Dua tahun lalu, Rupert Murdoch pernah sesumbar bahwa media cetak bakal mati tergilas media online. Memang sudah ada beberapa riset yang menunjukkan tren itu. Namun karena yang mengucapkan adalah taipan media kelas dunia, maka efeknya pun besar. Apalagi saat itu sang raja media itu melakukan ekspansi besar-besaran ke dunia online. Namun hingga hari ini ramalan itu terbukti salah. Yang terjadi malah sebaliknya: media cetak makin perkasa. Itulah yang membuat wajah sahabat saya, Ahmad Djauhar, berseri-seri sepulang dari konferensi ke-60 Asosiasi Suratkabar Dunia (WAN) dan sidang ke-14 Forum Editor Dunia (WEF) di Cape Town, Afrika, pekan lalu. “Media cetak tidak akan pernah mati,” kata Pemimpin Redaksi koran Bisnis Indonesia tersebut.
Fakta menunjukkan, pada 2006, sirkulasi koran di seluruh dunia meningkat 2,3%, dan selama lima tahun terakhir naik 9,48%.
Peningkatan terjadi di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Satu-satunya yang menunjukkan penurunan hanyalah Amerika Utara. Pendapatan iklan koran di seluruh dunia pun meningkat 3,77% tahun lalu atau naik 15,77% dalam lima tahun terakhir.
Di Asia Tenggara, selama lima tahun terakhir, Malaysia mencatat pertumbuhan penjualan 19,97%, Singapura 0,48%, dan Thailand 12,31%. Sayang, tidak disebutkan data penjualan surat kabar di Indonesia.
LJH, panggilan akrab Djauhar, lalu menulis laporannya di koran Bisnis Indonesia. Dari tulisan yang cukup panjang itu dapat diambil kesimpulan bahwa media cetak akan terus berkibar di era Internet asalkan memenuhi syarat tertentu. Yakni: Industri surat kabar harus mampu menggabungkan kegiatan operasi cetak dan online untuk memompa dinamisme dan menarik minat pembaca. Untunglah, itu yang telah dilakukan oleh Bisnis Indonesia. Sebulan lalu, versi baru portal Bisnis Indonesia diluncurkan. Virtual Consulting ikut membidani kelahiran portal konsep baru tersebut dengan menjadi konsultan strategis Bisnis Indonesia, untuk merengkuh cita-cita sebagai media bisnis online terbesar dan profitable.
Tautan:
Sabda Rupert Murdock: Media Cetak, Wassalam!
Surat kabar tidak (akan pernah) mati
“marketing online ditopang oleh marketing offline”
jadi kalau offlinenya rubuh maka online juga ikut rubuh.
Hipotesa yang masih diperdebatkan
Salam kenal,
Verdinand
dulu kan orang juga meramalkan radio bakal mati setelah televisi muncul. buktinya, sampai tadi pagi sampean masih dengerin elshinta kan?
Mainstream ga akan pernah mati, mungkin hanya terganggu aja.
Mungkin mati total sih tidak/masih sangat lama, tapi posisinya makin terdesak itu sangat jelas.
Di luar banyak orang yang tadinya membaca koran/majalah, digantikan dengan membawa alat multimedia (movie, music, streaming, PDF reader, RSS Reader, dsb) dan mereka memperluas pengetahuan mereka dari sana, bukan dari media cetak lagi.
Tapi tidak semua orang menyukai cara-cara modern seperti itu, cara tradisional seperti surat yang masih lebih berkesan dibanding email.
Faktanya, malah tidak terganggu. Tiras media cetak malah naik.
Saya tambahkan data2 ini di postingan di atas:
————————————————————-
pada 2006, sirkulasi koran di seluruh dunia meningkat 2,3%, dan selama lima tahun terakhir naik 9,48%.
Peningkatan terjadi di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Satu-satunya yang menunjukkan penurunan hanyalah Amerika Utara. Pendapatan iklan koran di seluruh dunia pun meningkat 3,77% tahun lalu atau naik 15,77% dalam lima tahun terakhir.
Di Asia Tenggara, selama lima tahun terakhir, Malaysia mencatat pertumbuhan penjualan 19,97%, Singapura 0,48%, dan Thailand 12,31%. Sayang, tidak disebutkan data penjualan surat kabar di Indonesia.
—————————————–
Koran tidak akan mati tapi sekarat, berapa orang yg ingin mendaftar koneksi Internet /harinya… dibanding orang ingin mendaftar langganan korang.. bisa dipastikan yg ingin mendaftar koneksi Internet tiap hari lebih besar jumlahnya.
Bukti yg lain, korang sekarang hanya sekedar barang kiloan, dijadikan bungkus sego kucing (nasi angkringan), sedang kan kontent situs/blog dari masa ke masa masih tetep dihargai pengunjungnya.
Ak beli koran cuman buat liat harga HP hari ini, ngga butuh isinya.
#6 tapi ko kalo ga baca koran, rasanya gimana gitu loh.
Sensasi yang berbeda…
Makin banyak orang mampu berinternet, sama juga, makin banyak orang sadar pentingnya membaca.
Yang baca koran pindah baca online, yang tadinya ga pernah baca koran sekarang baca koran.
Jd pintar kan ada tahapnya, jadi bangsa yg maju jg ada tahapnya.
Mas Nukman, jang dimaksud Eropa itu Eropa mana? Beta tinggal di Belanda, beta dengar dan baca hampir setiap hari koran-koran menurun terus pendjualannja. Kata HOI, itu badan media auditing, cuma koran Financieele Dagblad sahadja jang kekecualian. Koran de Volkskrant turun oplag 7,4%, NRC turun 5,8%, De Telegraaf turun 5,0%, Trouw djuga turun 4,6%. Malah itu koran Algemene Dagblad harus hilang, memfusi dengan koran lokal supaja bertahan. Sampai kapan? Jadi jangan terburu-burukah. Itu contoh kan dari negara-negara Afrika, Amerika Latin, Asia jang tertinggal. Internet di sana masih susah.
kita lihat sadja nanti…
waktu jang akan memboektikan!
apakah akan ada evolusi atau malah revolusi?
jang pasti semua akan berubah, hanya perubahan itu jang tidak berubah
btw, Pak Nukman mana oleh-oleh review pengajian dotcomers V.6, biasanya langsung muncul di blog Bapak, lagi super sibuk ya Bos?
Ooo iya katanya mo launch portal baru, tentang apa nih Pak. jadi ngk sabar.
Apabila media online seperti detik.com dan yang lain semakin memeperluas cakupan informasinya dan gencar melakukan promosi, bukan tidak mungkin media cetak akan kesulitan bersaing. Itu mungkin 10 atau 20 ke depan.. saat di Indonesia bandwidth sudah sangat murah atau bahkan gratis (seperti siaran TV)
ho oh sepakat sama mas widiadharma,biar kita lihat saja besok mati enggaknya.:) tapi kayaknya memang sensasiya beda sih antara media online dgn yang cetak. Contohnya: kalau saya baca cerpen2 di cybersastra rasanya kok agak kurang sreg, ruh ceritanya kurang begitu terasa, lebih enak di baca cerpen2 yang ditulis di media cetak(koran,buku..) apa karena saya masih blm berhasil beradaptasi dengan media online ya? hehehhe
Statement bahwa Media Cetak Tidak Akan Mati itu tidak salah. Tapi bahwa akan terbentuk persamaan berbanding terbalik itu iya. Semakin banyak pengguna internet, semakin berkurang kebutuhan akan media cetak. Akses berita internet selain lebih cepat, juga praktis. Jika sedang mobile, tinggal nyalakan PDA atau laptop. Tapi dgn policy ala Indonesia di mana internet sengaja dipelihara mahal, ya semua itu hanya mimpi. Di Eropa kita sdh bisa full acces/unlimited dgn NokiaN73 dan sejenisnya cuma EUR10/bulan (Rp 11.000). Koneksi broadband minimal 3Mbps downstream cuma EUR19 (Rp200.000), ada yg 20Mbps cuma EUR25 (semuanya fixed rate dan tak ada quota bandwidth). Kalau situasinya sdh begitu, koran cetak jadi mubazir. Beritanya sdh basi dan hanya buang-buang uang.
Media Cetak tidak akan mati …
Karena lebih enak dan nyaman baca berita di koran dari pada berita paperless…
gampang bolak baliknya …
walaupun beritanya kalah dalam update
Apakah ada data yang menjelaskan hubungan antara peningkatan tiras media cetak dengan pertambahan penduduk? Secara persentase pasti naik, tapi apakah kenaikan tersebut sama lajunya dengan pertambahan penduduk?
Kadang statistik yang tidak lengkap bisa menipu.
Just a thought…
[...] Related:Print Media Will Never Die ~ Media Cetak Tidak Akan MatiNewspaper will not (ever) Die ~ Surat kabar tidak (akan pernah) mati [...]
Hasil survei terbaru kami menunjukkan bahwa industri media cetak nasional (Indonesia) format tabloid dan majalah turun sebesar 7%. Hampir 5 tahun kami memantau angka ambil dan angka laku serta sebaran media cetak nasional di 17 Kota besar di Indonesia menunjukkan kecenderungan penurunan oplah, namun tidak demikian dengan sales. Ini bisa dimaklumi karena strategi pricing tradisional yaitu menaikkan harga cover untuk mengimbangi kenaikan cost produksi.
Salam Kenal Pak Nukman, Sukses untuk Anda!
Aryan Mo’ale
http://www.researchexpert.wordpress.com
Media cetak belum bisa dipastikan mati atau tidaknya, ini masih sangat diperdebatkan. karena yang saya lihat media cetak/surat kabar semakin bertambah banyak, mungkin disini malah akan ada persaingan/ kompetisi antar surat kabar dalam meraih pembaca. mungkin yang akan mati adalah media cetak yang tidak kuat dengan persaingan tersebut.Saya sendiri heran, sudah banyak media cetak kok malah ada saja yang buat media itu lagi.
Saya adalah seorang Account Executive disalah satu group perusahaan surat kabar harian di Jakarta. saya melihat kecenderungan orang dalam beriklan di perusahaan tempat saya bekerja semakin berkurang minatnya, ini dikarenakan penurunan oplah di perusahaan saya yg mengalami naik-turun.sekarang orang sudah pintar dalam memilih untuk beriklan, mereka tidak mau membuang uangnya begitu saja, mereka sudah mempunyai informasi mengenai setiap oplah media, terkadang mereka juga menganalisa (melakukan penelitian) media itu dahulu sebelum mereka memtuskan untuk beriklan.padahal iklan itu adalah jantung dari media cetak,untuk menutupi ongkos cetak dan gaji karyawan. saya yakin, orang akan malas beriklan apabila media cetak/surat kabar selalu mengalami penurunan dalam pelanggan pembacanya.Jujur saja, saya tidak ingin media cetak/ surat kabar mati, tapi saya tidak yakin dengan hal itu karena media lain seperti televisi,radio,internet,dan elektronik lainnya lebih cepat sampai ke audience dalam penayangan informasinya.sedangkan media cetak/ surat kabar terkadang mengalami keterlambatan dalam proses pengirimannya ke pelanggan.
Mohon dibalas ke alamat email saya, saya sangat menunggu balasannya dari Bapak. Jujur, sekarang saya benar-benar deg-degan bekerja di surat kabar tempat saya bekerja ini.thanks.
Salam kenal pak Nukman, sukses selalu untuk anda.
Saya termasuk headline reader. Dengan Google Reader saya bisa baca ‘xml’ berupa headline dan kalimat pertama. Buat orang yang online 40jam seminggu, cara ini yang paling efektif buat saya. Saya subscribe enam portal berita online sekaligus dan saya diupdate terus secara realtime.
Dari konten saya lebih suka online karena ada gambar, animasi, video dan podcast. Lebih gampang juga untuk mencari backgrounders dengan melihat berita terkait tanpa harus nugbek-ngubek gudang atau tanya pembantu koran kemarin dimana.
Keluhannya paling kalau baca dari blackberry formatnya gak karuan. Kata Charles Darwin “Evolve or Die”