“Jika ingin tumbuh, media konvensional, terutama cetak, harus segera ke online,”  kata saya, sebagai CEO Virtual Consulting, ketika diundang sebagai pembahas dalam seminar nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI), hari ini, Rabu 27 November 2008, di Sanur Beach Hotel, Denpasar, Bali. Dihadiri oleh seluruh perwakilan AJI di Indonesia, acara bertema “New Media: Akhir Media Konvensional?” menghadirkan pembicara CEO Kompas.com Agung Adiprasetyo, Pemimpin Redaksi Detik.com Budiono Darsono, dan Handhi S Kentjono, Vice President Director Indovision yang mewakili Grup MNC pemilik Okezone.com.
Dari tema itu saya menyimpulkan bahwa ada ketakutan media baru baik berbasis web maupun mobile akan menggilas media konvensional. Saya masih berpendapat, semua bentuk media konvensional akan tetap hidup, baik itu teve, cetak, radio. Namun demikian, jika media konvensional tidak cepat tanggap terhadap perubahan perilaku konsumennya, maka kebutuhan terhadap media konvensional semakin hari semakin mengecil. Apalagi, sekarang saja, pertumbuhan media cetak hampir nol. Total oplahnya nyaris tidak naik beberapa tahun belakangan ini.
Perubahan konsumen itu seperti apa?
Pertama, waktu konsumsi media mereka berubah.
Konsumen bukan hanya menonton teve, membaca koran dan majalah, serta mendengarkan radio. Mereka kini juga menjelajahi Internet. Mereka membaca Detik.com, Kompas.com, Bisnis.com serta beberapa media online lainnya.
Riset terakhir menunjukkan, 44% pengguna Internet di Indonesia mengakses Internet setiap hari dan 70% menghabiskan waktu sedikitnya dua jam per hari! Sudah mengalahkan waktu membaca koran/majalah.
Kedua, mereka sedang terpesona dengan social media.
Mereka juga bergaul di Facebook, Friendster dan berbagai social media lain termasuk Twitter dan Plurk. Pengguna Friendster di Indonesia kini sudah mencapai jutaan orang (jumlah account asal Indonesia sudah enam jutaan). Sedangkan pengguna Facebook Indonesia sudah 300 ribuan.
Waktu mereka bercengkerama di online social media otomatis mengurangi waktu mereka untuk membaca media (baik yang konvensional maupun yang online).
Ketiga, mereka membentuk komunitas online sendiri.
Ketika kebutuhan informasi tidak mampu dipenuhi oleh media-media tradisional dan online, pengguna Internet dengan minat khusus akhirnya membangun komunitasnya sendiri. Para pengusaha dan calon pengusaha kelas menengah-bawah misalnya, kini tergabung di portal TanganDiAtas.com. Contoh lain, ibu-ibu dan wanita profesional muda nyaman diskusi mengenai mode di FashioneseDaily.com.
Keempat, iklan mulai terbagi ke online.
Pemilik dan pengelola merek semakin sadar pentingnya beriklan di online. Mereka semakin paham bahwa konsumen menghabiskan banyak waktunya di dunia maya, sehingga mereka harus masuk ke dunia non konvensional juga untuk mendapatkan perhatian dari konsumen.  Semakin banyak pemilik dan pengelola mereka yang menyisihkan budget untuk beriklan di online.

Dari keempat alasan tadi, saya menyarankan agar media konvensional, terutama cetak, segera goes online. Memang, jika tidak masuk ke dunia mereka akan tetap eksis. Namun, saya yakin, mereka yang tetap bertahan tradisional tidak akan tumbuh pesat.
New Media Threatens Print Media
TEMPO Interaktif, Friday, 28 November, 2008 | 19:36 WIB
TEMPO Interactive, Denpasar:Print media are increasingly being threatened by the emerging new media which combines Internet technology, visual audio and cellular phones. In such a precarious situation, the print media must be willing to synergize with the new media.
According to Virtual Consulting executive officer, Nukman Lutfie, the Internet can provide information directly in a much faster way. “Hence, newspapers become old and journalists can no longer be as influential,” he said in a seminar titled ‘New Media: The End of Conventional Media?’ held by the Indonesian Independent Journalists Alliance (AJI) yesterday in Denpasar.
Yang kini menjadi pekerjaan rumah terbesar adalah: Bagaimana Strategi Onlinenya? Sebab hingga hari ini belum ada satu pun model bisnis yang menunjukkan keberhasilan media konvensional yang konvergensi ke online.
Liputan Media:
KOMPAS: Tak Ada Media Gantikan Media Lain
KONTAN: Media Konvensional Bakalan Mati?
REPUBLIKA: ’New Media’ Ancam Keberadaan Media Cetak
KAPANLAGI: Media Baru Ancam Media Cetak
BISNIS.com: Pengiklan masih andalkan media cetak
LIPUTAN6.COM: Tahun Depan, Prospek Media Online Cerah
ANTARA: ”New Media” Ancam Keberadaan Media Cetak
HARIAN BISNIS INDONESIA: Pengiklan masih andalkan media cetak
TEMPO Interaktif: New Media Threatens Print Media
DETIK.COM: New Media Ancaman Bagi Media Cetak
menariknya acara yang isinya daging semua ini diadakan oleh AJI, bukan organisasi bentukan pemerentah
sirloin, atau tenderloin ?
kalo ngeliat kondisi sekarang, yang harus ekspansi ke online rasanya cuma media cetak deh pak, yang oplahnya nggak tumbuh. sedangkan untuk pengusaha2 TV kelihatannya masih nyaman di TV karena penonton TV jumlahnya masih jutaan dan sangat menguntungkan, jadi rasanya mereka nggak mungkin pindah ke online. gimana untuk kasus media elektronik kaya TV?
makanya dateng di seminarnya pak nukman
yang mau konvensional terus ada beberapa kemungkinan :
kurang pengalaman/kurang piknik
takut beresiko n nunggu yang lain nyoba dulu
terlalu banyak asumsi kurang riset
obama aja nyoba maen musik dangdut…
coba aja liat di iqbalrekarupa.blogspot.com
komentar @rendy “menodai” blog ini menjadi seperti plurk..
(funkydance)
Wah, sayang gak sempat ngobrol2 langsung sama Pak Nukman. Datangnya telat, cuma mgnikuti setengahnya saja dari presentasi Pak Nukman.
Menarik sekali. Kapan2 semoga bisa ikut lagi seminar semacam ini
Ya, mungkin langkah awalnya punya Blog dulu, & lancarkan marketing . standard nya sich itu kemudian, buat branding mungkin => ….
[...] tentang dahsyatnya efek Plurk, Komunitas Tangan di Atas, Facebook dan memberikan analisis tentang kondisi Media Konvensional [...]
jadi ingat tulisan Azrul Ananda anaknya pemilik JawaPos — yang bilang newspaper is dead… tiap hari dia baca koran cetak 30 menit, kalo koran online 2 jam
wah bakal gak ada penjual koran di perempatan nih
loh sy malah berpikir sebaliknya
untuk konteks saat ini, karena penetrasi internet indonesia masih rendah, kalo orang punya bisnis online lebih baik ngiklan di media offline (eg iklan baris) biar lebih cepat dikenal
Kalo output informasi scr tradisional udah mentok, memang harus online krn online sedang tumbuh (belum mencapai titik jenuh). Publikasi keberadaan media online bisa dilakukan via media tradisional yg telah mencapai puncaknya.
Selama bertumbuh, media online bisa dimanfaatkan untuk mengekspose berita2 paling up to date (tercepat adlh yg terbaik, klo salahpun ngeditnya gampang & murah) plus feedback pembaca, dan media cetak untuk pembahasan resmi yg lebih mendalam, lbh valid, atas berita2 yg paling diminati. Sementara, media online adalah sarana, media konvensional adalah produk.
Waw, berarti “celah” media online semakin besar saja y. Apalagi dengan marak dan turunnya biaya sambungan internet
Woow, bersyukur sekali hidup di era ini
Salam.
Aku sebenarnya kurang sependapat dengan tips mas Nukman soal perlunya blogger untuk konsens pada satu model bahasan, meskipun mas NL sudah menunjukkan bukti yang nyata akan keberhasilan model yang disampaikannya.
Bagiku, itu akan membuat kesenanganku menulis jadi terkotak-kotak atau malah jadi nggak nulis lagi, karena kebetulanm moodnya mau nulis tentang keselamatan kerja eh aku sedang membuat blog tentang parenting.
Halah, kok jadi curhat iki…
[gak cocok lagi dengan artikel yang kukomentari]
Soir mas [ngibrit......]
[mindik-mindik genyo dedep]
jaman dulu, sehabis subuh aku selalu baca koran dulu sebelum mengerjakan pekerjaan hari itu
kebiasaan yang kelihatannya terus kupertahankan, meskipun aku pembaca setia detik com [startup web browserku http://www.detik.com/
namun, ketika aku pindah ke jakarta, semua kebiasaan itu akhirnya berubah
sudah capek nungguin koran yang gak datang2, sementara pagi2 harus sudah ngantor
akhirnya aku hanya baca koran [tempo] kalau ada tempo saja, artinya ya hanya tiap hari Sabtu doank [hari Minggu hari keluarga, ndak boleh mbaca2 koran pagi2 di depan anak2]
koran tidak akan dijauhi, tapi kalau mbacanya hanya tiap hari sabtu, maka yang akan hidup adalah tabloid mingguan
salam
Kira – kira sampai berapa tahun ke depan Pak prospek Dotcom di Indonesia masih cerah? *sebelum terlalu banyak pemain yang masuk.
Kalau menurut saya, apa yang diterangkan oleh om Lukman sudah digambarkan lebih rinci dan lugas propek media online yang akan datang dan pra kondisi sekarang ini, referensi tersebut dapat dibaca yang judul bukunya; Punk Marketing (best seller ada di Gramedia), Future-Consumer.com, Brick And Mortal dan masih banyak lagi.
Prediksi saya media online ini akan jauh berkembang pesat dibandingkan media konvensional, karena bisa dilihat sekarang ini bahwa biaya media sudah mahal, segmentasi media sudah semakin terpecah-pecah dalam ukuran porsi kuenya, perubahan perilaku mengarah ke online yang didukung dari perangkat PC dan MobilePhone yang semakin seperti “kacang goreng”.
Pertanyaannya adalah bagaimana menerapkan “Integrated Marketing Communication” atau “Integrated Engagement Strategy” di Online? Tidak mudah melakukannya, bukan saja hanya membicarakan strateginya, tetapi harus didukung dengan teknologi yang ada. Ibaratnya di online seperti sebuah jarum pentul ditumpukan jerami (spider network).
Bagaimana om Nukman menanggapi kondisi seperti itu? (dalam konteks Indonesia Cases).
Dunia online di Indonesia masih sangat terbuka dan peluangnya besar sekali. Meskipun banyak pemain baru yang masuk, masih juga banyak peluangnya. Karena Teknologi mempunyai banyak dimensi yang bisa dieksplorasi.
Siap ga nih semua?
Apakah majalah sudah bisa andalkan kontribusi pendapatan dari media online?
om, kira2 bisa gak ‘New Media’ bakal menggantikan 100% cara konvensional? Kalo semua ke New Media, trus kira2 yg dijual amazone.com apa yach? Tp prinsipnya sy setuju dgn om, New Media adalah peluang besar buat ngebulin dapur perusaahn media itu. Sip.
media konvensional dan internet bisa saling mendukung satu sama lain, sehingga media cetak mesti juga online, kalau tidak mau out of date.
kemungkinan tahun depan yang terancam adallah Media cetak LOKAL,
melihat perkembangan pengguna internet skrg memang dunia online lebih berprospek untuk kedepan…
Mungkin bukan hanya secara konvensional saja berita bisa didapat. Melalui banyak media sebenarnya Indonesian people sudah dapat mendapatkan informasi.
Baik dari segi media broadcast, printing dan tentunya online yang saya juga yakin akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Kita akan membutuhkan jasa internet sebagai salah satu kebutuhan yang tidak bisa ditolak untuk kedepannya.
sudah saatnya imperium penguasaan informasi beralih ke new media, biar pun krisis perang nuklir, pembaca masih tetap bisa akses informasi. Berbeda dengan media kuno (cetak), krisis BBM saja pembacanya telat baca berita…udah gito, edisi berikutnya kasih pengumuman permintaan maaf lewat ruang pembaca “berhubung krisis energi distribusi molor”
namanya juga mendia konvensional alias kuno!
[...] Siswadi: sudah saatnya imperium penguasaan informasi beralih ke new media, biar pun krisis perang nuklir, pembaca… [...]