atau okezone, bingung harus milih dulu berita yang mau diklik karena banyak linknya….

  16. Barusan saya main ke okezone dan kompas. Rasanya kok saya pernah melihat layout yang mirip mirip ya… lupa dimana tapi -.-

    kalo saya pribadi secara feel masih lebih nyaman melihat tampilan punya okezone. kesannya lebih ‘luas dan lega’. tapi untuk pemanfaatan spacen dan pemanfaatan teknologi layout, sepertinya kompas masih lebih bagus.

    Walaupun begitu, tentu saja detik nggak akan mudah goyang. At least, beberapa sub (ato malah semua mungkin) dari situs detik sudah rapi desainnya. Dan tersegmen dengan baik. Cuma homepagenya aja yang rada…. ‘ngerusak mata’ hehehe…

    kalo detik nggak berubah atau nemuin USP baru… bukan nggak mungkin okezone ato kompas nyalip detik. Bukan begitu pak Nuk?

  17. Menurut saya, Detik masih sulit dikejar pesaingnya karena brand Detik “terlanjur” mengakar di otak pembaca online di Indonesia. Detik adalah berita dan berita adalah Detik, mungkin seperti itu persepsi mayoritas pecandu online.

    Keuntungan lain, core bisnis Detik memang disitu jadi akan lebih fokus dalam menggeber layanannya. Namun dari sisi desain, Detik sebaiknya mulai memikirkan tren desain yang minimalis.

  18. Bendry Koto says:

    “PERANG” antara detik.com disatu sisi dan kompas.com serta okezone.com sisi lain, akan dimenangkan oleh situs web yang paling berkualitas di antara mereka. Namun tidak menutup kemungkinan situ lain yang akan jadi pemenang

  19. Vandy says:

    okezone gak fair. detikcom dll gak ada yang iklan lewat tivi. cuma okezone yang iklan lewat tivi. jadi kalo okezone menang, wajar, kalo kalah, kebangetan….:)

  20. Pogung177 says:

    Perang terus kapan damainya ooe..

  21. syauqi says:

    #19
    detikcom kenapa tidak mengiklankan juga saja di televisi. biar sama-sama fair… revenue detik kan sudah mencapai 76 miliar. pastilah mampu untuk memasang iklan…

    iklan di televisi sah saja, karena itu bisa mempercepat pengenalan ke publik. itu sama saja dengan kompas yang memasang iklan di edisi cetaknya, dan dibaca ratusan ribu hingga jutaan orang… apalagi kompas sudah dimenangkan dengan nama besarnya…

    jadi, soal persaingan silakan pakai banyak cara…jangan cengeng dan malag menyalahkan pihak lain atas ketidakmamuan sendiri…sangat tidak dewasa…

    kalau baca tempo edisi yang membahas soal persaingan portal, tampaknya pemrednya detik cukup percaya diri…dia bilang yang lain cuma follower dan bakal bubar…mudah-mudahan bukan cuma lontaran pihak yang ketakutan karena lawan sudah berubah…

  22. taryono says:

    walah ngak bisa ikut perang virtual ya cari pinggiran saja,
    @20
    lha perang aja baru dimulai ya jangan brenti dulu lah.

  23. aafyn says:

    Kompas.Com
    Nama domainnya mudah diketik di keyboard karena antar hurufnya berdekatan :) kalo desainnya sangat elegan dan enak dilihat. Kontennya cukup menarik, sayangnya berita-berita lama sudah tidak bisa diakses lagi alias “Not Found” karena perubahan struktur URL.

    Okezone.comJakarta terapung…Jakarta punya monorel :) walaupun brand baru, tapi semua orang sudah tahu okezone, karena dukungan media yang sangat kuat.
    tapi Nama domainnya ga banget :)

    Detik.Com
    Saya rasa detik tidak akan mengubah desainnya, paling tidak secara keseluruhan. karena itulah ciri khas detik. Desain detik adalah banner iklan. Detik tanpa iklan hanya ada barisan teks saja.
    CMIIW

  24. tentu makin seru saja :-)
    *tenang-tenang saja*

  25. Richard says:

    Ratu Elizabeth dari sejak dinobatkan model rambutnya itu-itu saja. Ratu Beatrix juga demikian. Ternyata itu berkaitan dengan imej dan awareness. Melekat kuat di benak rakyat mereka, langsung dikenali. Kalaupun ada pergantian model, cuma model gaunnya saja yang berganti. Coca cola dari dulu warnanya juga tetap merah. Tidak diganti warna tertier, misalnya. Yang berubah cuma variasi rasa (inovasi rasa). Detik saya kira sadar itu. Orang membuka situs web berita karena mencari berita. Lagi pula soal selera keindahan itu selalu subyektif. Lain kepala, lain selera. Hehehehe…

  26. [...] Babak Baru Perang Megaportal: Kompas dan Okezone Goyang Detikcom?. Tulisan menarik dari pak Nukman Luthfie (salah seorang mantan founder detikcom ?) tentang perang portal indonesia. Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages. [...]

  27. alfaroby says:

    #23 = menurutku berdekatan keyboard bukanlah hal yang mesti diperhitungkan. tapi, bolehlah… jika detik masih tetap kaya gitu, aku yakin itu cuman masalah waktu saja sampai kapan masih tetap dikunjungi. lihat saja, kompas udah mulai banyak diperhitungkan untuk masalah informasi berita

  28. bayu says:

    pak nukman, saya ingin tanya, makin banyak portal berita yang muncul, apakah ini trend atau memang kebutuhan, spt halnya munculnya inilah.com yg “mirip2x” kompas.com.. atau hanya jamur waktu hujan?..

  29. Tonton says:

    Pak Nukman,

    web saya tidak ikut2an krn sudah 7 tahun utk Export-Import-Indonesia.com baru berubah desain kemarin. Mudah2an byk yang mau posting. Ada saran untuk saya?

  30. #25.

    Mas Richards

    Keindahan itu memang subyektif. Tapi jangan lupa, subjektif+subjektif+subjekyif++++++ = objektif alias kebenaran umum.
    #28.

    Mas Bayu, seperti yang saya ramalkan sebelumnya (2007 Bangkit dan 2008 Akan Diramaikan oleh Portal Politik), kini muncul Inilah.com. Apakah ini trend atau kebutuhan? Bisa dua-duanya. Ada yang ikut-ikutan karena trend, ada pula yang melakukan riset awal dan melihat kebutuhan terhadap portal. Pertanyaanya: kemunculan Inilah.com ini trend atau kebutuhan? Hanya investor dan tim inti Inilah.com yang bisa menjawabnya saat ini.

  31. Amir says:

    Aku lihat di Alexa.com per hari ini, sabtu 9-2 grafik okezone sudah tersalip (reach) detikbandung.com yang belum lagi seumur jagung, sedangkan pageviewsnya hampir sama. Menurutku ini mendukung teori bahwa untuk situs berita disain tidak terlalu determinan dalam menggaet pembaca. Aku sependapat bahwa faktor content, trust dll jauh lebih kuat dari sekadar disain. Hayo, bagaimana Kang Nu’man bisa menjelaskan hal ini? Selain itu menurutku ada policy lain yang jitu dari detikcom, yaitu membangun habit. Coba lihat Media Indonesia yang sering gonta-ganti disain, kita malah jadi tidak at home di sana. Setiap kali masuk kita pusing harus mencari-cari info apa yang kita perlukan. Detik jelas membangun habit. Begitu masuk, orang dengan mudah menemukan apa yang dibutuhkan.

  32. [...] Tadi malam saya baca postingan di blognya Pak Nukman Luthfie yang juga memprediksi era kebangkitan portal yang ditandai dengan munculnya http://www.okezone.com, http://www.kompas.com versi baru dan menyusul Tempo.com. [...]

  33. #30. Selamat mas Tonton. Desain barunya lebih apik. Konsepnya direktori sajakah?

  34. #31.
    Mas Amir, saya rasa tidak aneh kalau detikbandung.com yang baru seumur jagung bisa mengalahkan Okezone yang sudah seumur beberapa jagung :) dilihat dari sisi reach. Justru akan aneh kalau sebaliknya.

    Mengapa? Secara teoritis produk-produk Detikcom yang ditempelkan di detikcom memiliki peluang besar untuk sukses. Apalagi jika produknya berupa content berita. Sekali lagi, jika produknya berupa content berita (yang non-berita relatif makin kecil peluang suksesnya). Ibaratnya, kita menjual barang dagangan di pusat perdagangan yang amat ramai dikunjungi jutaan orang setiap harinya. Dengan jumlah pengunjung enam juta per hari, Detikcom merupakan pasar pembaca berita yang luar biasa. Jadi kalau sampai gagal menjual produk baru berjenis berita di sini, ya kebangetan.

    Okezone sebenarnya memiliki peluang yang mirip-mirip detikcom. Sebagai produk turunan dari kelompok media raksasa MNC, mestinya okezone bisa memanfaatkan kelompok medianya. Tapi sayang, melihat lambatnya pertumbuhan Okezone, bisa diduga bahwa mereka kurang mengoptimalkan jaringan media MNC. Memang, pemanfaat media non-tradisional bagi portal tidaklah semudah pemanfaat media portal untuk portal (misalnya detikbandung memanfaatkan detik.com). Tapi itulah tantangan besar Okezone kalau ingin besar.

    Mengenai habit yang mas Amir sampaikan, saya masih ragu-ragu. Betulkah Detikcom membangun habit: begitu masuk orang dengan mudah menemukan apa yang dibutuhkan? Bisakah mas Amir sebutkan apa dasar dari statement ini?

  35. Ivan Laksana says:

    Ok posting ini mungkin bisa jadi kenyataan tapi juga harus diliat faktor lain yang diposting Mr nukman adalah masalah content layout and advertise aspek, ada teknikal aspek yang kurang diangkat disini, boleh dikata detik menang masalah infrastruktur, frame works and masalah tetek bengek lain yang bersifat teknikal, contoh realnya coba saja test buka detik, kompas, dan okzone mana yang paling cepat, udah gak usah dijawab buktikan sendiri, resepnya adalah sebagai berikut (saya mengesampingkan factor keindahan layout, content dan lain lian yang bersifat managerial tapi lebih menekankan dapur infrastruktur detik)

    1. frameworks detik ok punya detik pake fusebox dimana tidak ada akses ke database, database hanya berupa arsip yang kemudian di generate menjadi file xml nah file php mengakses file xml tersebut dengan kata lain kita buka detik seperti membuka halaman HTML namun dynamic kira2 begono.

    2. Data center detik gila2 an, detik punya 2 data center di indonesia di cbn …….

    ——————————–

    maaf.. kalimat seterusnya terpaksa saya delete…karena sudah terlalu teknis dan dapat disalahgunakan.

    salam. nukman luthfie

    ——————————

    3. Factor IT resourcesnya sudah melek Web(bukan melek IT lagi)sejak 10 tahun yang lampau dimana ini juga mempengaruhi kualitas web and infrastrukturnya detik.bukan ngebanggain detik sama sekali gak cuma saya liat blom ada yang seserius ini dibagian infrastrukturnya.

    detik juga punya kelemah fatal loh :….

    ———————————-

    maaf.. daftar kelemahan ini juga sepenuhnya saya delete…karena sudah terlalu teknis dan dapat disalahgunakan.

    salam. nukman luthfie

    —————————

    Thanks
    Kira2 gitu aja deh om tanggapan gue

  36. esa says:

    hehehe,

    lagi – lagi ngobrolin si raksasa – raksasa,
    #31 ya wajar kalo detik bandung bisa lebih cepat naiknya, karena masih bernaung di bawah nama detik.com nya sendiri, dan dari detik.com nya sendiri kasih backlink yang sangat mumpuni bagi detik bandung naik cepat.

    #32 saya Setuju mengenai okezone, sebenarnya peluang sangat besar tapi infrastrukturnya sendiri masih belom siap, mereka juga masih belum fokus benar dengan okezone ( MNC Group).
    *sumber dan fakta dirahasiakan. : )

    peta kekuatan dari raksasa – raksasa itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, tapi menurut saya yang paling asyik itu mengamati portal – portal milik media cetak yang lain ( tempo, sinar harapan, indo pos,suara pembaruan dan lain – lain ) karena kalo kita perhatiin secara detail sebenarnya trafik mereka sangatlah baik walaupun belom optimal dijalankannya.

    Buat contoh lihat aja http://www.sinarharapan.co.id , meski tampilan sangat old tapi boleh percaya alexa mereka diangka 50.000 an ( meski kita tidak boleh terlalu percaya sama alexa :P )padahal menurut sumber yang bisa dipercaya, website tsb kalo ingat saja di updatenya, tetapi itu membuktikan bahwa sekalipun website itu kurang baik tampilannya, namun selama website itu berisikan berita pastilah website itu diklllliiiikkk sama orang-orang, dan sekali lagi membuktikan bahwa orang itu haus akan berita….

    Makanya kebanyakan raksasa – raksasa ingin bermain di segment tersebut ( sekali menyelam dapat duit )….hihihihi

  37. gelombang ke 4 revolusi bisnis telah menerjang indonesia,…leader atau follower ? player or watcher ?
    be there,…

  38. Alexa ya :)

    proyek ambisius punya amazon

    Dan saya heran banyak sekali yang menggunakan patokan ini. Secara wajar sih nggak masalah. Tapi nggak sekali dua kali lo saya menemukan orang orang yang mengatakan traffic report di alexa itu bener bener akurat. Sewaktu saya bilang kalo hanya browser yang terinstall toolbar alexa aja yang di rank disana, merekanya malah gak percaya…

    hehehe…berapa banyak sih browser yang memiliki toolbar alexa? memang, alexa bisa menjadi patokan untuk mengukur naik turunnya visitor (hari gini jumlah visitor turun??). Tapi kalo untuk komparasi?

    back to topic, saya baru tau kalo beberapa portal berita hanya diupdate kalo inget aja. menarik juga. mantau ah :D

  39. iqranegara says:

    #31 mungkin habit yang tidak sengaja terbentuk. kebiasaan yang disebabkan karena orang udah enjoy dengan detik. secara dia tu pioneer

    #37 apa ada tool yg benar2 bisa dipertanggungjawabkan?

    #38 satu kata : wao!

  40. Amir says:

    #34. Dear Kang Nukman, saya menyebutnya detikcom habit karena setidaknya itu terjadi pada diri saya sendiri. Perilaku dan kebiasaan saya harus ketemu headline di depan mata, lalu bergerak ke kolom kiri untuk berita sebelumnya, lalu ke index. Sementara kalau masuk ke media lain terasa gamang, mencari headline terasa pusing duluan. Tapi ini mungkin sangat subyektif, belum tentu terjadi pada orang lain dan belum tentu juga tidak tak terjadi pada orang lain. Sebab detikcom –disadari atau tidak– selama bertahun-tahun telah membentuk perilaku browsing berita. Memori otak dan sistem saraf di tangan kita sudah terbentuk dan merekam data perilaku sedemikian rupa.

  41. iqranegara says:

    maaf OOT

    Pak Nukman, adakah “Komisi Pengawas Persaingan Usaha” dunia maya? Baru saja saya menemukan oknum yang melakukan kecurangan dunia maya, dalam hal SEO. Detailnya tidak etis saya ceritakan di sini. Dan saya bingung harus ngadu kemana… Boleh tau email Pak Nukman? Trims banyak

  42. #40
    Itu insight menarik. Rasanya Detikcom perlu melakukan riset mengenai habit ini. Pasti sangat bermanfaat.

    Mereka yang sudah punya habit seperti itu memang akan kesulitan membaca di tempat lain, yang pola bacanya tidak cocok dengan habitnya.

  43. rulsyah says:

    Kendala utama penerapan web 2.0 yang sudah ada prakteknya sekarang ini adalah : website nya menjadi “gemuk” akibat kebanyakan javascript dan hidden image. Inilah salah satu kekuatan detik.com dari sisi teknis yang juga patut dipertimbangkan.

    Koneksi internet kecepatan tinggi sampai saat ini hanya bisa dilakukan di kantor – kantor atau di rumah – rumah yg punya koneksi broadband. Umumnya koneksi internet di indo adalah LAMBAT = DIAL UP. Saya yakin detik.com bisa diakses relatif terasa lebih cepat bila dibanding kompas dan okezone, karena content nya secara teknis lebih “kurus”.

    Kecepatan menampilkan suatu berita menurut saya masih bisa “dimaafkan” (asalkan tidak telat – telat amat). Tetapi kecepatan “menampilkan” berita di komputer user adalah hal yg paling penting yg harus dimiliki oleh setiap situs.

  44. Wayan says:

    Dulu ketika Astaga.com dan Satunet.com muncul melawan detikcom, mereka berdua juga datang dengan ‘disain yang lebih menarik, indah dan baru’ dan dengan content berbasis breaking news juga. Tapi ternyata mereka tak mampu bersaing. Jadi saya setuju dengan pendapat yang mendukung bahwa disain pengaruhnya sebenarnya tidak terlalu besar. Orang sibuk tak cukup punya waktu untuk membaca berita panjang2, tak cukup waktu untuk depth in news, apalagi memperhatikan keindahan disain. Begitu kira2.

  45. #44.
    Mas Wayan, memang belum ada penelitian mengenai seberapa besar pengaruh tampilan terhadap keberhasilan bisnis dotcom. Namun, sudah bisa dipastikan, bahwa tampilan (user interface) merupakan jendela untuk menikmati sajian, sehingga sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu.

    Di masa lalu, userinteface astaga.com dan satunet.com memang lebih “maju” ketimbang detikcom. Sayangnya, faktor penentu sukses lainnya (misalnya budaya online) kalah dibanding detikcom sehingga mereka berdua tercecer di belakang, dan sekarang nyaris tak terdengar.

    Tapi kata seorang guru manajemen Rhenald Kasali, pengalaman itu (terutama pengalaman menang) kadangkala merupakan modal buruk untuk menyongsong masa depan, karena pengalaman jenis itu seringkali menghambat perubahan menuju kebaikan.

  46. Mulky says:

    Disain dalam arti ‘artistik’ memang tak terlalu determinan. Tapi disain internet tidak cuma soal artistik, lebih dari itu, a.l mencakup infrastruktur, keamanan, dll. Soal artistik adalah soal preferensi subyektif, tapi lain-lainnya itu adalah mutlak. Dan kayaknya detikcom sangat memperhatikan yg lain-lainnya itu. Sementara tampilan rupa dengan warna khas biru-kuning dipertahankan sebagai bagian dari identitas. Jadi sementara beberapa pihak ramai diskusi soal tampilan rupa, di lapangan faktor2 lain yang menentukan itulah yang berbicara:))

  47. Okto Silaban says:

    #40 : Ini memang kayaknya kurang disadari oleh mereka yang mau bergerak di bisnis online. Ketika orang membuka website pertama kali, orang itu bukan membaca, tetapi scanning. Dalam kasus mas Amir berarti urutan scanningnya : tengah -> kiri -> bawah.. (dalam saya akui saya pun melakukan hal yang sama untuk detikcom).

    Setelah scanning, mata akan berhenti pada satu bagian yang dianggap betul2 menarik. Dan disitulah dia melakukan klik.

    Itulah mengapa saya prefer OkeZone sekarang. Saya lebih nyaman melakukan scanning di OkeZone, daripada di Kompas.

    Di OkeZone, scanningnya : Kiri atas (pilihan) -> Tengah (headline) -> bagian per kanal..

    Walaupun kompas susunannyan mirip, tetapi kanalnya beberapa masih berupa kanal untuk tulisan feature, bukan breaking news (setidaknya menurut saya).

    Penelitian ini pernah dilakukan salah seorang web developer dari Adobe, tapi nama dan link nya saya lupa.

  48. #46.
    Makanya di tulisan saya di atas, saya sebutkan tampilan yang advertiser friendly dan user friendly — bukan desain dalam pengertian banyak orang yang cenderung ke artistik.

    Sekali lagi, tampilan hanyalah salah satu faktor. Masih banyak faktor lain yang menentukan. Di atas, saya sebutkan minimal lima faktor. Karena pesaing Detikcom sudah berbenah di lima faktor tersebut, maka peluang mereka mengimbangi Detikcom semakin besar dibanding sebelumnya. Apalagi, tatkala Detikcom belum juga meningkatkan kinerja tampilan advertiser friendly dan user friendly.

    Ibaratnya, dulu Kompas.com bermain dengan satu jari, kini minimal sudah dengan lima jari.

  49. dewa api says:

    portal besar semakin besar, portal kecil masih belajar naik tangga

  50. chandra says:

    Diperhatikan dari peta persaingan kompas.com, okezone.com dan detik.com, maka okezone.com satu-satunya situs berita yang belum mendapat iklan. Pangsa terbanyak masih dikuasai detik.com, kompas.com cukup ada iklan. Tapi okezone.com sama sekali belum ada, kecuali banner-banner iklan dari kelompok sendiri. Padahal usianya sudah 1 tahun. Ini menggelitik saya sebagai orang awam untuk bertanya bagaimana dan dari mana sumber daya okezone.com untuk operasionalnya? Dan sampai kapan investor mau merogoh kocek untuk membiayai okezone.com? Apakah satu tahun belum cukup untuk meyakinkan pemasang iklan? Dan ’standarnya’ butuh waktu berapa lama? Adakah netter di sini atau Mas Nukman bisa menjelaskan? Ataukah investornya hanya sekadar bermain Sinterklas mengingat biaya investasi (SDM, hardware, promosi, etc) tidak kecil jumlahnya? Ini kasus menarik buat saya.

Leave a Reply

nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
tuhunugraha @tuhunugraha
Social Media Specialist
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
meisia @mumualoha
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • ferry kinalsal: - Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk...

  • rusabawean: - hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  • Tuhu Nugraha: - Salam kenal juga Mbak Linda, untuk segi desain mungkin bisa ditambah dengan tab...

  • Tongkonan: - Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  • Joko Susilo: - Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media...

  • Joko Susilo: - Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting