Selasa, 9 Mei 2006, saya diundang sebagai dosen tamu di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia atau yang dikenal sebagai sekolah bisnis IPMI, di kampus Kalibata Jakarta, untuk mata kuliah Integrated Marketing Communications. Saya menyampaikan materi bertajuk Into the Wild Wild Web Marketing, yang membahas kecenderungan terbaru marketing via internet sekaligus mengupas studi kasus lokal merek-merek atau perusahaan tradisional yang mampu menembus dunia maya.
Tentu kasus lokal yang saya sampaikan adalah merek atau perusahaan yang pernah saya tangani. Ada tiga yang saya contohkan, namun hanya satu yang dibahas dengan ditil, yakni bagaimana majalah SWA yang semula kurang serius di dunia maya kini mampu mengembangkan portal yang jumlah pengunjungnya berkali-kali lipat jumlah pembaca cetaknya sekaligus mampu menghasilkan pendapatan baru bagi SWA. SWA Online yang semula sumber biaya (cost center) kini berubah jadi penyumbang laba (profit center) bagi SWA.

Saya jujur mengungkapkan bahwa awal membuat konsep baru SWA Online, saya hanya dibekali oleh intuisi. Dengan pengalaman bertahun-tahun bergelut dengan data-data pengunjung beberapa portal besar di Indonesia, saya merasa bahwa SWA Online akan sukses jika menjalankan konsep baru dan dikelola dengan lebih serius. Tentu saja firasat bisa salah. Oleh karena itu, meski berangkatnya dari sesuatu yang tak bisa diukur seperti intuisi, SWA Online harus dilengkapi dengan alat ukur yang dapat memantau perkembangan portal itu detik demi detik. Alat ukur ini sangat bermafaat untuk memahami insight pengunjung. Dari pemahaman yang mendalam berdasarkan data-data itulah dilakukan langkah-langkah berikutnya yang lebih tepat.
Secara umum, ada tiga alat ukur dasar untuk secara terus menerus memantau kinerja portal agar pengelola dapat melakukan perbaikan secara berkala. Perbaikan secara terus menerus ini akan membawa sebuah portal mencapai titik yang diinginkan oleh semua pemilik portal: sukses menjaring banyak pengunjung, berhasil mengelola banyak pelanggan serta mampu menghasilkan uang.
Pertama, laporan lalu lintas web (web traffic reporting) yang umumnya berisi tentang informasi aktivitas dasar seperti jumlah pengunjung (unique user), frekwensi kunjungan (user sessions), serta jumlah halaman web yang dibaca (web impression atau page views).
Kedua, analisa perilaku pengunjung (web visitor behaviour analysis) yang menyajikan informasi yang lebih mendalam dan multidimensi mengenai perilaku dan aktivitas pengunjung seperti seberapa sukses upaya pemasaran untuk mendatangkan pengunjung (conversion rate) sehingga kita dapat mengetahui pengunjung potensial kita dari mana datangnya.
Ketiga, analisa pelanggan (web customer analysis) yang mampu menghasilkan data personal pengunjung dan pelanggan. Data-data ini jika diolah akan mampu memberi gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana pelanggan tertentu berinteraksi dengan portal.
Investasi untuk membeli peranti untuk ketiga tujuan di atas sangat mahal. Oleh karena itu, untuk SWA Online, tim Virtual Consulting membuat sendiri dengan skala yang lebih kecil. Yang penting: dari membaca analisa data SWA Online kami bisa mengambil keputusan penting untuk perbaikan SWA Online secara reguler.
Saya tidak dapat sampaikan panjang lebar dalam blog ini. Inti yang ingin saya sampaikan: tindakan bisnis, inovasi bisnis bisa saja dimulai dari intuisi namun dalam perjalanannya analisa data harus ditaruh di tempat terhormat untuk mendampingi (kalau perlu meruntuhkan) intuisi.
SWA Online adalah salah satu contoh inovasi yang berangkat dari intuisi namun dalam perjalannya didampingi dengan analisa data. “SWA Online adalah contoh kasus lokal bagaimana bisnis tidak menyandarkan intuisi sebagai pendorong utama,” komentarAmalia E Maulana, dosen IPMI yang saat ini merupakan kandidat PhD dari School of Marketing UNSW, Australia.
wah pak Nukman betul sekali, saya sampai sekarang masih capek musti menerangkan ke orang orang kalo performance website itu tidak di ukur hanya dari hits nya…spread the word pak
membeli suatu web (bukan gratisan) otomatis udah dilengkapi alat ukur ketiga hal tersebut, tetapi pembelinya yang ga tau … atau ga mencoba ekplor
Wow Pak Nukman makin rruarr biassa. Bagi-bagi ilmu nya terus Pak, klo bisa termasuk perangkat analisis datanya hehehe…
Terima kasih bapak Nukman atas penjelasan di blog ini. Sekarang… pemahaman saya tentang data-data yang diperlukan untuk melihat kesuksesan sebuah website semakin jelas. Pastinya akan sangat berguna…
info yang sangat bagus, pak! terima kasih..sepertinya 3 hal ini harus saya perhatikan sebelum saya merombak website saya hehehehe….
tantangan yg terberat biasanya di tahap menterjemahkan dan menjadikan informasi dan data dari traffic, behaviour dan analysis tadi jadi sebuah tindakan yg kongkrit untuk meng-improve terus situs kita.
betul nDa. Tindakan nyata melakukan perbaikan dan pengayaan setelah melakukan analisa data itu amat penting. Ini sebenarnya salah satu kunci suksesnya banyak portal.
untuk Bahtiar, tempat hosting biasanya hanya memberi peranti untuk analisa jenis pertama. Sementara yang kedua dan ketiga itu harus memakai peranti lunak yang sekelas WebTrend(r), atau bikin sendiri sesuai kebutuhan
Mas Enda sampe berkunjung nih.
#1. Kenapa musti capek menerangkan ke orang orang kalo performance website itu tidak di ukur hanya dari hits nya?
Kinerja website itu paling mudah diukur dari berapa banyak uang yang dihasilkannya. Hehehe.
Thanks mas Zak. Memang itu tujuan akhirnya. Saya edit sedikit tulisan di atas biar tidak ada yang salah paham. Bagian yang saya perbaiki adalah alenea 4 yang semula hanya:”Secara umum, ada tiga alat ukur dasar untuk mengukur kesuksesan sebuah portal” menjadi: “Secara umum, ada tiga alat ukur dasar untuk secara terus menerus memantau kinerja portal agar pengelola dapat melakukan perbaikan secara berkala. Perbaikan secara terus menerus ini akan membawa sebuah portal mencapai titik yang diinginkan oleh semua pemilik portal: sukses menjaring banyak pengunjung, berhasil mengelola banyak pelanggan serta mampu menghasilkan uang.”
Makasih Pak Nukman sudah dimuat berita tentang kuliah tamu di IPMI di blog ini. Jadi bisa lebih banyak lagi yang dapat ilmunya di samping mahasiswa saya di kelas. Kapan-kapan sharing lagi ya.
Yang ingin saya tanyakan kepada penulis (Pak Nukman)ada gak standard range waktu yang tepat untuk analisa terhadap ketiga hal tersebut ? (mungkin harian, mingguan, bulanan atau tahunan)
Salah satu produk saya : http://www.kanedrew.info/development/ajax/rssreader/
Analisa biasanya dilakukan secara bulanan. Sedangkan perbaikan dilalukan berdasarkan analisa minimal tren enam bulan.
Terima kasih ibu Amalia. Merupakan kehormatan bagi saya bisa berbagi pengalaman dengan mahasiswa pascasarjana IPMI. Semoga yang saya sampaikan di ruang akademis tidak memalukan
.
Maaf Pak Nukman, sedikit komentar untuk yang ke-3: analisa pelanggan (web customer analysis), alat ukur semacam AwStats, WebAnalizer ato Extreme Tracking, bukan lah alat untuk mengetahui berapa besar pelanggan ato pengunjung, bahkan tidak bisa membedakannya. Kecuali ada alat ukur sendiri, setiap pelanggan harus login, baru bisa dihitung traffic pelanggan, kalo pengunjung yang kesasar, apa juga diperhitungkan?
Mas Wawan
http://www.wongpati.com
Mas Wawan, yang anda sebut itu hanya bisa dipakai untuk tujuan pertama: laporan lalu lintas web. Kalau untuk mengukur pelanggan ya harus pakai alat ukur lain yang memiliki kemampuan lebih luas, yang bisa mendeteksi pelannggan setelah login.
hmm emang sih web yang bagus itu yang menghasilkan duit (sebagaimana mustinya media yang lain), tapi sekedar mau nanya untuk discuss aja, bagaimana cara mengukur penghasilan dari website (selain jualan banner), sedangkan misalnya peningkatan brand yang mampu menghasilkan duit banyak bagi perusahaan juga di tunjang dengan marketing communication pada media yang lain? apakah sudah ada metode untuk mengukur hal ini?
- care to share?
Pertanyaan Adri saya dalam artikel baru. Silahkan baca Susah Amat Sih Mengukur Sukses Situs Web
[...] http://www.virtual.co.id/blog/?p=66 [...]